Loving You

Loving You
Suasana yang tidak enak


__ADS_3

Deddy sampai kantor hari ini lebih cepat, dia tidak mau lagi diomelin bosnya. Apalagi tadi bosnya berkata tidak perlu dijemput.


Begitu sampai dia langsung menuju ruangan Jayden. Biasanya dia yang merapikan meja bosnya


Karena ada peraturan khusus, meja bos tidak boleh dibersihin office boy.


Deddy juga sudah tahu kalau merapikan meja bosnya, dilarang keras menyentuh pen silver yang sering dipakai bosnya.


Sampai di ruangan bosnya, dia langsung membuka pintu tanpa mengetuk, karena dia berpikir bosnya belum datang.


Betapa kagetnya Deddy saat masuk ruangan, bosnya sudah duduk di kursi kebesarannya dan terlihat penuh wibawa seperti biasanya.


"Pagi bos", sapa Deddy.


"Sebenarnya masuk kerja jam berapa sih? kemaren kelihatanya parah banget sakit nya, kenapa nongolnya pagi banget? Gue sudah pagi masih kalah cepat lagi", pikir Deddy dalam hati.


Tanpa menjawab salam dari Deddy, Jayden langsung bertanya pada Deddy, "Aku mau pindahin ruangan bagian penjualan (tempat nongkrong nya sales-sales), kira-kira menurutmu pindah ke mana yang cocok?"


"Lho kenapa bos? Bukankah dari dulu ruang bagian penjualan memang paling depan, sales kan suka keluar masuk kantor, supaya tidak menggangu yang lain. kan mereka yang paling sering lalu lalang. Juga bersebelahan dengan bagian marketing, agar lebih mudah karena kadang kerjaan mereka berhubungan", jelas Deddy.


"Aku tahu, tidak usah kamu jelaskan! Aku hanya ingin memindahkan ruangan, ingin ganti suasana, bukan menyuruhmu mengguruiku!", jawab Jayden mulai kesal.


Tiba-tiba Deddy sadar mengapa bosnya ingin memindahkan ruangan bagian penjualan!


Otaknya langsung diajak berpikir keras.


"Ah saya tahu bos, ruangan sebelah kanan paling pojok bos! ruangan yang biasa untuk air, atau bikin kopi itu bos! besarnya sama dan juga dekat pintu keluar", jawab Deddy mencetuskan idenya.


Jayden berpikir sejenak mendengar jawaban Deddy.


"Betul juga usulmu, Mengapa dalam hal begitu otakmu hebat Deddy?" tanya Jayden memuji.


Deddy merasa bangga, selama dia bekerja sebagai sekretaris, akhirnya hari ini dia bisa dipuji bosnya yang hebat itu.


Apalagi sesudahnya Jayden menyambung lagi, "Kamu sudah banyak membantuku, nanti bulan depan aku minta ibu mempertimbangkan kenaikan gajimu".


Memang Jayden sangat puas dengan usul Deddy, dan hatinya senang karena akhirnya semua permasalahannya selesai.


Kalau hati Jayden sedang senang dia menjadi royal.


Akhirnya Deddy yang mengurus perpindahan ruangan itu bersama office boy. Pagi itu juga perpindahan dilakukan. Bagian penjualan bertanya-tanya mengapa kantor mereka baik-baik saja mendadak dipindahkan.


Karyawan lain juga bingung dengan perpindahan itu, tapi mereka tidak terlalu perduli, karena bukan ruangan mereka.

__ADS_1


Akhirnya pak Ridwan sales supervisor bagian penjualan, yang suka mencuri pandang ke Aylin karena ruangan mereka hanya disekat kaca, saat datang penasaran dan bertanya pada Deddy, mengapa ruangan mereka dipindahkan mendadak.


Tentu Deddy tidak mengatakan alasannya. Walaupun dia suka gosip, dia lebih takut dengan ancaman bosnya.


"Menurut peruntungan, posisi yang sekarang lebih cocok untuk bagian penjualan. Akan membuat penjualan meningkat", jawab Deddy akhirnya memberikan alasan.


Deddy memang paling pintar membuat alasan.


Ridwan jelas bingung, sejak kapan pimpinannya percaya dengan hal takhayul seperti itu, setahunya Pak Jayden adalah orang yang sangat percaya diri.


Tapi dia tak bisa berkata apa-apa, keputusan pak Jayden tidak pernah bisa dirubah, sebaiknya diterima saja, kalau tidak mau bermasalah.


...********...


Aylin sudah datang sejak tadi. Di kantor hanya dia sendiri, yang lain belum datang. Pak Yanto sudah datang, tapi sedang ngobrol dengan bagian penjualan, yang sedang sibuk pindahan.


"Ah datang kepagian", pikirnya dalam hati, tadi dia melihat mobil Jayden sudah ada di tempat parkir, berarti Jayden sudah datang.


Jantungnya berdebar-debar, dia takut sekali kalau sampai harus bertemu Jayden. Aylin sama sekali tidak siap harus bertemu Jayden, terpikir hal kemaren saja sudah membuatnya sangat malu.


Akhirnya Aylin duduk diam di tempat kerjanya, dan tidak berani kemana-mana lagi, walaupun belum jam kerja. Dia berusaha menyibukkan diri dengan membaca kertas yang diberikan Bu Desy kepadanya untuk dipelajari kemaren. Di dalam hatinya dia berharap Bu Desy cepat datang.


Dan yang ditakutkan Aylin benar-benar lewat, saat Aylin mendengar suara Jayden, jantungnya langsung berdegup kencang.


Tanpa sadar Aylin menatap ke pasangan yang lewat itu.


"Pasangan yang cocok, dua-duanya sama-sama pintar", pikir Aylin dalam hati, dan menarik nafas lega saat keduanya berlalu.


Aylin jadi teringat dulu kalau dia mengajak Jayden pergi, Jayden lebih banyak menolak dan lebih memilih berdiskusi pelajaran dengan Maya.


Aylin kadang menyesalkan otaknya yang bebal dan tidak pintar.


Tapi kalau dipikir lagi memang perbedaan sifatnya dan Jayden terlalu jauh, apalagi dulu.


Sepertinya dia tidak punya kelebihan apa-apa, kecuali fisiknya saja yang cantik. Bahkan status keluarganyapun sudah tidak seperti dulu.


"Karena itu kak Jayden mengataiku Penggoda", pikir Aylin sedih.


Ternyata keadaan seperti inilah yang sudah membuatnya tidak percaya diri seperti dulu lagi.


"Aylin!", panggil Maya tiba-tiba.


Aylin kaget dan sadar dari lamunannya. Dia tak menyangka kak Maya kembali secepat itu.

__ADS_1


"Apa kak Maya?", sahutnya sambil menatap ke arah Maya, dan dengan cepat dia mengalihkan pandangannya, karena di belakang Maya ada Jayden, yang sepertinya menunggu Maya.


Aylin sama sekali tidak berani menatap Jayden.


"Lulu belum datang?' tanya Maya lagi.


"belum kak", jawab Aylin.


"Nanti tolong sampaikan pada Lulu untuk membawa data perbaikannya padaku ya", ucap Maya lagi.


"Baik kak, nanti saya sampaikan ke Lulu", jawab Aylin sambil mengangguk.


"Baik Lin, terimakasih ya", ucap Maya lagi dengan sopan, sesudah itu Maya beranjak pergi, Jayden juga mengikuti Maya keluar.


Aylin akhirnya bisa menarik nafas lega setelah keduanya pergi. Dia benar-benar menyesal sudah datang kepagian, sehingga merasakan ketegangan seperti ini. Belum lagi dia harus menyampaikan pesan pada Lulu yang memusuhinya. Sungguh suasana yang tidak enak di hari kedua dia bekerja.


Aylin tiba-tiba teringat sikap Jayden yang biasa, sepertinya tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.


Aylin sungguh sakit hatinya, dia merasa Jayden benar-benar mempermainkannya.


Menciumnya tanpa merasa bersalah hanya karena tergoda. Aylin benar-benar merasa dihina.


Kali ini dia benar-benar harus menjaga jarak agar tidak dihina lagi, tekad Aylin dalam hati.


Sesudah Bu Desy datang akhirnya Aylin sudah tidak berpikiran macam-macam lagi, karena dia sudah disibukkan oleh kerjaan. Belum lagi kadang mendengar bu Desy bercerita akhirnya Aylin pun terbawa suasana, lupa dengan sakit hatinya.


...********...


Sesudah membahas masalah pembayaran dari PT. Xefec yang sempat tertunda dengan Maya, Jayden kembali ke ruangannya.


Deddy tidak ada si ruangan, karena masih sibuk dengan pindahan.


Akhirnya Jayden duduk dan berpikir tentang Aylin tadi. Kelihatannya Aylin sepertinya selalu menghindarinya, bahkan memandangnya saja tidak mau. Bagaimana dia harus mendekatinya kalau Aylin menghindarinya terus? pikir Jayden bingung.


Dan sepertinya Aylin takut setiap bertemu dengannya.


Setiap bertemu Aylin selalu menunduk dan memainkan tangannya.


Jayden ingat waktu kecil kalau Aylin takut dimarahi orang tuanya, pasti seperti itu.


"Memangnya aku setan? mengapa bisa takut padaku?" pikir Jayden kesal dan membuat Jayden akhirnya bertambah gemas pada Aylin..


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2