
Dalam perjalanan pulang Jayden tertawa dalam hati. Sebenarnya dia tahu apa yang dikhawatirkan oleh Deddy.
Tentu Deddy khawatir posisinya diturunkan lagi. Mukanya mau ditaruh dimana kalau posisinya jadi sopir lagi.
"Sekali-kali harus dibikin resah, hukumannya kalau suka gosipin aku di belakang", pikir Jayden puas, dendamnya terbalaskan.
"Aku kan bos, mau punya 10 sekretaris pun gak pa pa, apalagi cuman dua. Suka-suka aku, selama aku senang", pikir Jayden lagi.
Memang sifat Jayden seperti itu, berbuat sesuka hatinya dan tidak ada peraturan yang bisa mengikatnya, dia juga tidak perduli gunjingan orang tentang dia, dia tidak malu selama menurutnya dia tidak merugikan siapapun.
"Pas gitu otaknya gak jalan", Jayden menertawakan Deddy sekretaris nya, puas sudah bisa ngerjain Deddy.
Ternyata Jayden kadang juga iseng kalau hatinya sedang senang.
Jam sudah hampir menunjukkan pukul 22.30 saat Jayden sampai rumah, Jayden berpikir dia akan memberitahukan keadaan Bu Hutomo kepada orang tuanya besok pagi, biasanya orang tuanya sudah tidur karena sudah malam.
Saat masuk ke dalam rumah, ternyata ayah dan ibunya masih di ruang keluarga, belum tidur.
"Tumben ayah dan ibu belum tidur?", sapa Jayden pada kedua orangtuanya.
"Kebetulan sekali", pikirnya dalam hati.
"Kamu ke mana saja seharian juga tidak ada di perusahaan, handphonemu juga tidak bisa dihubungi, membuat khawatir saja!" omel ibunya.
"Handphoneku low bat Bu", ucap Jayden terpaksa berbohong, padahal tadi di off in biar tidak diganggu.
Jayden pun mengambil kesempatan itu untuk menceritakan keadaan keluarga Hutomo kepada ayah dan ibunya, semakin cepat bergerak semakin bagus pikirnya, seperti usul Deddy harus gercep. Dia tidak mau kalah langkah lagi dari Denny kali ini.
"Mengapa tadi pagi menjenguk tidak mengajak kami?" tegur ayahnya Jayden.
"Tadi pagi aku terburu-buru jadi lupa yah", jawab Jayden.
"Tumben kamu bisa lupa!", sindir ibunya yang masih kesal dengan Jayden yang membuat khawatir.
__ADS_1
"Masa jenguk orang sakit sampai lama gitu?", tanya ibunya lagi dengan nada curiga.
"Ah tidak Bu, harusnya siang sudah pulang Bu, tapi Jayden lagi kangen ke pantai, sudah lama tidak pergi, pengen refreshing saja", sahut Jayden berbohong.
"Sekarang keadaan Bu Hutomo baik-baik saja kan?tanya ayah.
Jayden otaknya langsung jalan dan menggunakan kesempatan ini , karena dia tahu ayahnya lebih mudah diminta dukungannya.
"Bu Hutomo sudah lebih baik, tapi Aylin sedang mencari pekerjaan, saya berpikir untuk menawarkan pekerjaan di perusahaan kita kepadanya, yah", jawab Jayden.
"Boleh saja, aku dulu pernah melihat Aylin waktu kecil, mendengar ceritamu kasihan Aylin, apalagi sudah tidak punya ayah. Kita bisa bantu jaga Aylin", jawab ayahnya, memang paras Aylin membuat orang mudah suka, apalagi waktu kecil seperti boneka. Dan kebetulan keluarga Sunjaya tidak memiliki anak perempuan, jadi dulu Ayah Jayden juga suka bermain dengan Aylin waktu kecil
"Tapi Ayah yang bilang ya, ayah sendiri kan tahu hubunganku waktu terakhir sebelum pergi kuliah tidak terlalu baik lagi, takutnya Aylin segan padaku dan menolak. Kalau dengan ayah mungkin menurut", kata Jayden lagi, tentu dia tidak menceritakan hubungan mereka saat terakhir bertemu.
"Baiklah besok coba ayah bujuk Aylin bekerja di perusahaan kita", jawab ayah lagi.
"berhasil!", sorak Jayden dalam hati kegirangan, untung juga ada si Deddy, pikir Jayden lagi.
Ibu Jayden suka mempromosikan Maya kepada Jayden, karena dia suka dengan Maya yang manis, sopan, pintar, sabar, dan bertanggung jawab.
Apalagi saat ini otaknya berpikir untuk mendekatkan hubungan Jayden dan Maya.
Jayden mana perduli dengan ucapan ibunya, saat ini otaknya dipenuhi Aylin, dan dia tidak mau kalah dari Denny, dia mau lebih dekat dengan Aylin.
Bahkan kalau saja bisa, dia mau memindahkan Aylin dan ibunya dari rumah di sana, supaya sudah tidak berdekatan lagi dengan Denny.
Dan seperti biasa Jayden langsung mengemukakan pendapatnya tanpa merasa bersalah,
"Tidak usah Bu, Aylin akan kujadikan sekretaris ku saja, biar aku yang mengajarinya, aku juga bisa sabar, aku juga bisa membuat Aylin betah".
Ayah sempat kaget dengan jawaban Jayden, karena setahunya selama ini Jayden tidak pernah menunjukkan ketertarikannya pada Aylin, apakah benar Jayden bisa menghadapi Aylin dengan sabar, kalau Jayden tidak memiliki perasaan apa-apa.
Setahu ayah Jayden bukan orang yang sesabar itu, yang bisa mengajari seseorang.
__ADS_1
Ibu lebih kaget lagi, tapi dasarnya ibu Jayden yang tidak sensitif dengan perasaan anaknya langsung berkata ,
"Sekretaris pilihanmu Deddy mau dikemanakan? mau dijadiin sopir lagi? kamu biasa kalau ambil keputusan tidak pernah plin-plan, kenapa soal sekretaris kamu bisa plin-plan?" Serang ibunya bertubi-tubi karena kesal dengan kemauan anaknya yang kadang suka aneh.
"Siapa bilang aku plin-plan, aku sekarang cukup sibuk, aku butuh 2 sekretaris, yang satu sekretaris umum, yang satu lagi sekretaris pribadi, dan menurutku Aylin cocok jadi sekretaris pribadiku", jawab Jayden tanpa merasa bersalah.
Ibu Jayden tentu tidak terima semudah itu, karena kalau hal tersebut terjadi dia takut menyakiti hati Maya, dia masih ingat dulu Jayden menolak Maya menjadi sekretaris nya, malah akhirnya lebih memilih Deddy menjadi sekretarisnya.
Kalau dipikir lagi sebenarnya hal tersebut sudah menyinggung Maya, karena saat itu ibu Jayden yang meminta Maya, sebab itu Ibu Jayden merasa bersalah.
Lalu kalau sekarang Jayden dengan seenaknya mengangkat Aylin menjadi sekretarisnya lagi, lantas bagaimana perasaan Maya.
Ibu Jayden yakin kalau Maya menyukai Jayden, hanya saja anaknya yang tidak mengerti perasaan perempuan, pikirnya. Ibu Jayden benar-benar tidak tega kalau harus menyakiti Maya lagi, dia merasa harus membela Maya
"Dulu waktu ibu mengusulkan Maya sebagai sekretaris mu kenapa kamu tolak? Kalau kamu butuh 2 sekretaris Maya kan bisa jadi pilihanmu?apalagi kita sudah tahu kwalitas kerja Maya. Maya sangat teliti dan bertanggung jawab", lanjut Ibu Jayden tidak mau menyerah begitu saja.
"Kan sudah saya bilang Bu, kalau Maya jurusannya tidak cocok jadi sekretaris. Kalau ada bidang yang lebih cocok untuk Maya buat apa dipaksakan?
Ibu juga belum mengetahui kwalitas kerjanya Aylin, siapa tahu juga bagus. Lagipula Aylin masih muda, nanti kalau ada yang kurang mengerti bisa Jayden ajarin ", jawab Jayden dengan percaya diri seperti biasanya.
"Baik, kalau begitu maumu.Tapi ibu mau tanya, Memangnya Aylin jurusan sekretaris? kalau memang jurusan sekretaris ibu tak akan menolak lagi, kamu atur sendiri sesuai keinginan mu. Tapi kalau bukan jurusan sekretaris ibu tetap tidak bisa terima! " ucap ibunya memutuskan.
Ibu Jayden sebenarnya bukan tidak suka pada Aylin, tapi dia merasa tidak enak kalau harus menyinggung Maya.
"Tapi...", Jayden masih tidak bisa menerima keputusan ibunya, karena dia tidak tahu apa jurusan Aylin.
"Koq ibu dan anak sudah ribut-ribut, yang bersangkutan saja belum mengiyakan kerja di perusahaan kita", kata ayah Jayden memutus pembicaraan Jayden, berusaha menengahi ibu dan anak yang sedang adu mulut itu
Akhirnya ibu Jayden dan Jayden terdiam setelah mendengar perkataan ayah.
"Ayo tidur, sudah malam, besok pagi kita jenguk ibu Aylin sebelum Jayden ke pabrik", lanjut ayah Jayden mengakhiri adu mulut itu.
Bersambung........
__ADS_1