
Tadi pagi Chandra mengantar pacarnya, Dina untuk mengambil buku di rumah Cika. Malam sebelumnya Dina sudah menelpon Cika bahwa dia mau meminjam buku.
Saat Chandra dan Dina datang, dia melihat Cika dan Aylin bersama naik ke transportasi online.
Karena rasa ingin tahu Chandra, akhirnya Chandra bertanya kepada Dimas yang menyerahkan buku padanya , ke mana Aylin dan Cika pergi.
"Oo...Cika menemani Aylin untuk interview pekerjaan di tempat kerjanya dulu", jawab Dimas.
"Aduh gawat kalau ketahuan Cika gue membocorkan rahasianya, bisa didamprat gue. Kupikir Pak Jayden udah tahu, justru gue pengen tahu sebabnya kenapa Aylin berhenti kerja di sini", pikir Chandra dalam hati takut diomelin Cika.
"Siapa yang memberitahumu?", Jayden mengulang kembali pertanyaannya, dengan tidak sabar setelah melihat Chandra tertegun.
"Mas Dimas, karena tadi pagi saya melihat Aylin dan Cika pergi bersama, kata Mas Dimas sih Cika temanin Aylin untuk interview kerjaan", jawab Chandra akhirnya pasrah.
Chandra takut diomelin Cika, tapi saat ini dia lebih takut lagi pada Jayden yang kelihatannya mukanya sudah berubah, padahal tadi saat datang wajahnya masih cerah.
Jayden mengepalkan tangannya dan tidak berkata apa-apa lagi, langsung meninggalkan ruangan Chandra dengan tergesa.
Chandra hanya bisa menatap kepergian Jayden yang terlihat emosi dan penuh amarah itu.
Chandra benar-benar menyesali rasa ingin tahunya itu.
Belum lagi harus menghadapi Cika, kalau sampai ketahuan dia yang memberitahu Jayden, karena kalau dilihat dari keadaannya, Jayden tidak tahu kalau Aylin berhenti kerja.
Atau jangan-jangan Aylin hanya coba-coba ngelamar kerja di tempat lain tapi belum berhenti kerja? pikir Chandra lagi tambah resah.
Deddy yang sedang merapikan meja bosnya tersentak kaget, saat Jayden masuk ke ruangannya dengan membanting pintu lumayan kencang.
Dengan melihat wajahnya saja, Deddy sudah tahu kalau hari ini gak bakal ada ketenangan lagi.
"Waduh siapa nih yang udah bikin bos marah? gawat!", pikir Deddy mulai was was
Setelah duduk di kursi kebesarannya, Jayden langsung memerintah Deddy, "Panggil Pak Ramli ke ruanganku, sekarang juga. cepat!"
__ADS_1
"Baik bos", sahut Deddy cepat, dia ingin segera menghilang dari ruangan yang mencekam itu.
"Ngapain bos nyari bagian HRD, setahuku selama aku bekerja di sini bos jarang berhubungan dengan bagian HRD.
Ah.. tapi biarin aja deh, yang penting gue aman dan enggak kena!" pikir Deddy sambil menuju ke ruangan HRD.
Sebenarnya belum jam 09.00 saat itu, tapi beruntung pak Ramli sudah datang dan ada di ruangannya.
"Pak Ramli, dipanggil sama bos".
"Ok, baiklah pak Deddy", jawab pak Ramli tidak banyak bertanya.
Pak Ramli orangnya agak diam dan tegas, juga jarang sekali bergosip, mungkin karena itu dia diangkat jadi kepala HRD.
Ramli langsung keluar berjalan ke ruangan Jayden. Setelah mengetuk pintu dan mendengar perintah masuk, Pak Ramli langsung masuk dan menutup pintu.
Tinggallah Deddy yang penasaran dengan kelakuan bosnya yang mendadak itu.
Tapi kali ini sepertinya dia tidak bisa tahu apapun, karena pak Ramli adalah orang yang susah dikorek rahasianya.
"Apakah Aylin bagian Marketing resign dari perusahaan kita?"
"Iya pak, kemaren dan mulai resign nya hari ini pak", jawab Ramli
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Bukankah kemaren pagi dia masih bekerja?", tanya Jayden, yang sudah lupa dengan kedudukannya. Biasanya berhentinya seorang staff saja, Jayden tidak pernah mengurusnya, dan HRD juga diberi wewenang untuk memutuskan.
Pak Ramli sempat kaget dengan pertanyaan Jayden, tapi dia berusaha menampilkan sikap tenang.
"Sebenarnya juga mendadak pak, saya juga tahunya dari Bu Sunjaya yang menelpon saya kemaren malam. Jadi saya pikir pak Jayden sudah tahu, Pak Yanto atasan Aylin juga tidak tahu apa-apa pak, dia juga tahunya dari saya. (Dengan kata-kata ini sepertinya dia ingin memberitahu Jayden, sebenarnya yang harus berhak diberitahu adalah pak Yanto, tapi bukan Jayden)."
Tapi Jayden mana perduli dengan peraturan itu. "Alasannya apa? Kenapa berhenti mendadak, dan kenapa dijinin berhenti juga?"
"Saya juga tidak tahu pak, kata pak Yanto kemaren sore memang Aylin ada dipanggil ibu Sunjaya ke kantor Pak Jayden untuk berbicara. Saya hanya tahu itu saja, dan malamnya Bu Sunjaya memberitahu saya untuk mencari staff baru buat pak Yanto, karena Aylin sudah resign dari sini, dengan alasan pribadi", jawab pak Ramli.
__ADS_1
"Baiklah Pak Ramli, kamu boleh kembali ke ruanganmu".
"Baik Pak Jayden", sahut pak Ramli dan segera beranjak dari ruangan itu.
.
Melihat Pak Ramli keluar dari ruangan, Deddy segera masuk lagi, dia takut Jayden mau memberi instruksi lagi.
Begitu masuk ruangan dia melihat posisi bosnya seperti biasa kalau sedang banyak pikiran, membelakangi pintu dan memandang ke luar jendela.
"Ada apa dengan bos ya?", pikir Deddy makin penasaran.
Berbeda dengan Jayden yang dalam suasana kalut, Aylin sesudah bertemu Cika hatinya merasa lebih ceria.
Cika memang pintar membuat suasana ceria. Sering bercerita hal-hal yang lucu.
Akhirnya Aylin terbawa suasana dan lupa dengan semua masalahnya.
Bahkan saat diinterview, Aylin sama sekali tidak grogi. Akhirnya lamaran kerja Aylin berjalan lancar, Aylin diterima bekerja di aquleaf kosmetik dengan masa training 3 bulan.
Pimpinannya menyukai Aylin yang berwajah rupawan dengan kulit putih bersih. Karena itu menjadi nilai tambahan untuk bekerja sebagai seorang beauty advisor.
Karena pembeli tentu akan lebih tertarik, jika penjualnya cantik dan memiliki kulit yang bagus.
"Nanti kalau kamu sudah mulai bekerja, lu harus pintar nawarin, bonusnya lumayan besar lho. Kalau lu berhasil mendapat pembeli yang banyak, bukan tidak mungkin penghasilanmu di sini akan lebih besar dari pada kamu bekerja di kantoran", ujar Cika memberi semangat pada Aylin.
"Makanya aku betah bekerja di sini. juga tidak harus banyak berpikir kalau bekerja di sini. Yang penting lu ramah dan pintar menawarkan, tapi juga harus belajar dandan, jadi kalau ada yang ngetes minimal lu bisa bantuin pakain. Tapi gak usah khawatir nanti masa training diajarin", sambungnya lagi.
"Iya, aku suka koq suasana di sini. Aku sudah gak sabar memulai kerja di sini. Coba kamu masih kerja di sini, pasti lebih seru", sahut Aylin tersenyum.
"Iya ya, sayang kak Dimas sudah gak ijinin gue kerja lagi. Gue sudah minta ijin dua kali, dia tetap kukuh pada pendiriannya", jawab Cika terlihat pasrah.
"Tapi gak pa pa ka, aku bisa sering main ke tempatmu, dari sini ke rumahmu kan tidak jauh", ucap Aylin menghibur Cika.
__ADS_1
"Benar ya, janji ya, jangan menghilang lagi tanpa kabar!", sindir Cika.
Aylin tersipu malu, "iya, aku gak bakal menghilang lagi".