
Aylin menghela nafas panjang sesudah keluarga Sunjaya masuk ke mobil.Dia merasa beban berat menghimpit dadanya.
Entah sudah berapa kali Aylin mengucapkan terimakasih pada om dan Tante Sunjaya.
Dia Sungguh merasa tidak enak harus berhutang budi lagi. Dulu pada Denny, sekarang dengan keluarga Sunjaya.
Karena Aylin dari tadi jarang berterimakasih pada Jayden, saat keluarga Sunjaya pamitan, Aylin pun berkata
,"Kak Jay, hati-hati ya nyetirnya". untuk menjaga kesopanannya.
Jayden menatapnya sejenak, sesudah itu mengangguk dan masuk ke mobil tanpa berkata apa-apa.
Sejak dia menolak menjadi sekretaris Jayden, dia merasa Jayden dari tadi memandang tajam padanya, sedangkan dia tidak terlalu berani menatap balik ke arah Jayden.
Sesudah Jayden pergi, dia baru merasa kenapa dia begitu bodoh, kenapa dia harus takut pada kak Jay, dia toh tidak salah apa-apa. Dia tidak mau menjadi sekretaris kak Jay, itu juga haknya, dia bebas menentukan pilihan. Kenapa dia harus salah tingkah? Kenapa dia harus takut cuman dengan tatapan Jayden, pikirnya kesal sendiri.
"kenapa kamu tidak mau jadi sekretaris kak Jayden?bukannya dulu kamu suka dekat dengan kak Jay?tanya ibu Aylin menggoda anaknya memecahkan lamunan Aylin.
"Ah..ibu. itukan dulu Lin masih kecil, masih tidak tahu malu. Sekarang Lin sudah dewasa, harus menjaga sikap, apalagi kak Jay sudah punya pacar. kan gak enak sama pacarnya, kalau terlalu dekat", jawab Aylin.
"Oo..kak Jay sudah punya pacar ya?, tapi umur kak Jay memang sudah cukup buat berkeluarga sih, apalagi sudah mapan." jawab ibunya.
"Iya Bu", jawab Aylin, padahal hatinya sakit, tapi dia harus buang jauh-jauh perasaannya itu kalau tidak mau bermasalah dan tambah sakit lagi
"Om dan Tante Sunjaya terlalu baik sama kita", sambung ibu Aylin.
"Iya Bu, Aylin jadi gak enak sama om dan Tante, sungguh enggak enak kalau hutang budi", jawab Aylin sedih.
"Gak pa pa Lin, yang penting nanti saat bekerja kamu bersungguh-sungguh dan bertanggung jawab. Ibu yakin Lin bisa, sekarang Lin belajar apa saja cepat, masak, jahit. Kamu anak ibu yang hebat", ucap ibunya memberi semangat.
__ADS_1
"Iya Bu, Aylin akan bekerja sungguh-sungguh, agar Om dan Tante tidak kecewa", ucap Aylin, dia merasa dia memikul suatu tanggung jawab.
"Baiklah, sekarang kamu istirahat dulu, kamu sudah jahit dari pagi lin", kata ibunya lagi.
"Baik bu", jawab Aylin menurut saja. sejak datangnya keluarga Sunjaya sudah membuat hati Aylin resah dan tidak tenang, Aylin bingung dengan perasaannya sendiri, akhirnya menjadi malas melanjutkan jahitannya.
"Bu, saya baca-baca di kamar dulu ya, buat nambah
pengetahuan, siapa tahu berguna buat kerja nanti", ucap Aylin pada ibunya.
"Iya Lin, lagipula jahitan kamu sudah banyak sekali, kamu hebat jahitnya, tambah cepat sekarang", puji ibunya.
Aylin pada dasarnya memang begitu, dia memang kalau belajar agak lama, tapi begitu dia menguasai kerjanya menjadi cepat.
Seperti dalam pelajaran dia kalau belajar agak lama baru bisa, makanya Jayden dulu sering mengatai dia telmi dan otaknya bebal.
"Lagipula ibu juga sudah sehat, ibu juga sudah bisa jahit lagi. Jadi kamu bisa segera bekerja untuk mencari pengalaman", kata ibu Aylin lagi.
Tiba-tiba ibu tersadar dari lamunannya, dia melihat Aylin masih berdiri di depannya menunggu apa yang akan dikatakan ibunya lagi.
"Sudah, kamu baca-baca saja di kamar, jangan dengerin omongan ibumu, nanti gak ada habis-habisnya", ibunya memerintah sambil tertawa.
"Baik Bu", jawab Aylin tersenyum pada ibunya, lalu segera masuk ke kamar.
Sampai di kamar dia membuka kamus Inggrisnya, tapi dia benar-benar tidak bisa konsentrasi sama sekali.
Di otaknya teringat terus perkataan Tante Sunjaya, kalau Maya juga bekerja di perusahaan Sunjaya, bahkan Ayahnya kak Maya juga. Aylin tahu sifat Jayden yang biasanya tidak perduli dengan urusan orang lain, jadi kalau sampai dia membantu Kak Maya berarti dia punya hubungan atau perasaan tertentu kepada Maya. Begitu mengingat itu, hatinya rasanya sakit sekali, seakan-akan dia tidak rela.
Tapi apa hak ku? pikirnya, bahkan sekarang saja asal ketemu pasti adu mulut. Dan ucapan Jayden selalu mencemooh nya.
__ADS_1
"Mengapa hatiku gak bisa diatur sih", keluh Aylin.
"Otakku yang bebal ini juga tidak bisa diatur, selalu keingat terus! Mengapa juga aku bisa bertemu kak Jay di toko buku itu, kalau tidak ketemu kan gak masalah lagi. Kalau tidak ketemu mungkin aku juga sudah lupa."
Begitulah pikiran yang sedang berkecamuk di kepala Aylin, begitu banyak pertanyaan mengapa, begitu banyak penyesalan di kepalanya sehingga dia sudah lupa kalau Denny pulang hari ini. Akhirnya Aylin tertidur menelungkup di atas meja.
Ternyata ibu Aylin juga sudah kelupaan bahwa Denny pulang hari ini, karena tadi kedatangan keluarga Sunjaya, yang sempat membuat dia kaget, tidak menyangka sesudah beberapa tahun bertemu kembali.
Berbeda dengan Denny yang dari pesawat sudah berpikir untuk segera bertemu gadis pujaannya. Denny sudah menahan kerinduannya selama 2 tahun, Denny tidak pernah mengambil liburan selama di Jerman, dia takut sampai di Indonesia, dia tidak ingin kembali ke Jerman lagi. Jadi dengan penuh tekad dia bertahan 2 tahun demi mendalami programnya. Akhirnya hari ini terbayar tuntas usahanya selama ini, pikirnya senang.
"Aylin kangen padaku gak ya?", pikirnya dalam hati.
Denny tidak tahu kalau gadis yang dirindukannya justru otaknya dipenuhi oleh pria lain.
Sampai di Jakarta jam menunjukkan pukul 10 an. Denny berangkat dari Jerman kemaren jam 5 sore, karena perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 17 jam. Wajahnya terlihat semangat walaupun baru melakukan perjalanan jauh, karena dia ingin segera bertemu Aylin.
Begitu sampai bandara Denny mencari orang yang menjemputnya, dan betapa kecewanya saat melihat kak Vin, kakaknya saja yang datang menjemputnya.
Kakaknya tahu kalau Denny kecewa, karena Aylin tidak ikut.
Denny dan Jayden sangat berbeda, kalau Denny sangat terbuka sifatnya, kalau dia menyukai seseorang, orang di sekitarnya bisa tahu, apalagi keluarganya, karena dengan jelas dia menunjukkan perasaannya.
Berbeda dengan Jayden, tidak ada orang yang pernah tahu isi hatinya. Hanya saja sekarang sudah ada seseorang yang tahu, yaitu Deddy sekretaris nya.
Vivin yang tahu kekecewaan adiknya menerangkan langsung,
"Tadi aku sempat mampir ke rumah Aylin, mau mengajak Aylin menjemput kamu, tapi tadi waktu sampai ada mobil di depan rumah Aylin, kelihatannya sedang ada tamu. Jadi aku gak jadi ajak dia datang bersama".
"Ok gak pa pa kak, nanti sesudah mandi aku mampir ke rumahnya", sahut Denny tersenyum semangat lagi.
__ADS_1
Dan seperti biasa perempuan di sekitar bandara yang melihat senyum mautnya Denny pasti terpana.
Bersambung........