
Mendengar jawaban Deddy, Jayden akhirnya sadar apa yang dikatakan Deddy ada benarnya juga.
Sebenarnya Jayden pernah dengar gosip tentang dia dan Maya, tapi dia tidak pernah menanggapi.
Pada dasarnya dia memang tidak pernah perduli dengan segala gosip yang beredar, menurut Jayden lama-lama akan hilang dengan sendirinya.
Tapi sekarang kalau dipikir lagi ada benarnya juga perkataan Deddy, selama ini dia juga sering berdiskusi kerjaan dengan Maya berdua, kadang mengurus dokumen-dokumen perusahaan juga berdua dengan Maya.
Dan sering makan siang bersama, kalau ayah ibunya datang mengajak makan bersama, karena Maya pasti diajak ibunya untuk ikut.
Ibunya memang sepertinya ingin menjodohkan dia dengan Maya.
Dan Jayden beranggapan selama dia tidak menanggapi keinginan ibunya itu, tidak akan masalah.
Jayden tidak pernah terpikirkan kalau hal tersebut menjadi masalah, bagi orang lain yang melihatnya.
Padahal Jayden sudah menebak kalau Maya sepertinya menyukainya, sebab itu ketika Jayden begitu sadar perasaannya pada Aylin, sejak Aylin menghilang dari hidupnya , dia sudah mulai menjaga jarak dengan Maya sejak kuliah.
Tapi karena mereka bekerja di tempat yang sama, mau tidak mau mereka punya hubungan lagi.
Jayden juga harus mengakui kalau selama ini pekerjaan Maya bagus, dan Maya adalah orang yang bertanggung jawab dalam pekerjaannya.
Jayden juga orang yang gila kerja, jadi saat Jayden bekerjasama dengan Maya, dia jadi lupa misinya untuk menjauhi Maya agar Maya tidak salah paham.
Akhirnya banyak orang yang salah duga hubungannya dengan Maya, Jayden juga tidak tahu apakah Maya juga salah paham tidak.
"Maya adalah orang yang pintar, harusnya dia bisa tahu, selama ini aku juga tidak pernah menjanjikan apa-apa, juga tidak pernah kontak fisik dengan Maya, hanya sebatas pekerjaan saja", pikir Jayden menenangkan dirinya sendiri.
Jayden hanya menyesali perbuatannya dulu, saat dia menggandeng Maya sekali di depan Aylin, waktu dia masih SMA, tapi menurutnya itu sudah terjadi begitu lama, harusnya Maya sudah melupakan hal itu.
Tetapi Jayden tidak pernah tahu hati seorang perempuan, karena hal tersebutlah yang membuat Maya berpikir kalau Jayden menyukainya.
Bahkan bukan hanya Maya, Aylin dan Cika yang melihat kejadian itu juga berpikir kalau Jayden menyukai Maya!
Karena Jayden tidak pernah dekat dengan perempuan manapun, jadi hal tersebut tentu membuat Cika dan Aylin berpikir kalau Jayden punya perasaan pada Maya.
Deddy yang dari tadi melihat bosnya yang sedang termenung, tidak pernah menyangka kalau perkataannya bisa membuat bosnya terpengaruh.
__ADS_1
"Ternyata gue cocok juga jadi penasehat cinta", pikir Deddy dalam hati dengan bangga.
Sambil melamun Jayden menatap pen pemberian Aylin, tanpa sengaja dia melihat undangan pernikahan Dimas dan Cika. Dia hampir lupa kalau Minggu ini ada undangan pernikahan yang harus dia hadiri.
"Kali ini aku harus menolak Maya, kalau Maya mengajakku", pikir Jayden dalam hati, karena biasanya kalau ada acara seperti ini Maya pasti mengajaknya.
"Ah, sebaiknya aku mengajak Aylin saja", pikir Jayden dalam hati.
"Deddy! Panggil Aylin ke sini", perintah Jayden pada sekretarisnya.
"Baik bos"", sahut Deddy semangat, dia merasa bebas akhirnya, sekalian bisa mengunjungi pak Yanto.
"Bu Aylin, dipanggil pak Jayden ke ruangannya", kata Deddy begitu sampai di ruangan Marketing.
Ternyata pak Yanto sedang tidak ada di ruangan, jadi Deddy langsung menyampaikan pesan Jayden pada Aylin.
"Pergi dulu Lin, nanti baru lanjutin lagi", Bu Desy berkata pada Aylin, karena dia melihat Aylin sepertinya ragu untuk beranjak pergi.
"Baik Bu", sahut Aylin mengangguk.
"Aduh kak Jay ini mau apalagi sih, aku benar-benar kewalahan hadapi kak Jay ini", pikir Aylin dalam hati khawatir, sambil berjalan keluar menuju ruangan Jayden dengan lesu.
Belum sampai ruangan Jayden, Aylin malah bertemu dengan Maya yang baru keluar dari ruangannya.
"Mau kemana?", tanya Maya, suaranya sudah tidak seramah dulu lagi.
"Ruangan kak Jayden, kak Jayden manggil", jawab Aylin dengan perasaan tidak enak.
"Sebaiknya kalau di perusahaan panggil kak Jay dengan pak Jayden, jangan menimbulkan gosip yang tidak diinginkan", tegur Maya dengan suara tidak bersahabat.
"Baik Bu Maya", jawab Aylin yang langsung merubah panggilannya pada Maya juga, daripada kena tegur lagi.
Akhirnya Maya pergi meninggalkan Aylin tanpa berkata apa-apa lagi.
"Huh..Gara-gara Kak Jay, bikin suasana aku dan kak Maya jadi tidak enak!" , gerutu Aylin sambil mengetuk pintu ruangan Jayden.
Aylin membuka pintu sesudah mendengar perintah masuk dari Jayden, tapi dia dengan sengaja tidak menutup pintunya.
__ADS_1
Aylin takut kejadian dulu terulang lagi kalau mereka berada di ruang tertutup. Dia harus mengambil tindak pencegahan.
Ternyata untuk hal-hal tertentu otak Aylin lumayan pintar.
Melihat tindakan Aylin, otak Jayden yang pintar tentu mengerti.Tapi dia tidak mau mempermasalahkan hal itu.
Dia sudah bertekad untuk sabar dan mengalah agar Aylin bisa nyaman saat bersamanya.
"Ada apa pak?" tanya Aylin dengan sopan.
"Sejak kapan aku menjadi bapakmu?", akhirnya kekesalan Jayden tak bisa ditahan lagi. Dia merasa Aylin seperti menjaga jarak dengannya.
"Kak Jay jangan marah, banyak yang bilang pada saya kalau di kantor sebaiknya memanggil kak Jay dengan pak, lebih sopan", jawab Aylin.
Aylin juga berusaha membuat Jayden tidak marah, karena dia tahu kalau Jayden marah berbahaya.
Dia juga tidak mau menyebut nama Maya, dia tidak mau hanya masalah kecil menjadi panjang, karena Aylin tahu sifat Jayden yang mau menang sendiri.
Mendengar jawaban Aylin akhirnya Jayden tidak mempermasalahkan hal itu lagi.
"Hari Minggu kamu temanin kakak ke pesta pernikahan Dimas dan Cika ya?", akhirnya Jayden langsung pada pokok permasalahannya.
Aylin yang tidak menyangka Jayden akan mengajaknya pergi bersama menjadi tertegun.
"Kenapa gak ajak kak Maya ya? apakah mereka sedang bertengkar? pantesan kak Maya moodnya jelek", pikir Aylin dalam hati, tapi dia tidak mengatakannya, dia tidak mau terlibat dengan urusan Jayden dan Maya.
"Lin sudah janji pergi sama kak Denny, lagi pula kak Dimas sudah pesan Lin datang sama kak Denny, soalnya kak Denny juga sudah bilang ke kak Dimas undangannya sama Lin cukup satu saja", jawab Aylin menjelaskan.
Aylin sungguh merasa tidak enak, kalau harus menolak seseorang.
Jayden tidak menjawab apa-apa lagi, tapi mukanya langsung berubah. Dia merasa kecewa ditolak, selama ini rasanya belum ada yang pernah menolak permintaannya. Ternyata ditolak itu menyakitkan.
Aylin yang melihat perubahan wajah Jayden cepat-cepat menambahkan,
"Mau pergi dengan siapa juga sama saja kak Jay, nanti sampai di sana kita semua juga bisa bertemu, saya sudah terlanjur mengiyakan ajakan kak Denny."
Untuk menghibur Jayden, Aylin akhirnya memanggil Jayden dengan sebutan kak Jay lagi.
__ADS_1
Entah mengapa Aylin merasa tidak tega kalau melihat wajah Jayden yang kecewa.
Bersambung.........