Loving You

Loving You
Mahendra Farras Pratama


__ADS_3

...“Kamu itu seperti opium, membuatku candu. Jika aku tidak bertemu denganmu, aku akan menjadi gelisah tak menentu.”...


...****************...


“Bunda!” teriak Mahendra begitu nyaring, padahal hari masih begitu pagi.


“Bunda!” ulangnya.


Karena tak kunjung mendapatkan sahutan, ia dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa menghampiri seorang wanita paruh baya yang dipanggilnya Bunda. Ternyata bundanya sedang asik dengan masakannya dan tidak memperdulikan panggilan dari anak bungsunya itu.


“Bunda!” panggil Mahendra.


“Bunda!” Panggilnya sekali lagi karena sang bunda yang masih tidak menghiraukan panggilannya.


“Bunda...” Kali ini Mahendra mengguncangkan lengan bundanya dan berhasil mendapatkan respon.


“Ada apa sih, Mahen? Gangguin Bunda masak aja,” kesal sang bunda karena acara memasaknya menjadi terganggu.


“Mahen udah manggil loh daritadi, tapi Bunda nggak aja tuh yang nggak ngerespon,” ucap Mahendra.


“Walau pun Bunda respon, pasti nanti kamu bakalan nanya atau ribut dengan hal-hal yang sepele. Daripada buang-buang waktu untuk hal yang unfaedah, bagusan Bunda lanjut masak untuk sarapan,” jawab bundanya cuek dan kembali mengaduk masakannya.


“Bunda kok jahat banget sih! Nggak ada hal yang bisa dianggap sepele di dunia ini, Bun,” jelas Mahendra, sok bijak.


“Yaudah, emang sebesar dan sepenting apa urusan kamu sampe nggak terima dibilang hal sepele?” tanya bundanya menyindir.


“Dasi Mahen ilang, Bun...”


“Akh! Bunda! Kok kepala Mahen dipukul sih?!” seru Mahendra sambil memegang kepalanya yang barusan dipukul menggunakan spatula oleh bundanya, menahan sakit.


Bundanya mematikan kompor. “Kamu ya, kebiasaan banget! Jadi orang itu nggak usah teledor. Tarok barang sembarangan, terus pas ilang orang lain yang direpotin. Coba kepala kamu dilepas, ilang nggak?” hardik sang bunda.


Mahendra itu sudah kebiasaan banget suka letak barang sembarangan. Nanti, giliran hilang malah bundanya yang dibuat repot untuk mencari, seperti yang terjadi sekarang.


“Bunda kok gitu sih! Bantuin Mahen lah cari dasinya, nanti Mahen bisa dapat poin pelanggaran kalo nggak pake dasi,” bujuknya.


“Kamu cari sendiri sana! Pasti ada tuh di dalam kamar kamu, keselip,” perintah sang bunda.


“Mahen udah nyari di setiap sudut kamar Mahen loh, Bun. Tapi, Mahen nggak bisa nemuin tuh dasi,” desahnya.


“Kamu aja tuh yang cari bukan pake mata, tapi pake mulut!” sindir bundanya.


“Udahlah, Bun. Bantuin Mahen aja lah untuk cari dasinya, nggak usah marah-marah. Ini udah hampir jam 7 loh, nanti Mahen bisa telat,” ucapnya sedikit merengek.


Bundanya hanya bisa menghembuskan napasnya dengan sedikit kasar karena melihat tingkah laku anak bungsunya yang satu ini. Di luar aja nampak kayak dewasa, tapi aslinya sih masih kayak anak-anak. Apalagi kalau di rumah, manja banget.


“Kalau Bunda cari nanti jumpa awas aja ya kamu.” Setelah itu bundanya berjalan menuju kamar Mahen untuk mencari dasinya. Sedangkan Mahen hanya mengekor di belakang sang Bunda.

__ADS_1


“Ini apa?! Makanya, cari itu pake mata, jangan mulutnya aja yang koar sana-sini,” ucap bundanya ketika sudah beberapa saat mencari. Kini dasi milik Mahendra sudah terpegang dengan eloknya di tangan sang bunda.


“Hehehe, tadi Mahen udah nyari di situ, tapi nggak ketemu loh, Bun,” ucap Mahendra membela diri. Dia kini hanya bisa cengengesan melihat dasi yang ada di tangan sang bunda.


“Iya kali lah itu,” sindir bundanya.


“Ya Allah! Beneran loh, Bun. Mahen bahkan udah 3 kali cari di bawah tempat tidur, tapi emang nggak ketemu.”


“Alasan aja! Yaudah, cepat sana kamu siap-siap, nanti telat lagi. Bunda mau balik ke dapur, siapin bekal kamu.” Setelah itu, bundanya kembali ke dapur dan meninggalkan Mahendra yang masih kagum sekaligus heran.


Bagaimana tidak? Padahal ia sudah berulang kali mencari di tempat yang sama, namun memang tidak menemukan dasi miliknya. Sedangkan ketika sang bunda yang mencari, tak butuh waktu lama dasinya sudah ditemukan.


Hal itu memang masih menjadi sebuah misteri. Mengapa saat ia mencari, barangnya seolah-olah menjadi gaib, tak terlihat? Tapi, sedangkan ketika sang bunda yang mencari, benda itu bisa dengan mudahnya terlihat dan ditemukan.


Sudahlah, tak usah terlalu dipikirkan. Yang terpenting dasinya sudah ditemukan. Mahendra pun kembali melanjutkan kegiatannya bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.


***


“Oi, Mahen! Tumben baru dateng?” tanya Ghaza ketika Mahendra duduk di kursinya.


“Biasa, drama pagi,” jawab Mahendra acuh.


“Apaan? Masalah barang yang hilang?” tanya Ghaza yang diangguki oleh Mahendra.


“Hahaha! Makanya, jadi orang itu nggak usah teledor banget,” ejek Nabil yang tiba-tiba ikut nimbrung di pembicaraan mereka. Yah, mereka bertiga memang sekelas, bahkan sejak kelas 10.


“Eits, santai Mas, santai, nggak usah emosi,” ucap Ghaza menengahi.


“Dia duluan tuh,” ucap Mahendra tak terima.


“Lah, kok aku?” tanya Nabil, juga tak terima.


“Udah! Kalian nggak usah jadi kayak anak kecil kenapa sih? Malu tuh diliatin orang,” lerai Ghaza sambil menunjuk teman-teman mereka yang sedang memperhatikan drama pagi yang recehan itu.


“Apa kalian liat-liat?! Nggak pernah liat orang ganteng?” tanya Nabil sewot dan membuat teman-temannya mengalihkan pandangan, berpura-pura tidak tau apa pun.


“Cukup, Nabil! Nggak usah childish banget jadi orang, ingat umur,” tegur Ghaza dan sukses membuat Nabil bungkam. Sedangkan Mahendra kini sedang tertawa kecil melihat raut wajah Nabil yang tertindas.


“Btw, kamu udah nggak pernah jumpa lagi sama junior itu, Mahen?” tanya Ghaza tiba-tiba.


“Junior yang mana?” tanya Mahendra bingung.


“Alah, sok-sokan nggak tau. Padahal dalam hati udah dag dig dug tuh,” ejek Nabil. Mahendra kembali melihat Nabil tak suka, namun hanya dibalas tatapan cuek oleh Nabil.


“Beneran, junior yang mana?” Mahendra kembali bertanya.


“Aduh, kamu itu ya, Mahen! Itu loh, junior yang kami kasih hukuman selama seminggu untuk dengerin semua perintah kamu,” ucap Ghaza, menjelaskan.

__ADS_1


“Ooo, maksudnya Niken? Emangnya kenapa?”


“Kamu nggak ada ngerasa kurang gitu karena udah 4 hari nggak ketemu sama dia? Padahal seminggu yang lalu kalian akrab banget nampaknya.”


“Ya terus, hubungannya apaan?” tanya Mahendra yang masih bingung dengan arah pembicaraan itu.


“Susah ya ngomong sama anak polos kayak kamu! Terkadang polosnya kelewatan sampe kesannya jadi bego,” keluh Nabil.


“Kok malah bawa-bawa bego sih?! Kan aku nanya karena emang nggak tau,” sewot Mahendra.


“Kali ini aku setuju sama Nabil, polos kamu itu udah kelewatan banget, Mahen,” sindir Ghaza.


“Loh, kok kalian berdua jadi nyalahin aku?”


“Pikir aja sendiri! Padahal kami berdua udah berbaik hati untuk bantu kamu, tapi malah nggak ada gunanya,” jawab Ghaza, kembali menyindir.


Mahendra menatap Ghaza dan Nabil dengan heran. “Sebenarnya maksud kalian apaan sih? Aku beneran nggak paham loh,” ucap Mahendra meminta penjelasan.


“Jadi gini loh. Kamu nggak ada ngerasain sesuatu gitu selama seminggu kalian dekat? Misalnya kayak deg-degan atau apalah itu?”


“Kalau deg-degan sih ada, tapi cuma sebentar doang. Emangnya kenapa?”


“Aduh, susah banget ngomong sama orang kayak kamu ya,” keluh Ghaza.


“Jadi gini, Mahen. Kamu nggak ngerasain perasaan yang beda gitu pas dekat sama si Niken, Niken itu?” tanya Nabil mengambil alih.


“Beda gimana? Aku cuma pernah sedikit deg-degan karena ucapan dia yang sedikit ambigu atau karena sikap dia...hemm, gimana ya bilangnya? Pokoknya gitulah,” jelas Mahendra. Nabil hanya bisa menghela napas melihat temannya yang satu ini.


“Gini deh, aku ganti pertanyaan aja. Menurut kamu Niken itu gimana?”


“Niken? Anaknya baik, ramah, dan sedikit lucu. Tapi, kadang-kadang dia nyebelin karena suka banget nanya sesuatu yang nggak berguna.”


“Udah? Itu doang?”


“Iya,” ucap Mahendra mengangguk.


“Oh ya, hampir kelupaan! Terkadang, waktu aku lagi sama dia, sikap aku tuh kayak berubah. Aku kadang-kadang suka uring-uringan atau perhatian ke dia. Terus aku juga ngerasa bersalah kalo aku siap marah atau ngebentak dia. Padahal dia yang salah karena selalu nanya hal nggak berguna, tapi malah aku yang nggak enakan,” papar Mahendra. Sedangkan Nabil dan Ghaza saling melihat satu sama lain, kemudian sebuah senyuman terukir di bibir mereka.


“Oke, cukup!” ucap Nabil menepuk pelan punggung Mahendra.


“Udah, gitu doang? Terus tujuan pembicaraan ini untuk apa?”


“Udah, nggak usah dipikirin lagi! Nanti kamu bakalan tau sendiri kok,” sahut Ghaza memberikan senyuman. Sedangkan Mahendra mencoba menyelidiki maksud mereka, apalagi senyuman keduanya terlihat begitu mencurigakan.


“Kalian nggak rencanain sesuatu yang aneh kan?”


“Udah, kamu tenang aja. Kami nggak bakalan rencanain sesuatu yang buat kamu rugi kok,” sahut Nabil.

__ADS_1


Baru saja Mahendra ingin kembali bertanya, namun harus tertahan di tenggorokannya karena bel masuk yang sudah berbunyi. Mereka pun segera duduk di kursinya masing-masing. Sedangkan Mahendra masih berpikir keras maksud arah pembicaraan kedua temannya itu.


__ADS_2