
Cika yang kelepasan bicara, tanpa sadar menutup mulutnya. Dalam hati dia mengutuk mulutnya yang suka kelepasan kalau bicara.
Sudah kelepasan kencang lagi! Dia benar-benar menyesal.
Denny yang biasa pembawaannya tenang penuh senyum, mukanya agak berubah dan senyumnya pun hilang.
Dimas menatap tajam pada Cika, seakan menegur Cika. Sedangkan Chandra menatap Cika bengong dan berpikir dalam hati,
"Si Cika ini ngawur, Aylin ada pacarnya, malah sebutin ex nya yang dulu" sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena Chandra berpikir kalau Denny adalah kekasih Aylin sekarang.
Sedangkan Dina tetap asyik makan soto sambil melihat handphonenya, karena tidak tahu apa-apa.
Aylin sempat tertegun sejenak, tapi dia segera memasang wajah biasa-biasa saja, dia tidak mau Cika disalahkan.
"Manusia kutub mana? Masak aku suka sama manusia kutub? kamu tuh ada-ada saja ka!" sahut Aylin tenang sambil tersenyum seakan tidak ada apa-apa.
Dimas dan Chandra menarik nafas lega, sedangkan Denny sempat menatap Aylin agak lama, berusaha mencari perubahan pada wajah Aylin.
Tiba-tiba Cika bangkit berdiri, mengajak Aylin ke toilet, dia ingin minta maaf atas kecerobohannya tadi secara pribadi, kali ini tidak ingin didengar oleh yang lain lagi.
Aylin tentu saja setuju, lalu Aylin pun ikut bangkit dari tempat duduknya.
"Ayo!" , ajak Aylin
Denny menatap kedua gadis yang melangkah pergi itu, dan dalam hati dia agak menyesal mengajak Aylin ke Mall ini.
Sambil berjalan Cika pun memulai pembicaraan, "Maaf ya Lin, tadi aku keterlepasan ngomongnya".
"Gak pa pa ka, aku sudah lupa sama kak Jay koq, kamu tenang saja!", jawab Aylin berbohong, dia tak ingin temannya merasa bersalah, lagipula dia juga sedang berusaha melupakan Jayden.
Aylin sudah berbeda, dia sekarang sudah bisa menyimpan perasaannya.
Tidak seperti dulu, kalau dulu dia selalu tidak tahan kalau tidak menceritakan perasaannya pada Jayden kepada Cika. Kalau dulu dia bercerita, dia selalu merasa ada yang mendukung dan membelanya, sehingga membuat hatinya tenang.
Sekarang dia malah beranggapan, terkadang ada masalah yang lebih baik tidak usah diceritakan, lebih baik dia menyimpan itu di dalam hatinya.
"Ah .. untunglah, aku benar-benar kurang suka dengan kak Jayden, aku senang kau sudah melupakannya Lin", sambung Cika bernafas lega, sambil menepuk punggung tangan Aylin.
"Iya", sahut Aylin pendek dan tersenyum, padahal dalam hatinya bergejolak.
"Huh baru namanya disebut membuat suasana gak enak, apalagi kalau orangnya muncul", pikir Aylin dalam hati.
" Aku yakin kamu bisa mendapatkan yang lebih baik lagi Lin", kata Cika berharap, karena dia yakin temannya yang cantik ini gampang membuat laki-laki terpesona dan jatuh cinta.
__ADS_1
"iya, terimakasih", jawab Aylin kalem.
"Wah, lu benar-benar sudah berubah 180 derajat Lin", kata Cika menggeleng-geleng kepala, takjub dengan perubahan temannya itu.
Ternyata Cika hanya memperbaiki dandanannya, dia tadi mengajak Aylin ke toilet hanya sebagai alasan saja, karena di hanya ingin berbicara berdua dengan Aylin saja.
Cika berasa kalau Denny selalu memperhatikan mereka berdua, sehingga rasanya tidak bebas.
Akhirnya Cika mengajak Aylin kembali lagi sesudah memperbaiki dandanannya, Aylin hanya menurut.
Sesudah Aylin dan Cika kembali, akhirnya mereka tidak bercerita masalah pribadi Aylin lagi.
Cika bercerita kalau kak Dimas sudah bekerja di salah satu Bank swasta, dan jabatannya juga lumayan tinggi. Sedangkan Cika sendiri bekerja di toko kosmetik.
Pantas saja Cika sudah pintar berdandan, pikir Aylin dalam hati, karena tadi dia sempat melihat temannya berdandan di toilet, dan kelihatan seperti profesional.
Akhirnya tibalah giliran Chandra bercerita.
Aylin beralih ke Chandra dan bertanya pada Chandra,
"Kamu juga Chandra, pasti pekerjaan mu sudah hebat, kamu kan dulu bintangnya kelas kita?"
Chandra terdiam sejenak, dia kelihatan agak bingung dan ragu untuk menjawab pertanyaan Aylin.
"Chandra si penghianat, pintar-pintar kerjanya malah sama si muka es itu!"
"Kan gue sudah bilang padamu, waktu gue melamar kerja itu, gue gak tahu kalau perusahaan itu punya Pak Jayden.
Dan yang menerimaku kerja juga bukan pak Jayden tapi bagian HRD, bahkan pak Jayden juga mungkin sudah lupa kalau pernah satu sekolah sama gue, kalau bukan karena ada Bu Maya yang mengingatkan", sahut Chandra membela dirinya.
Chandra memanggil Maya dan Jayden dengan sebutan bapak dan ibu karena sudah terbiasa di tempat kerja.
"Iya lah, orang sombong mana mungkin bisa ingat orang lain", sahut Cika pedas.
"Lagipula pekerjaan nya sesuai, aku di bagian produksi khusus bagian mesin, sesuai hobiku dan jurusanku," sambung Chandra lagi, tidak setuju kalau dia dibilang penghianat.
"Iya aku tahu, jabatan lu udah tinggi, jadi pasti betah lah", sindir Cika lagi.
Dina hanya diam, dia bingung mau memihak siapa. Dia hanya merasa aneh saja, kenapa dari dulu Cika sentimen banget pada bos nya Chandra.
Padahal setahunya bos Chandra cukup baik karena Chandra sering belajar masalah mesin pada bosnya itu, dan Chandra kagum dengan keahlian bosnya dalam urusan mesin.
Mendengar hal ini Denny agak kaget, dia khawatir Aylin akan terkenang Jayden lagi, karena hari ini mereka sudah 2 kali menyebut nama Jayden walaupun pertama kalinya hanya pakai julukan saja (manusia kutub).
__ADS_1
Dan benar saja, saat dia menengok ke Aylin, Aylin kali ini tampak kaget dan termenung.
Aylin sebenarnya sudah lupa kalau dia sudah mau bekerja di perusahaan Jayden, karena kepulangan Denny dan bertemu teman lama lagi.
Tapi saat dia mendengar cerita Chandra, dia jadi seperti diingatkan lagi, kalau dalam waktu dekat ini dia sudah mau bekerja di sana.
Hal itulah yamg membuat Aylin merasa tertekan, karena mau tidak mau dia harus bertemu dengan Jayden lagi.
Dan sepertinya. dia harus memberitahu Cika, karena kalau dia menyembunyikan hal tersebut, dan sampai suatu hari Cika tahu, Cika pasti marah kepadanya.
Lagipula sudah tidak bisa disembunyikan lagi karena Chandra juga bekerja di sana, pasti mereka akan bertemu suatu hari, walaupun berbeda divisi.
Sesudah termenung agak lama, akhirnya Aylin memutuskan untuk memberitahukan juga.
"Aku juga akan mulai bekerja di perusahaan itu dalam waktu dekat ini", kata Aylin seakan memberikan pengumuman pada semuanya
Denny kali ini benar-benar terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Dimas juga kaget, karena dia sering mendengar cerita hubungan Aylin dan Jayden dari Cika. Chandra juga kaget, dia tidak menyangka kalau suatu hari dia akan satu perusahaan dengan Aylin.
Sedang kan Dina biasa saja, dia hanya berpikir dalam hati,
"Tuh kan ada seorang teman Cika lagi yang bekerja di perusahaan pak Jayden."
Kalau Cika bukan kaget lagi, dia malah kelihatan marah ,
"Koq bisa? Kenapa lu harus kerja di sana? gue bisa bantu lu untuk masuk kerja ke tempatku", protes Cika dengan kesal.
"Gak bisa ka, aku sudah terlanjur mengiyakan tawaran om dan Tante Sunjaya.
Ibuku juga mendukung om dan Tante. Aku hanya bisa nurut pada ibuku saja. Lagipula kerja dimana sama saja, kamu jangan terlalu mengkhawatirkan ku, aku gak pa pa", jawab Aylin berusaha untuk kelihatan tenang.
Cika pada akhirnya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia benar-benar kaget melihat perubahan yang begitu besar pada temannya itu, akhirnya dia terdiam.
"Wah Aylin sudah benar-benar dewasa dan pengertian", sanjung Dimas untuk mencairkan suasana yang canggung.
Sedangkan Chandra yang tak berperasaan berkata ke Cika, menyalahkan,
"Tuh kan Aylin aja gak kenapa-kenapa, mengapa kamu yang ribut kalau aku kerja di sana".
Denny sudah terdiam dari tadi dan tak berkata sepatah katapun, tapi senyumnya sudah hilang sama sekali sejak tadi, hanya dalam hati dia berpikir,
"Ternyata kali ini aku yang kalah selangkah dari Jayden".
Bersambung.........
__ADS_1