
Dalam perjalanan pulang Denny tidak banyak berbicara seperti biasa. Sebenarnya Aylin bisa merasakan perubahan itu, tapi dia hanya diam saja karena dia bingung bagaimana dia harus menghibur kak Denny.
Ketika mereka dalam perjalanan pulang, langit sudah mulai gelap, jam sudah menunjukkan pukul 18.15 an. Ternyata bertemu teman lama dan ngobrol-ngobrol, waktu tidak terasa sudah malam.
Cika berjanji, kalau ada waktu akan mengunjungi Aylin. Dia juga berkata, kapan-kapan Aylin juga harus mengunjungi dia, biar Aylin bisa tahu letak rumahnya.
Waktu sekolah dulu Aylin tidak pernah main ke rumah Cika, karena rumah Cika letaknya agak jauh dari sekolahan. Lagipula Cika selalu beralasan tidak bebas karena rumahnya agak kecil, dan saudaranya banyak. Jadi dulu waktu sekolah kalau Cika dan Aylin mau belajar ataupun bermain bersama mereka memilih di rumah Aylin.
Lagipula saat itu Aylin kesepian hanya ada dia seorang diri di rumah dengan pembantu.
"Aku main ke rumahmu nanti ya, kalau kau sudah nikah sama kak Dimas", jawab Aylin tersenyum.
"Aku ingin melihat rumah best friend ku", sambung Aylin lagi.
Cika pun mengiyakan. Akhirnya mereka berpisah di tempat parkir.
Aylin kembali mencuri pandang ke Denny, tapi muka kak Denny masih mendung tanpa senyum, tidak seperti biasanya. Denny terlihat seperti konsentrasi ke jalan.
Aylin menghela nafas pelan, dia sungguh bingung bagaimana mencairkan suasana.
Dia juga tidak terlalu jelas apa yang menyebabkan perubahan pada Denny, yang Aylin tahu wajah Denny berubah saat Cika menyebutkan istilah manusia kutub.
Aylin sebenarnya selama ini juga tahu kalau Denny mempunyai perasaan khusus padanya
Tapi Aylin sungguh bersyukur karena Denny belum pernah mengucapkan langsung kepadanya. Andaikata terjadi dia sungguh bingung untuk menjawabnya, yang jelas dia tidak tega menyakiti Denny. Sedangkan dia hanya menganggap Denny adalah teman, teman yang sangat baik padanya.
Akhirnya mobil Denny pun sampai di depan rumah Aylin, Aylin pun bisa menarik nafas lega terhindar dari suasana canggung seperti ini .
Dan seperti biasa, Denny langsung membuka safety beltnya, dan keluar membukakan pintu untuk Aylin.
Aylin sungguh merasa seperti seorang putri setiap berpergian dengan Denny. Karena itulah yang menyebabkan dia selalu sungkan untuk berpergian dengan Denny.
Kadang dia berpikir pantas saja dulu Denny punya banyak pacar, karena orangnya romantis.
"Terimakasih ya kak, buat hadiahnya, dan sudah mengajak aku pergi hari ini.
Aku bahagia sekali hari ini bisa bertemu dengan teman-teman ku lagi", ucap Aylin sambil tersenyum manis, dia berusaha untuk membuat Denny senang.
Denny yang menatap wajah Aylin, entah mengapa rasa kesalnya hilang.
__ADS_1
Denny tiba-tiba mendekati Aylin dan tanpa sadar dia tiba-tiba memeluk erat Aylin.
Entah karena suasana, entah karena dia sudah begitu lama merindukan Aylin karena sudah lama berpisah, bisa jadi juga karena dia mendengar nama Jayden disebut di depan Aylin, rivalnya yang paling dia takuti, karena dia tahu dulu Aylin begitu mengagumi Jayden.
Apalagi dalam waktu dekat Aylin akan bekerja di perusahaan Jayden, sungguh membuat Denny benar-benar tidak bisa tenang lagi.
Aylin yang tiba-tiba dipeluk Denny merasa kaget, dia sampai bingung dan sama sekali tidak bergerak .
Sangking bingungnya dia hanya bisa menengadah ke atas menatap ke wajah Denny, karena tubuh Denny yang posturnya tinggi.
Melihat mata Aylin yang begitu indah, Denny semakin terpesona, yang membuatnya seperti tersihir.
Lalu Denny mendekatkan wajahnya pada Aylin, ingin mencium bibir Aylin yang menggoda itu.
Memang pada dasarnya Denny adalah seorang yang romantis, apalagi dia juga sudah berpengalaman dalam percintaan.
Akhirnya Denny terpengaruh suasana, apalagi Aylin hanya terdiam tidak menunjukkan perlawanan sama sekali.
Aylin yang agak telmi, tiba-tiba tersadar. Walaupun dia tidak berpengalaman dalam hal seperti itu, tapi dia sudah sering menonton di drama-drama kesukaannya.
Dia mengerti apa yang ingin dilakukan oleh Denny, segera dia memalingkan wajahnya dan mendorong dada Denny dengan kedua tangannya yang bebas, tidak terlalu keras, tapi membuat Denny segera sadar dari suasana mistis itu.
Dia menatap ke Aylin yang sekarang posisinya yang agak menjauh darinya, kedua pipi Aylin bersemu merah dan menunduk memainkan tangannya sepertinya salah tingkah.
Aylin tidak menjawab, dia hanya mengangguk, dan masih menunduk karena malu tidak berani menatap Denny.
Denny benar-benar menyesal dengan sikapnya tadi, "Kak Denny pulang dulu ya, kamu cepat masuk dulu, cepat istirahat", ucap Denny.
"Iya kak Denny, terimakasih ya, kak Denny hati-hati ya. Aylin masuk ke dalam dulu", Akhirnya Aylin mengangkat kepalanya dan menatap Denny sebentar, sesudah itu cepat-cepat mengalihkan pandangannya.
Denny masih menatap Aylin, sampai Aylin akhirnya masuk ke dalam rumah.
Lalu Denny akhirnya masuk ke mobil dan meninggalkan tempat itu.
...******""...
Aylin yang masuk ke dalam rumah langsung disambut ibunya. "Sudah makan belum?" tanya Ibu Aylin pada anaknya.
"Sudah Bu", jawab Aylin berbohong, karena dia sudah tidak ***** makan karena kejadian tadi.
__ADS_1
"Lho tumben kak Denny gak mampir?", tanya ibunya lagi, karena biasanya dulu kalau sesudah pergi dengan Aylin, bila belum terlalu malam Denny selalu mampir untuk ngobrol dengan ibunya,
"Mungkin kak Denny capek Bu, kak Denny kan habis perjalanan jauh, 17 jam di pesawat Bu, habis itu langsung ke Mall lagi", alasan Aylin, dia tidak ingin ibunya curiga.
"Ohh.. iya juga ya", ucap ibunya mengangguk.
"Gimana tadi, habis jalan-jalan senang gak?" tanya ibunya
"kamu kan sudah lama gak pergi ke Mall", sambung ibunya lagi.
Setiap Aylin habis berpergian agak lama, pulangnya ibu pasti mengajaknya ngobrol terus. Mungkin karena kelamaan di rumah sendirian.
Biasanya Aylin akan menjawab dengan antusias, tapi hari ini dia sedang bingung karena kejadian tadi, akhirnya dia hanya menjawab seadanya saja.
Dia hanya bercerita kalau dia bertemu dengan teman lamanya, teman sekolahnya dulu.
Karena ibu melihat Aylin yang tidak bersemangat seperti biasanya, ia mengira Aylin sudah capek karena berpergian seharian.
"Kamu juga kelihatan capek Lin, kamu cepat istirahat saja", ucap ibunya.
"Baik Bu, tapi saya mau mandi dulu Bu", jawab Aylin yang merasa capek, bukan fisiknya, tapi hatinya.
Sesudah Aylin selesai mandi, dia merasa lebih segar, dia mendatangi ibunya yang sedang menjahit.
"Bu aku mulai masuk kerja hari Senen ya Bu, ibu sudah sehat ?", tanya Aylin pada ibunya.
"Sudah Lin, ibu sudah sehat. kamu tidak perlu khawatir. Kamu mulai bekerja hari Senen gak pa pa Lin. Makin cepat makin bagus, agar kamu cepat mendapatkan pengalaman", sahut ibunya.
"Baik Bu, nanti saya memberitahu Tante Sunjaya kalau hari Senen saya sudah siap masuk kerja", jawab Aylin.
Tadi saat mandi tiba-tiba Aylin berpikir untuk segera masuk kerja untuk menghindari kak Denny.
Setidaknya dia tidak kelihatan menghindari kak Denny, pikirnya. Dia tidak tega menyakiti hati Denny yang sudah begitu baik padanya, tetapi dia juga tidak bisa mencintai Denny.
Akhirnya ada satu cara, yaitu dia segera bekerja.
Walaupun seperti memakan buah simalakama, karena saat bekerja dia juga harus bertemu Jayden, tapi setidaknya lebih baik dari pada dia harus menghadapi kak Denny.
"Lagipula kak Jayden juga tidak punya perasaan apa-apa padaku, jadi lebih mudah menghadapinya", pikir Aylin yang polos dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Tapi Aylin tidak pernah tahu isi hati Jayden, Aylin juga tidak tahu ternyata manusia kutub lebih susah dihadapi.
Bersambung........