Loving You

Loving You
Jayden yang bertambah "nakal"


__ADS_3

Aylin masih belum tertidur, padahal jam hampir menunjukkan pukul 12.00 tengah malam.


Aylin melihat ke ibunya yang tidur di sebelahnya, ibunya dari tadi sudah tertidur dengan pulas.


"Mungkin tadi aku tertidur di mobil kak Jay lumayan lama, jadi sekarang jadi tidak ngantuk lagi", pikir Aylin menghibur dirinya sendiri.


Karena tidak bisa tidur, akhirnya pikiran Aylin mengembara ke mana-mana. Akhirnya dia malah teringat lagi dengan kejadian Jayden yang kembali menciumnya di mobil.


Aylin sungguh menyesal dan kesal pada dirinya sendiri, mengapa dia bisa begitu pasrah setiap Jayden menciumnya.


Bahkan kali ini lebih parah lagi, sepertinya dia malah membalas Jayden dengan mengalungkan kedua lengannya pada leher Jayden, dan sepertinya dia juga menikmati hal itu.


"Sungguh memalukan! kamu memang pantas disebut cewek penggoda!" omel Aylin pada dirinya sendiri.


Kadang Aylin juga bingung dengan hatinya sendiri.


Mengapa dia tidak bisa mencintai kak Denny, padahal kak Denny sudah begitu baik dan perhatian padanya selama ini, dan juga sudah banyak membantunya.


Bahkan tadi kak Denny menelponnya, untuk meyakinkan kalau Aylin sudah sampai rumah atau belum, Aylin juga tidak memberitahukan ke Denny kalau yang mengantarnya Jayden, dia membiarkan Denny mengira kalau yang mengantarnya pulang adalah Chandra.


Sebetulnya Aylin sudah berusaha untuk menjaga sikapnya agar selalu waspada dan hati-hati terhadap Jayden, karena dia sudah tahu sikap Jayden yang sekarang, sikap yang susah diprediksi dan suka berbuat semaunya tanpa perduli dengan pendapat orang lain itu.


Tapi entah mengapa, tadi dia bisa menjadi lengah, hanya karena Jayden yang bersikap mengalah, begitu baik dan perhatian padanya saat di pesta pernikahan Cika.


"Mengapa aku mudah ditipu kak Jayden, mengapa otakku begitu bebal", pikir Aylin kesal pada kelemahannya sendiri.


Tiba-tiba juga dia teringat dengan pesan Cika padanya saat di pesta tadi, supaya lebih berhati-hati pada Jayden, agar jangan sampai dia jatuh di lobang yang sama lagi, dan jangan sampai sakit hati untuk kedua kalinya lagi.


Cika adalah teman baiknya, pasti mengharapkan yang terbaik buatnya. Kali ini dia harus mendengar kata-kata Cika sepertinya.


"Huh.. jangan-jangan aku cuman jadi pelampiasannya kak Jayden saja, gara-gara hubungan kak Jay dan kak Maya sedang tidak baik!" , pikir Aylin kesal.


Walaupun hari sudah malam, Jayden masih duduk santai di kursi favoritnya.


Jayden yang percaya diri ini, semakin yakin kalau Aylin masih mencintainya. Jayden teringat setiap kali dia mencium Aylin, Aylin begitu pasrah dalam pelukannya.


Bahkan tadi Aylin sepertinya membalasnya dengan mengalungkan kedua lengannya dengan pasrah pada lehernya.

__ADS_1


"Sungguh menggemaskan!Akan kulumat habis kamu!" pikir Jayden yang sudah tergila-gila pada Aylin.


Jayden tersenyum sendiri teringat kejadian tadi, saat Aylin keluar dari mobil. Jayden membukakan pintu mobil untuk Aylin. Saat Aylin baru berjalan keluar dari mobil Jayden, Jayden langsung menarik Aylin, memeluk dan mengecup dahi Aylin.


Aylin tidak menyangka hal itu, kaget dan secara refleks langsung mendorong Jayden. Sesudah itu Aylin melihat sekitarnya, Aylin takut sekali ada yang melihat kejadian itu.


Karena Aylin tahu ibu-ibu di lingkungan dia suka bergosip. Dia tidak mau jadi bahan gosip.


Sesudah yakin tidak ada yang melihat, Aylin menatap marah pada Jayden yang malah memasang muka tak berdosa.


Aylin benar-benar marah akhirnya.


"Kak Jayden nakal!", omel Aylin dengan cemberut dan menghentakkan kakinya, lalu masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa lagi.


Jayden tersenyum puas dan akhirnya meninggalkan tempat itu.


Jayden memang iseng, kalau hatinya sedang senang.


Maya yang sudah sampai rumah perasaannya benar-benar marah dan kesal pada Aylin. Akhirnya Maya memutuskan untuk menelpon Denny.


Saat bertemu dengan Denny , dia tadi sempat mencatat nomor handphone Denny.


Akhirnya Maya bertambah resah dan kesal.


"Heran playboy satu ini, punya pacar koq dibiarkan keliaran sendiri di pesta mencari mangsa!", omel Maya yang kini sikap tenang yang dimilikinya itu sudah hilang sama sekali.


Sedangkan yang ditelpon baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan berberes, bersiap-siap pulang.


Sesudah pamitan dengan clientnya, Denny pun berjalan keluar dari tempat clientnya itu sambil mengeluarkan handphonenya untuk melihat jam.


Betapa kagetnya Denny mendapat tiga panggilan dari Maya.


"Untuk apa Maya menelponku? Seingatku aku tidak terlalu akrab dengannya dulu", pikir Denny sambil melihat jam di handphonenya yang sudah hampir jam 22.00.


"Ah lebih baik aku menelpon Aylin dulu, entah sudah pulang atau belum? kalau belum kujemput saja", pikir Denny dengan semangat malah menelpon Aylin lebih dulu.


Ternyata yang ditelpon sudah sampai di rumah, akhirnya Denny hanya bisa mengucapkan selamat malam saja. Denny benar-benar kecewa, tadi dia hanya bisa menemani Aylin sebentar saja, belum lagi tadi waktunya habis untuk meladeni teman-teman masa sekolah masing-masing.

__ADS_1


Akhirnya waktu dia dengan Aylin berduaan cuman sebentar.


Akhirnya Denny segera menjalankan mobilnya untuk kembali ke rumah karena sudah hampir jam 22.00.


Sampai di rumah setelah mandi dan duduk santai di kamarnya barulah dia teringat kalau tadi Maya menelponnya tiga kali.


"Waduh sudah mau jam 11.00 malam, telpon balik Maya takutnya sudah tidur.Tapi gak ada salahnya gue coba telpon aja, takutnya besok gue kelupaan lagi, sepertinya penting sampai tiga kali panggilan", pikir Denny dalam hati menjadi penasaran kenapa Maya menelponnya.


Untungnya panggilan baru berdering dua kali, telponnya sudah langsung diangkat Maya.


"Waduh bos kita yang satu ini sibuk banget, sampai susah dihubungi", sindir Maya yang dari tadi resah dan belum tidur walaupun sudah malam.


"Ada masalah penting apa nih, sampai nyonya bos besar nyari aku?", Balas Denny yang tidak mau kalah, Denny menganggap kalau Maya adalah calonnya Jayden.


Karena dulu kalau dia memasangkan Jayden dengan Maya, kedua-duanya tidak ada yang pernah menyangkalnya.


"Aku langsung saja Den pada permasalahannya', jawab Maya yang tiba-tiba serius.


"Ada apa?", tanya Denny yang juga berubah serius dan penasaran.


"Sebaiknya kalau kamu punya pacar cantik, dijaga. Jangan pernah dibiarkan sendiri, nanti diambil yang lain. Aku cuman mengingatkanmu, bagaimanapun aku juga temanmu", jawab Maya


"Maksudmu Aylin? Jangan khawatir Aylin orangnya gak macam-macam. Aku percaya padanya", jawab Denny masih membela gadis pujaannya.


"Bagaimana kalau ketemu dengan bos besar kita? kamu masih yakin?", tanya Maya lagi


Denny bukanlah orang yang bodoh, dia tentu mengerti siapa yang dimaksud dengan bos besar.


Akhirnya Dennypun mulai tidak tenang.


"Harusnya kamu bisa jaga bos besarmu itu agar tidak macam-macam!", sahut Denny mulai terpancing emosinya.


"Kalau melawan yang lain aku masih bisa, tapi melawan kekasihmu itu aku tidak sanggup. Kalau aku sanggup melawannya tidak mungkin aku menghubungimu", tandas Maya mengakhiri pembicaraannya.


Maya memang pintar memancing kemarahan orang.


Denny akhirnya terpancing rasa marahnya, apalagi juga mendengar dari Maya, kalau yang mengantar pulang Aylin adalah Jayden, sedangkan Aylin sama sekali tidak memberitahunya.

__ADS_1


Akhirnya manusia penuh senyum itupun hilang senyumnya.


__ADS_2