
Ibu Aylin mau tidak mau menerima ajakan untuk makan bersama juga, karena ajakan dari ibu Jayden memang susah ditolak.
."Aku sekarang sudah belajar masak lho, sayang tadi pergi dari pagi, jadi Aylin dan ibunya tidak bisa mencoba masakanku", kata ibu Jayden dengan bangga.
Sepertinya sifatnya yang satu ini sangat mirip dengan Jayden, terlalu percaya diri. Memang rasa percaya diri ibu Jayden tidak beda jauh dengan anaknya.
"Untung saja sibuk belanja, jadi gak sempat masak", pikir Jayden dalam hati, dia bersyukur tidak usah makan masakan ibunya yang gak jelas rasanya itu.
Cukup ayahnya saja yang menjadi penggemar masakan ibunya, pikir Jayden dalam hati.
Sedangkan ayah Jayden hanya tersenyum mendengar perkataan istrinya itu.
Sesudah memulai acara makan bersama itu, tidak ada lagi yang memulai obrolan. Semuanya makan dalam diam. Sepertinya ada peraturan untuk tidak berbicara pada saat makan.
Jayden beberapa kali mencuri pandang ke Aylin yang duduk di depannya itu. Sedangkan Aylin yang kebagian duduk di depan Jayden, dari tadi lebih banyak menunduk, seakan-akan begitu menikmati makanannya, padahal dia ingin menghindari pandangan Jayden, sebab hatinya masih berdebar-debar karena kejadian di kamar Jayden tadi.
Selesai makan, ibu Jayden mengajak Aylin dan ibunya ke ruang tamu lagi, Aylin dan ibunya menurut dan mengikuti ibu Jayden dari belakang, mereka juga tidak mungkin langsung pulang sesudah makan.
Sampai di ruang tamu, ayah Jayden memberikan sebuah kotak pada Aylin, ternyata ayah Jayden membelikan sebuah jam tangan pada Aylin sebagai oleh-oleh dan juga sebuah kantong yang agak besar yang berisi makanan ringan buatan negara itu.
"Kalau kasih di perusahaan gak enak dengan yang lain Lin, karena om gak sanggup bawa banyak-banyak, nanti gak enak sama yang gak kebagian", alasan ayah Jayden mengapa mengajak Aylin ke rumah.
"Terimakasih om buat hadiahnya, maaf sudah merepotkan om", sahut Aylin sambil mengangguk.
Jayden yang biasanya jarang ikut bergabung kalau ada tamu, kali ini juga ikut bergabung bersama, dan kali ini Jayden langsung memilih duduk di samping Aylin.
Ibu Jayden yang melihat anaknya yang bergabung, kali ini tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk membicarakan masalah keinginannya untuk melihat Jayden segera berkeluarga.
"Lin menurutmu kak Jay cocok gak sama kak Maya?" tanya ibu Jayden mendadak pada Aylin.
Aylin yang sedang tidak konsentrasi, karena Jayden duduk di sampingnya dan sering menatap ke arahnya, kaget karena mendadak ditanya oleh ibu Jayden.
__ADS_1
"Iya, cocok ..cocok tante", jawab Aylin agak tergagap, karena dia tidak menyangka ibu Jayden akan bertanya padanya. Jayden yang mendengar pertanyaan ibunya, apalagi jawaban Aylin yang mendukung ibunya, menjadi gusar.
"Ah, ibu kenapa sih ngomongin masalah ini terus?" tanya Jayden dengan kesal.
"Kalau tidak didesak terus, kapan kamu mau berkeluarga? ibu kan hanya tanya pendapat Aylin, biar kamu sadar. Orang lain saja bisa menilai cocok. Ibu juga sudah tanya pada Maya, Maya juga tidak keberatan, apalagi yang kamu tunggu? kenapa kamu susah banget nyatain perasaan kamu?", tanya ibu Jayden yang sok tahu dan kurang peka ini, yang mengira anaknya tidak berani menyatakan perasaannya pada Maya.
"Sudah! jangan bicarakan masalah ini dulu!", ucap ayah menengahi adu mulut antara Jayden dan ibunya.
Sedangkan Aylin hanya terdiam dan merasa serba salah, sebagai pihak yang ditanya.
Tapi ternyata kesabaran ibu Jayden sudah habis, dia benar-benar terobsesi untuk melihat Jayden segera berkeluarga dan memberikannya cucu, karena kedua anaknya yang lain sudah tinggal di luar negeri.
Sedangkan anak yang paling dekat dengannya adalah Jayden. Apalagi sejak dia jarang mengurus perusahaan, Ibu Jayden sering merasa kesepian, karena anggota keluarganya yang sedikit.
"Ibu tidak akan membicarakan masalah ini lagi, kalau kamu sudah putuskan kapan kamu akan menikah!
kamu sudah punya semua, kedudukan, harta, calon pun sudah ada. Apalagi yang kamu tunggu?Apa kamu mau tunggu sampai Maya diambil orang lain!", tanya ibu Jayden.
Jayden yang setiap mendengar kata "diambil orang lain", pasti yang teringat di benaknya adalah Aylinnya sudah diambil Denny temannya itu, hal yang paling disesali di sepanjang hidupnya.
"Baik, kalau ibu ingin aku menikah segera! Tapi ada syaratnya!" akhirnya Jayden menjawab keinginan ibunya.
Mendengar jawaban Jayden, hati Aylin pun menjadi sakit, walaupun dia sudah menerima kenyataan kalau Jayden itu bukanlah jodohnya.
Sedangkan ibu Jayden akhirnya tersenyum puas, karena keinginannya pada akhirnya dituruti walaupun dengan syarat.
Ibu Jayden yakin dia bisa memenuhi syarat dari Jayden
Ayah Jayden hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat adu mulut antara dua orang yang disayanginya itu.
Sedangkan ibu Aylin dari tadi hanya ikut mendengarkan saja, dia sudah tahu dari dulu kalau sifat ibu Jayden yang agak temperamental, jadi sudah tidak terlalu kaget.
__ADS_1
"Kamu sebutkan saja, ibu akan berusaha penuhi syaratmu", jawab ibunya senang, karena merasa sudah menang kali ini.
"Kalau ibu memenuhi syaratmu, kamu harus menikah secepatnya dan jangan beralasan macam-macam lagi!", sambung ibunya lagi.
"Aku mau ibu melamar Aylin untuk menjadi istriku, bukan Maya!", tandas Jayden tanpa ekspresi.
Kali ini yang kaget bukan hanya ibu Jayden, Aylin juga kaget apalagi ibunya Aylin yang tadinya masih tenang-tenang saja pun kaget.
Bahkan Ayah Jayden yang biasa bisa mengerti sifat Jayden, juga tidak menyangka Jayden akan mengeluarkan persyaratan seperti itu.
"Aduh kak Jay memainkan permainan apa lagi ini, malah aku yang kena", pikir Aylin dalam hati dengan gelisah dan meremas tangannya sendiri dengan tidak tenang.
Belum lagi menghadapi tatapan ibunya yang menatap padanya penuh tanda tanya .
Denny dari pagi sudah tiga kali bolak balik ke rumah Aylin.
Sebenarnya dia ingin mengajak Aylin untuk berpergian dengannya. Apalagi akhir-akhir ini dia semakin takut dengan kedekatan Aylin dan Jayden, yang dia tahu dari cerita Maya
Denny merasa akhir-akhir ini dia terlalu sibuk, sehingga sudah jarang bisa bertemu Aylin.
Karena hari ini jadwalnya kosong, dengan semangat dia datang ke rumah Aylin, ternyata rumah Aylin dalam keadaan terkunci dan tidak ada orang.
Ketika sudah siang Aylin dan ibunya masih belum di rumah, akhirnya Denny berpikir untuk menelpon Aylin saja. Tadinya dia berpikir kalau Aylin dan ibunya cuman ke pasar atau daerah-daerah dekat rumah saja.
Selama dia mengenal Aylin, Aylin dan ibunya jarang sekali pergi begitu lama.
"Siapa tahu perginya jauh, biar kujemput saja, aku juga lagi suntuk dan gak ke mana-mana", pikir Denny yang sudah kangen dengan gadis pujaannya. Akhirnya Denny mengeluarkan handphonenya untuk menelpon Aylin.
Aylin yang sedang dalam suasana tegang, begitu mendapat panggilan masuk merasa sangat bersyukur.
Aylin segera meminta ijin pada ayah Jayden keluar untuk mengangkat telpon masuk.
__ADS_1
Setidaknya dia bisa menghindari ketegangan antara Jayden dan ibunya sementara ini.
Jayden hanya bisa menatap tajam ke Aylin yang berjalan keluar dari ruang itu