
Akhirnya Jayden pamitan pada Ibu Aylin, dia merasa percuma bertanya pada ibu Aylin, sepertinya ibu Aylin menyembunyikan sesuatu.
Menurut Jayden tidak mungkin ibu Aylin tidak tahu kemana Aylin pergi. Aylin sangatlah dekat dengan ibunya setahu Jayden.
Dengan kecewa Jayden kembali ke mobilnya, langsung masuk ke mobil.
"Balik ke rumah saja Ded", ujar Jayden memberikan instruksi
"Baik bos", sahut Deddy tapi dalam hatinya bingung saat melihat jam menunjukkan pukul 3, memang sudah sore juga, tapi biasanya bosnya masih balik ke kantor lagi kalau baru jam segitu.
Sedangkan ibu Aylin sepeninggal Jayden, bisa menarik nafas lega juga. Dia tidak menyangka, kalau Jayden akan berani bertanya macam-macam padanya.
(Ibu Aylin tidak pernah tahu Jayden yang muka tembok, yang dia tahu adalah Jayden orang yang jarang bicara, tapi hari ini dia baru tahu ternyata Jayden juga bisa banyak bicara).
Untungnya saja dia bisa menjawabnya dengan lancar, pikir Ibu Aylin.
Dan dia juga cukup merasa beruntung karena hari ini Aylin menemani Cika sampai malam, jadi tidak usah bertemu dengan Jayden.
Dia yakin kalau Aylin yang bertemu Jayden, pasti Aylin akan sulit menghadapi Jayden, karena ibunya sering melihat Aylin yang sering salah tingkah jika ada Jayden.
Dan ibu nya menduga kalau Aylin masih punya perasaan terhadap Jayden.
"Semoga saja kali ini Aylin bisa segera melupakan Jayden setelah bekerja di tempat lain", harap ibu Aylin.
Begitu sampai rumah, Jayden langsung berjalan menuju ke atas, ke kamarnya.
Ayah dan ibunya yang sedang santai di ruang keluarga sambil menonton televisi, kaget melihat kepulangan Jayden yang masih sore, tidak seperti biasanya itu.
__ADS_1
"Ada apa Jay? Apakah kamu sakit?" tanya pak Sunjaya khawatir, karena tidak biasanya Jayden pulang sepagi itu.
"Tidak yah, tadi habis bertemu Mr. John dari Vietnam, jam nya sudah tanggung, lagipula kerjaanku sudah beres, jadi aku pulang. Lagi malas saja", jawab Jayden.
"Ibu, Mengapa Aylin resign dari perusahaan kita?", Jayden bertanya tiba-tiba karena melihat ibunya yang masih duduk santai di sofa keluarga, Jayden kemudian mengalihkan perhatian ke ibunya.
Jayden akhirnya tidak jadi naik ke atas, tapi duduk di sofa, menunggu jawaban dari ibunya itu.
Ayah Jayden juga kaget mendengar hal tersebut, langsung juga ikut bertanya, "Lho kenapa Aylin berhenti kerja, bukankah selama ini dia bekerja baik- baik saja di perusahaan kita. Koq mendadak sekali berhenti kerjanya? Ayah juga pernah tanya padanya, katanya dia betah, ibu Desy dan pak Yanto baik dan sabar padanya".
Ibu Jayden terdiam sejenak, akhirnya menjawab, "Lin berkata kalau otaknya kurang mumpuni untuk bekerja di kantor kita".
"Mengapa ibu tidak mencoba menahannya? bukankah selama ini dia bekerja baik-baik saja dan tidak pernah buat kesalahan walaupun otaknya tidak pintar. Lagipula kalau dia ada kesulitan kan bisa meminta bantuanku."
Sebenarnya ibu Jayden sudah emosi mendengar Jayden begitu memihak ke Aylin,
"Huh begitu memanjakan Aylin, pantesan saja sampai digosipin dan membuat Maya hampir menyerah", pikir ibu Jayden dalam hati.
"Kamu tahu sendiri Aylin itu masih muda, pikirannya masih plin plan dan kurang bisa bertanggung jawab, mungkin juga dipengaruhi orang lain untuk pindah", ujar ibu Jayden asal menjawab, yang menyebutkan kekurangan-kekurangan Aylin, agar Jayden tidak merasa keberatan lagi dengan berhentinya Aylin si perusahaan mereka.
"Kalau ibu sudah tahu begitu, mengapa ibu tidak mempengaruhi dia untuk membatalkan kemauannya itu, Mengapa ibu membiarkan saja Aylin langsung berhenti?", tanya Jayden seperti menyalahkan ibunya.
Akhirnya kesabaran ibu Jayden pun habis, melihat anaknya yang begitu tidak merelakan Aylin berhenti dari perusahaan mereka.
"Kenapa tidak kamu sendiri saja yang mempengaruhi Aylin agar tidak berhenti kalau kamu tidak rela Aylin berhenti dari perusahaan kita?", tanya ibunya dengan kesal.
"Sudah, sayangnya aku tidak bertemu Aylin", jawab Jayden yang langsung membuat ibunya terdiam.
__ADS_1
"Ya sudah, besok-besok kalau kamu ketemu sendiri dengan Aylin, kamu tanyakan sendiri saja biar lebih jelas!", ujar ayah Jayden menengahi masalah itu.
"Baik yah, saya naik dulu, saya capek, mau istirahat dulu si kamar", ujar Jayden mengakhiri masalah itu, dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Yah, kenapa anakmu sikapnya makin aneh saja. Berhentinya Aylin kan gak mempengaruhi pekerjaan dia dan gak ada hubungannya, mengapa dia keberatan banget sih?" tanya ibu Jayden pada suaminya setelah Jayden naik ke atas.
"Ya bagaimanapun Aylin kan temannya waktu kecil, mungkin Jayden prihatin dengan kehidupan ibunya dan Aylin sekarang, jadi dia menjadi perhatian padanya", jawab pak Sunjaya sabar.
"Tapikan itu bisa mengakibatkan gosip yang tidak-tidak yah, kan akhirnya kasihan sama Maya", jawab Bu Sunjaya.
Akhirnya ayah Jayden menyadari kalau istrinya sepertinya tahu ada hal lain yang menyebabkan Aylin resign dari perusahaan mereka.
"Apa hubungannya sama Maya Bu, Maya kan bukan siapa-siapa nya Jayden? Maya kan hanya rekan kerja Jayden", tanya pak Sunjaya.
"Kata siapa? Aku suka dengan Maya, aku ingin sekali Maya menjadi menantuku, apalagi selama ini perempuan yang dekat dengan Jayden cuman Maya. Menurutku Maya adalah pilihan yang tepat untuk Jayden. Aku juga sudah bertanya pada Maya, Maya tidak keberatan. Dia juga menyukai Jayden", sahut ibu Jayden mulai kesal, karena suaminya tidak memihak padanya.
"Tapi kan kamu belum tahu perasaan Jayden pada Maya, kamu tahu sendiri anakmu suka seenaknya dan tidak bisa dipaksa oleh siapapun!", ujar pak Sunjaya. Dia lebih suka anaknya memilih calon istrinya sendiri, karena dia tahu sifat Jayden yang tidak suka diatur.
"Ah, perasaan kan bisa dibina pelan-pelan, apalagi Jayden dan Maya sudah lama bekerja sama, tentu tidak sulit", sahut Bu Sunjaya yang masih ngotot dengan pendapatnya.
"Tapi kan kamu tidak tahu, siapa tahu Jayden sudah menyukai gadis lain", jawab pak Sunjaya lagi berusaha menyadarkan istrinya dari obsesinya itu.
"Memang anakmu bisa suka sama gadis mana? bergaul aja jarang, sama sekali gak ada ramahnya, lingkungannya hanya rumah dan perusahaan saja. Kalau bukan kita yang aktif, sampai kapan si Jay akan menikah dan memberikan kita cucu yah?apa kamu tidak ingin segera mempunyai cucu dari si Jay? tanya Bu Sunjaya bertubi-tubi.
"Tentu aku mau Bu untuk segera punya cucu", jawab pak Sunjaya.
"Nah terus kenapa kamu keberatan kalau aku menjodohkan Jayden dan Maya?", tanya Bu Sunjaya penasaran.
__ADS_1
"Menurutku Jayden tidak menyukai Maya, Kalau suka pasti sudah dari dulu-dulu. Walaupun Jayden pendiam, tapi dia sangat percaya diri, tidak mungkin dia tidak berani menyatakan rasa sukanya pada wanita yang disukai", jawab pak Sunjaya yang lebih mengerti sifat anaknya.
Ibu Sunjaya terdiam mendengar perkataan suaminya, dan tak bisa berkata apa-apa lagi saat Pak Sunjaya menyambung perkataannya lagi, " Kurasa Jayden sudah menyukai Aylin!"