
"Tapi kenapa setiap ngomongin kak Jay kamu suka bengong. Tuh.. kan kamu ngelamun lagi", tuduh ibunya.
Aylin tersipu malu, dan berkata,
"Enggak kok Bu, Aylin hanya mengingat sifat kak Jay di masa lalu. Bagaimanapun kenangan Lin sama kak Jay banyak karena kami sudah mengenal dari kecil.
Waktu kak Jay kecil, dia sayang sama Lin, Lin mau apa saja dituruti. Waktu itu Lin nakal ya Bu, maunya menang sendiri dan cengeng. Udah gitu suka perintah kak Jay, sampai kak Jay kesal dan bilang sama Lin, emang aku kacungmu", Aylin pun tertawa mengingat masa kecilnya itu.
Ibu juga tersenyum sambil berkata,
"Iya, gara-gara kamu kak Jay kadang sering diomelin Om Sunjaya."
"Tapi waktu Lin SMP, sifat kak Jay mulai berubah Bu, kak Jay sering sinis dan ketus sama Lin, juga mulai menjauhi Lin.
Dulu Lin gak pernah cerita sama ibu, karena Lin pikir suatu hari kak Jay bisa berubah baik lagi seperti kak Jay yang dulu.
Sesudah Aylin dewasa, Lin jadi berpikir kak Jay saat itu kelihatannya menyukai kak Maya, jadi mungkin Lin dianggap mengganggu kak Jay waktu itu", cerita Aylin dengan jujur pada ibunya.
"Kan sekarang kak Jay benar sudah berubah baik dan perhatian lagi pada kamu Lin?", tanya ibunya.
"Tapi kan keadaannya sudah beda Bu, ibu mau kalau Aylin jadi pihak ketiga, lagian ibu Jayden kan sudah bilang dia ingin kak Maya jadi istri kak Jay.
Ibu Jayden juga bilang kalau kak Jay hanya menganggapku seperti adik. Lin tidak suka hidup yang rumit bu, buat apa Lin memaksa kalau orang tidak menginginkan kita, lagipula kata ayah
kita harus menjaga harga diri kita", ujar Aylin.
"Lagipula kita tinggal disini begitu lama kak Jay juga sama sekali tidak pernah ke tempat kita untuk melihat keadaan kita Bu.
Dia datang sesudah Lin tak sengaja menabraknya di toko buku, saat ibu masuk rumah sakit. Ingat itu Lin jadi ingat masih punya hutang yang belum Lin bayar ke kak Jay.
Tapi kalau memang benar kak Jay perduli padaku tentu dari dulu-dulu kak Jay sudah mencariku", lanjut Aylin lagi mengeluarkan semua unek-uneknya, tidak ada yg perlu disembunyikan lagi karena ibunya sudah tahu bagaimana hubungan dia dan Jayden.
__ADS_1
"Mungkin saja kak Jay tidak tahu kita tinggal di mana, kan ayahmu dulu tidak menginginkan orang lain tahu usaha kita yang bangkrut waktu itu", sahut ibu Aylin masih membela Jayden, karena tadi ibu Aylin sempat melihat wajah Jayden yang benar-benar terlihat khawatir dan kecewa.
"Kak Jay dan kak Denny kan sahabat, gak mungkin kak Jay gak tahu kalau kita tinggal di sini bu. Bahkan sebelum ke Jerman kak Denny pernah mengajakku pergi, saat kak Denny mau bertemu kak Jay, hanya saja Lin tidak mau ikut", ujar Aylin mengakhiri ceritanya dan kembali merapikan baju yang akan dia bawa.
Ibunya hanya menghela nafas dan berkata, "Ibu tidak mengerti hubungan kalian, pokoknya ibu akan selalu mendukung keinginanmu saja."
Sesudah itu ibunya sudah tidak membicarakan masalah Jayden lagi, Aylin juga merasa lega setelah menceritakan semua unek-uneknya.
Sebetulnya hati Aylin juga merasa sakit, tapi dia dulu juga sudah pernah sakit hati sekali, jadi menurutnya dia sakit hati sekali lagi juga sudah tidak masalah,, lama-lama juga akan hilang dengan berjalannya waktu.
Aylin tidak tahu sebenarnya sudah terjadi banyak kesalahpahaman,antara dia dan Jayden.
Dia tidak tahu kalau Denny selalu menyembunyikan keberadaannya dari Jayden, padahal Jayden juga ingin mencarinya.
Akhirnya sebelum jam 09.00, Aylin berangkat ke tempat kerja barunya.
dengan membawa koper kecil
Dia hanya membawa sedikit pakaian saja karena Aylin berencana pulang kalau dia sedang off.
Ibunya memandang sedih kepergian anak semata wayangnya itu, karena selama ini mereka tidak pernah berpisah, dan sebenarnya dia juga merasa sedikit khawatir dengan Aylin, yang menurutnya sifatnya sudah berubah banyak. Terlalu pengalah dan kurang percaya diri!
Jayden belum jam 08.00 sudah sampai kantor. Kali ini waktu yang ada tidak digunakan untuk berkeliling di area produksi.
Padahal biasanya bagian security sudah sangat hafal dengan pimpinan mereka yang suka keliling bagian produksi untuk memeriksa mesin, kalau pagi sudah sampai di perusahaan.
Bahkan tadi bagian security sudah memberitahu Bu Hartati bagian kepala produksi kalau pimpinan mereka sudah datang agar bekerja lebih serius.
Akhirnya saat jam istirahat pukul10.00/, Bu Hartati langsung mendatangi pak Ahmad bagian security perusahaan.
"Lu bohongin gue ya Mad, tadi Dewa Es mana ada datang. sampai gue tegang, bekerja dengan serius dan gak berani ngobrol sama sekali apalagi ngegosip!", omel Bu Hartati.
__ADS_1
"Ngapain gue bohong, tadi pagi sebelum jam 08.00 sudah datang dan langsung berjalan masuk ke kantor. Mukanya juga kelihatan sedang mendung. gue pikir ada mesin yang rusak, makanya gue kasih tau lu biar bisa bersiap-siap kalau Dewa es muncul tiba-tiba!" sahut pak Ahmad yang tidak mau disalahkan.
"Tapi kok tumben gak ke produksi ya? padahal datangnya pagi", tanya Bu Hartati, sang ratu gosip penasaran.
"Mana aku tahu, aku hanya sekedar memberitahumu saja, kalau gak kasih tahu nanti juga omel-omel", ujar pak Ahmad.
"Iya, terimakasih deh sama infonya!", ujar Bu Hartati akhirnya.
Sedangkan yang digosipin sedang duduk di bangku kebesarannya memeriksa surat-surat yang perlu ditandatangani dengan dahi berkerut. Sepertinya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
Deddy hanya duduk diam menunggu instruksi bosnya itu dengan suasana tegang. Deddy merasa akhir-akhir pekerjaannya semakin berkurang saja, bosnya sering menelponnya untuk tidak menjemputnya.
Dia tidak tahu apa yang sudah membuat bosnya jadi rajin membawa mobil sendiri.
"Kenapa aku gak kepikiran ya dari kemaren-kemaren?", ujar Jayden yang berbicara sendiri dan menepuk dahinya memecah keheningan di ruangan itu
"Deddy, kamu ke ruangan pak Ramli, tanya nomor handphone Aylin!", tiba-tiba Jayden memberikan instruksi memecah keheningan ruangan itu.
"Baik bos", jawab Deddy, dan dengan cepat keluar dari ruangan itu menuju ke ruangan HRD.
"Ah akhirnya aku bisa merenggangkan otot kakiku", pikir Deddy lega.
"Mau kemana kamu? Pak Jayden ada di ruangan tidak?", tiba-tiba terdengar suara Maya yang keluar dari ruangannya dan bertanya pada Deddy.
"Ada, saya disuruh pak Jayden ke ruangan HRD untuk bertanya pada pak Ramli", sahut Deddy.
"Bertanya apa?", tanya Maya penuh rasa ingin tahu, karena Maya selalu tertarik dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Jayden.
"Maaf Bu Maya, saya tidak bisa memberitahukannya pada ibu. Ini masalah pribadi pak Jayden, tidak ada urusan dengan pekerjaan. Kalau mau tahu tanya pak Jayden saja langsung", sahut Deddy puas.
Kali ini dia puas bukan karena berhasil membuat Maya penasaran, dia puas karena bisa membalaskan dendamnya pada Maya, yang menurutnya suka mengerjai dia dan semena-mena terhadapnya.
__ADS_1
Mendengar jawaban Deddy, Maya langsung mendengus kesal dan berjalan ke ruangan Jayden.
"Dasar sekretaris sia**n, awas kamu!", rutuknya dalam hati.