
Mendengar perkataan Jayden, Aylin langsung berhenti melangkah dan mengibaskan tangan Jayden dari pinggangnya dan menjauhi Jayden
"Kak Jay gak bohong? Kenapa aku bisa digosipin jadi simpanan kak Jay?", tanya Aylin tak percaya.
"Kak Jay juga gak tahu siapa yang nyebarin, tapi gak usah dimasukan dalam hati, nanti lama-lama juga hilang dengan sendirinya", ucap Jayden yang kelihatan santai dan tidak perduli.
Aylin tidak tahu padahal waktu pertama digosipin, Jayden juga marah-marah. Melihat Jayden yang santai menanggapi gosip itu, Aylin jadi kesal.
"Iya kak Jayden gak pa pa, soalnya kak Jay kan pimpinan di sini, siapa yang berani sama kak Jay? Lin yang bakal bermasalah!", omel Aylin, dia jadi lupa kalau dia adalah pegawai Jayden.
Jayden hanya tersenyum mendengar omelan Aylin, dia merasa Aylin bertambah imut kalau sedang marah-marah.
Aylin yang melihat Jayden tersenyum sampai terpana, mengapa rasanya akhir-akhir ini dia sering melihat Jayden tersenyum, pikirnya.
"Lin mau tahu cara untuk mengatasi masalah ini?", tanya Jayden.
"mau", jawab Aylin cepat sambil mengangguk.
"kamu terima usul kak Jay saja, jadi nyonya bos, kan otomatis juga gak ada yang berani gosipin Lin lagi ", jawab Jayden santai.
Aylin yang agak telmi terdiam beberapa saat, dan mencerna kata-kata Jayden, begitu mengerti artinya,
Aylin tanpa sadar memukul lengan Jayden.
"Kak Jay mempermainkan Aylin", sahut Aylin kesal dan malu.
"Menurutmu kak Jay pernah main-main degan perkataan kak Jay tidak?", tanya Jayden serius, menangkap pergelangan tangan Aylin yang tadi memukulnya dan menatap intens ke Aylin.
Aylin terdiam dan menatap bingung ke Jayden, kali ini dia benar-benar tidak bisa menjawab Jayden.
Karena ingin mengalihkan perhatian dari Jayden, akhirnya Aylin sadar kalau mereka masih di depan halaman.
"Kak Jay, lepasin.Kak Jay jangan begitu, Aylin sungguh gak enak sama yang lain", ucap Aylin memohon dan berusaha melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman tangan Jayden
Mendengar permohonan Aylin, akhirnya Jayden melepaskan pergelangan tangan Aylin.
"Ya sudah, ayo cepat masuk!", perintah Jayden mendekati Aylin kembali.
__ADS_1
Aylin berjalan mundur dan berkata, "Biar Aylin sendiri kak, Lin mohon, Lin sungguh merasa gak enak sama yang lain".
Akhirnya Jayden hanya bisa menghela nafas kesal. "Ya sudah, kamu jalan masuk dulu, kakak di belakangmu", ucap Jayden akhirnya. "Aku harus belajar lebih sabar untuk menghadapi Aylin sepertinya", pikir Jayden dalam hati.
Bu Hartati, kepala bagian produksi yang tadi keluar sebentar untuk mencocokkan barang keluar dengan bagian gudang, sempat melihat Jayden
dan Aylin.
Sang ratu gosip bagian produksi, akhirnya tak tahan lagi untuk bercerita ketika istirahat pertama jam 10.00.
"Wah benar nih ternyata Dewa Es sudah mencair, bahkan sudah punya simpanan, tapi terang-terangan!", cerita Bu Hartati
"Apa maksudnya Bu?", tanya anak buahnya .
"Iya, kok simpanan, tapi terang-terangan?", tanya anak buahnya yang lain penasaran.
Kalau sudah cerita tentang bos mereka yang satu ini semuanya otomatis tertarik, karena bos masih muda, jomblo, ganteng, pinter dan kaya lagi.
Apalagi kalau sudah mengenai hubungan bos dengan perempuan.
Karena selama ini hubungan Jayden dengan Maya sebenarnya masih menjadi tanda tanya, walaupun sering kelihatan berdua, itu juga banyakan berdua karena pekerjaan.
"Kalian pasti gak percaya apa yang Bu Hartati lihat hari ini, Dewa Es mesra banget sama anak baru yang cantik itu.
dipeluk, digandeng dan terang-terangan lagi, aku melihatnya tadi di halaman! Bu Maya juga lihat!
Sayang ibu lupa bawa handphone, jadi gak bisa rekam buat bukti", kata Bu Hartati sedikit melebihkan, biar seru.
Padahal dia membawa handphone, tapi mana berani dia merekam.
"Jadi saran ibu, buat yang bermimpi jadi Cinderella di sini, sebaiknya mulai sekarang menghapus mimpi itu", kata Bu Hartati mengakhiri pembicaraannya, karena sebentar lagi jam istirahat akan berakhir.
Dia masih mau makan cemilan dan minum kopi, takut waktunya tidak cukup kalau bergosip terus.
Aylin dari tadi bekerja dengan tidak tenang, dia merasa sepertinya orang-orang selalu melihat padanya, karena kejadian di halaman tadi.
Belum lagi kalau Maya melewati ruangan Marketing, Aylin pasti buru-buru menunduk.
__ADS_1
Akhirnya dia hanya bisa berusaha untuk menyibukkan diri dengan pekerjaannya, agar pikirannya tidak ke mana-mana .
Untungnya Bu Desy bersikap biasa saja padanya, mungkin juga Bu Desy tidak tahu, karena Bu Desy kalau datang waktunya selalu pas-pasan, tidak pernah pagi.
Untungnya ketika jam istirahat Cika, melakukan video call lewat telpon. Aylin merasa senang sekali mendapat panggilan dari Cika, karena dia jadi bisa melupakan kegundahan hatinya.
Cika mengabarinya kalau dia sudah pulang dari bulan madunya. Dan kak Dimas sudah bekerja seperti biasa lagi, karena sudah habis masa cutinya.
Cika merasa agak kesepian, karena kak Dimas sudah tidak mengijinkan dia bekerja lagi sesudah menikah.
"Mungkin kak Dimas mau cepat punya momongan kali?", tanya Aylin tertawa menggoda Cika.
Sudah lama sekali Aylin tidak pernah tertawa lepas, baru dengan berbincang-bincang dengan Cika dia bisa tertawa lepas.
"Kamu jangan tertawain aku, kamu sendiri kapan mau nyusul aku, biar status kita sama, jadi sama-sama ibu rumah tangga", ucap Cika
"Enakan single donk, bebas, enggak kaya kamu kerja saja gak boleh, ruang geraknya terbatas", balas Aylin memanasi Cika.
"Hah, kamu belum tahu enak yang lain, nanti lu bakal nyesal, kenapa gak nikah dari dulu-dulu. Tapi gue belum boleh kasih tau lu, lu belum cukup umur hahaha", ucap Cika tertawa terbahak-bahak, gak mau kalah dari Aylin.
Cika memang dari dulu kalau bicara suka ceplas ceplos.
"Dasar kamu!", Aylin akhirnya kalah omongan dengan muka bersemu merah.
"Lu kalau ada waktu main ke rumah gue dan kak Dimas ya, lu kan udah pernah janji!", akhirnya Cika menagih janji dan mengakhiri candaannya.
"Baik bu Cika, saya pasti menepati janji saya", ucap Aylin tersenyum, dan mengakhiri pembicaraan mereka di telpon.
Sesudah selesai video call dengan Cika, Aylin duduk termenung di meja kerjanya dan berpikir kalau ada kesempatan dia akan mengunjungi Cika.
Mungkin dengan mengunjungi Cika dia bisa menghilangkan sebagian kerisauan hatinya, pikirnya.
"Ah aku harus segera mengunjungi Cika, lagipula aku ingin sekali melihat kehidupan Cika yang baru".
Aylin sama sekali tidak tahu kalau sejak dia menerima video call dari Cika, Jayden yang berada di ruang sebelah sejak tadi memperhatikan tingkah dan gerak geriknya.
Kebetulan ruangan Aylin juga kosong, semuanya sedang keluar makan, hanya tersisa Aylin di ruang Marketing.
__ADS_1
Jadi Jayden leluasa memperhatikan Aylin.
"Huh telponan dengan siapa, bisa sampai tertawa senang begitu. Kalau dengan aku bisa takut, seperti melihat setan!" Jayden yang posesif akhirnya menjadi cemburu dan kesal sendiri.