Loving You

Loving You
Denny marah


__ADS_3

Sepertinya Denny sudah salah perhitungan.


Memang dulu Denny pernah berpikir kalau dia harus melawan Jayden untuk mendapatkan Aylin adalah sulit.


Tetapi sejak Denny tahu kalau Aylin juga menghindari untuk bertemu Jayden, Denny berpikir cepat atau lambat Aylin pasti akan jadi miliknya.


Apalagi selama ini Aylin tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun selain dengan Denny.


Denny berpikir tentu sulit bagi Jayden untuk mendapatkan Aylin kembali, karena Aylin yang sekarang sudah berbeda.


Aylin yang sekarang sudah tidak percaya diri seperti dulu lagi, bahkan agak pemalu dan tidak mungkin menyatakan rasa sukanya secara terang-terangan seperti dulu.


Sedangkan Jayden juga orang yang pendiam, kaku dan sombong, walaupun percaya diri.


Denny berpikir Jayden tidak mungkin akan menghabiskan waktunya hanya untuk mendekati Aylin.


Apalagi selama ini yang dia tahu Jayden tidak pernah berpengalaman mendekati gadis manapun, kecuali dengan Maya.


Itupun karena Jayden hanya suka berdiskusi dengan Maya yang sama-sama memiliki IQ di atas rata-rata.


Malah setahu Denny sepertinya Jayden tidak pernah tertarik dengan yang namanya


perempuan.


Ternyata Denny tidak pernah menyangka kalau Jayden bisa menjadi lebih agresif dari yang dia kira. Dia juga tidak pernah menyangka kalau Jayden bisa berubah sifatnya begitu menemukan gadis yang disukainya.


Bahkan mungkin sekarang Denny yang notebene seorang playboy harus kalah dengan trik Jayden, sang manusia kutub.


Bisa jadi juga Denny kalah karena sudah terlalu lama bertapa.


Dan satu lagi sifat Jayden yang tidak dimiliki Denny, muka tembok dan tidak pernah malu melakukan apapun, karena terlalu percaya diri!


Karena telpon dari Maya, akhirnya Denny semalaman susah tidur, dan akibatnya pagi-pagi dia sudah muncul di rumah Aylin.


Ibu Aylin yang pertama menyambut kedatangan Denny, Aylin masih di kamar bersiap-siap sesudah mandi.


"Pagi sekali nak Denny? Ada apa?"

__ADS_1


"Oo .. gak pa pa tante, sedang nyantai jadi mau antar Aylin ke tempat kerja. Sekalian mau ajak Aylin


sarapan Tante", jawab Denny.


"Tunggu sebentar ya, paling bentar lagi keluar dari kamar, Lin lagi siap-siap", sahut ibu Aylin lagi.


"Baiklah Tante", jawab Denny mengangguk.


Tidak lama kemudian Aylin sudah keluar dari kamarnya, sebenarnya Aylin jarang sarapan pagi, dia hanya minum susu saja, kadang hanya makan telur rebus.


Kalau ibunya bertanya, pasti jawabannya dia ingin diet. Padahal ibunya sering ngomel-ngomel kalau Aylin itu sudah kurus.


Tapi karena Denny sudah mengajak, Aylin tidak tega menolak, hanya mengangguk setuju.


Sesudah berpamitan dengan ibunya, Denny dan Aylin langsung berangkat.


Ketika dalam perjalanan, Aylin baru sadar kalau Denny hari ini sangat diam, dan jarang tersenyum.


Aylin juga merasakan aura Denny hari ini agak menyeramkan, seperti orang yang sedang banyak pikiran. Aylin juga tidak berani bertanya, selama ini dia tidak pernah melihat Denny seperti itu.


Padahal biasanya Denny selalu banyak ceritanya.


Aylin bersyukur, untungnya di tempat makan itu ada menjual bubur, entah mengapa kalau pagi hari Aylin tidak terbiasa makan makanan padat.


Sebelum pesanan makanan datang, tiba-tiba Denny membuka pembicaraan.


"Kemaren kamu pulang dengan siapa?", kali ini Denny bertanya tanpa senyum.


"Dengan kak Jayden", jawab Aylin agak terbata.


"Kenapa aku harus merasa bersalah ya? Memang kak Denny siapaku? gara-gara kak Jay sekarang suka yang enggak-enggak sih, aku jadi merasa melakukan kesalahan!", pikir Aylin dalam hati.


Karena Aylin seperti terlihat termenung setelah menyebutkan nama Jayden, malah membuat Denny mulai emosi, tiba-tiba Denny menangkap pergelangan tangan Aylin dan bertanya lagi, "Mengapa Lin tidak ngomong kalau yang ngantar kak Jay bukan Chandra, waktu kemaren malam kakak telpon?", dan memandang tajam ke Aylin.


"Kak Denny gak tanya, Aylin ya gak ngomong, soalnya itukan masalah gak penting, siapa yang antar Lin sama saja", jawab Aylin


"Sakit kak", sambung Aylin lagi, dan berusaha melepaskan tangannya dari Denny.

__ADS_1


Denny akhirnya sadar dan melepaskan tangan Aylin.


"Maaf, kak Denny tidak suka Lin terlalu dekat dengan Jayden!", ucap Denny akhirnya.


"Baik kak", sahut Aylin mengangguk, memang tadinya Aylin sudah bertekad akan menjaga jarak dengan Jayden.


Kebetulan sesudah itu pesanan mereka sudah datang, akhirnya mereka makan dalam diam dan mengakhiri pembicaraan itu.


Denny tidak menyangka Aylin langsung menurut padanya, akhirnya rasa marahnya pun hilang.


Jayden hari ini berangkat ke kantor dengan semangat, dia sudah tidak sabar ingin melihat Aylin yang semakin hari semakin menggemaskan, menurutnya.


Padahal hari ini dia harus menyetir mobil sendiri, karena Deddy akan menjemput ayah dan ibunya yang akan pulang pagi ini dari Singapura.


"Ah macet macet, akhirnya sampai juga", pikir Jayden sambil memarkir mobil silvernya.


Saat keluar dari pintu mobil Jayden tak sengaja menatap ke pintu masuk, dan tanpa sengaja dia melihat Aylin yang sedang jalan beriringan dengan Denny.


Sesudah mengantar Aylin sampai depan pintu masuk perusahaan, Denny berbalik ke mobilnya yang diparkir di seberang. Terlihat Aylin melambaikan tangan pada Denny.


Jayden mengepalkan tangannya kesal, saat seperti ini dia benar-benar menyesal kenapa harus begitu lama baru bisa bertemu Aylin kembali.


Jayden yakin selama beberapa tahun ini Denny pasti sudah banyak membantu Aylin, hingga hubungan Aylin dan Denny menjadi dekat.


Aylin yang baru masuk dari gerbang masuk, kaget saat melihat Jayden yang sedang menatapnya dari parkiran mobil perusahaan. Melihat hal tersebut, Aylin menjadi salah tingkah, dengan terburu-buru dia segera berjalan masuk ke dalam perusahaan.


"Heran makin ingin dihindari, malah makin sering ketemu", sungut Aylin dalam hati.


Jayden yang melihat Aylin yang terburu-buru dan sepertinya menghindarinya bertambah kesal.


"Ingin kulihat bisa sampai mana kamu menghindariku!", ucap Jayden dalam hati, sambil berjalan masuk ke perusahaan.


Sampai di ruang kerjanya suasana kantor masih sepi, Aylin melihat ke jam baru menunjukkan pukul 8.15.


"Pantas saja sepi, masih pagi. Ah, kak Denny sih kepagian, sungguh gak enak di ruangan kalau sendirian", pikir Aylin dalam hati. Karena yang dia tahu Bu Desy selalu datang dan pulangnya waktunya pas-pasan.


Akhirnya Aylin menyibukkan diri di depan monitornya, sambil mengingat-ingat hal yang sudah diajarkan Ibu Desy, sampai tidak sadar Jayden sudah masuk dalam ruangannya.

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu lakukan? Koq pagi sekali sudah berada di kantor?", tanya Jayden sambil berjalan mendekati tempat duduk Aylin.


Melihat Jayden mendekat padanya Aylin menjadi bingung dan hatinya tiba-tiba berdebar-debar lagi mengingat kejadian kemaren malam, di dalam mobil.


__ADS_2