
...“Masa remaja itu adalah masa yang paling indah. Apalagi saat masa SMA. Begitu banyak kisah yang tercipta di dalamnya yang tak mungkin bisa terlupakan walau umur sudah semakin bertambah dan waktu telah berubah. Semua akan tersimpan di ingatan sebagai memori terindah.”...
...****************...
Niken baru saja selesai shalat Zuhur. Ia masuk ke dalam kelas dan melihat kelas yang kosong. Hanya ada 3 orang yang tersisa, yaitu Sabyla, Fadhila, dan Siti. Mereka bertiga tidak shalat karena sedang datang bulan.
“Udah siap shalat, Ken?” tanya Fadhila ketika Niken memasukkan mukena ungunya ke dalam tas.
“Udah. Kalian lagi bahas apaan nih? Kok nampaknya asik banget?” tanya Niken sambil menarik kursi untuk duduk di sebelah Sabyla.
“Ini... kami lagi bahas something yang penting, Ken,” sahut Siti.
“Iya tau. Maksudnya itu permasalahan apa yang kalian bahas? Novel, motor, hobi, or something yang lain?”
“Kami lagi bahas tentang urban sekolah, Ken.” Kini giliran Sabyla yang menyahut.
“Urban sekolah? Apaan tuh?” Niken semakin merapatkan tubuhnya, penasaran.
“Ini, tentang Noni Belanda penghuni SMA kita, Ken,” papar Fadhila.
“Noni Belanda? Emang ada ya? Kok aku nggak pernah dengar?” tanya Niken.
“Ih, kamu itu ketinggalan info banget sih, Ken! Kan padahal waktu orientasi siswa baru, para kakak kelas yang jadi pembina kita udah cerita waktu sesi keliling sekolah,” sahut Siti.
“Si Niken kan sering nggak masuk ke kelompok pas orientasi. Dia kan dapat hukuman. Pas kita keliling, Dia juga nggak ada karena ngerjain hukuman yang di kasih Kakak kelas. Seingat aku, kita berempat dapat kelompok yang sama kan?” ucap Sabyla menjelaskan.
“Oh, iya... Aku lupa. Jadi kamu, Ken, siswa yang sering diomongin sama siswa lain di kelompok karena jarang join. Kata mereka suka menghilang mulu.” Fadhila menganggukkan kepala, mengerti. Ia memang pernah mendengar hal itu, tapi dirinya tidak terlalu mengetahui siapa yang dibicarakan para siswa saat itu.
“Udah, itu nggak usah dibahas lagi. Nggak penting. Sekarang ceritain gimana kisah Noni Belanda yang jadi penghuni di SMA kita.” Niken menopang dagunya, menunggu teman-temannya bercerita.
“Ini siapa yang mau cerita?” tanya Siti.
__ADS_1
“Kamu aja!” sahut Sabyla dan Fadhila secara bersamaan.
“Oh, oke. Kalau gitu aku mulai ya....” Siti mulai membuka cerita.
“Pertama, kamu tau kan kalau gedung sekolah kita ini sebagian bangunannya itu bekas peninggalan Belanda saat masih dalam masa penjajahan?” tanya Siti. Niken mengangguk.
“Jadi, dulu bangunan sekolah kita ini menjadi salah satu tempat persinggahan para tentara Belanda. Bisa dibilang, tempat ini adalah markas utama mereka di kota ini.”
“Terus??” tanya Niken penasaran.
“Ck! Bentar lah, Ken. Sabar. Itu kan si Siti lagi cerita,” decak Sabyla kesal karena memotong cerita.
“Hehehe, maaf.”
“Udah-udah, nggak usah dilanjutin. Siti, silahkan dilanjutkan ceritanya,” ujar Fadhila menengahi. Mereka semua kembali tenang dan mendengarkan Siti yang bercerita dengan khidmat.
“Jadi, dulu katanya ada seorang Noni Belanda yang cantik banget. Istilahnya Dia jadi kembang lah di tempat ini. Terus, jendral pimpinan tentara ini jatuh hati sama si Noni ini.” Siti menjeda ceritanya. Ia menarik napasnya untuk menetralkan dirinya yang mulai merasa merinding. Mereka bertiga mendengar dengan serius.
“Nah, si Noni ini nggak suka sama si Jendral karena Jendral ini terkenal suka mainin perempuan. Selain itu, Si Noni ini udah suka sama salah satu prajurit yang berada di bawah komando Jendral itu.”
“Udah, Siti. Nggak usah dipeduliin, lanjut aja ceritanya,” ucap Sabyla.
“Sampe mana tadi? Oh, sampe suka sama salah satu prajurit. Nah, jadi kabar itu terdengarlah sampe ke telinga si Jendral. Si Jendral ini nggak terima sama berita itu karena Dia udah berulang kali mencoba menggoda si Noni supaya jatuh di bawah pesonanya, tapi nggak berhasil. Jendral itu merasa egonya terluka karena Dia menganggap kalo Dia itu lebih dari si prajurit bawahannya, baik dari segi wajah mau pun kekayaan. Bentar, aku minum...”
Siti meneguk air minumnya yang hanya tinggal setengah botol hingga habis. Ia kemudian kembali melanjutkan ceritanya.
“Si Jendral ini udah keluarin semua unek-unek nya ke Si Noni tadi dengan harapan Si Noni bakalan berpaling ke Dia. Jendral ini pamerkan semua harta yang dimiliki dan asetnya. Tapi, tetap aja si Noni pilih tentara bawahan Jendral tadi karena hati Dia itu udah terpikat ke si prajurit tadi. Singkat cerita, Jendral marah banget dengan keputusan Si Noni. Jadi, pada suatu malam, Dia manggil si Noni untuk ke ruang kerjanya waktu para tentara lain lagi istirahat di ruangannya. Si Noni ini kan kerja jadi semacam pelayanan gitu.”
“Oh, jadi si Noni dibunuh?” tebak Niken memotong cerita.
“Ssttt... Niken, tebakannya nanti aja. Kita dengar dulu cerita Siti sampe selesai,” tegur Fadhila. Niken langsung terdiam dan kembali mendengar dengan tenang.
__ADS_1
Siti melanjutkan ceritanya yang terpotong oleh Niken. “Si Noni dipanggil ke ruangan si Jendral. Otomatis Si Noni ini nanya lah kenapa Dia dipanggil malam-malam. Jendral ini bukannya jawab malah nyuguhin minuman. Noni ini mau nolak, tapi Jendral maksa. Dia ngancam, kalo si Noni nggak minum Dia nggak bakalan kasih izin untuk pergi dari ruangan itu. Karena terpaksa, mau nggak mau si Noni ini minumlah. Tapi, baru beberapa tegukan, pandangan Dia mulai mengabur dan lama-lama jadi gelap. Si Noni pingsan!”
Siti kembali menjeda ceritanya ketika menyadari ternyata teman-temannya yang lain sudah ikut nimbrung dengan mereka berempat. Sepertinya mereka juga penasaran.
“Sit, Kenapa berhenti? Lanjutin lah,” pinta Azizil yang ikut menimbrung.
“Keesokan harinya, si prajurit ini heran karena nggak liat si Noni. Biasanya Noni itu selalu datang untuk jumpain Dia setiap pagi walau cuma sekedar bertegur sapa. Setelah 3 hari berlalu, prajurit ini belum jumpa juga sama si Noni. Pertama Dia pikir si Noni pergi nginap di mana gitu, tapi makin ke sini si prajurit makin ngerasa janggal. Dia pun mulai tanya sama prajurit lain ada liat si Noni apa nggak. Rata-rata jawab nggak, tapi ada satu prajurit yang bilang kalo Dia pernah kayak liat siluet si Noni masuk ke ruang Jendral beberapa malam yang lalu.”
“Eh, udah jam setengah 2. Kalian nggak makan siang? Bentar lagi masuk,” tanya Aqil, si ketua kelas.
“Nggak usah ribut!”
“Nanggung, bentar lagi.” Itulah beberapa sahutan yang dilontarkan mereka secara bersamaan. Mereka kembali fokus ke cerita dan mengabaikan Aqil.
“Si prajurit ini mulai nyeledikin tentang kasus itu. Cuma Dia kan nggak bisa sembarang karena mau gimana pun pangkat si Jendral lebih tinggi. Setelah berjuang, akhirnya hampir 2 bulan kemudian si Noni ditemukan di ruang bawah tanah ruangan si Jendral, udah jadi mayat bahkan udah membusuk. Si Jendral ditangkap dan diminta untuk kasih keterangan. Dari keterangan yang dikasih, Jendral ngaku kalo Dia perkosa si Noni yang pingsan sebelum dibunuh.”
“Udah, selesai!” seru Chike.
“Lah? Kok gitu doang?” seru mereka kompak.
“Ya emang gitu doang. Katanya semenjak itu, orang-orang mulai liat sosok Si Noni yang bergentayangan dengan baju yang sama dipakainya sebelum dibunuh. Katanya sih ruangan si Jendral itu yang jadi ruangan kepsek sekarang. Orang-orang yang udah pernah masuk ke sana pasti rata-rata pada ngaku kalau hawa di sana tuh beda. Rada gimana gitu...”
“Terus, banyak yang udah nampak sosok si Noni, Sit?” tanya Aisyah yang duduk di belakang Fadhila.
“Katanya sih udah ada beberapa orang yang liat. Mereka sering ngerasa merinding kalo udah masuk ke ruangan kepsek. Mereka juga cerita kalo terkadang mereka ngeliat kayak sosok cewek lewat tembus ke dinding yang tersambung ke lab bahasa. Pertama orang-orang nggak percaya karena nganggap itu cuma halusinasi. Tapi karena udah banyak orang yang cerita hal sama, mau nggak mau ya percaya. Jadi gitu deh.” Siti menutup Ceritanya.
“Kamu berani, Zil?” tanya Sabyla.
“Berani apaan?”
“Uji nyali ke ruang kepsek,” sahut Sabyla kalem.
__ADS_1
“Nggak lah! Gila aja, nggak ada kerjaan!” seru azizil cepat. Sedangkan mereka semua tertawa geli.
“Eh, udah hampir jam 2. Nanti kita lanjutin lagi ceritanya. Sekarang kita makan siang dulu, yuk! Nanti takut keburu bel masuk,” ajak Fadhila. Mereka pun kembali berpencar, duduk ke tempat masing-masing.