
Sesampai di ruang kerjanya, Aylin segera duduk di kursinya, Aylin merasa kakinya lemas. Kemudian dia menekan kedua pipinya yang terasa panas.
Aylin bersyukur Pak Yanto dan Bu Desy belum balik di ruang kerja.
Aylin benar-benar merasa malu dan tidak enak hati kepada Maya.
"Ah..mengapa aku begitu ceroboh, hari pertama di tempat kerja saja melamun, hanya gara-gara memikirkan hubungan orang lain", pikir Aylin menyesal. Di otaknya terbayang terus kejadian tadi, saat Jayden memeluknya, membuat jantungnya berdebar-debar kencang.
Dia jadi teringat waktu kecil saat ia menangis, Jayden pasti memeluk dan menghiburnya. Lama-lama dia jadi terbiasa, kalau ada apa-apa, malah dia yang memeluk kak Jay.
Tapi itu kejadian yang sudah lama, setelah Jayden beranjak dewasa, Jayden mulai menghindari dan menjauhinya.
Tadi saat dipeluk oleh Jayden lagi, dia merasa seperti orang yang menemukan rumahnya kembali.
Akhirnya Aylin menggeleng-gelengkan kepala untuk membuang jauh-jauh pikirannya itu.
"Ah lebih baik aku makan bekalku saja, daripada mikir yang enggak-enggak", pikirnya sambil mengeluarkan makanan dari kantong plastik.
Saat Aylin baru makan beberapa suap, masuklah Lulu yang baru kembali dari toilet.
"Huh dasar gak tahu malu, berani-beraninya menggoda pak Jayden. High class juga!" gerutu Lulu yang sengaja membesarkan suaranya biar terdengar Aylin.
Mendengar perkataan Lulu, Aylin tidak bisa berkata apa-apa. Suapannya terhenti sebentar, tapi kemudian dia melanjutkan makannya lagi, walaupun sebenarnya ***** makannya sudah hilang dari tadi.
Dia memaksakan untuk makan, karena tadi pagi dia juga tidak sarapan, karena pagi-pagi sudah berangkat.
Dia merasa akhir-akhir ini makannya tidak teratur, dan dia tidak mau sakit, karena baru mulai bekerja.
Sebenarnya tadi dia mau menawarkan makan pada Lulu, tapi tidak jadi, karena Lulu sepertinya memusuhi dan tidak suka padanya. Dan sampai sekarang dia tidak tahu apa yang menyebabkan Lulu memusuhinya.
Untungnya tidak lama kemudian Bu Desy sudah kembali, sehingga Aylin bisa bernafas lega.
Sungguh tidak enak berada satu ruangan dengan orang yang memusuhinya, apalagi selama ini Aylin belum pernah punya musuh.
"Sedang makan? bawa sendiri ya? tanya Bu Desy
"Iya Bu, Bu Desy sudah makan? Saya ada kue, mau tidak nyobain?" tanya Aylin.
"ibu sudah makan, kamu makan sendiri saja.kamu kurus gak pa pa makan banyak, kalau aku makan banyak bisa-bisa diprotes bapaknya anak-anak hehehe", jawab Desy terkekeh.
__ADS_1
Bu Desy memang agak berisi badannya, tapi tidak gemuk sekali.
"kaya mau piknik saja!bawa bekal dari rumah", Lulu ikut menyahut tapi dengan sinis.
Aylin hanya terdiam, dia bingung melihat sikap Lulu yang sangat membencinya. Entah dia sudah bersalah apa pada Lulu, pikirnya.
"Atau jangan-jangan dia juga salah satu penggemar kak Jay? melihat aku dipeluk kak Jay dia marah?" Aylin akhirnya mengambil kesimpulan sendiri.
...********...
Jayden yang sedang makan bersama ayah ibunya dan Maya dari tadi diam saja.
Walaupun biasanya memang tidak banyak bicara, tapi kalau biasa ada ayah ibunya dia masih sering ikut ngobrol juga.
Maya merasakan hal itu, akhirnya Maya yang lebih banyak berbicara, menanyakan Jayden ingin makan apa?ingin minum apa? jawabannya pun cukup singkat
"ikut saja".
Akhirnya ibu Jayden tidak tahan dengan suasana yang kaku itu, dia merasa Jayden sedang banyak pikiran, lalu bertanya,
"Kamu memikirkan apa? kok kaya orang stress, apakah ada masalah dengan Frame?"
Ibu yang merasa suasananya kurang enak, akhirnya mengomel melepaskan kekesalannya ,
"Makanya ibu sudah bilang kalau kamu pakai sekretaris yang prof sedikit, sopir koq diangkat jadi sekretaris! Akhirnya kalau kerjaanmu menumpuk tidak ada yang bisa diandalkan. Kalau Maya membantumu, pasti kerjaanmu lebih ringan!"
Sebetulnya ayah Jayden sudah ingin melarang istrinya untuk mengomel, tapi terlambat.
"Kan aku sudah bilang, mau menjadikan Aylin sebagai sekretaris pribadiku, tetapi ibu tidak mau mengijinkan", jawab Jayden langsung.
Kali ini Maya benar-benar kaget dengan jawaban Jayden, dia bahkan tidak bisa bersikap tenang lagi, senyumnya pun sudah hilang.
Ibu Jayden pun tidak kalah kaget dengan jawaban anaknya itu, sebenarnya dia ingin memuji Maya, tapi ternyata langkahnya sudah salah.
Akhirnya ibu Jayden pun tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya hatinya merasa tak enak pada Maya.
Sedangkan Ayah Jayden tetap tenang, karena dia yang paling tahu sifat Jayden.
Sampai makan bersama itu selesai, tidak ada lagi pembicaraan apapun, semuanya terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
Kembali ke kantor, hanya tinggal Maya dan Jayden berdua. Ayah dan ibu Jayden sudah langsung pulang.
Dalam perjalanan balik kantor, Maya dan Jayden sama sekali tidak berbicara. Tapi saat melewati ruangan Marketing (Ruangan Maya dan ruangan Jayden paling ujung, jadi melewati ruangan Marketing), tiba-tiba Maya mengajak ngobrol Jayden,
"Bagaimana dengan produksi baru di Frame, lancar ya? Maya memang sengaja, karena dia mau Aylin tahu kalau dia akrab dengan Jayden..
"Iya, sudah berjalan. Sampai sekarang belum ada kendala", jawab Jayden.
Tentu saja obrolan Jayden dan Maya bisa terdengar oleh orang-orang Marketing, karena ruangan Marketing tidak ada pintunya dan hanya disekat oleh kaca.
Aylin sempat melihat ke asal suara itu, tapi cepat-cepat menunduk kembali, karena dia merasa Jayden sepertinya menatapnya dengan tajam.
"Ah cuman perasaanku saja", hiburnya dalam hati.
Sebenarnya dia bingung dengan dirinya sendiri, dulu dia begitu suka mengikuti Jayden, saat itu dia sama sekali tidak takut dan tidak malu, tapi mengapa sekarang melihat Jayden rasanya dia takut dan berdekatan juga malu.
Apalagi kalau Jayden menatapnya , rasanya dia mudah menjadi salah tingkah. Padahal dulu kalau Jayden menatapnya dia malah akan merasa bangga karena diperhatikan.
"Kemana sifat percaya diriku?" pikirnya dalam hati.
Untungnya sesudah itu Bu Desy memanggilnya untuk membuat data, sehingga dia tidak lagi punya waktu untuk berpikir macam-macam.
Sampai di ruang kerjanya Jayden duduk dan kemudian memandang ke pen silver bergambar Transformer yang dulu dihadiahkan Aylin padanya.
Sambil duduk termenung, dia memutar-mutar pen itu dengan tangannya.
Seharian ini perasaannya kesal, setelah mendengar dari Chandra kalau Aylin sudah punya pacar.
Akhirnya dia berusaha untuk melupakan hal itu dengan menyibukkan diri dan tidak bertemu Aylin.
Tapi mengapa dia bisa bertabrakan dengan Aylin lagi, dan berakhir dengan memeluk Aylin.
Membuat dia selalu terbayang muka Aylin, dan makin susah dilupakan.
Padahal dulu waktu kecil dia juga sering memeluk dan menghibur Aylin. Entah mengapa tadi saat memeluk Aylin rasanya berbeda, menimbulkan sebuah sensasi yang membuat jantungnya berdebar-debar.
"Dasar penggoda!"ucapnya dalam hati.
"Kali ini aku tak akan melepaskanmu lagi, tak perduli kamu sudah punya Denny. Selama kamu belum menjadi istri Denny, aku masih berhak merebutmu kembali padaku", tekad Jayden dalam hati.
__ADS_1
Bersambung........