Loving You

Loving You
Hari pertama Aylin masuk kerja


__ADS_3

Jam 07.00 pagi Jayden sudah siap-siap ke perusahaan. Entah mengapa sejak dia bertemu kembali dengan Aylin, dia menjadi memperhatikan penampilannya.


Dari tadi dia sudah berkaca dua kali sambil merapikan kemeja dan rambutnya.


qq


Dalam otaknya selalu memikirkan rivalnya si Denny, yang penampilannya selalu stylist, jadi dia juga tidak mau kalah.


Ibunya sudah memberitahukan padanya, kalau hari ini Aylin sudah siap untuk bekerja. Minggu malam Aylin sudah menelpon ibu Jayden, memberitahukannya kalau dia Senen akan mulai bekerja.


Begitu keluar dari kamarnya, ibu Jayden langsung berkata, "Jayden nanti kalau Aylin sudah sampai di perusahaan, kamu beritahu HRD untuk mengurus proses masuknya Aylin, Aylin akan ibu tempatkan di Marketing.


Lumayan cocok kalau ketemu pelanggan kita yang dari luar, dia bisa bahasa Inggris.


Kamu jangan punya pikiran gak benar mu lagi ya, pokoknya Aylin sudah menolak jadi sekretaris mu, awas ya kalau kamu macam-macam", ancam ibunya lagi.


Karena ibunya sudah tahu sifat anaknya, yang biasanya jarang menyerah kalau menginginkan sesuatu.


Jayden kelihatannya mau protes lagi, tapi ayahnya menggelengkan kepala memberikan tanda pada Jayden untuk menyudahi masalah itu. Akhirnya Jayden terdiam dan menganggukkan kepala, "Baik Bu".


"Ibu dan ayahmu agak siangan baru berangkat, karena mau menemani ayahmu cek kesehatan. Tapi ngomong-ngomong koq kamu hari ini berangkatnya pagi amat?", tanya ibunya.


"Oo ada masalah mesin, kemaren Chandra memberitahuku sudah sore, jadi aku cek hari ini saja", alasan Jayden pada ibunya.


Ibunya hanya mengangguk, sedangkan ayah Jayden menatap Jayden curiga. Tapi Jayden sama sekali tidak sadar kalau ditatap ayahnya, dia sedang terburu-buru.


Sesudah itu Jayden pamitan kepada ayah dan ibunya. Ayahnya semakin curiga dengan kelakuan Jayden, apalagi Jayden berangkat sendiri dan tidak diantar sekretarisnya.


Padahal hari ini hari Senen, dan biasanya jalanan macet, Jayden biasanya paling malas nyetir kalau macet. Tapi ayah Jayden diam saja dan tak mengatakan apapun.


Ternyata kecurigaan ayahnya benar, Jayden tidak menuju ke pabrik. Mobil silvernya mengarah ke rumah Aylin.


Dari semalam Jayden sudah punya rencana, kalau dia akan menjemput Aylin pada hari pertama kerjanya.


Dia akan beralasan pada Aylin, kalau dia datang menjemputnya karena hari ini hari pertama Aylin bekerja, jadi orangtuanya yang menyuruhnya datang untuk menjemput Aylin.


"Denny, aku gak akan kalah taktik darimu", pikir Jayden yang masih dendam pada Denny.


Sampai di rumah Aylin, Jayden terpana, ternyata sudah ada mobil di depan rumah Aylin. Dia melihat Denny keluar dari rumah Aylin dan sempat berbicara sebentar dengan ibunya Aylin sebentar, sesudah itu Denny sudah meninggalkan tempat itu, tapi Aylin tidak kelihatan bersama Denny.


Setelah Denny pergi dari sana, gantian Jayden juga menghampiri rumah berwarna putih itu.

__ADS_1


Kebetulan ibunya Aylin sedang menyapu halaman, ibu Aylin pun langsung bisa melihat kedatangan Jayden yang saat itu mengenakan kemeja bercorak garis itu.


Belum sempat Jayden menyapa ibu Aylin, ibu Aylin sudah langsung berkata pada Jayden,


"Cari Aylin ya? Aylin pagi-pagi sudah berangkat. Katanya mau ke suatu tempat dulu, sebelum ke perusahaan pak Sunjaya, tadi nak Denny juga datang mau mengantar Aylin, tapi Aylin sudah berangkat", sambil siap-siap membuka pintu.


"Tidak usah Tante, saya hanya mampir menjemput Aylin karena hari ini hari dia pertama bekerja, jadi ayah dan ibu meminta saya menjemputnya", jawab Jayden dengan sopan.


Ternyata kalau dengan orang yang lebih tua, Jayden juga bisa bersikap ramah.


"Saya pamit dulu ya Tante", sambung Jayden berpamitan pada ibu Aylin.


"Maaf ya sudah merepotkan nak Jayden, jauh-jauh ke sini menjemput Aylin", sahut ibu Aylin.


"Gak pa pa Tante, sekalian", jawab Jayden lagi dengan sopan.


Akhirnya Jayden meninggalkan tempat itu dengan kecewa dan ngedumel dalam hati,


"Heran sifatnya yang satu ini gak berubah, masih suka keluyuran. Pagi-pagi gini kemana? Mall juga belum buka!"


Sedangkan ibu Aylin mendengar jawaban Jayden agak bingung,


Ibu Eni tetangga depannya Bu Hutomo, sejak tadi terus memandang penuh rasa ingin tahu melihat dua laki-laki yang bertamu ke tempat Bu Hutomo secara bergantian, dia masih ingat dengan Jayden, yang dulu ditemuinya di rumah sakit, sedangkan Denny dia tidak kenal, karena potongan rambut Denny sudah berubah, dan dia juga belum tahu kalau Denny sudah pulang.


"Sungguh beruntung anak gadisnya Bu Hutomo, dikelilingi cowok-cowok ganteng", pikirnya dalam hati agak iri. Akhirnya mulutnya pun tak tahan, dan berkata agak keras, karena posisi mereka agak jauh,


"Wah Bu Hutomo mau pilih yang mana nih?"


"Hanya teman Bu" , jawab ibu Aylin singkat, sebenarnya dia kurang suka dengan Bu Eni yang suka bergosip itu, tapi dia masih bersikap sopan karena Bu Eni lah yang membawanya ke rumah sakit waktu dia pingsan.


Sedangkan yang jadi pembicaraan, malah sedang di pasar mencari makanan yang mau dibawa ke tempat kerja


Aylin memang sudah merencanakan berangkat pagi-pagi karena dia takut Denny akan datang mengantarnya. Dia masih malu dan belum siap ketemu Denny dulu.


Kemaren hari Minggu saja dia putar-putar tanpa tujuan untuk menghindari Denny, sebenarnya dia berniat mengajak Cika ketemuan, tapi dia takut mengganggu Cika yang sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya.


Dia merasa beruntung dia pergi, ternyata ibunya berkata padanya Denny datang mengantar jahitan, tapi hanya sebentar, dan ibu juga memberitahu Denny bahwa besok Aylin sudah mulai bekerja, makanya sibuk bersiap-siap, padahal Ibu Aylin tidak tahu kalau anaknya hanya keluyuran tanpa tujuan.


Alhasil hari ini Aylin pagi-pagi ke pasar untuk menghabiskan waktu lagi, dia mau ke perusahaan Sunjaya juga masih kepagian, akhirnya daripada sia-sia, dia mencari makanan untuk dibawa ke tempat kerja untuk makan siangnya nanti.


Lagipula dia berpikir dia masih baru di tempat kerja, belum paham situasi di sana, sebaiknya dia membawa makan sendiri.

__ADS_1


Sedangkan Jayden sampai ke perusahaan masih kepagian, bahkan sekretarisnya Denny juga belum kelihatan.


Bagian produksi sudah datang, jadi di perusahaan Sunjaya kalau bagian produksi masuk jam 08.00, sedangkan bagian kantor masuk jam 09.00.


Sampai perusahaan Jayden berkeliling, mencari-cari, ternyata Aylin belum sampai, dia semakin kesal, "kemana sih, hari pertama kerja saja gak siap-siap malah keluyuran!"


Bagian produksi sudah sibuk bergosip ria, mereka berpikir kalau Jayden kehilangan sesuatu dan mencarinya.


Jayden akhirnya berpikir kalau lebih baik dia mengecek mesin saja, biar waktu cepat lewat.


Begitu masuk ruang produksi, orang-orang produksi langsung hening, hanya Chandra saja kepala bagian teknisi menghampiri Jayden.


Jayden lalu mendengarkan laporan dari Chandra mengenai mesin-mesin produksi yang agak bermasalah, sesudah itu memberikan solusi kepada Chandra.


Sejak Chandra bekerja di perusahaan Sunjaya, dia sungguh mengagumi kehebatan Jayden dalam hal mesin. Pantas saja Jayden dulu sering menjadi juara umum, dia saja masih kalah pengetahuannya kalau mengenai mesin, padahal jabatannya kepala teknisi.


Ketika jam hampir menunjukkan pukul 9 kurang 20 menit, Jayden pun bersiap balik ke kantor lagi.


"Pak Jayden, Aylin juga bekerja di sini ya?" tanya Chandra tiba-tiba.


Ternyata dia tidak mendapat jawaban, malah dia yang ditanya balik,


"Siapa yang memberitahukan padamu?"


Jayden bingung bagaimana Chandra bisa tahu, Chandra jarang ke bagian kantor, Chandra mempunyai ruang sendiri, dekat bagian produksi.


"Aylin sendiri Pak, saya bertemu dengan Aylin dan pacarnya Denny di Mall waktu kemaren Sabtu", qqqjawab Chandra yang menganggap kalau Denny adalah pacar Aylin.


Jayden terdiam seketika dan tanpa berkata apapun, dia meninggalkan Chandra. Wajahnya langsung berubah gelap. Saat Jayden melewati bagian produksi, karyawan bagian produksi hanya menatap segan pada wajah Jayden, mereka gentar sendiri melihat wajah suram tanpa senyum itu, padahal tadi waktu muter-muter masih cerah walaupun tidak ada senyum.


Begitu bayangan Jayden hilang, orang produksi pun bernafas lega.


"Berarti barangnya yang hilang gak ketemu.Kira-kira apa ya?" tanya Bu Hartati bingung.


Sedangkan Chandra yang tak bisa membaca situasi, berkata dalam hati


,"Koq nanya saja gak dijawab, malah gue yang ditanya balik", sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ternyata inilah kebiasaan orang pintar, kalau sedang berpikir.


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2