Loving You

Loving You
Rumah Yang Sebenarnya


__ADS_3

...“Taraf bahagia setiap orang itu berbeda-beda. Terkadang, bahagia tak membutuhkan sesuatu yang mahal maupun yang hebat. Bagi sebagian orang, hal sederhana yang terkadang dianggap biasa saja oleh orang lain jauh lebih bermakna dan membuatnya begitu bahagia karena ia tidak bisa mendapatkan.”...


...****************...


“Tante Lisa, Om Raihan mana?” tanya Niken di sela-sela makannya karena tidak melihat papa Aril. Kini mereka sedang menikmati makan malam. Aril sudah berganti pakaian, begitu juga dengan Niken yang meminjam pakaian Aril.


“Oh, Om Raihan malam ini pulang telat, Ken,” jawab Bu Lisa.


“Ooo, gitu ya.” Suasana kembali hening. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.


“Udah, biar Niken aja yang beresin Tante,” cegah Niken ketika melihat Bu Lisa yang ingin membereskan meja.


“Udah, nggak usah, biar Tante aja. Kamu ke ruang keluarga aja, nyusul si Aril. Tante nyusul kalau udah selesai beresin semuanya,” tolak Bu Lisa ramah.


“Beneran, Tan?”


“Iya, beneran. Udah, kamu pergi terus sana,” ucap Bu Lisa berpura-pura mengusir. Niken hanya bisa tersenyum dibuatnya.


“Yaudah, Niken duluan ya, Tan. Nanti kalau ada yang mau dibantu panggil aja Niken.”


“Iya, yaudah sana.” Niken pun pergi ke ruang keluarga untuk menyusul Aril yang sedang menonton televisi. Bu Lisa sudah membawa piring kotor ke wastafel untuk dicuci dan menyimpan lauk-pauk yang masih tersisa ke dalam kulkas.


“Duduk, Ken,” tawar Aril ketika melihat Niken yang sudah berdiri di sampingnya. Ia menggeser duduknya sedikit untuk memberi ruang kepada Niken yang ingin duduk.


“Ih, Kakak masih kayak anak kecil aja yang suka nonton Spongebob,” ejek Niken yang melihat tontonan Aril.


“Biarin, umur itu bukan batasan untuk nonton kartun. Lagian nonton Spongebob lebih seru dan bermanfaat daripada nonton sinetron nggak jelas,” bela Aril.


“Bener juga sih apa yang Kakak bilang.”


“Lagian kamu sendiri mau suka nonton kartun kan Chibi Maruko Chan kan?” balas Aril mengejek.


“Udahlah, yang sama-sama suka nonton kartun nggak usah saling ngejek. Istilahnya maling kok teriak maling.”


“Kan kamu yang mulai, Ken,” sahut Aril kalem.


“Hush, udah lanjut aja nontonnya, nggak usah banyak omong.” Tidak berniat merespon, Aril pun kembali fokus dengan yang tontonannya.


“Kak...” panggil Niken.


“Apaan?” tanya Aril, namun masih tak memalingkan matanya dari televisi.


“Kapan mau anterin Niken pulang? Ini udah hampir jam 8 malam, nanti Mami marah karena Niken pulangnya kemaleman.”


“Bentar lagi, nanggung Spongebobnya dah hampir selesai.”


“Ih... tapi nanti Mami bisa marah loh sama Niken,” rengeknya sambil mengguncang tangan Aril pelan.


“Bentar lagi, Niken. Ini nanggung loh,” sahut Aril yang merasa terusik.


“Tapi, nanti Mami marah...”


“Kan Kakak udah bilang, masalah sama Mami kamu biar Kakak yang urus. Jadi, sekarang kamu duduk diem dan nonton aja dengan tenang ya.”


“Ih, Kak Aril kok gitu...” Niken kembali merengek, namun tak dihiraukan oleh Aril.


“Kamu kenapa, Niken?” tanya Bu Lisa yang baru datang ke ruang keluarga.

__ADS_1


“Ini, Kak Aril masa nggak mau anterin Niken,” adunya.


“Nggak, Ma! Niken fitnah! Fitnah! Aril bilang bentar lagi siap Spongebobnya habis,” seru Aril cepat untuk membela diri.


“Kak Aril bohong, Tante. Tadi katanya Niken disuruh pulang sendiri,” kompor Niken memanas-manasi.


“Jangan percaya, Ma! Niken yang bohong!” seru Aril tidak terima disalahkan.


“Kak Aril yang bohong, Tan!” sahut Niken tak mau kalah.


“Kamu yang bohong, Ken!”


“Kakak!”


“Kamu!”


“Ih, Kakak loh!” Mereka malah saling menyalahkan. Sedangkan Bu Lisa hanya bisa menghela napasnya panjang.


“Udah, cukup!” lerai Bu Lisa yang membuat mereka berdua langsung terdiam.


“Niken, kamu tenang aja, Kalau Aril nggak mau anter kamu biar urusannya sama Tante. Dan untuk Niken, benar apa yang dibilang Aril, kamu tinggallah sebentar lagi di sini. Ngapain kamu buru-buru untuk pulang? Apa? nggak nyaman di rumah Tante?”


“Eh, nggak gitu, Tan! Niken cuma takut Mami nanti marah kalau pulang kemaleman,” seru Niken cepat. Sedangkan Aril ketawa puas melihat Niken yang kalut dengan ucapan mamanya.


“Syukurin,” ejek Aril tanpa suara yang membuat Niken kesal ingin memukul, namun ditahan karena ada Bu Lisa yang melihat.


“Tante, Liat tuh! Kak Aril ngejekin Niken,” adu Niken. Kini giliran Aril yang merasa kalut.


“Eh, Nggak ada, Ma! Aril diem aja kok daritadi. Beneran nggak bohong,” serunya membela diri.


“Nggak mau! Biar kamu kapok, jadi nggak bakalan gangguin Niken lagi.”


“Sebenarnya anak Mama itu Aril atau Niken sih?” gerutunya.


“Oh, udah pinter ngelawan ya sekarang?!” Bu Lisa semakin memperkuat jewerannya dan membuat Aril kembali berseru kesakitan. Niken sudah tertawa terpingkal-pingkal.


“Mama jahat banget sih...” rengek Aril ketika jeweran di telinganya sudah dilepas.


“Abisnya kamu itu kekanak-kanakan banget. Apa salahnya ngalah sama Niken?”


“Mampus, emang enak?!” ejek Niken.


“Tuh, tuh! Mama liat sendiri kalau Niken yang mulai,” adu Aril kesal.


“Udah, cukup! Aril mendingan kamu lanjutin tuh tontonannya. Niken sini manja-manja sama Tante,” ucap Bu Lisa yang sudah ikut duduk di sofa. Niken pun dengan cepat memeluk beliau dengan manja.


“Dasar manja,” ejek Aril.


“Aril...,” peringat Bu Lisa yang membuat Aril kembali bungkam, kesal. Niken tak henti-hentinya tertawa melihat penderitaan Aril.


“Udah lama kali Niken nggak pernah peluk Tante. Kapan ya terakhir kali kamu kayak gini?” Bu Lisa mempererat pelukannya.


“3 tahun lalu, Tan,” sahut Niken.


“Wah, udah lama juga ternyata. Pantes aja kamu udah besar sekarang.”


“Hahaha, ya begitulah, Tan. Hmm, pelukan Tante nyaman banget...” Niken semakin menempel dan menyelusupkan kepalanya ke lengan Bu Lisa.

__ADS_1


“Kamu bisa aja! Yaudah sini peluk terus sepuas kamu.” Mereka semakin mempererat pelukan satu sama lain. Aril yang melihat itu merasa cemburu karena mamanya jarang banget memeluknya.


“Mama nggak Adil! Giliran Aril nggak pernah tuh Mama peluk sampe segitunya. Sedangkan Niken dipeluk, disayang. Sebenarnya anak kandung Mama siapa sih?!”


“Kamu tanya siapa anak Mama? Kalau gitu dengan senang hati Mama jawab Niken,” goda mamanya.


“Tau ah! Susah debat sama cewek, kalah mulu,” sungut Aril.


“Akh, Mama!” seru Aril karena mendapat pukulan di kepalanya.


“Enak? Mau lagi kamu? Sini, Mama masih banyak tenaga untuk mukul kamu,” ancam Bu Lisa.


“Aril yang anak tiri diem, sadar diri,” sindir Aril yang membuat Bu Lisa tersenyum geli melihat anak semata wayangnya itu.


“Ih, ngambek dia. Yaudah, sini ikutan peluk sama Mama dan Niken,” ajak Bu Lisa.


“Nggak mau!”


“Yaudah kalau kamu nggak mau,” jawab Bu Lisa cuek.


“Mama kok gitu sih?! Kalau Niken dibujuk, dirayu. Sedangkan Aril dikasarin, dicuekin.”


“Makanya, kamu kalau udah disayang itu nggak usah banyak gaya. Jadi, mau peluk nggak nih?”


“Ya mau!” Aril pun ikut-ikutan memeluk sang mama. Kini mereka bertiga saling berpelukan seperti teletubbies.


“Nyaman banget, Tan. Rasanya Niken mau meluk Tante kayak gini setiap hari,” ucap Niken.


“Kan kamu bisa peluk Mami kamu di rumah. Kalau di sini baru kamu peluk Tante,” sahut Bu Lisa yang membuat Niken langsung diam membisu.


“Niken? Kok diem?” tanya Bu Lisa karena tidak mendapatkan respon dari Niken.


“Hah? Oh, Niken ngantuk, Tan,” jawab Niken berbohong.


“Oh, yaudah. Aril, kamu antar Niken pulang sekarang. Udah jam setengah sembilan malam dan Spongebob kamu udah habis kan?” pinta Bu Lisa kepala Aril.


“Iya, Ma. Aril ke kamar dulu bentar, ganti baju,” sahut Aril kemudian menuju ke kamarnya untuk mengganti boxer selututnya dengan celana panjang.


“Kami tunggu di depan ya!” seru Bu Lisa yang diangguki oleh Aril.


“Yaudah, ayo kita tunggu di depan, Ken. Lagian hujan udah berhenti tuh,” ajak Bu Lisa.


“Bentar, Tan. Niken ambil tas dulu di ruang makan, tadi ketinggalan.” Niken melepas pelukannya dan bangkit untuk pergi menuju ruang makan, mengambil tas miliknya.


*****


“Ma, kami berangkat,” pamit Aril yang sudah menghidupkan mesin mobilnya.


“Niken pamit, Tan.” Niken menyalami Bu Lisa.


“Iya, hati-hati kalian di jalan. Kamu juga sering-sering main ke sini, Ken. Tante bakalan tunggu dan nyambut kedatangan kamu,” pesan Bu Lisa.


“Insyaallah, Tan. Kalau ada waktu Niken bakalan mampir lagi.”


“Udah cukup, Ma. Nggak usah ngucapin perpisahan kayak nggak pernah jumpa lagi. Masih ada hari lain untuk Niken datang ke sini lagi,” sindir Aril yang mendapat tatapan ejekan dari sang mama.


“Yaudah, Niken pamit, Tan.” Niken pun masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya. Ia melambaikan tangan ketika mobil itu sudah melaju, keluar dari gerbang.

__ADS_1


__ADS_2