Loving You

Loving You
Otak Jayden menjadi bebal


__ADS_3

Setelah berhari-hari tidak bisa menghubungi dan bertemu Aylin, pikiran Jayden bertambah kacau. Rasa kesal, marah dan kangen berkumpul menjadi satu.


Karena otaknya yang kacau, dia tidak pernah berusaha menelpon Aylin lagi, karena dia pikir Aylin sengaja menghindarinya dan tidak mau mengangkat telpon dari dia.


Padahal harusnya Jayden tahu kalau Aylin tidak pernah tahu nomor telpon dia, karena selama ini mereka tidak pernah berhubungan lewat handphone.


Tapi karena pikirannya sedang kacau, akhirnya otaknya yang pintar juga menjadi bebal.


Saat Jayden sedang duduk di kursi dalam ruangannya, dan sedang memejamkan matanya untuk beristirahat karena sudah kurang tidur beberapa hari ini, tiba-tiba Deddy membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan, yang langsung bertanya pada Jayden,


"Bos coba tebak, siapa yang aku lihat di ruang Bu Maya?"


Jayden membuka matanya dan menatap tajam ke sekretarisnya itu,


"Kamu gak usah main tebak-tebakan sama aku, gak usah bikin aku penasaran!langsung ngomong ke intinya, aku gak punya waktu main sama kamu!", semprot Jayden langsung, yang memang suasana hatinya sedang tidak bagus.


"Ih bos gak seru!", pikir Deddy, tentu hanya dalam hati.


"Itu lho, temannya bos satu sekolah dulu, yang sebelum ke Jerman, pernah ketemuan sama bos, yang ibunya punya konveksi, yang suka ambil kain di tempat kita itu", sahut Deddy seru sendiri.


Deddy lupa dengan nama Denny, dia dulu pernah mengantar Jayden ketemuan dengan Denny. Karena Denny postur tubuhnya tinggi dan punya wajah tampan mirip bosnya, jadi dia masih ingat walaupun hanya pernah bertemu sekali.


Tadi melihat Denny di dalam ruangan Maya, Deddy mengira Denny punya hubungan khusus dengan Maya, jadi dia merasa seru, maklum saja raja gosip.


Mendengar Denny di ruangan Maya, Jayden langsung beranjak dari kursinya dan segera menuju ke ruang Maya.


Deddy yang melihat kejadian itu malah jadi bingung, mengira bosnya cemburu.


"Apa bos suka lagi sama Bu Maya, karena Bu Aylin udah gak kerja di sini. Berarti bos cuman cinlok (cinta lokasi) doang dong."


pikir Deddy sambil menggeleng-gelengkan kepala tidak mengerti sifat bosnya itu.


********


Setelah mengetuk tiga kali pintu ruangan Maya, Jayden langsung membuka pintu dan melangkah masuk.


"Halo Jay, apa kabarmu?", tanya Denny memutar kursinya dan langsung menghadap ke Jayden sambil tersenyum.

__ADS_1


"Maaf ya, waktu itu aku terbawa emosi sampai memukulmu. Kamu bisa membalasnya sekarang, kalau kau mau", sambung Denny dengan santai.


Jayden sama sekali tidak memperdulikan omongan Denny yang dia anggap hanya basa basi dan mau memancing emosinya saja.


Malah Maya yang kaget mendengar perkataan Denny,


"Oo.. kamu yang memukul Jayden?kenapa?", tanya Maya gusar, langsung teringat wajah Jayden hari itu.


Tapi Maya yakin pasti hal itu disebabkan Aylin.


"Huh memang perempuan pembawa sial! Gara-gara dia teman pun jadi musuh", pikir Maya dalam hati kesal.


Jayden mendekati Denny dan langsung bertanya,


"Aylin sekarang kerja dimana? tinggal di mana?"


"Kenapa tanya sama aku, tanya langsung saja sama Lin. Aku ke sini untuk urusan kerja, bukan urusan pribadi", sahut Denny tersenyum lagi. Denny merasa senang kalau bisa memanasi Jayden.


Hari ini dia membantu kakaknya yang tidak sempat untuk mengambil sampel kain. Tapi karena hubungannya dengan Jayden sudah pernah slek, akhirnya Denny memilih bertemu dengan Maya saja.


Kali ini dia benar-benar merasa senang, ternyata ibu Aylin dan Aylin tidak memberitahu keberadaan Aylin ke Jayden.


"Tidak kamu beritahu juga, pasti akan kutemukan", ujar Jayden dengan kesal akhirnya, dan segera beranjak pergi dari ruangan Maya.


Maya yang ikut mendengarkan pembicaraan kedua orang itu, merasa semakin putus asa.


Sepertinya sudah sulit bagi dia untuk mendapatkan hati Jayden. Jayden kelihatannya benar-benar sudah tergila-gila pada Aylin.


********


Sesudah bertemu dengan Denny, tiba-tiba Jayden seakan mendapat titik terang, Dia merasa beberapa hari ini sepertinya menjadi bodoh, mengapa selama ini dia tidak kepikiran untuk bertanya pada Chandra.


Jayden langsung berjalan keluar dan menuju ke ruang produksi untuk mencari Chandra.


Chandra yang melihat kedatangan Jayden merasa senang, karena sudah berhari-hari Jayden tidak pernah muncul di tempat produksi.


Banyak hal yang mau ditanyakan Chandra pada Jayden, apalagi ditambah lagi kedatangan mesin baru yang dipesan Jayden, saat mereka ke pameran mesin itu.

__ADS_1


"Pak Jayden, aku mau tanya mengenai mesin yang baru itu, untuk penyetelan kecepatannya sebaiknya otomatis atau manual saja?", tanya Chandra langsung begitu melihat Jayden masuk ke dalam ruangannya.


"Buku-buku petunjuk mesin itu belum sempat aku baca. Nanti setelah aku baca akan kuinfokan kepadamu.


Ada yang mau kutanyakan padamu Chandra!", ujar Jayden mengalihkan pembicaraan Chandra dari persoalan mesin.


"Ada apa pak Jayden?", tanya Chandra bingung, karena dia tidak menyangka kalau jayden belum membaca buku petunjuk mesin baru itu, biasanya gerak Jayden cepat.


"Dimana tempat kerja Aylin? maksudku tempat kerja Cika dulu", tanya Jayden langsung.


"Cika dulu bekerja di aquleaf, toko kosmetik asal Korea. tapi cabangnya banyak Pak, tapi kalau tidak salah untuk pertama kali bekerja, mereka ditempatkan di Aquleaf yang terletak di Departemen Store XX", Chandra menjelaskan dengan lengkap.


"Terimakasih Chandra", sahut Jayden sambil menepuk bahu Chandra.


Sesudah itu langsung beranjak pergi dari ruangan Chandra, sama sekali tidak membicarakan masalah apapun yang berhubungan dengan mesin.


Chandra sampai bingung dengan kelakuan bosnya itu, sambil berpikir,


"Tumben bisa ngomong terimakasih. Jangan-jangan pak Jayden sudah jatuh cinta pada Aylin.


Enggak aneh juga sih, Aylin kan cantik, dulu aku juga suka.


Pak Jayden saja yang bodoh, dulu waktu dikejar-kejar Aylin menyia-nyiakan kesempatan itu, tidak mau dan sok jual mahal.


Sekarang ditinggal Aylin malah kelabakan sendiri, kalau sampai ketahuan Cika, Cika pasti akan terbahak-bahak.


Tapi aku tidak boleh memberitahu Cika, kalau sampai Cika tahu aku membocorkan rahasia, bisa habis aku".


Begitu sudah mendapatkan alamat Aylin, Jayden akhirnya otaknya sudah bisa diajak berpikir tenang kembali.


Jayden benar-benar menyesalkan otaknya yang bebal selama beberapa hari ini, yang sampai tidak bisa kepikiran untuk bertanya pada Chandra.


"Tapi gak papa, yang penting sekarang aku sudah mendapatkan alamatnya. Awas kamu Denny, kamu pikir bisa menyembunyikan Aylin dariku selamanya?", pikir Jayden geram.


Akhirnya Jayden pun berencana akan mendatangi Aylin di tempat kerja, saat mendekati jam pulang kerja Aylin nanti.


Sebenarnya dia sudah tidak sabar bertemu Aylin untuk menanyakan Aylin kenapa menghindarinya.

__ADS_1


"Awas kamu Lin", pikir Jayden gemas dengan Aylin yang sudah menghindarinya, yang membuat dia menjadi seperti orang bodoh, yang tidak bisa berpikir jernih lagi, karena rasa kangennya itu.


"Kali ini aku tidak akan melepaskanmu lagi!"


__ADS_2