Loving You

Loving You
Ruang Arsip


__ADS_3

...“Lelaki itu terkadang memang melihat wanita dari segi fisiknya. Tapi jika lelaki itu benar-benar tulus, tak peduli bagaimana pun keadaan dirimu, Dia pasti akan menerima semua itu apa adanya.”...


...****************...


“Niken udah selesai pindahin semua berkas yang Kakak suruh ke ruang OSIS,” lapor Niken ketika sudah selesai melakukan tugasnya.


“Baguslah. Kalo gitu kamu bisa istirahat aja dulu. Berkas yang berantakan ini biar Kakak aja yang nyusun,” sahut Mahendra sambil menunjuk berkas-berkas yang berantakan di ruang arsip.


“Kakak yakin beresin semua berkas berantakan ini sendiri? Mau Niken bantuin?” tanya Niken tak yakin karena melihat berkas-berkas itu sangat banyak.


“Yakin, Kok. Kakak cukup berterima kasih karena kamu udah bantuin Kakak untuk pindahin berkas penting ke ruang OSIS. Sekarang Kakak enak untuk nyusun berkas-berkas yang tersisa karena udah terpisah dari berkas yang diperlukan,” tolak Mahendra menjelaskan.


“Beneran nih?”


“Iya, beneran.”


“Yakin?”


“Iya, yakin.”


“Beneran yakin?”


“Astaghfirullah, Niken! Iya loh, Kakak yakin ngerjain sisanya sendiri. Udah, lebih baik kamu duduk aja dulu di kursi itu sambil makan cemilan yang Kakak beli tadi waktu kamu pergi ke ruang OSIS. Kalo kamu masih mau bantuin cukup dengan duduk manis dan tunggu Kakak selesai,” titah Mahendra yang merasa gemas karena Niken terus saja bertanya untuk memastikan.


“Iya-iya, Niken nurut. Tapi beneran yakin?”


“Sekali lagi kamu nanya kayak gitu, Kakak lakban mulut kamu!” ancam Mahendra yang berhasil membuat Niken bungkam. Ia langsung duduk dengan tenang sambil memakan cemilan yang diberikan.


“Good! Kamu duduk tenang aja sampe Kakak selesai,” ucap Mahendra tersenyum tipis karena Niken menurut. Ia pun segera membereskan semua berkas itu agar cepat selesai.


“Niken, seingatnya gimana kabar kucing kamu sekarang? Udah sembuh?” tanya Mahendra di sela-sela kegiatannya ketika mengingat pertemuannya dengan Niken di klinik hewan. Ia menyusun berkas itu dengan rapi di rak yang tersedia.


“Maksud Kakak, Amu?”


“Oh, jadi namanya Amu. Iya, gimana kabarnya sekarang?”


“Seminggu lalu pas Niken ke sana, dokternya bilang kalo Amu masih perlu dirawat lagi karena kondisinya ternyata lebih parah dari yang diduga. Niken sih rencananya hari ini mau ke klinik untuk liat Amu karena udah hampir seminggu nggak ke sana, sekalian untuk bawa Amu pulang. Sebenarnya dokter udah nelpon dari 2 hari lalu dan bilang kalo Amu udah boleh dibawa pulang, tapi Niken belum sempat,” sahut Niken panjang lebar.


Mahendra mengangguk paham. “Oh, gitu. Jadi, kapan kamu rencana ke sana? Pulang sekolah atau pulang ke rumah dulu?”


“Kayaknya langsung pergi pas pulang sekolah deh, Kak. Soalnya nanti takut nggak dikasih Mami keluar lagi.”


“Hmm... Kakak juga rencananya nanti mau ke klinik sepulang sekolah.”


“Untuk apa, Kak?” tanya Niken dengan mulut penuh.


“Telan dulu baru ngomong,” peringat Mahendra.


“Kakak ke sana untuk beli makanan kucing, udah habis lagi,” lanjutnya.


“Oooo, oke.” Niken kembali melanjutkan acara ngemilnya.


“Jadi gimana?” tanya Mahendra ragu.


“Jadi apanya, Kak?” tanya Niken bingung.


“Kamu mau?”


“Mau apaan?”

__ADS_1


“Itu...” ucap Mahendra sedikit gugup.


“Niken beneran nggak ngerti. Itu apaan, Kak?” tanya Niken yang masih tak paham maksud Mahendra.


“Ck! Kan Kakak mau ke klinik hewan juga nanti, jadi kamu mau bareng?” tanya Mahendra sedikit kesal karena Niken yang tidak mengerti maksudnya.


“Oooo, dibilang dong daritadi. Kalo Kakak tiba-tiba nanya kayak gitu gimana Niken mau paham, Kak,” sahut Niken yang entah mengapa terdengar sedikit menyebalkan di telinga Mahendra. Padahal ia sudah memberanikan diri untuk memberikan kode, tapi bisa-bisanya Niken tidak menangkapnya.


“Terserah!” gerutu Mahendra.


“Ih, Kakak nggak boleh marah kayak gitu.”


“Salah siapa coba?” Niken hanya mengendikkan bahu.


“Terus sekarang gimana, Kak?” tanya Niken.


“Emangnya sekarang kenapa?” tanya Mahendra cuek.


“Kan Kakak tadi nanya, Niken mau bareng apa nggak? Niken mau jawab, emang Kakak nggak mau tau?”


“Emangnya jawaban kamu apa?”


“Kalo Niken sih boleh aja asal nggak ngerepotin Kakak.”


“Nggak ngerepotin. Jadi nanti pulang sekolah tunggu di gerbang, kita pergi bareng,” jawab Mahendra yang tersenyum tipis.


“Oke! Nanti Niken tunggu di gerbang. Btw, Kakak hari ini berangkat naik apa?”


“Naik motor, soalnya lagi males naik mobil. Kenapa? Kamu nggak bisa naik motor?”


“Eh, nggak kok, Kak! Malahan bagusan naik motor daripada mobil.”


“Ya iyalah. Jarak dari sekolah ke klinik kan dekat tuh. Kalo naik motor enak, nggak ribet. Lagian kalo naik mobil kayak aneh aja gitu.”


“Aneh gimana?” tanya Mahendra menaikkan sebelah alisnya.


“Ya aneh. Masa jaraknya dekat malah pake mobil segala, padahal jalan kaki bentar aja juga udah nyampe.”


“Hahaha, kamu itu unik ya,” ucap Mahendra tertawa pelan.


“Unik apanya, Kak? Niken cuma bilang kebenaran doang kok. Emang bener kalo naik mobil itu ribet. Kecuali pergi ke tempat jauh, baru itu bagusan naik mobil.”


“Iya deh, iya. Terserah kamu aja,” sahut Mahendra yang masih tertawa.


“Masih banyak, Kak?”


“Nggak kok, tinggal yang di kardus itu aja. Emangnya kenapa?” jawab Mahendra sambil menunjuk kardus yang hanya tersisa satu.


“Cemilan Niken udah habis.” Niken memperlihatkan cemilannya yang sudah kandas tak bersisa kecuali bungkusnya saja.


“Wah, tumben cepat habis, Ken?” tanya Mahendra salut melihat bungkusan kosong itu. Seminggu lalu saat dirinya selalu memberikan cemilan untuk Niken, pasti Niken cuma makan sebungkus dan sisanya dibawa ke kelas. Mahendra tidak tau apa Niken menghabiskan semua sisanya atau membagikan ke orang lain.


“Ya namanya juga habis, Kak. gimana lagi mau dibilang?” Niken mengendikkan bahu.


“Kayaknya nafsu makan kamu lagi meningkat ya?”


“Hmm, mungkin? Tapi Niken emang ngerasa kalo beberapa hari terakhir suka ngemil sih, Kak. Mungkin besok Niken coba untuk kurangi nafsu Niken untuk ngemil.”


“Jangan!” seru Mahendra cepat.

__ADS_1


“Loh, kenapa jangan, Kak?”


“Kamu itu seharusnya makin tingkatkan nafsu makan kamu, bukannya malah mau dikurangi. Kalo sekarang lagi mood untuk banyak makan, yaudah nggak usah dibatasi, biarin aja. Kamu itu butuh banyak asupan nutrisi.”


“Kok gitu, Kak?”


“Kamu nggak liat badan kamu? Seharusnya kamu menambah beberapa berat badan,” sahut Mahendra yang menghampiri Niken. Sedangkan Niken melihat badannya yang memang sedikit lebih kurus dibandingkan saat ia awal masuk SMP.


“Kayaknya Kakak benar deh. Nantilah Niken usahain,” sahut Niken yang membuat Mahendra tersenyum puas.


“Bagus! Itu baru yang namanya anak baik,” ucap Mahendra mengusap rambut Niken.


“Ck, jangan digituin, Kak! Nanti rambut Niken berantakan!” seru Niken memukul tangan Mahendra pelan.


“Hahaha, sorry...” ucap Mahendra memberikan tanpa peace. Niken hanya menatap malas.


“Ngapain Kakak ke sini? Udah siap kerjaannya?”


“Udah dong.”


“Masa?” tanya Niken tak percaya. Ia mencoba mengintip ke tempat berkas-berkas tadi yang berantakan. Ternyata memang benar semuanya sudah rapi.


“Udah liat sendiri kan kalo emang udah rapi? Ngapain juga Kakak bohong,” gemas Mahendra.


“Ya kali aja Kakak mau iseng ke Niken makanya ke sini,” bela Niken.


“Idih, kamu kepedean banget sih,” ejek Mahendra.


“Kan kali aja, Kak. Berarti bisa jadi bisa nggak,” ucap Niken sebal.


“Yaudah, beresin tuh sampah bungkusan cemilan kamu. Kalo udah siap ayo kita balik ke kelas, bentar lagi bel istirahat bunyi,” ajak Mahendra.


“Iya, bentar.” Niken dengan segera membersihkan sampah miliknya dan membuangnya ke dalam tempat sampah.


“Udah, ayo!”


“Oh, kalian berdua udah selesai?” tanya Aril ketika melihat Mahendra dan Niken yang baru keluar dari ruang arsip.


“Udah, kalo belum nggak mungkin pergi!” sahut Niken sewot.


“Lah, kok sewot?”


“Abisnya basa-basi Kakak itu udah basi banget. Udah liat kami keluar dan mau kunci pintu ruangan. Itu berarti kami udah selesai, nggak usah ditanya lagi,” sungut Niken.


“Astaghfirullah, kayaknya Kakak salah ngomong. Iya deh, Kakak yang salah,” sahut Aril mengalah.


“Kalian juga baru siap, Ril?” tanya Mahendra yang sudah selesai mengunci pintu.


“Nggak, udah dari tadi, cuma kami mojok dulu di kantin. Iya nggak, Byl?” tanya Aril pada Sabyla yang ada di belakangnya.


“Iya, Kak.”


“Woi, Byl! Kamu nggak di apa-apain sama Dia kan? Dia nggak berbuat yang macam-macam sama kamu kan?” tanya Niken memastikan sambil menunjuk Aril yang menjadi tersangka.


“Hahaha, nggak kok, Ken. Malahan Kak Aril baik banget, Dia tadi traktir aku bakso sebagai imbalan,” sahut Sabyla terkekeh pelan.


“Tuh, tuh! Dengar apa kata temen kamu! Nggak usah suudzon aja bawaannya,” ucap Aril.


“Hoohlah. Yaudah, kalo gitu ayo kita balik ke kelas, Byl! Kami berdua pamit, Kak!” pamit Niken yang langsung menarik tangan Sabyla untuk pergi menjauh.

__ADS_1


“Kami permisi dulu, Kak!” Pamit Sabyla sopan. Mahendra dan Aril hanya mengangguk dan juga ikut pergi, kembali ke kelas mereka masing-masing.


__ADS_2