
Saat tiba di dalam rumah . pandangan Kaluna menelusuri setiap sudut ruangan tersebut . satu kata yang makya Kaluna tangkap dari peletakan setiap perabotan rumah ini berbeda . Kaluna yakin ayahnya tidak akan menyamakan dengan rumah lama mereka .
saat matanya masih menulusuri ruangan yang biasa di gunakan menyambut tamu tersebut . mata Kaluna berhenti pada sebuah frame cukup besar yang memperlihatkan foto sebuah keluarga yang terlihat sangat bahagia dan di bawahnya terdapat nakas juga berjejeran fotonya dengan mamanya . sepersekian detik pipi mulus kaluna menjadi basah. hatinya yakin ayahnya tidak begitu marah padanya . Ia hanya perlu melakukan permintaan maaf dengan benar yang sampai sekarang belum pernah dirinya lakukan .
perempuan yang menyayangi Kaluna seperti anaknya sendiri itu mendekat. perempuan paruh baya itu sangat tau bagaimana hubungan anak dan ayah tersebut.
" apa semuanya baik-baik saja ?"
Kaluna menoleh ke samping di mana orang yang menyayanginya tersebut berdiri . tangannya Mengusap pipinya yang basah dan hanya mengangguk mendengar pertanyaan tersebut .
"Kalau begitu saya akan mengantarkan nona Kaluna ke kamar untuk istirahat."
" Apa ayah hidup dengan baik selama aku di sana ?"
"bibi. apa aku boleh memanggil menggunakan kata itu? karena Kaluna lebih merasa nyaman menggunakan panggilan itu sekarang.
Kaluna pikir agak aneh jika usianya dan usia pelayan setia keluarganya itu dia panggil dengan panggilan yang dulu dirinya gunakan melihat usia mereka berdua .
mendengar permintaan dari nona nya tersebut Tia mengangguk sambil tersenyum dan Kaluna juga ikut tersenyum .
"bibi akan menjawab , setelah berada di atas."
kedua perempuan yang beda generasi tersebut melangkah menuju pantai atas di mana kamar Kaluna berada . sama dengan rumah lamanya kamar nya kali ini juga berada di lantai dua.
ceklek
pintu kamar tersebut terbuka Tia kemudian mempersilahkan Kaluna untuk masuk lebih dulu .
" Nona Kaluna bisa mengubah suasana kamarnya jika tidak merasa nyaman ."
"saya nya menata sesederhana mungkin . menunggu nona Kaluna kembali suatu hari nanti dan menatanya kembali."
setelah Kaluna berada di dalam kamar tersebut Tia pun melangkah selanjutnya .
" untuk barang-barang nona Kaluna mungkin akan tiba sebentar lagi.
Kaluna melangkah duduk si sofa panjang yang terletak di dekat jendela kamarnya . kemudian meminta Tia untuk melakukan hal yang sama . memintanya duduk di sampingnya .
" bibi belum menjawab pertanyaan ku tentang ayah ."
Tia sedikit ragu untuk mengatakan semua yang terjadi selama ini . tapi menurutnya jika dia tidak mengatakan yang sejujurnya itu sesuatu yang tidak bijak . Kaluna harus tau . berharap dengan cara itu dia berfikir mungkin nona nya bisa menyelesaikannya .
Kemudian Ia pun bercerita tentang bagaimana tuanya selama ini selama nona nya tinggal jauh . terkadang ia melihat tuanya kala malam yang sangat larut berdiri memandangi foto besar yang terpajang di ruang depan dengan waktu yang cukup lama dan dimalam yang lain Ia akan melihat tuannya menghabiskan waktunya di ruang kerjanya sampai tertidur di sana sambil memegang foto yang selalu ada di meja kerjanya .
Kaluna menunduk. sedih kembali datang dalam dirinya .Hal yang sama sering dirinya lihat saat masih tinggal bersama ayahnya di luar negeri . karena tidak bisa melihat ayahnya terus seperti itu akhirnya Kaluna menjauh Ia memilih di masukan sekolah yang memiliki asrama dan yang mengharuskannya untuk hanya bisa mengambil waktu liburnya saat semester usai. ditambah selama berada di sama perlakuan ayahnya tidak sehangat ketika mamanya masih hidup.
melihat ekspresi yang diperlihatkan nona nya Tia merasa bersalah . Ia kemudian berusaha menghibur Kaluna dengan membahas masalah yang lain .
" Oh ya , bukan kah malam ini tuan Hendra dan nyonya Riana akan datang." perkataan Tia membuat Kaluna kembali mengarahkan pandangannya kepada dirinya. " ayah nona tadi menelpon untuk menyiapkan makan malam karena dia akan mengundang Tuan Hendra dan nyonya Riana datang kemari untuk menyambut kedatangan nona Kaluna .
Perkataan Tia membuat Kaluna tersenyum senang . sudah lama sekali Dia tidak bertemu dengan dengan kedua sahabat ayah dan mamanya tersebut . setelah kedua orang tuannya, mereka berdua lah orang yang begitu menyayangi dirinya .
"kalau begitu bibi pergi dulu untuk menyiapkan makan malamnya nona Kaluna istirahat dulu." setelah berkata bibi Tia kemudian bangkit kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut . sebelum benar-benar keluar Suara kaluna terdengar .
" aku akan membantu bibi." Kaluna juga ikut beranjak dari tempatnya dan melangkahkan cepat kearah pintu kamarnya .
" tidak perlu . nona Kaluna istirahat saja . pasti nona Kaluna masih lelah setelah perjalanan jauh . masih ada pelayan lain yang bisa membantu bibi ." setelah mendengarkan kalimat bibi Tia Kaluna hanya mengangguk. kemudian menutup pelan pintu kamarnya.
__ADS_1
Setelah pintu tertutup rapat Kaluna berbalik melangkah kerah tempat tidur . seperti perkataan bibi Tia, tubuhnya butuh istirahat . Ia kemudian merebahkan tubuhnya dan tidak butuh waktu lama Kaluna langsung terlelap .
beberapa saat setelah mata terpejam Kaluna merasa ada yang menyentuh kepalanya dengan lembut . sentuhan tangan itu seperti cara mamanya melakukannya . hal tersebut membuat Kaluna membuka matanya dan melihat siapa yang tengah mengelus lembut rambutnya .
saat melihat wajah yang ada di atasnya seketika wajah Kaluna terlihat bahagia tersenyum begitu cantik dan yang mengelus rambutnya begitu lembut juga tersenyum kepadanya .
" mama" suara Kaluna terdengar parau menyebut kata yang begitu dirindukannya . Kaluna kemudian bangkit dari tidurnya kemudian masuk kedalam pelukan mamanya .
" Terima kasih ya sayang . karena Kaluna sudah memenuhi permintaan mama." kata Naya sambil terus mengelus rambut panjang Putrinya .
" Ayah masih marah sama Kaluna."
" Bicaralah dengan ayah. mama yakin semuanya akan kembali seperti biasa . apalagi Kaluna sudah di sini."
" Apa ayah tidak akan menghindar dan menyuruh Kaluna pergi . seperti yang ayah lakukan." Kaluna semakin mengencangkan pelukannya . Ia takut mamanya akan pergi .
" mama . Kaluna kangen." Kaluna memejamkan matanya menikmati kelembutan dari sentuhan. mamanya. sampai terdengar suara memanggil - manggil namanya .
"Nona Kaluna" suara bibi Tia terdengar di balik pintu begitupun dengan ketukannya .
mendengar namanya di panggil dan Suara ketukan yang terdengar kemudian . Kaluna membuka matanya . sadar bahwa yang baru terjadi hanyalah sebuah mimpi membuatnya sedih . Ia kemudian mengenal nafasnya Pelang kemudian melangkah ke arah pintu dan membukanya .
" ya Bi ada apa?."
" ini , barang nona sudah datang." jawab Bi Tia sambil tangannya mengarah pada beberapa barang yang baru tiba di anatar oleh pegawai kantor Tuannya .
padangan mata Kaluna mengikuti gerakan tangan bibi Tia .
" Apa nona Kaluna membutuhkan bantuan saya untuk memberatkan barang-barangnya."
" Terima kasih bibi. Tapi rasanya tidak perlu , saya akan merapikannya sendiri" kata Kaluna kemudian.
" Apa ayah sudah pulang ?".
" Belum . bibi rasa sebentar lagi." jawab bibi Tia kemudian menunggu pertanyaan selanjutnya dari nona nya .
" kalau sudah tidak ada yang ingin ditanyakan lagi , bibi turun."
" ah , iya Bi, nanti saya akan turun jika sudah selesai membereskan batang-barangnya".
bibi Tia melangkah pergi setelah mendengarkan perkataan Kaluna dan Kaluna kembali menutup pintu kamarnya dan langsung merapikan barang-barangnya yang baru tiba . setelah selesai Ia kemudian melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya .
sedangkan di lantai bawah setelah beberapa saat bibi Tia berada di lantai tersebut suara bel berbunyi . Ia kemudian melangkahkan kakinya untuk membuka pintu . orang yang memencet bel tersebut langsung masuk setalah pintu terbuka
" apa Kaluna sudah di atas ?"
" Iya Tuan. saya baru mengantarkan barang-barangnya keatas. Jawab Bibi Tia yang melangkah mengikuti Ayah Kaluna yang baru tiba .
" Apa makan malamnya sudah siap?" tanyanya lagi .
" sudah saya siapkan tuan ."
" Mungin Riana dan Hendra akan tiba 20 menit lagi.
setelah mengatakan itu . Faisal kemudian melangkah masuk ke ruang kerjanya yang memang berada di lantai bawah .
Bi Tia kemudian kembali menuju arah meja makan dimana di sana beberapa jenis makanan sudah dia dan beberapa pelayanan siapkan. Dia ingin memastikan jika tidak ada kekurangan ataupun kesalahan sama sekali mengingat ini bukan makan malam seperti biasanya . makan malam kali ini sangat istimewa karena kehadiran nona mudanya dan Tuan Hendra juga nyonya Riana yang begitu dekat dengan keluarga yang dia sudah layani bertahun-tahun lamanya .
__ADS_1
setelah memastikan semuanya sudah sesuai . Bel pintu utama rumah tersebut kembali terdengar s .Tia buru-buru melangkah untuk membukakan pintu karena Ia yakin yang datang adalah Tua Hendra beserta istrinya . benar susuai perkiraannya ketika Ia membuka pintu Dirinya langsung di suguhi senyuman ramah dari kedua orang tersebut .
" Silahkan tuan , nyonya . tuan Faisal sudah menunggu Anda." kedua orang tersebut masuk mengikuti langkah Bi Tia .
" Hai Hend kalian sudah datang." Faisal melangkah mendekati kedua sahabatnya tersebut .
" Di mana Kaluna . aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya ." kata Riana yang sangat bersemangat menanyakan anak sahabat ya tersebut .
" Sabar sayang . kamu akan bertemu dengan ya malam ini .kamu itu sudah terlalu bersemangat dari tadi sampai memintaku mempercepat laju mobilnya ."
mendengar penuturan sahabatnya itu Faisal langsung tertawa .
" betul apa katakan Hendra . sebaiknya kita duduk dulu . mengingat ini juga pertemuan kita setelah beberapa pekan di sibukkan dengan pekerjaan dan baru bertemu."
Ah , betul ." Hendra menimpali perkataan dari Faisal . Ia kemudian mengajak istrinya untuk duduk .
" Bi Tia tolong panggilkan Kaluna."
Bi Tia melangkah menaiki tangga setalah mendengar permintaan dari Faisal .
setelah tiba di depan kamar Bi Tia langsung mengetuk pintu kamar tersebut .
" Nona Kaluna Tuan Hendra dan Nyonya Riana sudah datang ." tindak membutuhkan waktu lama pintu tersebut langsung terbuka .
"Betulan Bi?" tanya Kaluna penuh antusias . Ia sudah sangat merindukan dia orang tersebut . apalagi ini pertemuan pertama mereka setelah 20 tahun lebih tidak pernah bertemu. tidak menunggu jawaban dari Bibi Tia Kaluna langsung melesat pergi menuruni tangga dan mencari dua sosok yang begitu dirindukannya dan matanya melihat keduanya tengah mengobrol dengan ayahnya di sofa ruang tamu .
" Tante Riana ." pekik Kaluna senang sambil berlari menuruni tangga . Riana yang mendengar itu langsung menoleh . senyumnya mengembang menyaksikan Kaluna berlarian mendekati dirinya . Riana langsung membentangkan tangannya menunggu Kaluna masuk ke dalam pelukannya .
" Kaluna kangen banget sama Tante " suara Kaluna terdengar manja
Hendara dan Faisal yang menyaksikan tersebut tersenyum .
" Jadi hanya Tante Riana ni. Kaluna tidak Kangen sama om. " ucapan Hendar yang berdiri di samping istrinya . mendengar perkataan dari Hendra Kaluna melepaskan pelukannya dari Riana dan beralih memeluk Hendra .
" Kaluna juga kangen sama om Hendra." laki-lakinya itu mengelus lembut kepala Kaluna . beberapa saat kemudian Kaluna melepaskan pelukannya .
" Ah sayang, kapan kamu tumbuh secantik ini?" Kamu lihat Hend anak perempuan ku tumbuh secantik ini . padahal beberapa tahun yang lalu dia adalah bonekaku yang begitu menggemaskan." kata Riana sambil mengelus rambut panjang Kaluna. Dari dulu istri dari Hendra selalu mengganggap Kaluna sebagai putrinya sendiri mengingat Dia hanya memiliki satu anak itupun seorang laki-laki.
" Bagaimana kalau obrolan ini kita lanjutkan. di meja makan . mungkin akan lebih menyenangkan."
Tiba di meja makan . terlihat Riana tidak mau berpisah dari Kaluna , di banding berdekatan dengan suaminya Perempuan tersebut memilih duduk dekat Kaluna . sambil terus mengajaknya mengobrol . Hendara dan Faisal yang menyaksikan nya hanya mengembangkan senyum dan mulai menyuapi makana ke mulut mereka masing masing .
" sayang , cerita sama Tante bagaimana kehidupan kamu di sana . Tante dengar kamu berhasil mewujudkan impianmu dengan sangat sempurna di sana."
Riana sibuk mendengarkan cerita Kaluna yang kehidupan dan karirnya selama tinggal di luar negri . mereka berdua tidak mempedulikan dua orang laki-laki yang juga berada di meja makan yang sama.
Merasa kehadirannya tidak dianggap. Faisal lebih memilih obrolan lain dengan Hendra .
"Apa kabar dengan Liam. kenapa tidak kemari?" tanya Faisal. "Aku dengar Dia sedang membangun hotel baru." lanjutnya .
"Anak itu terlalu sibuk . saat aku mengajaknya kemari dia bilang tidak bisa."
" Bukan kah itu sangat luar biasa . anak itu membangun usahanya sendiri setelah kembali ke negara ini . kamu seharusnya bangga Hend . bukan malah menampilkan wajah seperti itu."
" Iya aku bangga dengannya. Tapi dengan semua pencapaiannya dia jadi terlalu sibuk dan jarang sekali berkumpul dengan kami , jika bukan Riana yang meminta untuk datang ke rumah Dia tidak akan datang".
" Sepertinya kamus harus banyak bersabar . karena Liam itu anak laki-laki . pasti dia berfikir untuk hidup mandiri."
__ADS_1
Hendara hanya mengangguk kan kepalanya mendengar penuturan sahabatnya itu .