
Demi menemani Kaluna untuk menonton, Liam menunda pekerjaannya , Kaluna yang menyukai horor minta Liam untuk memutarkan untuknya.
" Sejak kapan kamu menyukai film seperti ini ."
" Sejak sekolah , dulu aku tinggal di asrama , jadi sama teman -teman sering nonton ." jawab Kaluna yang sementara berbaring menyamping di atas sofa, tangan Liam dia jadikan bantal dan tangan Liam yang Lain tengah berada di balik bajunya menyentuh kulit perutnya .
"Kalau kak Liam suka film apa?"
" Emmm.." Liam tampak berfikir , karena dia sebenarnya tidak suka menonton film atau pun sejenisnya ."
" Sebenarnya aku tidak suka menonton ."
" benarkah ? jadi Kak Liam tidak pernah nonton di bioskop misalnya , kan biasanya banyak film bangus ."
" Pernah tapi sudah lama sekali ." meskipun tidak suka , Liam juga pernah menonton film di bioskop tapi itu sudah lama sekali dan sampai sekarang , hal itu sudah tidak pernah di lakukan nya .
Jawaban yang di berikan Liam membuat Kaluna berfikir , apa Liam pergi dengan seseorang , dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang tidak ia sukai jika bukan karena seseorang dan seseorang itu pasti bukan orang sembarangan .
" Apa kak Liam pergi dengan orang itu." batin Kaluna. Orang yang bahkan dia sendiri tidak tau , dia hanya menebak saja waktu itu jika laki-laki yang sedang memeluknya dalam posisi berbaring punya hubungan di masa lalu , entah itu kapan dia tidak tau, Dia berusaha meyakinkan dirinya, Bahwa itu adalah masa lalu suaminya , tapi entah mengapa jika dia memikirkannya kembali benda yang pernah dia temukan waktu itu , apa sepenting itu sampai Liam harus menyimpannya sampai sekarang .
" Kak." panggil Kaluna lirih , sepertinya dia sudah tidak fokus melihat adegan film yang diawal begitu dia fokusi tadi.
" Ada apa." tidak ada kalimat lanjut dari Kaluna , dia sementara berfikir apa dia harus menanyakan tentang ini untuk meyakinkan hatinya atau tidak perlu , hingga Liam kembali mengulang pertanyaannya .
__ADS_1
" Kenapa ?"
" Em aku hanya kangen sama mama , ayah dan papa juga ." akhirnya Kaluna memilih untuk tidak membahasnya , setelah dia berpikir kembali dan memilih membahas yang lain .
" Bagaiman kalau nanti malam kita kesan sekalian menginap . sepertinya kita belum pernah menginap di sana ."
Mendengar itu Kaluna langsung menampilkan wajah bahagianya . " Kak Liam serius ?" tanyanya sambil memutar sedikit kepalanya ke arah Liam .
" Iya, kau senang ?"
Kaluna mengangguk
" Tapi sekarang fokus sama yang ingin kamu nonton ." mata Liam mengarah pada layar tv yang menampilkan adegan yang begitu menyeramkan .
Sedangkan itu di tempat yang lain
Gio harus mengambil alih beberapa perkejaan Liam yang tidak bisa datang ke kantor , saat dia bertanya apa alasannya , bosnya itu hanya bilang jika dia sedang menjaga istrinya yang sedang sakit , mendengar itu Gio ingin mengunjugi Kaluna tapi Liam langsung menolak dan mengatakan tidak perlu .
Karena mulai bosan dengan tumpukan pekerjaan , Gio meraih Hpnya dan menghubungi nomor yang mungkin bisa mengembalikan semangat kerjanya hari ini .
Dalam satu panggilan saja pemilik hp di sebarang sana langsung mengangkatnya membuat Gio tersenyum senang .
" Kau sepertinya begitu merindukan ku . aku baru menghubungi nomormu kamu langsung mengangkatnya ." Kalimat percaya diri Gio , dia tidak tau jika lawan bicaranya saat sementara sibuk mengotak atik kamera miliknya sehingga saat hpnya berdering dia tidak melihat siapa yang menghubunginya , dia langsung saja mengangkatnya, saat mendengar siap pemilik suara itu , Farzana begitu menyesal mengangkatnya dia bisa melihat dengan jelas bayangan laki-laki itu sedang tersenyum cerah sekarang . Lelah sungguh itu kata yang menggambarkan dirinya menghadapi laki-laki yang menurutnya tidak punya pekerjaannya ini. Sebenarnya Vivi yang sebelumnya tidak suka dengan Gio entah mengapa akhir -akhir ini ikut mendukung laki-laki itu, sahabatnya itu mengatakan jika Gio sepertinya baik dan tertarik padanya , tapi bukan itu inti permasalahannya , dia tidak tertarik memiliki hubungan dengan laki-laki dia ingin fokus dengan kuliahnya dan pekerjaannya . Tapi kehadiran Gio betul -betul membuatnya merasa terganggu . sepertinya dia harus mengakhiri semua ini .
__ADS_1
Zana terus saja mendengarkan ocehan Gio di telpon tanpa menimpalinya hingga satu kalimat yang dia ucapkan.
" Mari makan malam seperti yang kamu inginkan ." ucap Zana yang membuat Gio langsung terdiam beberapa saat . kemudian suaranya kembali terdengar
" Kau yakin ?" tanya Gio justru dia yang merasa tidak yakin jika Zana memenuhi keinginannya . Senang ? tentu saja , itu adalah jawab Farzana yang di tunggu beberapa bulan ini .
" Iya ." setelah itu pembicaraan keduanya selesai .
***
Kembali ke apartemen
Kaluna berusaha membuka matanya , sudah berapa lama ia tertidur dan saat sadar di mana tubuhnya berada Kaluna tersenyum menatap wajah Liam yang berada di bawah tubuhnya . Dia tidak menyangka jika Liam merubah posisinya . bukanya langsung beranjak Kaluna malah berlama -lama di sana menatap wajah suaminya, tanganya bergerak menyatu wajah yang di tumbuhi bulu-bulu halus . Kemudian mata Kaluna berfokus pada bibir yang sering menyerangnya secara tiba-taba, yang membuat dirinya harus belajar menerimanya . Entah dorongan dari mana Kaluna merapatkan wajahnya pada wajah Liam yang masih tertidur , bibirnya mendarat di ujung hidung Liam , kemudian turun kebawa mempertemukan dua benda yang sering berbagi kenikmatan . Mata Kaluna terpejam saat bibirnya begitu leluasa menikmati bibir suaminya , Kaluna tidak sadar jika sang pemilik sudah terbangun saat merasai geraknya, saat terbangun dan menyentuh wajahnya, Liam sengaja tidak membuka matanya , dia ingin tau apa yang akan Kaluna lakukan selanjutnya , diluar dugaannya Kaluna menyerangnya dalam keadaan tertidur . Saat Kaluna sudah ingin menyudahi apa yang dia lakukan , Liam langsung menahan Tengkuk Kaluna dan berganti dia yang memimpin bermain yang sudah dimulai oleh Kaluna .
Mengubah posisi mereka , membuat Kaluna terkejut karena Liam tiba -tiba menautkan kembali bibir mereka dan menahannya . Membawa tubuhnya ke bawah melanjutkan penyatuan yang begitu mereka nikmati , meskipun kaget Kaluna tetap mengikuti irama yang sudah tercipta .
Di bawah sana tangan Liam tidak tinggal diam masuk kedalam baju Kaluna dan berusaha melepas kain tipis yang ia kenakan, tapi Kaluna langsung menahannya . membuat Liam melepaskan penyatuan itu.
"Kenapa ? apa masih sakit?"
Kaluna menggeleng. Bukan dia tidak mau , tapi jika dia menuruti keinginan suaminya , entah kapan dia akan menyudahinya dan dia tidak punya tenaga untuk itu .
Tiba-tiba perut kaluna berbunyi . Membuat Liam tertawa
__ADS_1
" Kamu lapar ?." tanya Liam lagi . Kaluna hanya mengangguk seperti anak kecil .