
Sedangkan itu Liam dengan posisi duduk di atas tempat tidur dengan Elma yang berbaring di sampingnya ,perasaanya tidak tenang sejak tadi karena sampai sekarang Kaluna belum membalas pesan yang ia kirim , dia sudah berusaha menelpon nomor istrinya , tapi tetap saja tidak ada jawab , Bahkan nomor itu tidak aktif yang membuat Liam semakin khawatir, dia ingin sekali kembali ke apartemen tapi dia juga tidak mungkin tiba -tiba pergi meninggalkan Elma apalagi malam susah sangat larut dan akan berganti pagi .
Karena pikirnya tidak tenang Liam beranjak dari tempat tidur dan memilih duduk di sofa sambil terus menghubungi nomor Kaluna . Entah sudah berapa kali Liam mengubungi nomor itu tetap tidak ada jawaban . Hingga membuat ia tertidur dengan sendirinya .
Di ruko saat pagi datang Vivi dan Zana sudah datang , mereka kembali masuk kerena ujian kampusnya sudah selesai, beberapa menit kemudian Sarah juga datang. Sebelum memulai pekerjaan seperti bisa mereka bertiga akan membersihkan ruko ini . Sarah membersihkan bagian depan , Vivi bagian belakang dan Zana setiap ruangan berpintu . pertama -tama Zana membersihkan ruangan tempat penyimpanan make up dan tempat dimana Kaluna bisa me make up orang , setelah selesai Zana berlanjut membersihkan ruangan tempat sesi foto dan yang terakhir ruangan Kaluna, dia mengetuk pintu terlebih dahulu karena dia yakin Bosnya itu sudah datang karena mobilnya sudah terparkir di depan . Karena tidak ada jawaban akhirnya Zana langsung membuka pintu ruangan itu dan di sana dia melihat Kaluna terbaring di sofa . Zana bingung kenapa pagi-pagi begini Kaluna tertidur .
Zana mendekat dia berusaha membangunkan Kaluna dengan menyentuh bahunya . Tapi tidak tanda -tanda Kaluna terganggu dengan sentuhan tangannya membaut Zana mengulang lagi sambil menyebut namanya , karena tetap tidak ada jawaban, Zana mulai khawatir dia kemudian menyentuh kening Kaluna .
" Ya Tuhan , Kak Luna badanya panas sekali ." karena panik, zana langsung berteriak memanggil sarah
" kak Sarah " panggil Zana panik
" Ada apa . Vi " Sarah mendekat dan melihat di sana ada Kaluna .
" Sepertinya kak Luna Pingsan Suhu tubuh tinggi sekali kak"
Zana yang duduk bersimpuh begitu Khawatir dengan keadaan bosnya , semetara itu Vivi yang juga mendengar teriakan sahabatnya juga ikut menuju ruangan itu
Sarah mengecek suhu tubuh Kaluna dan ternyata sangat panas
" Kita bawa ke rumah sakit." dengan sekuat tenaga Zana dan Sarah mengangkat Kaluna .
" Vivi Ambi kunci mobilnya ."
" Iya kak " Vivi mengambil kunci mobil Kaluna yang tergeletak di atas meja , kemudian ikut keluar .
" Vi kamu jagain ruko ya , biar aku dan zana yang ke rumah sakit ." Vivi mengangguk dan setelah mobil meninggalkan ruko Vivi kembali masuk .
Liam yang masih di rumah Elma , langsung terbangun saat mendengar suara yang membangunkannya
" Li , Bangun sudah siang ." Elma berusaha membangunkan Liam . Liam lagsung tersentak dari tidurnya , dia memang baru bisa memejamkan matanya saat pagi akan datang. Dia melihat Elma yang duduk disampingnya .
" Kamu tidur disini ? " tanya Elma .
Tapi Liam tidak menjawab , dia langsung mengecek hp nya kerena dari kemarin Kaluna belum membalas pesannya , Liam mencoba kembali menghubungi nomor Kaluna tapi tetap saja tidak ada jawaban .
Elma yang melihat kepanikan di wajah Liam menjadi kebingungan .
" Ada apa Li ?"
" El , maaf aku harus pergi sekarang ."
Liam pergi tanpa peduli dengan pertanyaan Elma dia mengendarai mobilnya langsung menuju ruko , karena dia yakin Kaluna sudah berangkat ke sana .
Dalam waktu kurang dari satu jam Liam tiba di ruko milik istrinya.
__ADS_1
" Vivi , Kaluna ada didalam ?" tanya Liam yang melihat Vivi sementara duduk di kursi sambil mengerjakan sesuatu , Vivi yang sudah menyadari kedatangan suami bosnya itu lagsung berdiri .
" Maaf pak , tadi kak Luna di bawa ke rumah sakit ."
" Apa . Rumah sakit ? memangnya Kaluna kenapa ." wajah Liam semakin bertambah panik
" Kak Luna Pingsan pak di dalam ruangannya ."
" Rumah sakit mana ."
" Rumah sakit Xxx "
Liam langsung meninggalkan ruko , dan menuju rumah sakit yang di maksud oleh Vivi ."
Saat di Perjalanan Liam mendapatkan telpon .
" Halo , Liam kamu dimana , istrimu sakit ."
" Iya ma , Liam sementara menuju kesitu."
" Iya sudah cepat ke sini."
Tiba di rumah sakit Liam berlari mencari ruangan di mana Elma di rawat , saat sudah menemukan ruangan itu Liam langsung masuk ke dalam .
Semua mata menatap ke arahnya , kecuali Kaluna . karena saat ini Kaluna sudah sadar.
Dengan langkah pelan Liam mendekat dia juga duduk di samping Kaluna .
" Aku menghubungimu , tapi nomor tidak aktif . maaf aku terlambat datang ." Liam mengambil tangan Kaluna dan menciumnya . Kaluna hanya diam dan menutup rapat mulutnya tatapannya hanya mengarah ke depan tanpa menoleh sedikitpun ke arah suaminya . Sakit , itu yang ia rasakan Liam saat ini , karena saat dia masuk Sampai sekarang Kaluna tidak menatap dirinya, dia sadar jika Kaluna saat ini tengah marah padanya, dia yang sebagai suaminya justru dia yang tidak tau jika istrinya sedang sakit dan sekarang ada laki-laki lain yang tengah menemani istrinya. Tangan Liam kemudian mengelus kepala Kaluna sambil terus mengucapkan kata maaf , tapi tetap saja Kaluna tidak bergeming.
Melihat Liam sudah datang Ryan ingin beranjak dari duduknya, saat laki-laki itu berdiri tiba -tiba tanganya di tahan oleh Kaluna , tatapan wajah Kaluna seolah memintanya untuk tetap di dekatnya . Liam yang melihat itu sebenarnya ingin marah, dia seperti tidak di anggap oleh istrinya sendiri .
orang yang di ruangan itu juga merasa kebingungan karena Kaluna sama sekali tidak menghiraukan ke hadiran suaminya dan malah meminta laki-laki lain untuk menemaninya .
Ketiga orang tua yang ada di ruangan itu merasa ada masalah di rumah tangga anak mereka .
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka , seorang suster masuk . " Maaf untuk keluarga ibu Kaluna , dokter ingin bertemu ."
" Li , Kamu yang ke sana atau mama yang ke sana ."
"Biar Liam saja ma."
Liam kemudian berdiri dan sebelum pergi di mendekatkan wajahnya ke wajah Kaluna sambil mengelus pipi Kaluna.
" Aku pergi menemui dokter dulu ." Liam mengecup kening Kaluna dan meninggalkan ruangan itu .
__ADS_1
" Dok bagaiman ke adaan istri saya?" tanya Liam yang sudah duduk di depan dokter
" Ibu Kaluna tidak apa-apa dia hanya ke lelahan dan butuh istirahat . besok ibu Kaluna bisa pulang " Ucapan dokter tersebut sambil menulis resep " Ini resep vitamin untuk ibu Kaluna , Pak Liam bisa menebusnya di apotik ."
" Baik dok, terimah kasih ."
" Sama-sama."
Setelah bertemu dengan dokter, Liam berjalan menuju apotik untuk mengambil vitamin yang di resepkan dokter setelah selesia Liam kembali .
" Nak , kamu tidak sedang ada masalah kan sama Kaluna ." ucap Riana yang berada di luar ruangan , dia sengaja keluar menunggu putranya kembali .
" Tidak ada ma , mungkin Kaluna hanya kesal sama Liam karena Liam terlambat datang kemari ."
" Memang kamu dari mana ?"
" Liam ada urusan ma , Liam sudah kirim pesan sama Kaluna ."
Riana bernafas lega karena dia khawatir jika ada yang terjadi dengan rumah tangga putranya.
" Kalau begitu Liam masuk dulu ma."
Liam masuk kembali keruang Kaluna dan duduk di tempat yang tadi.
" Dokter bilang Kamu tidak apa-apa dan bisa bisa pulang besok."
Kini Liam kembali duduk ditempatnya , meraih kembali tangan Kaluna . Ia masih berusaha mengajak istrinya bicara .
" Jadi Luna sudah bisa pulang besok nak ?" tanya Faisal .
" Iya yah, ayah sama papa mama dan yang lain bisa pulang ,biar aku yang menjaga istriku di sini ."
Sebenarnya kalimat itu hanya di tujukan pada satu orang yaitu Ryan , dia tidak bisa melihat Kaluna lebih membutuhkan laki-laki itu dari pada dirinya .
Semuanya bernafas lega dan mengiyakan perkataan Liam . Mereka kemudian meninggalkan rumah sakit .
Setelah semua pergi Liam kembali mengajak Kaluna bicara.
" Kamu marah ? aku minta maaf , aku sudah mencoba menghubungi mu ."
Liam tak henti hentinya mencium punggung tangan Kaluna . tapi tetap saja orang yang dia ajak bicara tidak merespon sama sekali .
Liam membuang nafasnya kasar , dia juga tidak ingin memaksa Kaluna , selama pernikahan mereka baru kali ini Kaluna bersikap seperti ini .
Hingga malam datang kedua pasangan suami istri itu tidak pernah saling bicara , meskipun Liam terus saja mengajaknya bicara Kaluna Seperti orang bisu yang tidak pernah terdengar suaranya sama sekali. Kaluna lebih memilih memejamkan matanya meskipun dia kesulitan untuk tidur , apa yang dia lihat siang itu terus saja berputar di kepalanya setiap kali dia berusaha menutup matanya . Dia akan menangis dalam diam berusaha menyembunyikan air matanya saat orang yang duduk di sampingnya sudah tertidur .
__ADS_1
Hingga pagi datang dan dokter sudah memperbolehkan dirinya pulang . Kaluna masih tidak ingin membuka mulutnya . Kaluna yang berusaha untuk turun dari tempat tidur menjadi tertahan karena Liam lagsung menggendongnya menuju mobil hal itu membuat dirinya harus mengalungkan tanganya ke leher laki-laki ini , jika bisanya Kaluna akan merasa senang jika diperlakukan seperti ini pada suaminya , tapi sekarang semua rasa itu seolah hilang.