
Setiap hari Kaluna menikmati perannya menjadi seorang ibu , Ibu muda itu begitu bahagia ,sempai membuatnya lupa jika dia pernah mengalami masa sulit dalam hidupnya . Elif adalah segala-galanya untuknya , Elif adalah dunianya , hanya melihat senyum putri kecilnya sudah bisa membuat Kaluna bahagia.
ceklek
Pintu kamar mandi terbuka Kaluna keluar dari sana dengan sudah berpakaian lengkap, dia baru selesai mandi saat putrinya masih tertidur . Kaluna kemudian melangkah mendekati box di mana Elif sedang tertidur .
" Hey , sudah bangun .maaf ya mommy lama di kamar mandi sampai kamu bangun mommy tidak tau ." Kaluna mengajak Elif berbicara sambil mengelus wajahnya membuat bibir Elif bergerak seirama dengan gerakan kaki dan tangannya . Kaluna kemudian mengangkat Elif dari box membawa dalam gendongannya , ia kemudian duduk di sofa dekat jendela kamarnya yang tirai nya sudah ia buka membiarkan matahari pagi masuk ke kamarnya .
Kaluna kemudian membuka kancing depan bajunya dan mengeluarkan salah satu miliknya untuk nikmati putrinya, dengan cepat Elif menggerakkan bibirnya , sepetinya Elif memang sudah sejak tadi menunggu mommy nya .
"Pelan -pelan sayang . kamu sangat lapar ya ." sambil Elif menyusu padanya, Kaluna mengelus pipi Elif seolah menyalurkan kasih sayangya melalui setiap sentuhan pada kulit putrinya, tangan Kaluna kemudian berpindah pada punggung tangan kecil putrinya. tangan Kaluna mengangkat tangan kecil itu dan mendekatkannya pada bibirnya dan memberikan kecupan di sana beberapa kali .
Setelah memberikan Asi pada Elif, Kaluna kemudian bersiap- siap untuk memandikan Elif, meskipun ini baru pertama dirinya mengurus bayi tapi Kaluna tidak kaku sama sekali , naluri seorang ibu sungguh terlihat dari bagaimana dia begitu telaten mengurus Elif
Saat Kaluna sementara memandikan Elif seseorang mengetuk kamarnya , dan masuk setelah di izinkan
" Ada apa Naina ?" tanya Kaluna
" Di bawah ada Tuan Ryan Bu ."
" Kak Ryan , Sepagi ini kak Ryan datang ? apa dia tidak bekerja ?" gumam Kaluna ya sudah katakan aku akan selesai sebentar lagi dan turun ke bawah .
" Baik Bu."
Naina kemudian keluar .
" Ayo sayang kita selesiakan mandinya , uncle Ryan datang ." Kaluna kemudian memakaikan pakaian pada Elif dan turun ke bawah di sana dia bisa melihat Ryan sementara duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi yang pasti di siapkan pelayan di mansion ini.
" Kak Ryan tidak ke kantor ?" Kaluna berjalan menuruni tangga dengan Elif di lengannya .
__ADS_1
Ryan yang melihat Kaluna menuruni anak tangga beranjak dari duduknya untuk mendekat .
" Aku ingin melihat Elif dulu baru pergi ."
Ryan mengambil Elif mengganti Kaluna untuk menggendongnya .
" Ya ampun kak bahkan jarak ke sini itu tidak dekat , kak Ryan bisa terlambat ."
Ryan sudah tidak menggubris perkataan Kaluna dia sudah sibuk mengajak bicara bayi yang baru beberapa hari lahir ke dunia itu .
" Mommy mu cerewet sekali sayang. padahal uncle hanya ingin melihat dulu ." Ryan kemudian mencium pipi Elif membuat bibirnya bergerak -gerak .
" Jangan memfitnahku Kak di depan putriku ." Protes Kaluna . Tapi Ryan tetap tidak peduli dia masih sibuk dengan Elif yang ada di lengannya . Kaluna yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya . Ia kemudian beranjak meninggalkan keduanya , Kaluna memutuskan ke dapur untuk meyiapakan sarapan , karena iya yakin Ryan pasti melewatkan waktu sarapannya, melihat dia datang ke sini begitu pagi . Meskipun di Mension ini sudah ada beberapa pelayan , Kaluna tetap ikut mengurus bagian dapur, ini mungkin sudah menjadi kebiasaanya saat masih tinggal sendiri di apartemen nya saat sebelum dia menikah .
Setelah selesai Kaluna kembali di mana Ryan sudah tidak mengajak Elif bicara dia hanya terlihat menimang-nimang Elif di lengannya .
" Elif tidur ." ucap Ryan sambil menyerahkan pada Kaluna .
" Kak sarapan dulu yuk , aku yakin kak Ryan pasti tidak sempat sarapan kan ?"
Yang di tanya hanya tersenyum membenarkan perkataan Kaluna . Kaluna kemudian meminta Naina untuk membawa Elif kembali ke kamarnya . kemudian menemani Ryan untuk sarapan bersama .
" Jadi , apa rencanamu selanjutnya " tanya Ryan setelah mereka berdua duduk di meja makan menikmati sandwich yang di siapkan kaluna tadi sebagai menu sarapan .
Kaluna paham arah pembicaraan Ryan , Ia menanyakan tentang apakah Kaluna akan kembali melanjutkan karier nya di sini, karir yang sudah di gelutinya sejak dulu , mengingat sebelum tau jika dia hamil Kaluna sudah akan membuka sebuah sekolah make up , tapi karena dia hamil Ryan menyuruhnya untuk menunda keinginannya itu sampai dia melahirkan kalau perlu Sampai Elif masuk usia sekolah .
***
Brakk...
__ADS_1
Liam membanting laporan yang baru saja di sodorkan sekretarisnya yang tengah berdiri di depannya . perempuan itu hanya menunduk tanpa berani menatap bosnya .
" Apa kau sudah tidak bisa membuat laporan dengan benar ." bentak Liam , dia sangat kesal karena isi laporan itu terdapat kesalahan dalam pengertiannya dan hal itu itu sangat tidak ia sukai .
" Maaf pak akan saya perbaiki ." ucap sekertaris itu, tanganya gemetar mengambil laporan yang baru di serahkan beberapa menit yang lalu . Ia kemudian melangkah keluar .
" Kamu di marahi lagi?."
Sekertaris yang bernama Rara itu melihat ke samping . Melihat siapa yang bertanya padanya dia hanya mengangguk lemah kemudian melangkah ke mejanya . Dia juga bingung dengan perubahan bosnya itu , dulu CEO L.A.D Grup itu tidak pernah memarahinya jika pun dia melakukan kesalahan akan dia sampaikan kepadanya dengan cara yang baik , tapi sekarang dia lebih suka menyelesaikan semua masalah sambil berteriak jika ada bawahnya melakukan kesalahan sekecil apapun , di marahi sepertinya sudah menjadi jadwal sehari-hari bagi staf yang satu lantai dengan bos mereka .
Gio henya mengela nafas dengan kasar, ia tau penyebab perubahan sahabat ya itu , Semejak kepergian Kaluna Liam lebih tempramen. mudah sekali terpancing emosi
Gio kemudian masuk keruangan itu ia melihat Liam sedang menyandarkan kepalanya.
" Kali ini kesalahan apa lagi yang di buat Rara sehingga kamu harus memarahinya ."
Liam menegakkan posisi duduknya saat mendengar Gio bersuara dan sudah duduk di hadapannya .
" Kerjanya tidak becus . aku membayarnya untuk bekerja , bukan untuk membuat kesalahan."
" Tapi kamu bisa bicara baik -baik tidak perlu membentaknya begitu."
"Jika kamu masuk ke sini hanya untuk menceramahi ku sebaiknya kamu keluar ." Liam mulai jengah dengan kata-kata Gio .
Gio betu-betuk tidak habis pikir dengan perebuahn sikap Liam yang samkin hari semakin terlihat jika dia bukan Liam yang pernah dia kenal . Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa , Dia baru akan memulai menasehatinya Liam sudah menyuruhnya untuk berhenti bicara .
" Li ." Gio kembali mengajak Liam bicara karena posisi Liam saat ini kembali menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata .
"Em ."
__ADS_1
" Apa kamu masih sering menemui Alyssa"
" Em . Karena itu janjiku pada ibunya ."