Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Di dalam lift


__ADS_3

Anita keluar dari kamar putranya , dia bisa melihat gadis yang di sukai putranya itu tengah duduk di sofa , entah apa yang di pikirkan gadis itu tentangnya , pertemuan pertama dengan calon menantunya sangat tidak baik , bisa jadi dia ketakutan tadi mendengar suara dan tatapan tajamnya pikirnya.


" khemm." Anita berdehem sambil melangkahkan kakinya menuju tempat di mana Farzana duduk dia juga ikut duduk , meskipun di sofa yang berbeda .


Farzana langsung berdiri ketika melihat wanita yang baru saja dilihatnya ini mengamuk . sungguh dia tidak tau harus melakukan apa , sebenarnya dia ingin pergi tadi tapi dia berfikir ulang , pergi tanpa pamit seperti suatu yang tidak baik apa lagi dia datang ke sini karena masalah pekerjaan .


" Duduklah." pinta Anita , Zana langsung duduk kembali . Anita bisa melihat raut wajah tidak nyaman Zana .


" Maaf ya , tadi kamu harus melihat sesuatu yang tidak menyenangkan. Perkenalkan saya Anita mamanya Gio ." ucap Anita dengan suara lembut sambil mengulurkan tangannya


, Farzana meraih uluran tangan itu .


" Saya Farzana Tante ." Farzana tersenyum . sampai dengan dia melihat Gio keluar dari kamarnya dengan laptop di tanganya , Gio duduk di sampingnya Anita . Seperti tidak ada yang terjadi Gio langsung meminta File gambar yang sudah di siapkan Farzana dan mengeceknya .


" Apa ada yang harus saya perbaiki ?" tanyanya


Gio menggeleng , sebenarnya dia tidak peduli dengan hasil fotonya yang terpenting dia sudah membuat gadis didepannya ini menghabiskan waktu bersamanya meskipun yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi nya , karena mamanya tiba -tiba muncul tanpa Ia duga .


" Kalau begitu saya permisi pulang."


"sudah mau pulang ? kenapa buru-buru?


Kening Zana mengerut . " Memang saya harus ada disini sampai kapan? sayakan hanya mau mengantar permintaan anaknya , bukan datang berkunjung untuk bersantai ." batin Zana .


Dia tidak sadar jika wanita yang masih terlihat cantik meskipun usianya tidak mudah , sudah menandainya sebagai calon menantu , jika sudah begitu Anita ingin gadis di hadapannya ini lebih lama bersamanya .

__ADS_1


" Farzana masih punya pekerjaan yang lain ma ." Gio bersuara , dia yakin Zana sedikit kebingungan dengan pertanyaan mamanya."


" Oh seperti itu yah , padahal Tante masih mau jika kamu lebih lama disini ." dengan tampilan wajah kecewa membuat Farzana tambah kebingungan .


" Kenapa ini , kenapa wajahnya terlihat sedih , Memang kalau aku tetap disini aku harus melakukan apa, aku bahkan orang asing disini , tapi kenapa mama laki-laki menyebalkan ini sudah bersikap seperti aku ini menantunya . eh ." tersandar dengan kata-kata anehnya, yang di ucapkan dalam hati.


" Aku akan mengantar mu sampai bawah ." Gio beranjak .


" Tidak perlu ." jawab Zana cepat , tapi sepertinya kalimat penolakannya percuma karena Gio sudah melangkah lebih dulu menuju pintu , dengan terpaksa Farzana juga ikut tidak lupa dia meraih tangan mama Gio untuk di ciumnya suatu kebiasaannya pada orang yang lebih tua apa lagi yang ada di hadapannya ini seorang ibu seperti ibunya .


Anita tersenyum melihat kesopanan yang di tunjukkan Farzana . kali ini putranya yang gila itu sepetinya sudah menggunakan otaknya dalam melihat perempuan .


" Hasil fotomu cukup bagus . apa kamu mengambil kuliah fotografi saat ini?" Saat melihat hasil foto yang di ambil Farzana Gio cukup bagus menurutnya , meskipun niatnya hanya untuk agar Zana mendatanginya .


" Benarkah? apa kau yakin ?" melirik ke arah yang berdiri di samping dengan jarak sedikit jauh.


" Memangnya kenapa ?" Zana ikut melirik


" Cara komunikasi sangat buruk ."


Farzana tersenyum kecut dia yakin ini masalah tadi malam yang sedang di singgung laki-laki menyebalkan ini .


" Cara bicara ku tergantung siapa lawan bicaraku. kalau orang itu waras maka cara bicara ku tentu saja baik."


Menusuk tetap sasaran , Zana tau bagaimana cara menghadapi orang di dekatnya ini .

__ADS_1


" Jadi maksudmu aku gila ."


" Kau baru sadar ."


Berdebat tidak tau tempat, tidak sadar jika ada orang di depannya mulai jengah mendengarnya dari tadi .


" Apa kalian bisa bicara setelah aku keluar . Suara kalian berdua membuat telingaku sakit." segera melangkah keluar setelah pintu lift terbuka . orang yang berada dalam lift yang sama dengan mereka tadi sudah tidak tahan mendengarkan perdebatan tidak jelas , entah, dia pikir mereka berdua itu sepasangan kesaksian yang tengah bertengkar .


Setelah orang itu pergi dengan mulut yang tidak berhenti mengocek , keduanya kembali saling melempar tatapan , jika Gio menatap biasa saja Zana sudah seperti akan memberikan pukulan ketiganya pada laki-laki di samping ini . jika bukan karena Gio yang memulai perdebatan ini tidak akan terjadi .


" Kenapa ? kau ingin menghajar ku lagi. matamu sudah ingin keluar menatapku seperti itu. " Gio kembali mengarahkan pandanganya ke depan . Farzana juga melakukan hal yang sama .


" Bahkan kaki ku saja belum sembuh akibat kau injak kemarin." batin Gio


Tin ...


Pintu lift terbuka yang mengarah ke tempat parkiran . keduanya melangkah keluar . Gio mengantar Farzana Sampai di kendaraan roda dua miliknya dan setelah Zana meninggalkan Apartemen Gio , laki-laki itu kembali memutar tubuhnya untuk melangkah kembali menuju unit nya dan bersamaan dengan itu sebuah pesan masuk di hpnya .


" Aku akan pulang besok. kirimkan supir untuk menjemput ku, aku akan langsung ke kantor setelah mengantar Kaluna kembali ke apartemen."


***


Farzana terus melajukan kendaraan roda dua miliknya menuju tempatnya bekerja , ya meskipun di akhir pekan dia harus berada di ruko. memiliki sistem bekerja yang berbeda dengan tempat yang lain Kaluna menerapkan bagaimana orang yang membantunya itu bekerja, Harus datang tiap hari karena jenis pekerjaannya datang tiba-tiba tanpa melakukan komunikasi terlebih dahulu , meskipun tidak semua , jika pun tidak ada client yang akan datang hari itu ,Farzana maupun Vivi bisa di izinkan meninggalkan ruko jika ada masalah yang harus di selesaikan nya berbeda dengan Sarah yang bertugas menerima tamu dan mengatur jadwal kerja Kaluna , ibu dari Gyan itu tidak memilik alasan untuk tidak berada setiap saat di toko, karena pekerjaan utamanya memang dengan Kaluna .


Seperti hari ini , Sebenarnya jika pun dia tidak datang ke ruko juga tidak masalah , tapi Karana masih banyak foto-foto yang harus dia persiapkan untuk keperluan promosi , Vivi juga pasti sedang menunggunya di sana . sahabatnya itu memilih berangkat sendiri tadi, setelah dia mengatakan akan ke tempat Gio untuk mengantar file fotonya, entah mengapa sahabatnya itu tidak ingin menemaninya menemui laki-laki itu , apa mungkin dia masih kesal seperti waktu itu , jadi dia berusaha untuk tidak bertemu . itu dugaan Farzana , Dia tidak tau jika Vivi sengaja melakukan hal itu , alasannya hanya satu membuat sahabatnya itu dekat dengan Gio. Vivi berpikir jika Gio itu tertarik dengan sahabatnya , apa lagi dia sudah berusaha mencari cara agar dekat dengan Farzana hanya saja Farzana tidak pernah peduli , yang membuatnya bergerak sendiri , karena Vivi bisa melihat jika Gio laki-laki yang baik dan kesungguhan pada sabat ya ini bisa ia lihat , jika pun dia jahat dan hanya ingin berbuat aneh dengan sahabatnya , dia tidak mungkin bisa . tau sendiri kan bagaimana karakter Farzana dan kemampuannya . ☺️

__ADS_1


__ADS_2