
Riana dan Hendar berlari di lorong rumah sakit setelah mendapat kabar jika putranya mengalami kecelakaan, dengan air mata yang tidak berhenti keluar Riana setengah berlari menghampiri Gio yang sudah ada berada di depan ruang operasi .
" Gio bagaiman keadaan Liam ?"
Gio yang tengah duduk menundukkan kepalanya , seketika mendongak setelah mendengar suara yang ada di sampingnya .
" Iya, Gio bagaian keadaan Liam, kenapa bisa Liam kecelakaan , sebenarnya apa yang terjadi ?" tanya Hendra dengan rentetan pertanyaan keluar dari bibirnya.
" Kata polisi Liam menabrak pembatas jalan dan saat bersama sebuah mobil juga melintas dan terjadi tabrakan Tante." Gio menjelaskan yang membuat Riana bertambah menangis . Hendra berusaha menenangkan istrinya .
" Jadi bagaimana keadaanya sekarang ?" tanya Riana lagi yang sementara berada dalam rangkulan suaminya .
" Dokter masih terus berusaha memberikan pertolongan pada Liam Tante ."
Saat ini para dokter dengan berusaha menyelamatkan dua korban , dari luar ruang operasi, dua keluarga juga tak hentinya memanjatkan doa agar operasi yang di lakukan dokter berjalan lancar.
Riana tidak henti-hentinya menangis, sambil bibirnya tidak berhenti melafaskan doa, dia begitu takut hal buruk terjadi pada putranya Setelah melewati berjam-jam di ruang operasi akhirnya dokter keluar , ketiganya langsung menghampiri dokter tersebut.
" Siapa wali pasien ?"
" Saya dokter , saya ibunya ." jawab Riana cepat
" Saya papanya dok." jawab Hendra .
" Kalau begitu bapak dan ibu silahkan ikut saya ."
setelah mengatakan itu , dokter yang memimpin operasi Liam berjalan menuju ruangannya di ikuti oleh kedua orang tua Liam Hendra dan Riana , di sepanjang jalan keduanya masih terus melafaskan doa memohon agar dokter menyampaikan kabar jika operasi putranya berjalan dengan lancar.
__ADS_1
" Bagaiman hasil operasi putra saya dok , apa berjalan lancar ?" tanya Hendra
Dokter tersebut menghela nafasnya kasar . " operasi nya bejalan lancar dan tidak ada kendala sama sekali , hanya saja kecelakaan yang di alami oleh putra bapak , mengakibatkan retak pada bagian kepalanya dan mengakibatkan cedera pada otak. Jika di katakan berhasil , kami tidak bisa mengatakan jika operasi ini sepenuhnya berhasil , kami hanya berhasil mengentikan pendarahan pada otak dan akibat dari kecelakaan ini , sangat berakibat fatal , jika pun pasien nantinya sadar kemungkinan Ia akan mengalami cacat dan jika selama 24 jam pasien tidak sadarkan diri dengan berat hati saya harus mengatakan jika pasien kemungkinan akan mengalami koma .
Riana langsung menangis histeris di ruangan dokter. mendengar kenyataan yang harus di alami oleh Liam, sedangkan Hendra dia sudah tidak bisa mengatakan apa -apa lagi pikirannya kosong dan tidak tau akan melakukan apa -apa .
***
Elif akhirnya tertidur akibat ke kelelahan menangis , meskipun matanya terpejam beberapa kali Kaluna melihat wajah putrinya memperlihatkan raut sedih .Kaluna tidak pernah jauh dari putrinya, dia duduk menemani Elif yang sedang tertidur di atas tempat tidur .
Suara ketukan membuat Kaluna beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu kamarnya .
" Bagaiman, apa Elif sudah tidur ?" tanya Ryan sambil melirik ke tempat tidur di mana Elif sedang berbaring .
" Iya Kak ."
Kaluna hanya mengangguk lemah .
Ryana kemudian kembali ke bawah dan Kaluna kembali menutup pintu dan berbaring di samping putrinya , dia tidak berhenti menatap putri kecilnya. dia begitu takut tadi, jika sesuatu terjadi pada Elif , hanya Elif yang dia miliki saat ini , jika Sampai Elif kenapa-napa dia tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya.
***
Setelah kembali keruangan dokter Riana dan Hendra masuk menggunakan pakaian khusus ke dalam rumah Liam yang tengah terbaring lemah, di tubuhnya melekat berbagai alat medis . Hendra selalu merangkul tubuh istrinya , dia takut jika Riana tidak bisa menahan rasa sedihnya dan akan membuatnya terjatuh .
Riana masih begitu ingat perkataan dokter jika Liam tidak sadar dalam waktu 24 jam maka dia akan mengalami koma jika pun sadar Liam akan mengalami cacat , dua pilihan yang sama sekali tidak dia inginkan . jika bisa dia ingin menggantikan posisi putranya berbaring di tempat ini .
Sedangkan Gio setelah di beritahu tentang kondisi Liam langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi tempat dia menunggu di depan ruangan Liam . Gio mengusap wajahnya kasar , raut wajah sedih sangat jelas terlihat dari Gio , dia dan Liam sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMP , selama itu membuat mereka sudah seperti saudara.
__ADS_1
Setelah Riana dan Hendra dari dalam ruangan Liam , kini berganti Gio masuk .
" Li , kenapa bisa seperti ini ." Gio yang berdiri di batasi Diding kaca yang menembus di mana Liam sedang berbaring lemah .
" Kamu harus bangun Li , Alyssa pasti akan mencari mu jika kamu tidak datang mengunjunginya, kau tau sendiri kan Alyssa tidak punya siapa -siapa di dunia ini selain kamu. dan Kaluna , kau bahkan belum menemukannya sampai sekarang ." Gio menjedah kalimatnya " ada banyak tugas yang harus kamu selesaikan dan jangan menyuruhku untuk melakukanya , aku tidak mau , aku sudah pasti akan pusing mengurusi hotel sendiri nanti ." Gio berbicara dengan nada sedikit kesal tapi di tidak bisa membohongi dirinya jika dia berusaha menahan rasa sedihnya .
***
" Bagaiman dengan anak saya dokter ?" tanya seorang ibu yang menunggu di depan ruang operasi .
Dokter yang baru keluar menatap wajah wanita yang sudah berumur itu dengan perasaan bersalah , karena dia dan timnya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan anaknya yang mengalami kecelakaan , jika saja tubuhnya tidak mengalami luka bakar yang cukup parah , mungkin pasien masih bisa dia selamatkan tapi akibat luka bakar yang hampir setengah tubuhnya mengakibatkan beberapa bagian vital pada tubuhnya mengalami kerusakan yang cukup parah di tambah lagi kondisinya saat di bawa ke rumah sakit sudah sangat parah , anak ibu itu meninggal pada saat proses operasi sedang berlangsung . mendengarkan perkataan dokter, ibu itu langsung histeris dan tiba-tiba pingsang beberapa suster lagsung memberikan pertolongan pertamanya . Dokter itu melangkah dengan lemah , rasa bersalah memenuhi hatinya , hari ini ada Pasian yang meninggal di meja operasinya dan dia menyalahkan ketidak mampuannya. Dia lupa sekuat apapun manusia berusaha tetap saja Tuhan yang berkuasa.
***
Sepanjang malam Kaluna tidak bisa tidur , dia takut jika Elif akan terbangun dan kembali menangis seperti tadi siang , yang sampai sekarang dia tidak tau penyebabnya . tangan Kaluna selalu berada di atas tubuh Elif dan menepuk - nepuknya berharap dengan begitu Elif tidak akan terbangun .
" Terimah kasih sudah memberiku putri secantik Elif ."
" Apa kak Liam bahagia ?"
" Tentu saja , bahkan saking bahagianya, rasanya aku ingin berteriak .
Kaluna tersenyum menyadarkan kepalanya di dada Liam sambil memerhatikan Elif yang begitu nyenyak tertidur di lengan suaminya
" Kak Liam !" panggil Kaluna saat terbangun dari tidurnya . Ini pertama kalinya dia menyebut nama itu setelah perpisahan mereka , dia sungguh ingin melupakan semua kenangan bersama laki-laki yang sudah memberikannya seorang putri . Entah mengapa tiba-tiba saja dia memimpikannya . Kaluna kemudian menatap Elif yang masih tertidur di sampingnya .
" Kak apa kamu akan bahagia jika tau tentang Elif ." lirih Kaluna berbicara . " tapi aku yakin tanpa aku dan Elif pun kamu sudah bahagia dengannya dan anak kalian."
__ADS_1