
" uhhhh.. untung saja." Gio menarik napasnya dengan begitu banyak dan membuangnya dengan kasar . ada kelegaan tersendiri dalam hatinya begitu yang di rasakan oleh Liam . Pertemuan yang dilakukan oleh pengusaha muda dan asistennya tersebut dengan beberapa warga yang tinggal tidak jauh dari tempat di mana ia akan membangun hotel keduanya tersebut berlangsung cukup panas . saat Liam dan Gio berusaha meyakinkan kan mereka, ternyata tidak berjalan dengan mudah. isu yang menyatakan Liam akan membangun sebuah Kasino betul- betul di percayai oleh mereka .Tapi bukan Liam dan Gio jika tidak mampu menangani Masalah tersebut . masalah seperti ini sudah biasa Liam hadapi saat masih bekerja dengan orang dan sekarang posisinya adalah pemilik perusahaan sendiri . jika cara kerja di perusahaanya dulu lebih mengutamakan logika , berbeda dengan Liam dia mendapatkan satu poin penting meskipun terkadang poin itu tidak jarang di ingatkan oleh beberapa teman-teman bisnisnya untuk tidak terlalu menggunakan , karena dalam berbisnis itu tidak di utamakan , tapi menurut Liam justru kalau itu merupakan hal penting .
Hal yang tidak pernah Liam tinggal dalam berbisnis d adalah tetap menggunakan hatinya . iya jika menurut teman -temanya itu sesuatu tidak penting berbeda dengan jalan pikirin Liam justru hal itu adalah pokok utamanya. seperti permasalahan sekarang jika Liam tidak menggunakan hati ya dan bicara dari hati-ke hati dengan warga di tempat itu mungkin Liam tidak akan datang ketempat ini dan hanya mengutus orang kepercayaannya atau kalau perlu dia tidak peduli dengan protes yang di tujukan ke padanya jika warga di sana sampai membuat pembangunan hotelnya terganggu dia bisa menggunakan kekuasaannya untuk menghentikan mereka dan pasti akan ada yang menjadi korban jika jalan itu ia tempuh . dibanding memilih jalan tersebut Liam lebih memilih jalan yang membuat isi kepala dan hatinya sejalan .
Karena kepiawaiannya akhirnya Liam bisa mengatasi permasalahan terebut dan kembali mendapatkan kepercayaan warga di sana .
" Bagaimana apa kita langsung kembali ke kantor ?" tanya Gio dan di anggukan oleh bosnya tersebut .
saat akan membuka pintu mobil Ia jadi teringat sesuatu . Karena terlalu serius dengan permasalahannya Ia lupa dengan undangan makan malam mamanya .
Liam kemudian berusaha mencari ponsel yang biasa Ia letakkan di saku jasnya dan tidak menemukan benda tersebut . Ia berniat mengabari orang tuanya jika dia mungkin sedikit terlambat karena mengingat jarak antar lokasinya sekarang dengan rumah mamanya cukup jauh. apa lagi dia harus kembali ke kantor terlebih dahulu.
" ah .. ponselnya tertinggal lagi " umpat Liam
Gio menoleh saat mendengarkan nada kesal bosnya tersebut
" ada apa?"
"Aku lupa membawa ponsel. pinjam kan aku poselmu "
Gio menyerahkan ponsel pilih ya tanpa bertanya pada Liam .
Liam kemudian menghubungi orang tuanya untuk menginformasikan kalau dia datang sedikit terlambat .
keduanya pun meninggalkan lokasi tersebut dengan mengendarai mobil milik Liam yang di bawa oleh Gio.
***
Dari arah tempat tidur di mana Kaluna di ajak mengobrol oleh Riana . Kaluna dapat melihat perempuan tersebut sementara mengobrol dengan orang di balik telpon yang Ia ketahui adalah Liam. Sebelum menerima telpon tadi Riana sudah mengatakan padanya jika Liam menelpon jadi Riana berdiri untuk menepi sedikit untuk mengangkat telpon tersebut .
__ADS_1
" Maaf ya sayang , mama ninggalin kamu untuk nelpon." ucap Riana
" tidak apa- apa Tante . jawab kalau. sambil tersenyum .
" Loh , kok masih manggil Tante sih sayang ."
" Ah ..iya ma . maaf ." ucap Kaluna yang menyadari kesalahannya .
" Ya sudah tidak apa -apa. mungkin kamu perlu terbiasa . Kalau begitu kita turun . sudah waktunya kita menyiapkan makan malamnya "
keduanya kemudian meninggalkan tempat tersebut . Saat menuruni tangga rumah tersebut mata Kaluna seperti mencari sesuatu hal itu di sadari oleh Riana.
" Mereka sementara di ruang kerja sayang." ucap Riana yang menjawab tatapan dari Kaluna . mendengar itu Kaluna menoleh kearah Riana yang sekarang harus di panggilnya mama itu .
Saat tiba di lantai satu , Riana langsung mengajak Kaluna menuju arah dapur untuk menemaninya menyiapkan makan malam. semua makanan sebenarnya sudah di persiapkan oleh pelayan rumah Riana dia hanya membantu menata makanan tersebut di atas meja makan yang tetap di temani oleh pelayannya.
Dari arah ruang kerja terlihat Hendra dan Faisal yang baru keluar dari ruangan tersebut . keduanya kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang makan yang sebelumnya memang ada pelayan yang memberitahu mereka bawah nyonya rumah tersebut sudah berada di meja makan .
" Ma , kok Liam belum datang sampai sekaran ? " tanya Hendra yang menyadari bahwa putranya tersebut belum terlihat sama sekali . dia tidak ingin acar makan malam bersama ini tidak lengkap sama seperti saat di rumah Faisal waktu itu , yang tidak di hadiri oleh Liam karena sibuk dengan pekerjaannya . saat itu Hendra memakluminya , tapi untuk saat ini sepertinya kurang baik karena dia yang mengundang Faisal dan putrinya tapi malah putranya yang tidak datang , apa lagi malam ini untuk pertama kali Kaluna akan bertemu dengannya . dia berharap putranya tersebut tidak akan membuat keputusan
Isan yang akan mengecewakan dirinya.
" itu Pa , katanya ada masalah sedikit dengan proses pembangunan hotelnya, jadi harus di selesaikan dulu , mungkin Liam nya akan sedikit terlambat. "
" Tapi pasti datang kan."
" Iya , papa tenang saja . papa tau kan Liam bagiamana kalau dia sudah bilang Ia , anak itu pasti akan berusaha untuk memenuhi kata-katanya "
Bukan tanpa alasan Hendra khawatir sedemikian rupa, dia hanya takut jika putranya tersebut menghindari pertemuan ini . sudah pasti jika itu terjadi dia akan sangat malu pada sahabatnya Faisal , apa lagi dia dan istrinya sendiri yang memiliki ide untuk menjodohkan Kaluna dan Liam .
__ADS_1
Meskipun antara dia dan Faisal belum memastikan hal tersebut , mereka berdua masih menunggu keputusan dari Liam dan Kaluna . biar bagaimana pun mereka tidak ingin memaksakan kehendaknya jika hal tidak membuat putra putri mereka bahagia .
" Ayo kita mulai makan malamnya" ajak Riana"
Dan makan malam itupun di mulai tanpa kehadiran Liam .
" Oh iya sayang , besok kamu sibuk? " tanya Riana pada Kaluna yang duduk persis di samping .
" memang ada mama. " Jawa kalian yang sudah mulai memanggil Riana dengan sebutan mama. mendengar Kaluna memanggilnya dengan sebutan mamanya membuatnya tersenyum .
Faisal dan Hendra yang pertama kali mendengarnya menatap Kaluna secara bersamaan .
" Wah .. Luna , kalau kamu sudah memanggil Tante Riana dengan sebutan mama , om juga harus dong kamu panggil papa . biar adil , iyakan ma" Hendra meminta pendapat sang istri . Riana mengiyakan perkataan suaminya itu . Faisal yang hanya menjadi pendengar ikut tersenyum .
" bagaimana sayang ? " tanya Riana kembali yang belum mendapatkan jawab dari Kaluna karena harus menimpali kalimat suami nya tersebut .
" Untuk sekarang ini , Luna belum kok ma . menjaga ada apa ? "
mendengar jawaban Kaluna Riana langsung tersenyum sumringah , akhirnya dia bisa lakukan salah satu impiannya sejak dulu yang sampai sekarang belum terpenuhi .
" Mama , pengen ajak kamu shopping" . suatu hobi seorang perempuan begitupun Riana meski usiannya tidak lagi muda tapi hobinya berbelanja masih terpelihara hingga kini . dulu dia ingin sekali memiliki seorang putri yang bisa di ajaknya kemana-mana dalam urusan perempuan , setelah melahirkan Liam , tapi sampai usianya tidak lagi muda tuhan masih belum memberikan rezeki itu. dan sampai saat ini ia berfikir mungkin dia bisa mengajak menantunya. Tidak , dia tidak butuh untuk Kaluna sampai menjadi menantunya terlebih dahulu karena dulu saat malam kaluna masih ada . mereka berdua sangat senang pergi berdua . hanya untuk menghabiskan uang suami mereka dan sekarang Riana pikir Kaluna adalah pengganti mamanya.
" Bagaimana sayang . kamu mau kan ?"
" iya mama , Luna mau " Jawab Kaluna bersamaan dengan jawaban Kaluna Liam muncul diantara mereka .
" Li , kamu sudah datang "
Liam langsung menyalami tangan papa dilanjutkan. dengan Faisal
__ADS_1
Kaluna yang mendengar nama laki-laki tersebut di sebut langsung menoleh . begitupun dengan Liam yang akan mendatangi mamanya . pandangan mata keduanya bertemu . dan ekspresi yang di tunjukkan keduanya sama .
" Kamu" jawab Liam dan Kaluna secara bersamaan .