Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Kaluna akan menjadi istriku


__ADS_3

Kaluna langsung berdiri melangkah ke meja rias miliknya saat mendengarkan suara mobil Liam yang menandakan suaminya itu sudah pulang, meskipun jam sudah menunjukkan jam sepuluh malam dia tetap setia menunggu Liam.


Kaluna memperbaiki penampilannya dan menyemprotkan parfum di lehernya, ia kemudian melangkah meninggalkan kamarnya turun ke bawah dan melangkah cepat untuk menyambut suaminya.


Saat pintu dia buka Kaluna langsung menyambut suaminya dengan senyum bahagia hal itu tentu saja sangat disukai oleh Liam, saat dia pulang ia selalu disambut senyum manis istrinya .Liam mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Kaluna dan juga bibirnya.


"Maaf aku pulang terlambat malam ini, apa anak-anak sudah tidur."


"Iya meraka semua sudah tidur."


"Hah, aku begitu ingin bermain dengan mereka, tapi akhir -akhir ini aku selalu pulang malam ada begitu banyak yang harus aku selesaikan, masalah pembanguan hotel baru dan lagi aku terkadang di buat kesal oleh Gio yang sering sekali datang terlambat."


Kaluna mendengarkan semua keluhan suaminya dan berjalan bersama masuk ke dalam.


"Kak Liam bisa melakukannya nanti kalau pekerjaan kakak sudah tidak banyak."


"Semoga saja pekerjaan ini cepat selesia."


Sebelum masuk ke kamar mereka, Liam terlebih dahulu masuk ke kamar putrinya Elif, Liam mengecup kening putrinya itu yang lahir tanpa kehadirannya, hal yang selalu membuat Liam merasa bersalah.


Setalah melihat putrinya Liam kemudian masuk kedalam kamarnya dan langsung melangkah mendekati box putranya yang masih berada di dalam kamarnya. Kaluna hanya menyaksikan itu semua sambil terseyum dan melangkah mendekati suaminya setalah selesia menyapa Putra mereka, Kaluna Kemudian membatu Liam membuka pakaiannya.


"Aku sudah menyiapkan air hangat, aku akan turun ke bawah untuk menyiapkan kak Liam makan malam." Tangan Kaluna masih sibuk membantu suaminya melepas pakaian.


"Temani aku mandi, mau ?"


Kaluna menatap suaminya dan tersenyum kemudian mengangguk.


Kaluna duduk di tepi buthp dan menggosok punggung suaminya sambil memberikan pijatan lembut di area kepala suaminya. Mata Liam terpejam menikmati apa yang di lakukan Kaluna. Hingga beberapa saat Liam  tertidur akibat pijatan itu begitu nyaman. 


"Kak," bisik Kaluna lembut di telinga Liam, karena suaminya tertidur. 


Liam langsung membuka matanya dan menatap wajah istrinya yang ada di dekat 


"Maaf sayang pijatan mu terlalu nyaman, aku tidak sadar memejamkan mata," ucap Liam sambil tersenyum, kemudian beranjak dan keluar dari dalam buthp, Kaluna membantu memasangkan jubah mandi dan keluar bersama. 


Setelah memakai pakaian, Liam kemudian turun ke bawah bersama dengan Kaluna. Mommy dari Elif dan Elvan itu sibuk menyiapkan makan malam untuk suaminya dan juga untuknya karena dia juga belum makan malam, begitulah Kaluna dia hanya akan makan jika bersama suaminya. 


Usai makan malam bersama keduanya lalu kembali ke kamar. Sebelum berbaring Liam mendatangi Elvan. Memberikan ucapan selamat malam untuk putranya. 


"Kak, apa Kak Liam betul-betul sibuk ?"tanya Kaluna yang saat ini sudah berada di tempat tidur. 


"Iya, maaf jika aku selalu terlambat." 


"Aku tidak masalah kak, tapi aku hanya memikirkan Alyssa, sudah lama kak Liam tidak ke sana." 


Mendengar itu, Liam merasa bersalah karena sudah melupakan anak itu, meskipun Alyssa bukan putrinya tapi, dia sudah menjadi tanggung jawabnya sekarang. Akhir-akhir ini dia memang tidak punya waktu untuk berkunjung, jika pun waktu itu ada, dia akan menghabiskannya untuk bersama Elif maupun Elvan. 


Melihat suaminya hanya diam, Kaluna lantas melanjutkan perkataannya. 


"Kak." 


"Aku akan kesana jika pekerjaanku sudah tidak banyak, terimah kasih kamu sudah mengingatkanku sayang." Liam mengusap wajah Kaluna. 


"Emm. Kak bagiamana kalau aku yang menjadi ibu Alyssa." 


"Maksudnya?" 

__ADS_1


Liam tidak paham akan maksud Kaluna. 


"Maksudnya aku begini kak," kalimat Kaluna  terjeda dia duduk bersadar di tempat tidur. Liam juga ikut melakukan hal yang sama.


"Bagaimana kalau kita mengadopsi Alyssa?''


Kening Liam mengerut, mendengarkan keinginan Kaluna yang begitu jauh menurutnya. Mengadopsi Alyssa itu tidak pernah terlintas dipikirannya, dia memang menyayangi anak itu dan sudah berjanji akan bertanggung jawab atasnya, tapi tidak untuk membawanya masuk ke dalam keluargannya.


"Kalau boleh aku tanya, kenapa kamu berfikir untuk itu?"


"Kak Liam tau sendiri kan, sudah beberapa waktu ini kakak tidak pernah melihatnya, dia pasti mencari kak Liam."


"Kan aku sudah bilang, aku akan datang saat aku sudah punya waktu luang."


Kaluna mendengar itu terseyum, kemudian salah satu tangannya menyentuh wajah Liam.


"Saat kakak punya waktu, waktu itu akan kak Liam habis kan untuk Elif dan Elvan dan dia akan kembali kak Liam lupakan. "


benar apa yang di katakan Kaluna, jika pekerjaanya tidak begitu menyita waktunya maka dia akan menggunakannya untuk bersenang-sedang dengan Elif dan Elvan.


"Bagaiman kak Liam setuju kan ?"


"Sayang, dengarkan aku, anggaplah kita membawa Alyssa ke sini apa mama dan papa akan setuju, aku takut mereka akan keberatan dan tidak menerima Alyssa, kamu tau sendiri kan mama tau kurang setuju jika aku menjenguk Alyssa karena dia adalah putri..."


"Jangan dilanjutkan." Kaluna meletakkan jari telunjuknya di bibir Liam.


"Kenapa ?"


"Aku tidak melihat Alyssa dari putri wanita itu, tapi aku melihat Alyssa adalah seorang gadis kecil yang membutuhkan kasih sayang, kedua orang tuannya, yang belum pernah dia rasakan sampai saat ini dan juga, aku tidak ingin Alyssa merasakan apa yang aku rasakan, yaitu tidak memiliki orang tua di dekatku,"Kaluna berucap lirih di kata terakhirnya.


Mendengar alasan Kaluna Liam tiba -tiba saja menarik Kaluna naik ke atas Pangkuannya.


Liam menatap lekat wajah Kaluna.


"Apa kak Liam setuju dengan keinginanku?"


"Apa kamu tau, sayang."


Tidak menjawab pertanyaan Kaluna Liam sepertinya akan mengatakan hal lain.


"Apa?" tanya Kaluna, tidak paham kemana arah pembicaraan suaminya.


"Menjadi suamimu adalah hal yang paling aku syukuri, karena aku bisa memiliki wanita yang begitu sempurnah dalam hidupku, meskipun aku pernah menyakiti ini."


Liam menyentuh dada Kaluna.


"Aku tidak tau cara apa yang harus aku lakukan untuk mengucapkan terimah kasih untuk semua kesempatan yang sudah kamu berikan dan membaut aku menjadi ayah dari Elif dan Elvan."


Kaluna hanya mendengarkan semua kata yang diucapkan oleh Liam.


"Dan sekarang kamu ingin melakukan sesuatu yang begitu luar biasa lagi, menjadi ibu dari Alyssa."


"Apa kakak setuju?"


"Jika itu kemauan istriku, aku akan mengabulkannya."


Wajah Kaluna seketika di penuhi senyuman bahagia, karena keinginannya dikabulkan oleh suaminya dan Liam bisa melihat senyum bahagia itu.

__ADS_1


"Kamu senang ?"


Kaluna mengangguk cepat seperti seorang adik yang di kabulkan permintaanya oleh kakaknya.


"Jadi apa yang aku dapatkan setelah mengabulkan keinginan seseorang em?"


tersenyum penuh arti, Liam menatap ke arah Box milik Elvan, kaluna juga ikut menatap kearah yang sama.


"Ah."


Tanpa menunggu jawaban dari Kaluna Liam, langsung merubah posisi mereka dengan membawa kaluna di bawah kungkunannya.


Mata keduanya saling mengunci dengan jarak yang begitu dekat, jari lentik Kaluna menyentuh setiap sudut wajah Liam yang di penuhi bulu-bulu halus. Liam memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut jari Kaluna.


"Apa yang Kak Liam inginkan, jika aku bisa, aku akan berusaha memberikannya." ucap Kaluna masih menatap wajah suaminya yang berada di atasnya.


Dia bisa merasakan tangan Liam bergerak di balik kain tipis yang menutupi tubuhnya. Mata Kaluna mulai terpejam dengan bibirnya sedikit terbuka saat merasakan jari suaminya bergerak lembut di bagian paling sensitif tubuhnya.


"Aaah."


satu de..Sahan lolos dari bibinya saat tangan itu semakin bergerak cepat dan suara itu membaut Liam semakin ber*gairah.


Ia kemudian memposisikan tubunya diantara kedua paha istrinya setelah tangannya sudah melepas semua kain yang menutupi tubuh istrinya.


"Aku menginginkan kamu hamil lagi."


Liam kemudian mengecup kening Kaluna.


"Apa kamu keberatan ?"


Kaluna menggelang.


***


Epilog


"Aunty Kaluna cantik ya?" Ucap seorang anak kecil yang masih duduk di bangku sekolah dasar, dia tidak berhenti menatap bayi yang baru beberapa hari itu lahir di dunia. Dia yang baru pulang dari sekolah langsung meminta pada mamanya untuk datang ke rumah orang tua bayi itu.


"Ya ampun Liam." pekik Riana saat matanya melihat putranya itu mencium bibir bayi itu.


"Kanapa di cium bibirnya sayang." protes Riana pada putranya. Sedangkan ibu bayi itu hanya terseyum melihat tingkah putar sahabatnya.


"Liam gemas mama, liat bibir Kaluna yang gerak-gerak terus, lagian Kaluna kan nanti akan jadi istrinya Liam kalau sudah besar." ucapnya membalas aksi protes mamanya.


Mendengar itu sontak membuat kedua wanita itu tertawa, Bahkan Liam baru duduk di bangku SD tapi sudah memikirkan pernikahan.


"ya ampun Liam, sejak kapan kamu mulai berfikir seperti itu."


"Sejak tadi, Liam pikir Kaluna tidak punya kakak yang jagain Kaluna jadi biar nanti Liam yang jagain dia ma, sama seperti mama yang dijagain sama papa."


Catatan Author


Hai Kakak reader semua🥰🥰


Sekali lagi Author ingin mengucapkan terimah kasih bagi yang begitu setianya menuggu kisah Kaluna dan Liam up. Maafin Author ya kalau bab bonusnya lama pake banget baru up, heheh..


Dan sempai ketemu di karya Author selanjutnya, semoga di berikan kemudahan untuk up kisah Elif dan Alyssa.

__ADS_1


Thankkiss 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2