Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Berkumpul bersama


__ADS_3

Selama empat puluh menit di perjalanan akhirnya keluarga kecil itu tiba di tempat tujuan mereka. Liam yang membawa mobil yang sudah disiapkan oleh anak buahnya tiba di kediaman Kaluna, Ia kemudian turun dan membukakan pintu untuk Kaluna dan langsung mengambil Elif yang duduk di pangkuan Kaluna.


Setelah Kaluna turun Liam lagsung menggenggam tangan Kaluna dengan Elif di gendongannya, di sana seseorang telah menunggu kedatangannya , setelah mendapat kabar dari Liam Ryan langsung datang. Kaluna yang tidak tau menahu tentang kedatangan Ryan merasa, malu karena dia cukup lama menghilang dan kembali bersama laki-laki yang selalu ia katakan sudah di lupakan nya.


" Uncle." Elif lagsung berteriak senang saat melihat Ryan dan meminta di turunkan oleh. Liam


" Hai sayang , apa kabar."


tidak menjawab Elif malah membahas yang lain.


" Uncle, Daddy Elif sudah ada." Elif begitu bersemangat menyampaikan pada Ryan tentang keberadaan Liam.


" Benarkah ."


"em."


" Ini Daddy Elif uncel."


"Kak rayan sudah lama di sini?"


"Belum, aku datang setalah dia mengabariku"


Jawab Ryan membuat Kaluna kebingungan tidak mengerti maksudnya. Dia kemudian menatap Liam yang ada di sampingnya.


"Sebelum menemui mu dan Elif aku lebih dulu bertemu dengannya untuk meminta izin."


Kaluna kemudian kembali menatap Ryan.


"Di datang padaku untuk memintamu kembali dan aku bilang jika kamu tidak mau memaafkannya, dia tidak boleh lagi muncul di di dekatmu dan Elif selama-lamamnya."


"Jadi kak Ryan tau semaunyam?"


"Iya"


"Dan aku senang kamu mau memaafkan ku , aku tidak bisa membayangkan jika kamu tidak mau memaafkan ku Ryan akan kembali membawamu pergi ke tempat yang tidak bisa aku temukan."


***


Suara de.sahan Kaluna memenuhi kamar. jika saja kamarnya tidak kedap suara mungkin suaranya akan terdengar sampai ke kamar putrinya yang ada sebelah kamarnya. setelah memastikan Elif tertidur Liam dengan tidak sabar membawa tubuh istrinya di bawah kungkunannya. Tidak sebentar bahkan Liam sudah menguasai tubuh itu tiga puluh menit yang lalu dan belum ada tanda -tanda jika ia akan menyudahinya. Liam masih terus menggerakkan pinggulnya Dangan teratur dan terkadang juga kasar yang membuat kalau berteiak .


"Kak a..ku emmm..ahhhh."


Tubuh Kaluna kembali bergetar saat gerakan Liam berhasil membuatnya mencapai puncak . Liam puasa melihat itu, dengan semangat Liam mempercepat gerakannya hingga dia juga ikut mendapatkan pelepasan.


"Secepatnya kita akan kembali ke Indonesia." ucap Liam setelah aktivitas itu selesai ia manarik Kaluna masuk kedalam pelukannya dan mencium keningnya.


"Kamu tidak keberatan kan? ." tanya Liam karena kaluna hanya diam dan berbalik membelakanginya


"Tapi, aku punya tanggung jawab di sini jadi tidak mungkin aku meninggalkannya"


"Kamu tengan saja aku sudah mengurus semunay."

__ADS_1


" Maksudnya."


"Aku sudah meminta beberapa orang untuk menggatikamu mengajar di sana."


Kaluna kembali diam , sebenarnya masih ada yang mengganjal di hatinya, tapi urung ia tanyakan, Kaluna takut jika ia bertanya dan mengetahui kebenaranya.


"Apa masih ada yang mengganggu pikiran mu?"


Bibir Liam kembali menelusuri bahu terbuka istrinya dan tangannya yang sudah dari tadi berad di perut Kaluna kini bergerak turun ke bawah.


"Ahhh."


Liam tersenyum saat tubuh Kaluna begitu cepat merespon sentuhan yang ia berikan .


"Aku menginginkannya lagi."


Liam berbisik dan tanpa menunggu jawaban istrinya Liam lagsung menindihnya dan langsung menyatukan sesuatu di bawah sana .


"Katakan apa yang kamu pikirkan?" tanya Liam sambil me maju mundurkan miliknya . dia tau ada sesuatu yang mengganjal di hati istrinya.


"Ada dimana dia?"


" Maksudmu Elma?"


"Iya."


"Aku akan mengatakannya nanti."


Liam kemudian menceritakan semuanya pada Kaluna dan tidak ada satu pun dia tutupi tentang Elma dan tentang anak yang dia lahirkan yang kini tinggal di panti asuhan, dia juga mengatakan jika setelah kepergian Elma dan anaknya sudah tidak memiliki Siap- Siapa lagi, Dia sering mengunjugi anak itu.


****


Sesuai dengan keinginannya, Liam membawa kembali Istrinya dan juga putrinya setelah semua urusan Kaluna ia selesaikan dan untuk Ryan laki-laki itu masih tetap berada di sini untuk mengurusi bisnisnya dan akan tetap berada di negara itu.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh , Liam tiba di kediaman orang tuannya. ketiganya keluar dan di teras rumah sudah ada Hendra dan Riana yang menunggu kedatangan mereka. kedua orang tua itu begitu bahagia saat putrany menggambarkan jika dia akan segera kembali dan membawa Kaluna pulang di tambah lagi seorang cucu perempuan , Raina sungguh tidak sabar menantinya.


"Mama" Kaluna berlari masuk kedalam pelukan Riana dan langsung di sambut oleh wanita itu


"Maaf kan kesalahan anak mama sayang." ucap Riana dengan suara tangisnya susah terdengar dari bibirnya .


"Iya ma, Kaluna juga minta maaf."


" Apa ini cucu mama?" tanya Riana setelah pelukan itu terlepas. Elif yang sementara masih di gendongan Liam nampak kebingungan kerena belum tau siapa kedua orang ini yang tengah memeluk Mommy nya .


"Ini opa sama oma nya Elif, mama dan papanya Daddy." Liam menjelaskan dan Elif langsung paham.


"Oma dan Opa Elif ?"


Liam mengangguk Elif langsung merentangkan tangganya meminta untuk di gendong oleh Hendra kedua orang tua itu tidak henti -hentinya mencium wajah Elif , dia begitu bahagia.


"Wajahmu mirip sekali dengan Daddy mu sayang, bukan begitu pa?" Riana meminta pendapat pada suaminya .

__ADS_1


"Kamu benar sekali sayang."


Liam memeluk pinggang Kaluna dari samping menyaksikan kebahagian kedua orang tuannya melihat ke hadiran Elif, dia jadi tidak sabar untuk memiliki anak lagi dari perempuan yang sementara berada di sampingnya dia ingin merasakan bagaimana menjadi suami yang di direpotkan saat seorang istri sementara hamil dia ingin merasakan itu, karena saat Kaluna sementara Elif dia tidak ada di samping perempuan ini.


***


Kebahagiaan keluarga Hendra menjadi lengkap sekarang, setelah kembalinya Kaluna dan mereka memiliki cucu yang begitu cantik seperti Elif. Membuat kedua orang tua itu tidak ingin berpisah dari cucu mereka terbukti saat malam, keduanya membawa Elif untuk tidur dengan mereka.


Kesempatan pagi Liam ketika Elif tidak ada di antara dia dan Kaluna , dia bisa puas ber- manja dengan istrinya seperti anak kecil, dan sekarang ini Liam sedang berbaring di pangkuan Kaluna dan membenamkan wajahnya di perut istrinya ditambah lagi dia meminta Kaluna untuk mengelus rambutnya Sungguh terasa Nyaman itu yang dirasakan Liam saat ini.


"Kak."


" Em. ada apa?" tanya Liam yang masih masih di pangkuannya istrinya .


"Aku ingin menanyakan sesuatu."


"Apa ?"


" Anak itu, apa kak Liam akan menjenguk ya lagi?"


"Maksudmu Alyssa. aku tidak akan melakukannya jika kamu tidak menginginkannya."


"Buatkan begitu, aku hanya ingin ikut saat kak Liam datang ke sana ." mendengar permintaan Kaluna Liam lagsung merubah posisinya dan kini wajahnya berada di bawa wajah Kaluna.


"Kamu serius ?" Liam tidak menyangka jika kaluna bukannya melarangnya malah meminta ikut dengannya.


" Iya, kenapa , kenapa kamu tidak melarang-ku ?"


"Karena anak itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi Selain kamu jadi aku tidak mungkin melarang kak Liam untuk melihatnya, kasian kan ."


Liam begitu bahagia mendengar alasan istrinya, ini yang membaut dirinya jatuh cinta dengan perempuan yang susah memberinya seorang putri , hati yang di miliki Kaluna begitu baik dan lembut.


" Terimah kasih ." ucap lima kemudian menarik wajah Kaluna merapat padannya kemudian menyatukan bibir mereka, setelah ciuman itu terlepas Liam bangkit dari bangunan Kaluna dan membawa Kaluna berpindah duduk di pangkuannya, Liam membawa kedua tangan Kaluna ke lehernya dan dia sendiri melingkarkan tangannya pada pinggang Kaluna menarik tubuh itu untuk semakin merapat padanya.


"Mau aku beri tahu sebuah rahasia ."


" Apa ?" tanya Kaluna penasaran


"Aku pernah menikamti ini saat kamu sedang tidur, apa kamu ingat waktu kita tidur dalam satu kamar saat mama datang?"


Kaluna berusaha mengintai ke jadian itu.


" Jadi waktu itu aku tidak sendang bermimpi Kaka Liam betul-betul menciumiku?"


Liam tertawa .


" Memangnya kamu sedang bermimpi aku cium, mau mengulangnya lagi.," Liam langsung menyatukan bibirnya dengan Kaluna menikmati bibir istinya yang begitu ia sukai, Kaluna membuka mulutnya membiarkan Liam menikmati setiap inci dari rongga mulutnya saat penyatuan bibir itu terjadi Liam dengan pelan membawa Kaluna berbaring dan menindih nya.


"Aku ingin Elif memilik adik?" ucapan Liam saat belitan lidah itu terlepas.


"Apa kamu siapa?"

__ADS_1


Kalian mengangguk, dia tidak mungkin menolak jika tuhan mengijinkannya dia untuk hamil lagi, apa lagi sekarang ada Suaminya di sampingnya.


__ADS_2