Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Kehidupan dua keluarga


__ADS_3

Elvan Ardana Deral adalah nama anak kedua dari kaluna dan Liam yang baru saja lahir di dunia, usianya baru dua bulan, masih terekam jelas di ingatan sang ibu Kaluna Jeinna bagaimana Liam sang suami, setidaknya berhenti menghujaminya ciuman di wajahnya saat setelah melahirkan putranya, bahkan Liam juga tidak hentinya menangis dan mengucapkan kata terima kasih dan maaf padanya.


"Terimakasih kamu sudah mau melahirkan putraku dan maaf aku tidak ada saat kamu melahirkan Elif." Kalimat itu yang tidak berhenti Liam ucapkan.


Sungguh ini adalah kebahagiaan yang Tuhan berikan kepada keluarganya, meskipun di masa lalu pernah terjadi masalah dengan rumah tangganya, tapi Kaluna sudah melupakan itu semua.


Satu minggu setelah melahirkan, Liam dan kaluna sudah membawanya kembali ke rumah mereka, sebenarnya saat akan pulang dari rumah sakit Riana dan Hendar ingin meraka tinggal bersama, tapi Liam tidak menggunakannya, dia ingin menikmati waktunya dalam mengurus sendiri putranya.


Selama satu minggu itu liam tidak pernah membuat Kaluna mengurus Elvan sendiri, dia akan selalu ikut mambantu sang istri, seperti saat malam tiba jika baby Elvan menangis tengah malam Liam yang akan langsung bergerak cepat untuk mengurus dan meminta Kaluna untuk melanjutkan tidurnya, karena stok susu Elvan sudah tersedia jadi dalam hal ini Kaluna tidak perlu bangun untuk mengurus Elvan, Liam tinggal menghangatkannya saja. Begitulah aktifitas Liam selama ini, dia sungguh menikmati itu semua dan selalu dia lakukan dengan penuh kebahagiaan.


****


Pagi datang, saat seperti ini merupakan waktu tersibuk di keluarga itu, Kaluna yang harus mengurus sang suami untuk berangkat ke kantor dan Elif yang harus ke sekolah, Kaluna harus memastikan dua kesayanganya itu terurus dengan baik sebelum Elvan bangun.


"Aku berangkat."


Ucap Liam sudah ada Elif yang berdiri di sampingnya setelah sarapan bersama. Kaluna langsung menyalami tangan Liam dan Elif melakukan hal yang sama.


"Kak."


Kaluna langsung menahan dada Liam karena dia tau laki-laki ini akan menc*um bibirnya padahal ada Elif di dekatnya.


Liam tersenyum dan hanya mengecup kening Kaluna. Kemudian berangkat ke kantor. Setelah kepergian kedua orang itu Kaluna langsung masuk ke kamar menuju box bayinya di sana dia melihat putranya sudah bangun.


"Hai sayang, sudah bangun maaf ya mommya baru melihatmu."


Kaluna mengangkat Elvan dari dalam box nya.


"Sekarang giliran kamu yang harus siap."


Kaluna mulai memandikan baby elvan dan setelah itu memberikan Asi pada putranya itu, Kaluna melakukanya di depan jendela yang langsung terkena dengan sinar matahari.


Di tengah aktifitasnya yang memberikan Asi pada bayinya, pikirannya teringat pada Alyssa anak yang usianya hampir sama dengan putrinya Elif, anak yang sudah tidak memiliki siapa -siapa lagi di dunia ini seperti dirinya.

__ADS_1


Sudah lebih dari dua bulan ini, Liam tidak pernah ke sana karena sibuk dengan pekerjaan di tambah lagi ada Elvan. Liam selalu menghabiskan waktunya untuk Elvan dan Elif, membuat Liam lupa dengan anak itu.


Sepertinya dia harus mengingatkan Liam untuk tidak melupakan tanggung jawabnya pada Alyssa.


****


Hal berbeda terjadi di apartemen milik Gio, laki-laki itu belum juga bersiap berangkat ke kantor, dia malah sibuk menempel pada Zana yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


"Sayang kamu bisa terlambat jika begini terus dan pekerjaanku tidak akan selesai jika kamu menempel begini."


Gio sama sekali tida peduli dengan peringatan Zana.


"Sayang."


Zana berusaha melepas lilitan tangan Gio yang melingkar sempurna di perutnya, bahkan Gio baru bangun dari tidurnya dan langung menuju dapur mencari keberadaan sang istri.


"Kita belum melakukannya pagi ini, kamu tau sendiri kan aku tidak bisa melakukan apapun sebelum melakukanya jadi sebelum aku bersiap-siapa aku ingin melakukan."


Bukan Gio namanya jika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Tidak peduli dengan penolakan istrinya, Gio dengan paksa menggulung naik dress selutut yang di gunakan Zana dan menarik turun kain tipis yang menutupi bagian paling indah dari istrinya.


"Gio apa yang kamu lakukan."


Berpeganglah aku akan melakukannya dengan cepat ok, i am promise.


Zana akhirnya menurut, percuma menolak keinginan laki-laki ini karena suaminya punya banyak cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Ia kemudian membelakangi Gio dan tanganya berpegangan pada meja yang dia tempati sibuk menyiapkan makan


"Aaaakkahhh." Des..ahan Zana begitu bebas keluar saat merasakan milik suaminya kembali menyatu di bawah sana.


Tidak bergerak, Gio menikmati miliknya yang terbenam di bawah sana.


"Bergeraklah" pinta Zana dengan nada begitu sensual di telinga suaminya. Gio yang mendengar itu lagsung memenuhi keinginan sang istri.


"Ahhh."

__ADS_1


Kembali ******* itu terdengar saat Gio sudah mulai memajukan mundurkan miliknya dengan ritme begitu cepat yang membaut Zana semkin mendongakkan kepalanya ke atas dengan bibir terbuka karena rasa yang tidak bisa dia jelaskan.


"Arrrrggghhh, sayang, aku harap kamu segara hamil." Racau Gio disela hentakan kuat yang membuat tubun zana juga mengikuti gerakannya.


Belum puas dengan apa yang dia rasakan, Gio membawa satu kaki jenjang istrinya naik ke atas meja dan dan kembali mempercepat gerakannya


Hingga ia merasakan jika sang istri akan sampai pada pelepasanya.


"Ahhh..Giooo..aku sampai ooohhh"


"Keluarkan sayang aku menunggu." Ucap Gio yang terus memcepat gerakannya.


"Sayang ...Aaaakkhhh."


Tubuh Zana hampir terjatuh saat sampai pada klimaksnya dan dengan ceoat tangan besar Gio menangkap tubuh sang istri. Gio belum selesai di masih melakukan apa yang sudah dia mulai hingga ia juga sampai pada ambang batasnya dan mengarang


"Arrrrrrrgggggg."


"Terimah kasih."


***


Beberapa menit kemudian kedua pasangan itu yang baru saja melewati pagi yang meng*irahkan sedang duduk bersama menikmati makan yang susah tersaji, wajah segar Gio sangat begitu jelas terlihat, karena sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Aku berangkat." ucapnya Setalah sarapan itu berakhir dan bersiap untuk ke kantor.


Satu kecupan di bibir Gio berikan sebelum meninggalkan apartemen nya.


Zana kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda karena aktifitas yang baru saja ia lakukan bersama sang suami, hari ini dia ingin ke rumah ibunya, sudah menjadi aktifitas rutin yang dia lakukan hampir setiap hari, selain itu dia juga biasanya akan berkunjung ke rumah Kaluna untuk bertemu dengan Elvan, bermain dengan bayi kecil yang begitu menggemaskan di matanya, saat melihat baby Elvan, Zana akan selalu menyentuh perutnya, berharap dia akan segera hamil dan mendapatkan anak selucu Elvan.


Apalagi Gio sudah tidak sabar untuk itu, segara memiliki anak.


***

__ADS_1


__ADS_2