Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Lebih berusaha lagi


__ADS_3

Liam tiba di kantor langsung di sebutkan dengan berbagai pekerjaan . Apa lagi pembangunan hotel keduanya tidak lama lagi akan selesai , jadi Liam perlu mempersiapkan segalanya sampai hari itu tiba . Namun fokus Liam teralihkan saat Gio masuk keruangan ya .


" Kamu ke sana lagi?" Pertanyaan Liam pada Gio saat melihat sahabatnya itu masuk ke ruangannya .


Gio memang pernah cerita jika saat ini dia sedang berusaha mendekati seorang perempuan yang masih berstatus mahasiswa . Liam sebenarnya sedikit heran dengan sahabatnya ini , karena Gio selama ini jika berkencan dengan perempuan pasti se usia dengannya, tapi sekarang dia malah menargetkan anak yang bahkan usianya belum 20 .


" Apa sekarang kamu sudah berhasil?" Tanyanya lagi setelah Gio sudah ada di depannya sambil membaca beberapa lembar dokumen .


" Belum ." jawab Gio santai


Lain tersenyum mengejek mendengarnya, bukan waktu yang sebentar telah Gio habiskan menurutnya , sudah beberapa bulan ini dia mendekati perempuan itu tapi tidak ada perkembangan sama sekali.


" Berhenti membahas masalahku, Masalah peresmian hotel , apa kamu akan meresmikan nya di tanggal yang sama saat hotel itu akan mulai di bangun?" rasanya Gio perlu menanyakan itu karena dia perlu menyiapkan semuanya apa lagi tinggal 2 bulan menuju peresmian.


Liam mengentikan aktifitasnya setelah mendengarkan perkataan Gio barusan , Dia tau maksud dari pertanyaan itu , Karena saat Dia memulai usaha pembangunan hotelnya itu, dia menggunakan tanggal dimana dia dan Elma mulai menjalin hubungan , berharap suatu hari nanti dia bisa menemukan perempuan itu dan menjadikan perempuan itu istrinya , itulah janjinya pada Elma , tapi semua sudah Liam lupakan setelah menerima kenyataan jika Elma sudah menjadi milik orang lain di sana , dan dia juga memutuskan menerima Kaluna mengisi hatinya.


" Aku ingin peresmiannya di tanggal pernikahan aku dan Kaluna. " Jawab Liam. mendengar jawaban itu Liam tersenyum bahagia.


"Li , aku bahagia melihat kamu dengan Kaluna ."


Liam hanya tersenyum mendengarkan perkataan Gio.


***


Malam sudah menunjukkan pukul 10 , Liam sudah berdiri di depan apartemennya, saat dia ingin menekan pin, dia baru ingat jika pin apartemennya adalah tanggal yang sama saat dia memulai membangun hotelnya .


Liam kemudian menggantinya dan masuk ke dalam apartemen, Seperti biasa jika sudah jam segini istrinya sudah tidur . Liam melangkah menuju kamarnya tapi seketika berhenti saat melihat Kaluna tertidur di sofa.


Liam kemudian berjongkok di samping Kaluna tepat di depan wajahnya , merapikan rambut Kaluna yang menutupi wajahnya , dia menatap lekat wajah perempuan yang Sudah menemaninya selamanya ini dan selama itu Liam bahagia dan mencintai Kaluna. Dia yakin jika perempuan di masa lalunya itu sudah tidak ada lagi di hatinya , hanya Kaluna yang yang ada . Ia kemudian mengecup kening Kaluna dan mengelus pipinya dengan lembut.

__ADS_1


Akhir -akhir ini Kaluna jadi mudah merasa terganggu jika ada pergerakan di kulitnya jadi saat Liam mengelus pipinya dia membuka matanya perlahan dan lagsung melihat wajah suaminya tepat di hadapannya .


" Kenapa tidur disini?"


" Aku nungguin kamu?"


" Kan bisa di kamar . badan kamu bisa sakit kalau tidur di sofa ."


Kaluna menggeleng dengan masih dalam keadaan berbaring, wajah Liam begitu dekat di depannya jadi di biasa merasakan hembusan nafas suaminya .


" Apa kak Liam sudah makan?"


" Kamu masak ?" tanyanya balik dan Kaluna mengangguk .


" Kalau begitu aku ingin makan."


" Jadi kalau aku tidak memasak , kakak Liam tidak ingin makan?"


" aww .. sakit sayang."


Tapi Kaluna tidak peduli karena dia tau Liam hanya pura-pura.


Kaluna kemudian bangkit dari tidurnya .


" Aku siapkan air hangat , kak Liam bersihkan diri dulu sebelum makan."


Liam mengikuti langkah Kaluna , masuk ke dalam kamar mereka . Di melepas semua pakaiannya dan hanya menyisakan singlet dan celana bokser , menunggu Kaluna keluar dari kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuknya .


Setelah selesai Kaluna melangkah ke lemari menyiapkan pakaian untuk Liam. Liam menarik tangan Kaluna setelah istrinya itu meletakan pakaian di tempat tidur , Kaluna saat ini berdiri di hadapan Liam, tangan Liam melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


" Ada apa ?" tanyanya Kaluna , kedua tanganya berada di pipi Liam mengelusnya dengan lembut. Liam tidak menjawab pertanyaan itu , dia lebih memilih menikmati sentuhan lembut tangan istrinya sambil memejamkan matanya . Sesaat kemudian Liam membenamkan wajahnya di perut Kaluna sambil mengeratkan pelukannya .


Melihat perlakuan Liam seperti ini membuat Kaluna khawatir , takut jika suaminya punya Masalah, dia berharap Liam menceritakannya , tapi melihat suaminya hanya diam , Kaluna juga tidak ingin mendesaknya , mungkin nanti Liam akan menceritakan sendiri tanpa harus dia tanyakan.


" Aku hanya ingin memelukmu ." jawab Liam , dia tidak ingin membuat Kaluna khawatir . Setalah puas memeluk istrinya Ia kemudian bangkit dan melangkah ke kamar mandi , setelah itu Kaluna juga keluar dari kamar menyiapkan makan untuk Liam .


Setelah selesai Liam menghampiri meja makan yang sudah di siapkan berbagai makanan di sana dan menikmatinya di temani olah Kaluna . Setalah menikmati makan malam secara bersama Liam dan Kaluna kebersihan sisa makanan dan mencuci piring bersama .


Liam membawa Kaluna berdiri di hadapannya setelah pekerjaan itu selesai , tanganya kembali melingkar di pinggang istrinya sama seperti saat di kamar tadi , bedanya dia dan Kaluna sama -sama berdiri.


" Kamu bahagia ?"


Kaluna mengangguk sambil tersenyum tangannya melingkar di leher Liam , dengan jarak yang begitu dekat sampai kedua hidung mereka bersentuhan .


" Aku tidak sabar ada yang hidup disini ?." tangan Liam menyentuh perut Kaluna , Kaluna juga ikut menyentuh perutnya sambil menunduk


" Aku juga , mungkin Tuhan belum memberikannya ."


" Atau mungkin usaha kita masih kurang selama ini."


" Aww. kak." Kaluna kaget karena Liam tiba tiba gendongnya karena takut terjatuh Kaluna semakin mengeratkan pegangannya pada leher Liam dan melingkarkan kakinya di pinggang Liam .


" Kalau begitu kita akan berusaha lebih keras lagi ." Liam kemudian menyatukan bibirnya dengan bibir Kaluna , yang begitu ia sukai saat pertama kali dia rasakan dan sampai sekarang Kaluna tidak tau tentang peristiwa malam itu .


Untuk kesekian Kalinya Kaluna mendapat serang tiba-tiba dari suaminya, karena sudah terbiasa, dengan cepat ia membalas penyatuan itu . Liam kemudian melangkah menuju kamar mereka tanpa melepaskan kenikmatan yang sudah mereka mulai . Ia Membaringkan Kaluna dengan hati-hati dan menindih tubuh tersebut dia baru melepaskan bibirnya setelah memastikan Kaluna berada di posisi paling nyaman . Keduanya saling menatap dengan kening Liam bersentuhan dengan kening Kaluna , kemudian memberikan kecupan di tempat itu


" Apa kamu lelah?" tanyanya dia tidak mungkin memulai jika Kaluna akan merasa tidak nyaman .


" Seharusnya aku yang bertanya Sama kak Liam , apa kakak tidak lelah, seharian bekerja dan pulang malam ."

__ADS_1


Liam menggeleng dan tersenyum .


__ADS_2