Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Rumah baru dan menuju pernikahan


__ADS_3

Kaluna dan Liam baru keluar dari ruangan dokter kandung, hari ini Liam datang untuk memeriksa kandungan sang istrinya yang baru beberapa Minggu. sepanjang jalan menuju parkiran Liam tidak melepas rangkulannya pada Kaluna sambil sesekali mengelus perut istinya yang masih rata.


"Kak apa kita akan langsung menjemput Elif ?"


Kaluna yang sudah di dalam mobil melirik ke arah suaminya yang sudah siapa menyalakan mobi dan meninggalkan rumah sakit. Liam ikut melihat Kaluna.


"Elif sudah di jemput."


"Em, siapa ?"


"Mama. hari ini kita akan ke suatu tempat." ucap lima yang berhasil membuat sang istri sedikit kebingungan karena tiba-tiba saja mereka akan ke suatu tempat tanpa memberi tahunya terlebih dahulu.


"Memang kita akan kemana?" tanya Kaluna penasaran.


Liam yang sudah menjalankan mobi tidak menjawab pertanyaan sang istri dan hanya mengatakan jika Kaluna akan tau sendiri nanti. Hal itu berhasil membuat Kaluna tidak sabar.


30 menit yang Liam butuhkan untuk sampai di tempat itu. Liam turun terlebih dahulu kemudian membukakan pintu untuk Kaluna. Mata kaluna tidak berhenti menatap bangunan yang ada di depannya, yang begitu indah apalagi di bangun di pinggir pantai.


"Kak ini rumah siapa?" tanya Kaluna tanpa mengalihkan perhatiannya dari bangunan yang merupakan sebuah rumah itu.


"Ini rumah yang akan kita tempat mulai sekarang." ucap Liam sambil memeluk istrinya dari belakang Kaluna yang mendengar itu melirik ke wajah Liam yang sementara berada di samping wajahnya .


"Kenapa tiba -tiba."


"Bukan tiba -tiba sayang, aku sudah membangun rumah ini sebelum pergi menjemputmu dan Elif dan aku pikir ini saat kita menempatinya karena dia susah ada disini " tangan Liam mengelus perut sang istri


Kaluna tidak menyangka jika Liam menyiapkan ini untuk mereka bahkan sebelum Liam memastikan jika dia dan Elif akan kembali.


"Jadi kak lima menyiapkan ini sebelum aku dan Elif kembali?" Liam mengangguk


"Misalkan waktu itu aku tidak mau bagaimana?"


"Aku akan membawa Elif bersamaku pulang saat itu, dan kamu pasti tidak punya pilihan lain selain ikut."


"Ih kak Liam pemaksa sekali."


"Aku tidak peduli yang penting kalian tetap besama ku , dan aku akan bersusah membuatmu menerimaku kembali."


"Dan kak Liam berhasil."


"Dan aku begitu bahagia " Liam pelepasan pelukannya kemudian membawa kaluna berada di hadapannya.


"Terima kasih atas semua kebahagian yang kamu berikan." Kalua tersenyum kemudian mengangguk. Liam tanpa sadar menyatukan bibirnya dengan sang istrinya, meny*sapnya , menjelajai setiap sudut rongga mulut Kaluna, Liam lupa jika di rumah baru merek sudah ada keluarganya dan juga Gio serta Zana.


Elif yang juga ada di sana langsung menutup matanya dan menyembunyikan wajahnya di perut Omanya saat melihat di bawah sana


Daddy dan mommy nya sedang be*ciuman .


"Woi Sampai kapan kalian akan seperti itu." Kaluna yang mendengar suara itu langsung mendorong dada Liam hingga c*uman itu terlepas Kaluna tidak menyangka jika ada yang menyaksikan adegan mereka barusan , sungguh Kaluna sangat malu dia tidak harus bagaimana terlebih lagi di atas sana di pantai dua juga terlihat putrinya, setelah ini dia tidak tau harus bagaimana mengahadapi semua orang .


"Kenapa kak Liam tidak bilang sih kalau ada orang lain selain kita disini ." wajah Kaluna sudah terlihat kesal.

__ADS_1


"Maaf sayang aku lupa." jawab Liam santai sambil menarik tangan Kaluna untuk masuk ke dalam.


"Gila ya Lo tidak tau tempa."


Gio bicara dengan nada kesal saat kedua suami istri itu sudah berada di dalam rumah. Kaluna tidak berani menatap ke yang lain dia sungguh malu saat ini apa lagi ada Zana juga di sini .Tapi Liam sama sekali tidak peduli dengan kata -kata Gio .


Saat ini semuanya duduk dan ruang yang begitu luas.


"Kak Luna apa kabar ?"


Zana memilih bicara duluan dia menyapa orang masih dia jalankan rukonya itu meskipun Kaluna belum pernah datang kembali setelah kepulangannya ke negeri ini.


Kaluna mau tidak mau mengarahkan pandangannya pada Zana yang duduk di samping Gio, Kaluna cukup terkejut saat Liam pernah bercerita padanya jika Gio sudah dekat dengan Zana beberapa tahun ini bahkan mereka pertama bertemu saat bulan madu pertamanya dengan Liam saat gio juga ikut ,dan yang memberi tahu tentang keberadaanya adalah Zana, saat melihat keberadaanya di salah satu acara yang sama , Liam juga bilang jika yang Zana temukan adalah Elif pertama kali dari situ perempuan yang dekat dengan Gio itu mengetahui tentang keberadaanya.


"Baik Far, kamu sendiri apa kabar ? yang lain mana kok nggak datang?"


"Iya kak katanya bakalan nyusul Jika kerjanya selesai, kak Sarah lagi temani Gyan di sekolahnya dan Vivi lagi sibuk dengan kerjaan barunya.


Kaluna beranjak dari duduknya di samping Liam dan duduk di samping Zana.


"Terimakasih sya Far atas semua bantuan kamu selama ini."


"Ini semua atas permintaan pak Liam kak, kalau bukan kerena beliau mungkin tempat itu sudah tidak ada karena kami bingung apa yang harus kami lakukan .


Kaluna kini balik menatap suaminya sambil tersenyum dia bukannya tidak tau Jika ini semua keinginan suaminya, tapi jika Zana dan yang lain tidak ikut membantu ruko miliknya pasti sudah tidak ada sekarang , meskipun dia belum pernah ke sana.


" Jadi kapan kak luna akan kembali ke ruko."


"jadi Luna hamil lagi?" tanya Gio


Liam mengangguk


"Wah hebat ya, baru juga dua bulan lalu kaluna kembali ke sini."


Gio ikut senang akan hal itu tapi dia merasa iri karena sampai sekarang dia belum menikah l, dia juga ingin memiliki keluarga bahagia seperti sahabatnya.


Sedangan Riana dan Hendra sudah tau akan hal itu saat hari yang g sama Liam mengetahuinya jika istrinya hamil. sedangkan Elif , saat mengetahui dia akan segara mendapatkan adik dia tidak berhati sehari itu mengelus perut mommynya mengajak bicara calon adiknya yang bahkan belum terbentuk .


***


Mobil mewah milik Gio membelah jalan saat langit sudah mulai berwarna jingga, hari ini dia baru pulang berkunjung ke rumah baru sahabatnya di temani Zana wanita yang sudah bersamanya beberapa tahun ini tapi belum juga ia nikahi, bukannya Gio tidak mau justru dia sangat ingin apalagi usianya sudah tidak muda lagi sudah akan memasuki kepala empat tapi Zana selalu saja mengatakan belum siapa dan ketika dia bertanya alasannya wanita itu diam yang membuat Gio juga tidak ingin memaksakan keinginannya.


"Kenapa , sepanjang jalan pulang kamu hanya diam tidak mengajakku bicara ?" Zana bicara sebelum dia keluar dari mobil dan masuk kedalam rumahnya.


"Maaf. aku hanya lelah hari ini." Gio tersenyum.


"Sungguh?"


"Masuklah, aku tidak apa-apa."


Ucap Gio.

__ADS_1


Zana keluar meskipun ada rasa tidak nyaman di hatinya, dia tau apa di pikirkan Gio, ini pasti masalah jawabnya, sudah satu tahun berlalu sejak Gio pertama kali melamarnya dan sampai sekarang di belum memberikan jawaban itu, Zana pikir setelah di membuat laki-laki itu menunggu selama itu Gio akan pergi tapi nyatanya Gio masih setia untuk menunggunya. Zana masuk kedalam rumah setelah memastikan mobil Gio sudah pergi.


"Sayang sudah pulang?"


"Iya Bu." Jawab Zana dengan nada lemah membuat sang ibu bingung


"Ada apa ?" wanita itu lantas menarik putrinya duduk dia ingin menanyakan apa yang sedang terjadi .


"Apa ini tentang Gio?" Zana mengangguk


"Kapan kamu akan memberinya jawaban dia sudah terlalu lama menunggu sayang ."


"Tapi Bu, Gio pernah bilang jika dia sudah menikah dia akan tinggal di negara orang tuannya dan Zana tidak mau, kalau Zana pergi siapa yang akan menemani ibu disini." hanya itu yang menjadi alasan zana belum menjawab lamaran Laki-laki yang juga di cintai itu. dia tidak bisa meninggalkan ibunya sendiri di sini dan hidup di negara orang, karena ibunya juga tidak mau meninggalkan negara ini.


" Kamu belum mengatakan sama Gio tentang alasanmu kan ,makanya kamu cerita siapa tau Gio mempertimbangkan keinginanmu."


"Tapi Zana takut Bu, Takut Gio menolak keinginan Zana dan dia pergi ."


"Itu tidak mungkin, karena ibu liat dia begitu mencintai mu dia pasti akan mempertimbangkan keinginanmu ."


Setelah obrolan itu, Zana masuk ke dalam kamar, dia tidak bisa tidur karena memikirkan perkataan ibunya. Karena tidak tangan Zana akhirnya bangkit dari tidur dan keluar dari rumah memesan taksi menuju apartemen Gio .


Gio yang juga baru tiba langsung masuk memberikan diri dan saat keluar kembali sebuah bel berbunyi, Gio mendekat dan membukanya. keningnya mengerut karena melihat Zana tiba-tiba ada di depannya.


"Jawab pertanyaanku, jika kita menikah dan aku tetap ingin tinggal di negara ini apa kamu akan mengabulkannya?"


Gio yang mendengar itu langsung menarik tangan Zana masuk ke dalam dan membantingnya di tembok kemudian menghimpitnya tubuh Zana dan tanpa Zana duga Gio menyatukan bibir mereka, kaget itu yang Zana rasakan ini pertama kalinya Gio menyentuh bibirnya kerena selam pacaran Laki-laki ini tidak sekali pun menyentuhnya.


C*Uman Gio mulai menutut dan sedikit kasar memaksa Zana untuk membalasnya, dia bisa merasakan jika Zana tidak berpengalaman dalam hal ini.


"Jadi hanya alasan itu yang membuatku harus nunggu?" tanya Gio saat penyatuan itu terlepas.


"Iy.." Zana belum menyediakan kalimatnya tapi Gio kembali mel*umat bibirnya. tangan Gio yang semula berada di kedua sisi wajah Zana kini turun menyentuh b*kong Zana dan mengangkat tubuh itu dan menuntun Zana melingkarkan kedua kakinya di pinggang. Tanpa melepaskan l*maran itu Gio membawa Zana bukan ke tempat tidur, karena dia tidak akan menyentuk Perempuan ini sebelum menjadi miliknya yang sah. Tapi Gio berjalan ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya di sana . dan membuat Zana duduk di atas pangkuannya. Posisi yang begitu dekat dengan Gio membuat Zana sedikit tidak nyaman dia ingin bergerak turun dari pangkuan Gio tapi dengan cepat gio menahannya.


"Jadi kapan kita akan menikah ?"


"Pertanyaan ku yang tadi, aku ingin jawabannya terlebih dulu"


"Aku akan melakukan apa pun yang kamu inginkan."


Jawaban Gio sontak membuat Zana melebarkan senyumannya, dia tidak menyangka Gio akan memenuhi keinginannya untuk tepat berada di negara ini setelah mereka menikah. Gio kemudian meraih hp miliknya dia tas meja tanpa menurunkan Zana dari atas pangkuannya, mencoba menghubungi seseorang .


"Halo ma bisakah mama ke indonesia Minggu ini, untuk menghadiri pernikahanku ."


Terdengar suara lengkingan di sebarang sana, wanita yang melahirkan Gio itu terdengar bahagia saat mendengar kabar jika putarannya akan menikah.


"Kenapa Minggu depan memang kita akan. menikah minggu depan ?" tanya Zana Bingung , ia pikir itu waktu yang terlalu cepat .


"Em, kita akan menikah Minggu depan aku akan menyiapkan semuanya."


"Bukannya itu terlalu cepat, aku Bahkan belum melakukan apa -apa ."

__ADS_1


"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa biar aku yang mengurusnya."


__ADS_2