
Suara dentuman musik yang memekakkan telinga harus di lewati Gio, kapan terkahir laki-laki itu ke tempat seperti ini ? mungkin sudah tiga tahun lalu, Gio datang untuk menghibur diri dan menghabiskan malam dengan Perempuan yang sengaja dia bayar untuk menemaninya jika tidak ada pekerjaan yang menumpuk, sekarang Gio sudah tidak pernah lagi datang, semenjak kedekatannya dengan Zana , dia berusaha meninggalkan semua kebiasaan itu. Tapi beberapa bulan terakhir ini laki-laki harus kembali ketempat itu karena seseorang .
Dia baru akan memejamkan matanya untuk beristirahat tapi sebuah telpon memintanya untuk datang .
" Maaf Tuan Gio, saya harus menelpon Anda karena saya rasa Tuan Liam tidak bisa pulang sendiri ."
Orang beru menelpon Gio adalah menejer. salah satu klub malam yang sering di datangi Gio dulu, memintanya datang untuk menjemput Liam yang tengah mabuk. ini bukan kali pertama Gio datang untuk menjemput sabatnya ini , tapi sudah berulang kali , bahkan hal ini seperti menjadi kegiatan rutinya hampir setiap . Liam bahkan sudah pernah di larikan ke rumah sakit karena terlalu banyak mengonsumsi alkohol minuman yang tidak pernah dia sentuh sebelumnya , tapi setalah kepergian istrinya yang tidak bisa ia temukan . Liam menjadikan tempat seperti ini untuk menghilangkan rasa sakitnya. Tapi seolah tidak peduli dengan dirinya sendiri Liam tetap kembali ketempat ini .
Gio kemudian berusaha mengangkat tubuh Liam mengalungkan salah satu tanganya ke bahunya dengan membawa tubuh itu keluar dari klub . Gio membaringkan tubuh Liam masuk ke dalam mobil dan membaringkannya di bagian belangkang . Setelah itu Gio menelpon seseorang meminta agar mobil Liam di ambil di tempat ini .
Gio kemudian meninggalkan tempat itu , membawa Liam kembali ke apartemen miliknya .
" Kaluna ." suara Liam terdengar lirih dalam keadaan mata terpejam bibir Liam tidak berhenti memanggil nama itu .
" Kaluna ." kali ini bukan hanya nama Kaluna yang terdengar di telinga Gio tapi dia juga mendengar suara tangisan begitu menyayat hati .Gio yang mendengar itu merasa kasihan dengan sahabatnya dia tidak menyangka begitu besar pengaruh Kaluna dalam kehidupan seorang Liam .
Tiba di apartemen Gio dengan hati -hati membaringkan tubuh Liam di atas tempat tidur dan melepaskan sepatunya . Gio kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh sabatnya itu , Setelah itu Gio duduk melihat Liam matanya terpejam tapi bibirnya tidak berhenti memanggil nama istrinya .
"Jika kamu tau akan seterluka ini ketika Kaluna pergi , seharusnya kamu berfikir dulu Li sebelum berbuat sesuatu. kenapa sikap baik mu itu kamu tempat ke tempat yang salah , berusaha menjaga perasaan orang , tapi kamu lupa jika ada hati yang akan lebih terluka dengan semua ini ." Batin Gio . Dia juga tidak pernah menyangka jika laki- laki yang bernama Ryan itu memiliki ke kauasana yang begitu besar sehingga mampu menutup semua informasi yang berusaha di cari oleh sahabatnya.
Gio mengela nafas kasar kemudian melangkah keluar dari kamar itu dan memilih untuk tidur di sofa ruang tamu .
Saat pagi datang Gio di bangunkan oleh aktifitas seseorang di dapur. dia kemudian menegakkan tubuhnya dan melihat ke arah sumber suara . di sana dia melihat Liam dengan penampilan berantakan tengah meneguk air .
" lu udah bangun?" Gio berjalan mendekat sepertinya dia juga butuh melakukan hal yang sama, tenggorokan nya terasa kering .
__ADS_1
Liam tidak merespon pertanyaan Gio dan kembali meneguk air putih dia butuh menetralisir perutnya akibat terlalu banyak mengonsumsi alkohol tadi malam .
Gio duduk di depan Liam .
" Li .."
" Pulanglah , aku idak mau mendengar orang mengoceh di apartemen ku . "
Belum juga Gio menyelesaikan kalimatnya Liam sudah menghentikannya .
" Baiklah , kalau begitu gue pulang dulu."
Liam hanya diam melihat Gio meninggalkan apartemen miliknya .
***
Kaluna mengangguk dengan semangat sambil tersenyum melihat kekhawatiran Ryan, padahal laki-laki ini sudah memintanya berulang kali untuk melahirkan secara sesar tapi Kaluna tetap ingin melakukannya secara normal.
" Tapi melahirkan secara normal itu berisiko Kaluna sedangkan sesar tidak ." Ryan kembali membujuk, selama masa kehamilan Kaluna Ryan banyak membaca artikel tentang kehamilan dan menonton video proses melahirkan, dia bisa melihat bagaimana seorang ibu dengan ekspresi kesakitan saat melahirkan dan terkadang tidak bisa bertahan hidup laki-laki itu sungguh sangat khawatir dia tidak ingin kehilangan adik untuk yang kedua kalinya .
" Sesar juga berisiko kak , semua cara pasti ada resikonya , bahkan sesar lebih lama pulihnya di bandingkan normal , makanya Kaluna mau normal ." Kaluna memberi penjelasan berharap laki-laki ini berhenti untuk mengkhawatirkannya.
Ryan diam sejenak seperti memikirkan sesuatu , Kaluna menyadari itu , dia tau laki-laki yang ada di hadapnya sementara berusaha menerima keputusannya .
" Baiklah." Akhirnya Ryan menuruti keinginan Kaluna . membuat perempuan itu tersenyum .
__ADS_1
Kalau begitu , aku akan menemui dokter dulu ."
" Untuk apa ?" tanya Kaluna
" Untuk mempersiapkan semuanya ."
" Bukannya kak Ryan baru 30 menit yang lalu melakukan yang sama ."
Ryan tidak sadar jika dia sudah bertemu dokter yang khusus yang akan menangani kelahiran Kaluna , tapi karena rasa khawatirnya dia Sampai lupa dan ingin kembali menemui dokter , bahkan bukan hanya 30 menit yang lalu saja , semenjak Kaluna sudah masuk ke ruang perawatan Ryan sudah melakukannya beberapa kali sampai dokter itu merasa heran .
" aku hanya akan memastikan kembali ."
Kaluna hanya menggelengkan kepalanya Setalah pintu ruang oerwatanya tertutup .
Dia menunduk mengelus perutnya . Sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu dan itu membuatnya sangat bahagia . Dia masih ingat beberapa bulan yang lalu saat dokter mengatakan jika dirinya hamil, Ada dua rasa yang datang secara bersamaan , rasa sedih dan bahagia keduanya bertemu dengan cara begitu indah , dia akan merasa bersalah jika anak yang akan dia besarkan tidak akan merasakan ke hadiran seorang ayah, tapi dia juga begitu senang karena sekarang akan ada yang menjadi alasanya untuk bahagia .
" Terimah kasih sudah hadir. mama janji meskipun Dia tidak bersama kita , tapi mama yang akan memberikan semua cinta mama untukmu, mama pastikan kamu tidak akan merasa kekurangan ." tangan Kaluna masih berada di perutnya sambil terus mengelusnya dengan penuh kelembutan . Selama masa ke hamilnya dia tidak akan pernah bosan mengajak bayi yang masih di dalam perutnya untuk mengobrol seolah bayi itu sudah ada di hadapannya .
Saat ini Kaluna sudah berada di rumah sakit menunggu waktu dimana dia akan menjadi seorang ibu .
Arah pandangan Kaluna menatap keluar jendela kaca yang tiraninya di buka sempurna. Matahari cukup cerah di luar sana sehingga langit terlihat begitu indah membuat Kaluna ingin menikmatinya Ia kemudian menurunkan kakinya menyentuh lantai bejalan mendekati jendela sambil terus mengelus perutnya .
" Aaauww.."
Kaluna berusaha kembali ke tempat tidur setelah merasa nyeri di bagian tubuhnya .
__ADS_1
" Kamu sudah Mau keluar ya sayang ?"