Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Gio dan Farzana


__ADS_3

Hari ke berangkatkan Liam dan Kaluna .


Setalah mengantar Liam dan juga Kaluna Gio mengendarai mobil miliknya kembali ke perusahan tapi, ingatan Gio kembali saat berada di lampu merah. siapa lagi yang dia ingat jika bukan gadis yang dari awal di panggil anak kecil itu , setelah beberapa kali pertemuan yang tidak di sengaja dan di buat sengaja olehnya . Sepertinya hari ini dia akan kembali melakukan hal yang sama menemui gadis itu, bukan hal sulit bagi Gio untuk menemui Zana karena dia sudah beberapa kali menemui gadis itu , meskipun setiap ia menemuinya Zana selalu memasang wajah tidak menyenangkan di hadapannya , tapi Justru itu yang membuat Gio menjadi bersemangat , menganggap gadis yang menerobos masuk ke dalam kamar hotelnya itu sedikit berbeda .


" Far coba liat ." ujar Vivi . Farzana mengalihkan pandangannya ke arah di mana Vivi menunjuk , setelah kuliah kelasnya selesai Zana akan langsung ke ruko di mana dia bekerja, mungkin untuk beberapa hari ke depan tidak ada agenda pemotretan yang akan dia lakukan , karena pemilik ruko itu sedang menemani suaminya untuk perjalanan bisnisnya, meskipun begitu dia tetap harus hadir di sana menyiapkan beberapa foto hasil jepretan nya untuk di edit dan di serahkan ke Vivi yang bertugas meng-upload di media sosial nantinya . Tapi melihat siapa yang tengah berdiri di sana dengan wajah tersenyum kearahnya . senyum yang mungkin Selalu Zana liat jika laki-laki itu ada di hadapannya dan membuat dirinya jengah . laki-laki yang tidak punya kerjaan pikirnya , yang selalu sibuk menggangu hari-harinya . Entah sudah beberapa kali laki-laki itu menemuinya di kampus , Tapi Zana Selalu menghindarinya . Tapi sepertinya untuk hari ini dia tidak ingin menghindar lagi dia ingin menyelesaikan urusannya dengan laki-laki ini dan berharap cepat pergi dari hidup ya . salah , Zana tidak sadar justru laki-laki itu tidak memiliki niat untuk menjauh karena semenjak mengenalnya, Gio merasa hidupnya yang sebelumnya hanya di sibukkan dengan urusan pekerjaan memiliki kegiatan lain dan itu sangat menyenangkan menurutnya , Ya meskipun sebelum mengenal Zana asisten pribadi Liam itu juga sering menghabiskan akhir pekannya di sebuah klub dan akan berakhir dengan tidur bersama wanita yang sengaja ia bayar untuk menemaninya . Tapi semenjak hidupnya di sibukkan dengan kegiatan barunya itu , aktifitas Gio yang biasa bermain dengan perempuan menjadi teralihkan .


Gio memang memiliki kebiasaan berbeda dengan Liam, jika bosnya itu terlahir menjadi laki-laki baik -baik dan tidak pernah menyentuk wanita , berbeda dengan dirinya yang mungkin terlahir menjadi laki-laki brengsek .


" Baiklah mari kita selesaikan semuanya . berapa yang harus saya bayar karena aku telah menggunakan kamar mandi milikmu dan mengembalikan hp milikku ." Gio tersenyum setelah sekian lama gadis yang ada di hadapannya ini Selakau menghindarinya ketika dia datang tapi kali ini dia sendiri yang menghampirinya . Vivi sahabatnya hanya berdiri di tempat di mana pertama kali dia melihat laki-laki yang selalu mengganggu sahabatnya itu . sebuah pemandangan biasa bagi Vivi karena bukan kali ini saja sabatnya itu di dekati oleh lawan jenis , bahkan saat mereka masih SMA tidak sedikit yang menginginkan sahabatnya itu untuk menjadi pacar , tapi Farzana tidak pernah menanggapinya , menurutnya pacaran hanya membuang waktu nya saja , dia lebih baik menggunakan waktu berharga ya untuk mencari uang agar mengurangi beban. ibunya . Karena Farzana tau biaya kuliah itu tidak murah . Karena alasan itu laki-laki yang semula mendekatinya menjadi menjauh karena tidak pernah di tanggapi olehnya


Tapi ada yang berbeda dengan Gio entah itu karena dia adalah laki-laki dewasa atau apalah , Vivi juga tidak tau , Laki-laki itu tidak menyerah meskipun sahabatnya sudah beberapa kali menghindarinya . Laki-laki itu tetap saja selalu datang seperti hari ini . Vivi yakin laki-laki itu menyukai sahabatnya.


Gio berdiri dengan sempurna karena sebelumya di bersandar di pintu mobilnya sambil melipat tanganya ke dadanya.


" Akhirnya kau datang." ujar Gio dengan sudut bibir terangkat . " Aku orang yang tidak akan kekurangan uang , jadi aku tidak butuh di bayar untuk sesuatu yang sudah aku lakukan."

__ADS_1


" jadi?" Zana seperti sudah mulai jengah berhadapan dengan laki-laki tua di hadapannya ini . Gio mendekat dan berbisik


" Bagaiman kalau kita menikmati makan malam dan .. " Gio menggantung kalimatnya senyumnya terlihat licik." berbagi kenikmatan di tempat tidur ." tangan Farzana langsung mengepal sempurna mendengar kalimat Gio, dia merasa sedang di lecehkan oleh laki-laki di hadapannya ini , Zana langsung mendorong Gio membuat tubuh laki-laki itu terbentur di mobilnya sendiri .


" Gila."


Farzana langsung meninggalkan laki-laki di hadapannya itu . Bukanya kesakitan Gio malah tersenyum mendapat perlakuan itu , dia sebenarnya hanya bercanda karena Gio sangat suka melihat wajah Zana ketika sedang marah . menggemaskan itu yang ada di pikiran laki-laki itu. Farzana terus saja melangkah meninggalkan laki-laki yang ada hadapannya itu tanpa menoleh sedikitpun , berbeda dengan Gio , tatapannya justru memperhatikan kepergian Zana .


" Vi, ayo pergi." bukanya langsung mengikuti langkah sahabatnya Vivi justru penasaran apa yang barusan terjadi antar sabatnya ini dengan laki-laki yang ada di sana yang masih menatap kearah mereka .


Zana tidak berniat menjawab pernyataan Vivi .


" Jangan membahasnya yang jelas sesuatu yang sangat tidak nyaman di telingaku." jawab Zana dengan nada kesal sambil memakai helmnya . lalu menyerahkan helem satu ka Vivi .


" Tunggu . aku akan membuat perhitungan. dengannya . berani sekali dia membuat sahabatmu marah . " Vivi ikut tersulut emosi , meskipun Farzana tidak menjelaskan tentang apa yang di katakan laki-laki yang masih betah berdiri di dekat mobilnya itu , yang pasti itu sesuatu yang sangat mengesalkan .Kali ini Vivi yang mendatangi Gio dengan langkah cepat , Zana yang ingin mencegahnya jadi tidak bisa karena Vivi sudah melesat pergi meninggalkan posisinya berdiri tadi .

__ADS_1


Entah apa yang di lakukan Vivi pada laki -laki itu tapi yang jelas jika yang dapat di lihat Zana , sahabatnya itu tengah berkacak pinggang di hadapan laki-laki itu tiba -tiba Vivi terlihat menendang mobil laki-laki itu. Kemudian berbalik kembali ke arahnya


" Apa yang kau katakan padanya ? "


" Sesuatu yang nanti membuatmu senang ."


" Benarkah ?"


" Tentu saja ." ujar Vivi sambil meraih helm di tangan Zana lalu mengenakannya . Setelah Vivi naik duduk di belakangan Zana meninggalkan parkiran kampus itu dan tidak sedikitpun menoleh ke arah laki-laki menyebalkan yang ada di sana .


"Akting yang bagus ." gumam Gio .


setelah kedua gadis itu sudah menghilang dari pandangannya . Gio juga meninggalkan tempat itu , melajukan mobilnya kembali ke perusahaan , di dalam mobil Gio mengeluarkan sebuah kertas yang di berikan oleh Vivi saat mendorong tubuhnya tadi . Sudut bibirnya terangkat .


" Sepertinya permainan akan semakin menyenangkan."

__ADS_1


__ADS_2