
"Sayang nanti siang aku akan ke panti untuk menjenguk Alyssa, kau mau ikut ?"
Liam memunculkan kepalanya dari dalam kamar mandi, Kaluna yang masih sibuk membersihkan kamar mereka sejenak menghentikan aktifitasnya.
"Saat jam istirahat Kantor, emang kak Liam tidak sedang sibuk?" jawab Kaluna mendekati suaminya.
Sudah satu pekan ini mereka kembali menempati apartemen mereka setalah Liam tidak berhenti merengek pada istrinya. Al-hasil Riana dan Hendra yang tidak bisa berpisah dengan cucunya selalu datang di akhir pekan untuk membawa Elif menginap di rumahnya.
"Tidak, hari ini perkejaan di kantor tidak terlalu banyak, jadi aku akan pulang lebih awal."
"Ya sudah aku ikut."
"kalau begitu aku akan menjemputmu Setalah menjemput Elif."
Liam kemudian kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah membereskan kamar dan menyiapkan keperluan Liam untuk ke kantor, Kaluna mendatangi kamar putrinya untuk membantu Elif bersiap ke sekolah di lanjutkan dengan menyiapkan sarapan untuk kedua orang ke sayangannya.
"Elif tunggu di sini ini ya, mommy mau batu dad dulu untuk siap -siapa." Elif mengangguk setelah duduk di meja makan sudah lengkap dengan seragam sekolahnya.
Kaluna melangkah ke kamarnya dan saat masuk di sana Liam susah selesai mengenakan pakaian dan sementara sibuk mengenakan dasi.
"Kak sini aku bantu."
Kaluna melanjutkan apa yang belum dia selesaikan oleh Liam tadi, saat Kaluna sudah berdiri di depannya kedua tangan Liam melingkar di pinggang Kaluna dan menarik tubuh itu untuk merapat pada tubuhnya, Jika Kaluna sibuk dengan dasi yang sementara berada di tangannya, Liam sibuk memandangi wajah istrinya dan akan selalu berakhir pada bibir terbelah yang begitu ia sukai. Rasanya dia tidak tahan jika melihatnya seperti ini tapi tidak dia nikmati.
Saat Kaluna akan berbalik karena sudah selais mambantu suaminya mengenakan dasi, tangan liam malah menahan pinggangnya untuk tidak bergerak dari tempatnya.
"Ada apa ?"
Kaluna menatap Liam.
"Pagi ini aku belum menikmati ini." Liam menyentuh bibir bawah Kaluna dengan jari jempolnya. Dia kemudian menundukkan kepalnya untuk menikmati bibirnya istrinya yang selalu berhasil menggodanya.
Kaluna tidak menolak, dia menyambut penyatuan bibir itu dan ikut menikmati permainan suaminya, mata kaluna terpejam dan mulutnya dia biarkan terbuka agar Liam bisa menikmati yang ada di dalam sana.
"Kak stop." Kaluna berusaha mendorong tubuh Liam agar terlepas dari dirinya, karena sekarang bukan bibirnya saja yang berhasil laki-laki itu nikmati tapi bibir suaminya sudah berpindah menelusuri lehernya. Dengan sekuat tenaga Kaluna berusaha lepas dari suaminya, karena jika tidak ia tau mereka akan berakhir di tempat tidur sebentar lagi. Bukan tanpa alasan Kaluna berfikir seperti itu, karena kejadian yang di takutkan Kaluna sudah pernah tejadi sebelumnya saat mereka masih tinggal di rumah orang tua Liam. saat kejadian nya sama persis, mereka hanya ber*ciuman tapi suaminya malah membawanya ke tempat tidur dan alhasil laki-laki ini tidak jadi berangkat ke kantor padahal pagi itu dia akan mengadakan rapat yang penting karena sudah tidak memungkinkan Liam akhirnya meminta Gio untuk mewakilinya.
Tangan Liam yang semula berada di pinggang Kaluna kini sudah masuk meraba punggung Kaluna berusaha melepaskan sesuatu di belakang sana. Liam tidak peduli dengan kalimat penolakan dari istrinya yang berusaha melepaskan diri dari himpitan tubuhnya.
Merasa sudah berada dalam situasi berbahaya, Kaluna dengan cepat mencubit pinggang Liam dengan cukup keras, terbukti aktivitas laki-laki ini seketika terhenti .
"Awww." Liam mengeluh kesakitan." kok aku di cubit sih sayang ."
"Kak Liam, tidak sadar, Kakak itu mau berangkat ke kantor dan di luar Elif sudah menunggu."
__ADS_1
Kaluna bicara dengan nada kesal dan wajah yang di tekuk.
Liam tersenyum karena apa yang di khawatirkan kalian memang ingin ia lakukan, Elif pun dia lupakan beberapa saat tadi .
"Maaf, kamu tau sendiri kan aku paling tidak tahan jika sudah dalam posisi seperti ini tapi kita tidak melakukannya ." Liam menatap lekat wajah Kaluna yang masih berada dekat dengan dirinya tangan Liam menghapus jejak yang ia tinggalkan tadi di bibir istrinya."
Liam kemudian menarik tangan Kaluna untuk keluar dari kamar berada dalam kamar dalam waktu yang lama, membuat kepalanya tidak bisa berfikir dengan baik.
"Pagi sayang"
Liam duduk di samping Elif begitupun dengan Kaluna dan secara bersamaan mencium pipi putri mereka.
"Pagi mom, pagi dad." Basal Elif.
"Kak nanti tidak perlu menjemput ku dulu ke apartemen."
"Kenapa ?"
"Nanti biar aku saja yang ke kantor, biar setelah itu kita jemput Elif sama-sama untuk ke sana." ucap Kaluna sambil menyiapkan sarapan untuk putri dan Liam dan meletakkannya pada piring mereka masing-masing
"Ok." jawab Liam sambil tersenyum. Dia seperti sudah merencanakan sesuatu.
"memang kita akan ke mana mommy?"
"Nanti kamu akan tau jika sudah di sana" jawab Liam .
"Terserah kamu saja."
"Terimah kasih ya, kamu tetap menjaga tempat itu selama aku pergi." Kaluna sungguh tidak menyangka saat Liam mengatakan ruko miliknya masih berjalan seperti biasnya. tidak ada yang berubah di sana.
"Karena aku tau suatu saat nanti kamu akan kembali." ucap Liam
***
Tiba di kantor setelah mengantar putrinya, Liam tidak sabar untuk melakukan sesuatu, senyumnya tidak berhenti mengembang sepanjang jalan, membuat para pegawainya juga ikut bahagia melihat bos mereka bahagia, setelah kabar jika bos mereka sudah bersama istrinya lagi, tidak seperti dulu ketika bos mereka datang tidak ada senyum sedikit pun , malah mereka sering sekali mendapat amukan ketika membuat sedikit saja kesalahan.
"Ra, semua jadwal saya mulai jam 11, tolong di majukan." pinta Liam pada sekretariat nya.
" Baik pak."
"Memangnya ada apa?"
Seseorang tiba -tiba muncul dari arah belakang dan itu adalah Gio. Asisten dari Liam itu yang juga sahabatnya ikut masuk ke dalam ruangan Liam mengikuti langkah Liam.
"Semenjak Kaluna kembali senyummu tidak pernah luntur."
__ADS_1
keduanya sudah duduk di sofa ruangan itu.
"Terimah kasih." ucap Liam, karena berkat Sahabatnya ini dia berhasil menemukan istrinya dan membawanya kembali dan yang lebih penting Gio sudah menjaga dengan baik perusahan miliknya selama dia sakit.
"Itu sudah tugas gue sebagi sahabat Lo."
"Lo nikahnya kapan sih Gi, ingat umur." Liam beralih membahas yang lain.
Gio hanya tersenyum, jika mengingat umurnya yang sudah tidak mudah yang akan memasuki kepala empat tapi dia belum juga menikah,Jika di tanya apa dia ingin, tentu saja jawabannya iya, tapi dia tidak bisa memaksa wanita yang dia cintai untuk menerimanya, dia tau Zana sedang sibuk dengan pendidikannya dan setelah ke lulusan wanita itu dia melihat Zana begitu bersemangat untuk bekerja, Gio membiarkan Zana menikmati semua itu, karena Jika sudah sah menjadi istrinya dia ingin wanita itu hanya tinggal di rumah dan mengurus anak-anak mereka nanti. di tambah lagi dia ingin Zana ikut dengannya menetap di negara di mana ibu dan ayah sambung tinggal.
***
Sesuai dengan keinginannya, semua jadwalnya hari ini di majukan sebelum jam 11 siang karena Liam khusus ingin menyambut kedatangan istrinya jadi dia tidak ingin ada yang menggangunya nanti. apalagi beberapa menit yang lalu Kaluna sudah mengabari Jika dia sudah tiba di kantor dan sementara menuju ruangannya.
beharap menit kemudian seseorang mengetuk pintu dan membukanya , di sana Liam melihat Kaluna sementara berdiri dan menutup pintu kembali. Liam sudah meninggalkan kursinya dan berjalan menyabut kedatangan istrinya jasnya sudah dia lepas saat meninggalkan tempat duduknya dan sekarang di sibuk melepas kancing kemeja pada lengan kemejanya. Kaluna yang melihat gelagat aneh suaminya membuatnya langsung kembali mundur.
"Kak Liam mau Ap..." belum juga selain bicara mulutnya sudah di bungkam oleh suaminya, Liam dengan cepat menyatukan bibir mereka dan dengan cepat menyesap bibir istrinya. Kaluna sungguh kewalahan menerima serangan tiba -tiba Suaminya sampai tubuhnya terbentur di tembak.
Liam menuntun kedua tangan Kaluna untuk melingkar Li lehernya dan
Hap
Liam menggendong kaluna membuat kaki jenjang istrinya melingkar di pinggang. tanpa melepaskan menyatukan itu Liam membawa Kaluna masuk ke dalam kamar yang bisa dia gunakan untu istirahat jika di kantor .
Liam membaringkan tubuh Kaluna sambil terus menikmati bibir istrinya tanpa jeda sedikitpun. Saat mulai Merasakan kaluna kesulitan bernafas bibir Liam Turun menelusuri leher istrinya.
"K..ak kita harus men..jemput Elif ." Kaluna berusaha memperingatkan Liam tentang rencananya hari ini sambil jari-jarinya masuk ke sela -sela rambut suaminya.
Liam menyudahi aktifitasnya dan naik mensejajarkan wajahnya dengan Kaluna.
"Elif akan keluar jam satu dan sekarang baru jam 11 lewat itu berarti kita masih punya banyak waktu."
Liam menegakkan tubuhnya dan melepas semua kain yang menutupi tubuhnya dia juga melakukan hal yang sama pada istinya. Kaluna hanya pasrah, dengan semua yang di lakukan suaminya.
"Apa masa Periode mu masih datang ?"
"Sudah satu minggu aku belum mendapatkannya."
Liam tersenyum dengan jawaban istrinya, dia berharap Kaluna akan segera hamil.
"Aaarrrgghhh" Kaluna berteriak kesakitan saat Liam menghentakkan miliknya dengan kasar.
"Kak pelan-pelan aku kesakitan." protes Kaluna sambil memukul dada Liam dengan keras, bukannya merasa bersalah Liam malah tersenyum.
"Maaf sayang aku terlalu bersemangat."
__ADS_1
Dengan pelan Liam mulai menggerakkan miliknya sambil meyaksikan wajah Kaluna yang begitu menikmati setiap gerakan yang dia ciptakan.
"Apa terasa nyaman?" tanya Liam di tengah aktifitas mereka. kaluna hanya mampu menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan kalimat apa pun. bibirnya hanya mampu mengeluarkan suara kepuasan atas perlakuan suaminya pada tubuhnya .