
Gio masih terus mengikuti kemana Zana pergi , meskipun laki-laki itu sudah tau jika orang yang sementara ia ikuti akan kembali ke rumah seperti biasa . Dengan kecepatan sedang Gio mengendarai mobilnya dan berusaha mengambil jarak dari Zana Karena dia tidak ingin gadis itu menyadari kehadirannya , karena Gio tau apa yang akan terjadi , pasti gadis itu akan bertambah kesal dengannya karena dirinya sudah di tolak oleh gadis itu . Tapi saat keduanya melewati jalanan yang cukup sepi tiba -tiba sebuah motor melewati mobil Gio yang di tumpangi oleh dua orang laki-laki dan berusaha menghalangi Zana sehingga mau tidak mau Zana harus mengentikan motornya , tidak berselang lama muncul beberapa motor mengitari motor gadis tersebut Gio hanya diam di dalam mobil dia ingin melihat bagaimana Zana mengahadapi ya karena setahunya gadis itu bukan gadis sembarangan , dia punya ilmu bela diri , jika pun nanti Zana kesulitan dia akan lagsung turun membantunya .
" Minggir ." ucapan Zana tanpa rasa takut sama sekali , tapi kumpulan laki-laki itu hanya tertawa .
" Hai cantik mau kemana em ?" salah seorang dari mereka turun dari motor dan mendekati Zana . Tapi gadis itu tidak menggubris perkataan kaki-laki yang sudah semakin dekat dengannya Bahakan sudah berada di sampingnya .
" Bagaimana kalau kamu, kami antar pulang , jalan ini cukup sepi apa kamu tidak takut ." tangan laki-laki itu mulai ingin menyentuh tangan Zana , Gio yang juga ikut melihat itu di dalam mobilnya sontak matanya melotot dan ingin lagsung keluar tapi urung dia lakukan saat melihat apa yang sedang berlangsung di depannya .
Saat laki-laki itu sudah menyentuh tangannya Zana lagsung bereaksi dengan memutar pergelangan tangga laki-laki itu dan kemudian menendang bokongnya membuat laki-laki itu tersungkur di jalan , sontak hal itu membuat Gio tersenyum .
" God Beby seharusnya aku tidak perlu khawatir , mengingat kau bahkan waktu itu mampu membuatku terjatuh saat berusaha menyerang mu ." Gio kembali memperbaiki posisinya di dalam mobilnya , dia sudah seperti menonton arena tinju . menyaksikan Zana yang kini sudah turun dari kendaraanya menghadapi gerombolan preman yang berjumlah hampir sepuluh orang itu.
" Ternyata kau bisa melawan juga rupanya , baiklah sepertinya ini akan semakin menarik ." ucap yang lain . Bahkan sekarang bukan hanya satu orang yang mulai menyerang Zana , gadis itu Bahkan sudah seperti akan di keroyok .
Zana mulai memposisikan dirinya yang akan diserang secara bersamaan , saat satu laki-laki yang ingin menendang wajahnya , Zana dengan sigap menghindar dan memutar tubuhnya dan lagsung menendang pundak laki-lak itu , kemudian dari arah belakang satu laki-laki lagi menyerangnya , Zana reflek berbalik saat merasakan gerakan seseorang dari arah belakangnya , kedua tanganya menyilang ke atas untuk menahan serangan , ia kemudian melilitkan satu kakinya pada lengan laku -laki itu kemudian kaki nya yang satu naik menendang wajah lawannya . susah di pastikan pasti laki-laki itu mengalami kesakitan yang sungguh luar biasa . Bahkan Gio yang menjadi penonton meringis saat melihat aksi terkahir Zana menendang wajah salah satu preman itu .
Ekspresi Gio seketika berubah, saat melihat Salah satu dari preman itu mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya, sontak Gio langsung keluar dari dalam mobilnya , dia tidak mungkin menjadi penonton lagi sekarang karena dia tidak mungkin membiarkan sedikitpun luka di tubuh gadis yang di sukai nya . Saat mendapat serang dari laki-laki yang menggunakan sebuah pisau Zana masih bisa menghindar . Tapi perhatian semua orang seketika teralihkan dan mengentikan aksi tersebut saat mendengar suara seseorang yang tiba-tiba muncul hal itu membuat Zana mengarahkan pandangannya ke sumber suara .
__ADS_1
" Sepertinya kau butuh bantuannya , sayang " Gio menekan kata terakhirnya sambil tersenyum dengan arah pandanganya tentu saja ke arah Zana dan jangan lupa Gio mengedipkan matanya ke arah gadis itu . Zana hanya menatap dengan pandangan malas, bisa -bisanya laki&laki itu bertingkah seperti itu . tapi sebenarnya dia cukup terkejut ketika melihat kehadiran laki-laki yang sudah di tolaknya itu dan satu lagi dia cukup senang tapi Zana tidak akan memperlihatkannya , dia kembali fokus pada lawannya .
" Eh kau siapa ?" tanya preman dengan tatapan membunuh .
" Apa kau tidak mendengar . kalau aku tadi menggilanya dengan sebutan sayang . itu artinya aku ini pacarnya bodoh ." ucap Gio dan lagsung menyerang preman preman tersebut begitupun dengan Zana . Sepertinya hanya situasi seperti ini Zana dan Gio terlihat kompak, sama -sama bersiap melumpuhkan para preman itu .
Pertarungan menjadi sangat tidak seimbang karena selain mereka harus mengahadapi preman yang jumlahnya tidak sedikit ternyata mereka semua menggunakan senjata tajam .
" awww..issstt " Gio meringis saat preman itu berhasil merobek kemeja Gio dan tebus mengenai pundaknya saat dia tidak menyadari serangan dari arah belakang bersamaan dengan serangan dari depan dan samping . hal itu sontak membuat Zana berlari kerahnya
" Kamu tidak apa-apa? ." tanya Zana panik saat melihat kemeja berwarna putih itu terdapat darah di sana , tapi gio tidak menjawab , tatapannya kembali fokus ke arah preman yang akan menyerang Zana dari arah belakang sontak hal itu membuat Gio langsung mengangkat Zana dan seperti sudah paham Zana lagsung mengarahkan tendangnya dan membuat preman itu terpental .
Setelah memastikan mobil polisi pergi. Gio kemudian menatap karena Zana gadis itu itu juga balas menatap dirinya . Namun sesaat kemudian. Zana memutar tubuh Gio untuk melihat luka di pundak laki-paki itu .
" Sepertinya kita harus ke rumah sakit , lukamu cukup parah ." Gio tersenyum kalimat Zana yang terdengar khawatir tentang dirinya. Tubuh itu berbalik menatap kembali wajah yang sementara menghawatirkan nya .
" Tidak perlu , ini hanya luka kecil. "
__ADS_1
" Tapi .."
" Aku hanya perlu bantuan , bisakah kamu membersihkan lukaku?" Zana belum menyelesaikan kalimatnya , Gio lagsung memotong pembicaraannya .Zana hanya mengangguk
Zana mengikuti Gio masuk kedalam mobil laki-laki itu , duduk di bagian penumpang . Zana mulai membersihkan luka itu setelah Gio memberikannya Kotak yang berisi obat-obatan yang memang Selalu Gio sediakan di mobil miliknya . Laki-laki itu kemudian membuka kemejanya dan membelakangi Zana .
Gadis itu kemudian membersihkan luka sayatan pisau di pundaknya , lukanya Memang tidak terlalu parah , tapi luka itu cukup membuat Gio meringis saat Zana mulai membersihkannya .
" Apa kamu bisa pulang sendiri." ucapan Zana setelah selesai mengobati luka Gio . Ia khawatir jika laki-laki ini kesulitan mengendarai mobilnya , mengingat luka di bahunya .
" Seharusnya itu kalimatku " balas Gio berbalik menatap ke arah Zana . " Aku akan mengantarmu pulang ."
" Tidak perlu ." jawab Zana cepat . Ia merasa bukan dirinya yang harus di antar pulang , tapi kaki-laki yang berada di hadapannya . tapi percuma Zana menolak karena Gio bersikeras mengantarnya . membuat Zana mengalah dia tidak ingin berdebat panjang di tengah jalan apa lagi malam semakin larut . untuk itu dia terpaksa mengikutinya keinginan laki-laki ini .
Setelah memastikan Zana aman sampai ke rumahnya Gio akhirnya kembali ke apartemen miliknya , lukanya memang tidak terlalu mengganggunya saat mengendari mobilnya . jadi dia menolak tadi saat Zana menawarkan untuk gadis itu yang membawa mobilnya .
Saat sudah tiba . Gio langsung mengganti pakaiannya dan memilih tidak menggunakan apa -apa di bagian tas tubuhnya dan hanya menggunakan celana pendek di bagian bawahnya , di lagsung merebahkan tubuhnya dalam ke adaan tengkurap .
__ADS_1
Besok pagi akan ada kejutan manis untuk laki-laki ini .