Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Tidak ada alasan untuk tinggal


__ADS_3

" Halo . kak ."


" Kaluna , kamu menangis ?" tanya orang di seberang sana


" Kak , ayah masuk rumah sakit ."


" Apa ? kamu di mana sekarang." tanya kembali orang di sebarang sana nada suaranya sudah terdengar panik


" Aku menuju rumah sakit Xxx"


" Ya sudah aku ke sana sekarang ."


Kaluna menutup teleponnya , dalam keadaan panik begini dia hanya mengingat satu nama, Ryan untuk itu Kaluna lagsung menghubungi laki-laki itu. Setelah memarkir mobilnya Kaluna bergegas keluar sambil berlari masuk ke rumah sakit mencari keberadaan asisten rumah tangganya . Dari jauh Kaluna bisa melihat bibi Tia dan supir pribadi ayahnya tengah berdiri di UGD


" Bi ."


" Nona Kaluna ."


" ayah bagaimana ."


" Masih di perkasa sama dokter ."


" Ayah kenapa bisa jatuh ." tanya Kaluna


" Bibi juga tidak tau non , soalnya saat bibi bangun , bibi sudah melihat taun susah tergeletak di dekat tangga ." bibi Tia menjelaskan panjang lebar dengan wajah di penuhi rasa khawatir . Tidak berselang lama Ryan sudah datang hampir bersamaan dengan kedatangan mertuanya , Riana dan Hendra keduanya mendapat kabar dari bibi Tia , memang sejak dulu pasangan suami istri itu Selalu meminta asisten rumah tangga sahabatnya untuk memberitahu ya apapun yang terjadi di rumah itu setelah kepergian Naya , untuk itu Riana dan Hendra tau betul bagaimana hubungan Faisal dan Kaluna saat awal kepergian Naya , yang membuat keduanya marah dengan sahabatnya.


" Sayang, bagaimana ke adaan ayah mu ?" tanya Riana langsung saat sudah di dekat menantunya .


" Belum tau ma."


Kemudian padangan Riana menatap ke sekeliling Ia mencari keberadaan putranya , tapi tidak ia temukan .


" Liam mana? "


Kaluna hanya diam membuat Riana bingung begitu pun suaminya . Riana kembali bertanya kepada menantunya .


" Sayang , kamu kesini bersama Liam kan ."


Kaluna menggeleng


" Terus kalau tidak menemanimu dia kemana?"


ceklek


Pintu ruangan terbuka membaut semua orang menoleh . Kaluna langsung menghampiri dokter .


" Bagaimana ayah saya dok ." tanya Kaluna di sampingnya ada Ryan .


" Ayah ibu mengalami benturan di kepalanya yang cukup keras sehingga terjadi pendarahan di bagian otaknya dan hal itu tidak bisa kami hentikan , karena pasien terlambat di bawah ke rumah sakit ."


" Jadi maksud dokter." kaki Kaluna sudah terasa lemas

__ADS_1


" Kami tidak bisa menyelamatkan ayah anda nona ."


Kaluna hampir terjatuh jika saja Ryan tidak cepat menangkap tubuhnya . Kaluna menangis , sesuatu yang di takutkan olehnya akhirnya terjadi.


Sedangkan itu Liam yang juga baru tiba di rumah sakit setelah menempuh hampir 2 jam perjalanan, tapi rumah sakit yang berbeda , beberapa saat yang Elma menelponnya , Perempuan itu memintanya untuk menemaninya ke rumah sakit karena ibu Anna tiba-tiba harus dilarikan ke rumah sakit . Dia tidak mungkin berangkat sendiri saat sudah tengah malam .


Elma masuk berjalan di lorong rumah sakit di temani Liam di samping .


Saat masuk ke ruang perawatan di sana sudah ada beberapa orang . " Dek kok bisa ibu masuk ke rumah sakit " tanya Elma pada kiyya." ibu Anna yang saat ini tengah tertidur belum mengetahui ke datangan Elma . perempuan yang sementara hamil itu duduk di sofa ruang perawatan .


" Kata dokter ibu hanya kelelahan kak." Elma bernafas lega karena tidak ada yang serius di alami ibu Anna mungkin faktor usia yang menjadikan wanita itu drop .


***


Sebuah rumah yang cukup mewah, sudah berdatangan orang yang datang melayat . sejak tadi pagi hingga siang ini , Kaluna tidak henti -hentinya menangis di dekat jenazah ayahnya , dia benar akan hidup sendiri di dunia ini sekarang sedangkan itu Riana yang duduk di dekat Kaluna berusaha menahan menantunya , dia bingung sekarang karena sedari semalam saat dia bertanya keberadaan Putranya Kaluna tidak menjawab oleh sebab itu Riana meminta suaminya mengubungi Liam , tapi Sampai sekarang Liam tidak mengangkat bahkan nomornya susah tidak aktif lagi .


Laki-laki paruh baya itu sudah sangat marah sejak semalam , bisa-bisanya Liam menghilang di saat seperti ini.


Riana yakin jika rumah tangga anak dan menantunya tidak baik-baik saja .


" Pa bagaimana , apa nomor Liam sudah bisa di hubungi ? ditanya Riana yang menatap ke arah suaminya .


" Belum."


" Anak itu kemana sih sebenarnya?." tanya Rina lagi ia sambil memperhatikan menantunya yang tidak berhenti menangis sejak semalam bahkan menantunya itu menolak untuk makan .


" Papa coba hubungi Gio mungkin saja anak itu tau ."


" Kenapa bisa lupa dengan anak itu, ." Hendra lagsung mencari kontak asisten putranya, mungkin saja asisten sekaligus sahabat putranya tau keberadaan Liam . saat akan melukai panggilan sosok itu muncul .


Gio yang baru datang untuk melayat setelah mendapat kabar dari Zana karena semua yang bekerja di ruko Kaluna juga sudah datang .


Hendra langsung menghampiri Gio.


" Gio , om mau bicara ." Hendar mengajak Gio menjauh dari para pelayat , Gio langsung mengikuti papa sahabatnya itu , Gio merasa sesuatu yang salah sedang terjadi.


" Apa kamu tau Liam Kemana?" pertanyaan Hendra juga ingin ditanyakan oleh laki-laki di depannya karena seharusnya Liam yang memberitahunya tentang kesehatan mertuanya bukan dari orang lain .


" Apa Kaluna tidak tau om ? " tanya Gio tapi sepertinya dia sudah bisa menebak ke mana sahabatnya itu .


" Dari semalam om dan tante tanya Kaluna tapi dia hanya diam bahkan dia tidak sekali pun mencoba menghubungi Liam . Om berfikir ada masalah dengan mereka berdua.


" Apa om susah mencoba menghubunginya ?" tanya Gio lagi .


"Sudah dari semalam , awalnya nomornya masih aktif tapi Liam tidak mengangkat , setelah tadi om coba lagi susah tidak aktif ."


" Kalau begitu biar Gio yang cari Liam om ."


" Terimah kasih yang nak ."


Gio kemudian meninggalkan rumah kediaman orang tua Kaluna , dia berfikir Liam sepertinya tidak sadar jika memang Kaluna sudah mengetahui semuanya dan sekarang mungkin saja Liam sedang bersama Elma . Saat di luar rumah menuju mobilnya Gio menelpon seseorang .

__ADS_1


" Cari informasi keberadaan Liam , aku tunggu kabarnya secepat mungkin . "


Setelah menghubungi orang itu Gio langsung menyalakan mobilnya. di perjalanan Gio kembali mendapat telpon .


" Bagaimana kamu sudah menemukannya ."


" Iya tuan , saya akan mengirimkan alamatnya langsung pada anda."


Tin


Sebuah pesan masuk ke hp Gio Ia kemudian mengarahkan perjalanan menuju alamat yang di kirimkan oleh orang suruhannya .


Liam yang sementara ini berada di rumah sakit , sedang mengurus administrasi kepulangan ibu Anna , karena sudah di perbolehkan pulang .


" Terimah kasih ya nak Liam , sudah bantu ibu ." ucap Bu Anna saat Liam sudah kembali ke ruangannya . Elma sudah selesai mengemasi barang-barang untuk perpisahan pulang .


" Iya Bu sama -sama ." ucapan Liam .


" Ya sudah kita pulang sekarang ." ucap Elma .


Ketiganya melangkah keluar dari rumah sakit , saat sudah di dalam mobil , Liam mengambil hp miliknya yang di simpan dalam dasbor mobilnya, sejak tiba di rumah sakit Liam memang menyimpan hpnya di sana dan ketika dia mengeceknya sekarang ternyata hp sudah ke habisan baterai.


Liam kemudian menyalakan mobil menuju kediaman Bu Anna dan setalah itu dia akan kembali, menyelesaikan masalahnya dengan Kaluna , berharap semuanya akan kembali seperti biasa . Saat tiba di rumah Bu Anna Liam ingin langsung pamit pulang apalagi Elma ingin tinggal dulu beberapa hari di rumah ini , Liam baru akan bicara tapi sebuah mobil tiba -tiba masuk di pekarangan rumah itu , membuatnya dan yang lain menoleh . kening Liam mengerut karena dia mengenali mobil itu , itu adakah mobil milik Gio.


Liam menghampiri Gio yang sudah turun dari mobilnya , dia cukup kaget karena Gio tau keberadaanya .


" Ada apa ?"


Gio menarik nafasnya kasar sebelum bicara yang sempat Menato Elma yang berdiri di terasa dan perutnya sudah membesar .


" Li ,om Faisal meninggal tadi malam ."


" Kau bilang apa ?" Liam tersentak kaget. Wajah sedih Kaluna lagsung menutup di benaknya .


" Dan sepertinya Kaluna sudah tau tentang Elma ."


Kalimat Gio berhasil membuat tubuh Liam kehilangan keseimbangan , jika tidak ada mobil miliknya yang tepat di belakangnya mungkin dia sudah terjatuh. Tanpa berfikir


Liam langsung masuk kembali ke mobilnya meninggalkan Gio dan tanpa pamit ke pada Elma .


***


" Kamu yakin akan pergi ? " tanya Ryan kepada Kaluna yang berdiri di depan jendela , setelah pemakan ayahnya , Ryan membawa Kaluna ke rumahnya . Dia tidak mungkin meninggalkan Kaluna sendiri dengan begitu banyak ke kesedihan di hatinya.


" Aku tidak punya alasan untuk tinggal."


" Apa kamu tidak menunggunya, mungkin kamu bisa mendengarkan penjelasnya dulu."


" Aku hanya percaya apa yang aku lihat ." jawab Kaluna dengan tatapan ke arah luar sana tanpa menoleh di mana Ryan berada , laki-laki itu berdiri tepat di belakangan .


Ryan masih berusaha menahan Kaluna , meskipun Kaluna sudah menceritakan semuanya, Ryan masih ragu dengan semuanya , dia bisa melihat bagaimana Liam begitu mencintai Kaluna.

__ADS_1


" Baiklah." Ryan berbalik . meninggalkan Kaluna . Ia kemudian meraih hp miliknya dan menghubungi seseorang .


" Siapkan semuanya , hari ini juga aku akan berangkat ." Perintah Ryan pada orang yang di ajaknya bicara tersebut dia mengucapakan sambil berjalan meninggalkan Kaluna yang masih berdiri di depan jendela .


__ADS_2