Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Masih Betah tertidur


__ADS_3

" Elif ."


" Mommy." Elif berlari mendekati mommy nya saat melihat Kaluna tengah berdiri dekat gerbang sekolahnya .


Kaluna yang datang menjemput Elif langsung merentangkan tangannya menyambut putrinya masuk kedalam pelukannya ,tidak lupa Ia memberikan ciuman di kedua sisi pipi Elif. Keduanya berjalan bergandengan tangan .


" Jadi anak mommy belajar apa hari ini ?" tanya Kaluna saat keduanya sudah berada di dalam mobil dengan Elif duduk di sampingnya .


" Ada banyak, Kami di minta menuliskan cita -cita kemudian menceritakannya di depan teman ." Elif begitu antusias menceritakan aktifitasnya pada sang mommy.


" Benarkah ."


" Em ."


"Jadi Putri mommy ingin jadi apa?"


" Seperti uncle Ryan, punya banyak uang karena Elif bisa membeli apa saja yang Elif mau ."


Kaluna tertawa mendengar keinginan putrinya .


Ryan, mungkin hanya sosok itu yang Elif kenal sebagai laki-laki yang begitu dekat dengannya, yang selalu ada untuknya dan sang mommy hingga Elif begitu mengidolakannya laki-laki itu, apakah Elif tidak pernah bertanya tentang sosok seorang ayah ? tentu saja pernah , saat Elif mulai masuk usia sekolah dia mulai melihat ada perbedaan dirinya dengan teman-temannya, dia bisa melihat temanya terkadang di jemput oleh laki-laki yang mereka panggil Daddy. Hal itu membuat Elif bertanya, kenapa hanya dia yang tidak memiliki Daddy .


" Elif punya Daddy."


" Terus Daddy di mana ? kenapa tidak tinggal bersama kita ."


" Ada yang lebih membutuhkan Daddy dari pada kita , jadi Daddy tidak bisa bersama Elif dan mommy


Jawaban yang di berikan oleh sang mommy membuat Elif tidak pernah lagi bertanya apalagi ada uncle Ryan nya yang mengganti posisi itu .

__ADS_1


Tiba di mansion , Elif langsung turun dari mobil dengan begitu semangat , karena dia melihat Ryan sementara duduk di teras .


" Uncle ." Elif berlari membuat Kaluna hanya menggeleng kan kepala melihat putrinya begitu bersemangat saat Ryan datang .


" Hai baby girl , apa kabar ? Ryan langsung mengangkat tubuh Elif dan menggendongnya .


" Baik uncle, apa hari ini kita akan melakukannya ."


" Tentu saja , untuk itu uncle langsung ke sini ."


Mendengar jawaban Ryan Elif langsung bersorak senang sambil mengalunkan tanganya di leher Ryan . Kaluna yang sudah berdiri di samping keduanya di buat penasaran tentang apa yang akan di lakukan oleh putrinya sehingga Ryan khusus datang ke sini , padahal dia tau jika laki-laki ini baru tiba dari perjalanan bisnisnya.


" Memangnya kak Ryan akan melakukan apa dengan Elif ?"


" Mengajarinya bersepeda. Ayo baby girl."


Elif mengangguk , keduanya kemudian melangkah menuju taman di bagian samping mansion . Dari dalam mansion Kaluna bisa melihat bagaimana Elif begitu bahagia dengan tawanya begitu lepas. Hal itu membuatnya semakin yakin , jika Elif bisa bahagia hanya dengan dirinya .


Lima tahun , selama itu Liam masih betah dalam tidur panjangnya, tidak ada tanda -tanda dia akan terbangun , berbagai cara sudah di lakukan oleh Riana dan Hendra , dengan membawa Liam berobat bahkan sampai ke luar negeri ke rumah sakit yang mereka tau pernah menangani kasus seperti yang di alami putranya , tapi hasilnya tetap sama Liam masih tidak ingin bangun. Bahkan dokter sudah pernah mengatakan jika Liam bertahan selama ini hanya karena bantuan alat medis yang selalu di pasangkan di tubuhnya dan dokter juga sudah mengatakan untuk Riana dan Hendar mengikhlaskan Liam, karena susah bertahun -tahun kesehatannya tidak ada perkembangan sama sekali .


Tapi kedua orang tua itu tidak mau dan masih yakin jika suatu saat Liam pasti akan sadar dan kembali seperti sebelumnya .


Selama Liam tahun ini Riana selalu setia menunggu putranya bangun dia akan datang menemani Liam, membersihkan tubuhnya dan tanpa lupa mengajaknya bicara dan akan selalu terlihat bahagia di depan tubuh putranya , tapi jika Ia keluar dari ruangan itu air matanya akan keluar tanpa mampu ia kendalikan.


***


" Apa tidak ada perkembangan dengan pak Liam ?"


Tanya Zana pada Gio, saat ini keduanya sedang berada di dalam mobil , semenjak malam di mana Zana mengundang Gio untuk makan malam , hubungan mereka sudah berubah dan menjadi dekat . Liam menyandarkan kepalanya pada kursi mobil di belakangnya. lalu menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Zana.

__ADS_1


" Bahkan dokter sudah menyarankan agar om Hendra untuk melepas semua alat yang membatu Liam tetap bernafas sampai sekarang."


Zana bisa melihat wajah sedih laki-laki yang ada di sampingnya, menunggu selama lima tahun bukan waktu yang sebentar dan segala cara sudah di usahakan tapi tidak ada hasilnya sampai sekarang , Zana tau bagaiman perasaan Gio , dia harus mengganti peran sahabatnya bukan hanya mengurus hotel tapi juga menemui Alyssa dan juga terus mencari keberadaan Kaluna .


Meskipun bosnya keberadaanya tidak ada yang tahu ruko itu masih berjalan seperti biasanya , hanya saja yang mengisi posisi Kaluna adakah Vivi , karena sahabatnya itu yang selama ini menjadi asistennya, sehingga kemampuan Vivi dalam merias orang susah tidak di ragukan lagi meskipun belum sampai pada level seperti Kaluna . Semua itu atas permintaan dari Liam , dia yang meminta ruko itu tetap ada, karena dia yakin istrinya suatu saat akan kembali dan ruko ini merupakan mimpi istrinya untuk itu dia meminta agar ruko ini tetap berjalan .


" Apa aku terlihat begitu menyedihkan , sehingga wajahmu harus seperti itu melihatku." Zana menggeleng dan langsung tersenyum . Dia tidak mau Gio semakin larut dalam rasa sedihnya .


Gio meraih tangan Zana . " Terima kasih sudah di dekatku selama ini ."


Zana memiringkan tubuhnya ke arah laki-laki yang tengah menatapnya , Memang selama ini dia sudah membantu Gio mengganti posisi Liam sahabatnya baik itu mengurus hotel , menemani Gio mengunjungi Alyssa dan mencari Kaluna . Jadi Zana tau persis bagaimana Gio hidup selama Liam tahun ini.


" Aku akan mengantarmu ke bandara besok ." Gio mengalihkan pembahasannya , dia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan perempuan yang memiliki tempat khusus di hatinya .


" Tidak perlu aku bisa sendiri , aku tau kamu pasti sangat sibuk ." Zana berusaha menolak karena dia tidak ingin mengganggu Gio mengurus pekerjaannya.


" Tapi aku memaksa dan tidak ingin di bantah ." setelah mengatakan itu Gio menyalakan kendaraannya mengantar Zana kembali , Karena beberapa jam kalau dia sengaja menjemput Zana , bukan ke suatu tempat , tapi dia hanya ingin di temani dan di dengarkan duduk bersama di dalam mobil .


Zana hanya tersenyum mendengarkan kalimat Gio dengan nada memerintah dan tak ingin di bantah , dia sudah menduga sebelumnya jika Gio akan mengatakan hal tersebut karena selama ini dia tau persis sifat laki-laki ini , yaitu Pemaksaan . buktinya meskipun dia sudah menolak Gio berkali kali dan meminta ya untuk menjauhinya tapi tetap saja tidak di pedulikan olehnya hingga ia yang menyerah sendiri . dan dari sini dia bisa mengenal Gio dari sis lain , Gio memiliki sifat yang begitu peduli dengan orang di sekitarnya .


Di perjalan tangan Gio tidak pernah lepas menggenggam tangan Zana dan sesekali akan melirik ke arah Zana , hingga perempuan itu tiba di rumahnya .


" Terima kasih ."


" Seharusnya aku yang mengucapkan itu karena kamu sudah mau menemaniku."


" Kalau begitu aku masuk ."


Zana ke luar dan menunggu gio meninggalkan rumahnya , baru dia melangkah masuk ke dalam .

__ADS_1


...Visual Elif Eilaria Darel...



__ADS_2