Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Bertemu


__ADS_3

Menanti hari ulang tahun putrinya , Liam sudah menyiapkan hadiah untuk putrinya . dia jadi tidak sabar menanti hari dimana Ia akan memberikan hadiah itu pada Elif . sebelum itu ia lakukan hari ini ia akan berkunjung ke suatu tempat .


" Apa kau sudah mengatur semuanya ?" tanya Liam pada orang suruhannya .


" Tentu saja tuan, semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginan anda ."


Setelah mendengarkan penjelasan anak buahnya , Liam keluar dari kediamannya menuju ke suatu tempat, sebuah langkah awal untuk hadiah istimewa yang akan di berikan untuk putrinya Elif .


Setelah sampai ketempat yang di tujuannya Liam masuk kesebuah ruangan yang di dalamnya sudah ada beberapa orang di sana , dia memilih duduk di antar orang-orang yang lebih dulu datang .


Terlihat tidak sabar Daddy dari Elif itu tidak melepaskan tatapannya ke arah pintu yang ia tempati masuk tadi , menunggu seseorang yang akan muncul di sana .


Sudut bibirnya terangkat saat menyaksikan orang yang ia tunggu sudah datang.


" Selamat pagi semuanya ."


Orang yang masuk tersebut menyapa orang yang ada di salam ruangan itu . Dia adalah Kaluna dan saat ini dia berada di dalam ruangan kelas make up miliknya , seperti biasa dia akan memulai mengajarkan tentang make up untuk murid-muridnya .


Padangan Liam tidak lepas dari wajah cantik istrinya , karena Kaluna belum menyadari kehadirannya , ini semua adalah rencananya hari ini , masuk mengikuti kelas yang di bawakan oleh Kaluna dan bertindak sebagai salah satu muridnya


setelah meletakan barang-baranya di atas meja dan menyapa para muridnya , Kaluna mengarahkan pandangannya ke depan dan saat matanya menatap sosok yang tidak asing baginya membuat matanya kajian membulat sempurna .Tatapan mereka bertemu, Liam menatap wajah Kaluna dengan tatapan penuh kerinduan sedangkan Kaluna menatap Liam dengan ekspresi kaget , karena kemunculan orang yang sudah lima tahun terkahir sudah ia lupakan . lama keduanya saling menatap sampai kaluna membuang pandangannya dan memilih memulai kelasnya , jika bisa dia ingin pergi dari tempat ini tapi itu tidak mungkin ia lakukan , meninggalkan muridnya yang sudah menunggunya .


Dengan tidak mempedulikan kehadiran Liam., Kaluna memulai materinya tentang make up hingga Ia meminta salah satu muridnya menjadi model untuk memasuki materi praktek . Tapi saat Kaluna bertanya siapa yang ingin maju kedepan tidak ada yang angkat tangan , membuat Kaluna bingung ,tidak bisanya muridnya bersikap seperti ini , jika dia meminta salah satunya pasti mereka akan berlomba untuk maju ke depan. Tapi yang terjadi sekarang tidak ada satu pun yang mau kecuali satu orang yang tidak masuk dalam hitungannya , yaitu laki-laki yang baru saja bergabung di kelasnya . Kaluna pura -pura tidak melihat , dia kembali menanyakan siapa yang ingin maju ke depan tapi hasilnya tetap sama , tidak ada yang angkat tangan .


Sampai Kaluna menunjuk salah satu muridnya .

__ADS_1


" Maaf Bu bukankah ada yang bersedia."


yang di tunjuk berbalik kebelakang karena Liam menawarkan diri tadi tapi tidak di hiraukan , dalam ruang kelas ini memang bukan hanya perempuan saja yang ada , tapi juga ada beberapa laki-laki jadi keberadaan Liam untuk belajar merias wajah terlihat biasa saja .


Kaluna membuang nafasnya pelan , Bahkan murinya yang dia tunjuk pun sepetinya tidak mau . tatapannya kembali ke arah laki-laki itu dan laki-laki yang di tatap hanya mengulas senyum .


Tanpa di minta Liam berdiri dari posisi duduk melangkah dan berpindah pada kursi yang ada di depan , dia sudah terlihat sangat siap untuk menjadi contoh bagi murid yang sementara di ajar oleh istrinya .


Tidak ada pilihan lain, sebagai bentuk profesional nya Kaluna akhirnya pasrah. Jika ada yang bertanya , kenapa kali ini murid Kaluna kompak tidak ada yang angkat tangan , itu semua adalah perintah dari Liam yang di kerjakan oleh orang kepercayaannya . Dia membayar semua murid Kaluna yang ada di ruangan ini untuk ngikuti perintahnya , mereka mengiyakan Karena menurutnya permintaan itu tidak sulit apa lagi mereka di Bayar hanya untuk itu.


" Apa kabar ?"


Tidak peduli dengan pertanyaan laki-laki yang ada di depannya Kaluna tetap fokus memberi penjelasan, setelah penjelasannya selesai dia mulai mempraktikkan apa baru dia jelaskan pada muridnya.


Ini yang tidak di inginkan Kaluna , dia harus sedekat ini dengan Liam dan itu sungguh membuatnya tidak nyaman .


" Aku merindukanmu ." Liam kembali bersuara tapi tetap saja Kaluna tidak peduli , Ia tetap fokus dengan apa yang ia lakukan dan berharap waktu cepat berlalu .


" Apa kamu ingat kita sudah melakukan ini beberapa kali." kalimat Liam di tujukan pada kenangan saat Kaluna merias wajahnya saat di tertidur dan pertama kali Kaluna lakukan saat usianya masih lima tahun dan yang terkahir saat hubungan mereka masih begitu hangat.


Sepanjang apapun Liam bicara , mengingatkan Kaluna tentang kenangan kenangan manis manis mereka, tetap saja Kaluna tidak peduli , Bahakan ekspresi wajah terlihat datar .


Meskipun tidak di pedulikan sama sekali , Liam tetap bahagia bisa kembali sedekat ini dengan istrinya, bahkan jarak antara wajah istrinya dengan wajahnya sangat dekat hanya beberapa senti saja . Tatapan Daddy dari Elif itu beralih pada bibir terbelah milik Kaluna , salah satu yang dirindukan dari istrinya , yang selalu dia nikmati ketika akan berangkat ke kantor .


Kaluna yang menyadari arah tatapan Liam langsung menjauhkan wajahnya , dia begitu terganggu . Dengan cepat Kaluna memberi penjelasan dan segara mengakhiri kelasnya hari ini . Tidak langsung keluar , Kaluna menunggu semua yang ada di ruangan itu terutama laki-laki yang tidak berhenti menatapnya dari tadi. Bebagai pertanyaan sebenarnya sudah muncul di benak Kaluna, apa yang di lakukan laki-laki itu disini. bahkan ini Sudah lima tahun berlalu.

__ADS_1


Kaluna melangkah keluar setelah ruangan itu sudah kosong , Liam juga sudah pergi . dia bisa bernafas lega , dengan tenaga Kaluna melangkah keluar meninggalkan gedung itu , sudah saatnya dia menjemput putrinya .


Saat masuk ke dalam mobil tiba -tiba seseorang juga membuka pintu mobil di sisi yang lain dan duduk di sampingnya .


Kaluna melirik orang yang tengah duduk di sampingnya .


" Keluar ." ucap Kaluna


" Kita perlu bicara ."


Karena ucapannya tidak di hiraukan Kaluna memilih dia yang keluar dari mobilnya sendiri , Liam yang melihat itu langsung menarik tangan Kaluna dan memeluknya erat . Kaluna kaget dengan apa yang tiba -tiba di lakukan Liam padanya , dengan sekuat tenaga Ia mencoba lepas dari kaki-laki ini.


" Lepas ."


Tapi Liam tidak peduli dia semakin mengeratkan pelukannya.


" Aku minta maaf. maafkan aku ."


Kaluna diam, dadanya kembali sesak , sakit yang pernah dulu ia rasakan saat melihat Liam bersama perempuan lain kembali dia ingat . Tubuhnya bergetar, dia menangis , Liam bisa merasakannya, bahkan air mata Kaluna sudah membasahi bahunya .


Liam juga ikut menangis karena rasa bersalah di hatinya, Liam dengan pelan melepaskan pelukannya menghapus air mata Kaluna .


" Izinkan aku mejelaskan semuanya ."


ke dua tangan Liam berada di wajah Kaluna , di terus menghapus air mata yang tidak berhenti keluar membasahi pipi istinya. kemudian Liam mendekatkan bibinya di ingin mengecup mata itu , tapi Kaluna lagsung memalingkan wajahnya .

__ADS_1


" Tidak ada yang perlu di jelaskan , jadi saya mohon anda keluar dari mobil saya ."


Kaluna menatap keluar jendela dia tidak ingin menatap laki-laki yang ada di sampingnya . Liam yang melihat itu tidak punya pilihan lain , mungkin belum waktunya dia bicara apa lagi Kaluna baru pertama melihatnya . Liam kemudian keluar dia jaga tidak ingin menahan Kaluna lebih lama karena pasti putrinya akan menunggu di sana .


__ADS_2