
Sesuai apa yang diinginkan Gio, jika pernikahannya akan di adakan Minggu depan dan itu benar, hari ini dia berdiri di hadapan para tamu setelah mengucapakan janji Sika wanita yang tengah berdiri di samping ini akan selalu di jaga dan tentu saja akan membahagiakannya, di bawah sana ibu Zana dan jangan juga mama Gio tengah berdiri berdampingan menyaksikan ke dua anak mereka di pelaminan. mama Gio merangkul bahu ibu Zana.
"Terimah kasih ya Bu sudah memberikan putri yang cantik itu untuk putraku."
"Iya Bu aku harap mereka akan hidup bahagia setelah ini."
melihat Suasana pesta itu sangat meriah Karan di adakan langsung di hotel milik Liam yang merupakan hotel bintang Enam yang tentu saja pelayannya sudah tidak di takutkan lagi.
'Selamat yang Far, aku bahagia melihat kalian susah menikah." Vivi tidak mampu menahan air matanya karena rasa bahagia menyaksikan sahabatnya menikah selain Vivi juga ada Sarah dan putranya Gyan yang juga memberikan selamat. dan yang terkahir naik ke atas adalah pasangan Liam dan juga Kaluna, Liam yang tidak pernah melepaskan sang istri dari genggamannya itu menuntun Kaluna naik ke atas panggung dengan begitu hati-hati takut jika sesuatu terjadi pada calon anaknya.
"Selamat ya far ." Kaluna memeluk Farzana yang sudah dia anggap seperti adiknya
"Iya kak terimah kasih."
"Selamat ya bro, akhirnya lu nikah juga." Liam memeluk Gio.
"Cepat buat Farzana hamil supaya Lo belum tua ketika anak Lo lahir." Liam berbisik di telinga Gio.
"Lo tenang saja gue tidak akan membiarkan dia istirahat sebelum dia dinyatakan hamil." Gio ikut berbisik membaut liam tertawa dia tidak bisa membayangkan bagaimana sahabatnya ini nanti ketika malam pertamanya, Gio adalah laki-laki yang selalu menghabiskan malam dengan wanita, dia tidak bisa jika satu malam saja tidak menyentuh wanita, dan setelah mengenal Zana kebiasaanya itu dia hilangkan bisa di hitung berapa tahun Gio tidak melakukan itu dan sekarang, dia tidak tau apa yang akan terjadi dengan Zana nantinya, dia takut wanita itu akan pindah nantinya karena sahabatnya.
"Ada apa sih kak?" tanya Kaluna yang berhasil mengalihkan perhatiannya saat mendengar tawa dari suaminya dan juga Gio.
"Tidak ada apa-apa. ayo kita turun."
Malam semakin larut dan pesta pernikahan itu selesai, Riana dan suaminya yang juga hadir di pernikahan itu memilih pulang begitupun dengan Sarah dan Vivi padahal Liam memintanya untuk menginap saja di hotelnya tapi mereka semua menolak , jadi yang tetap berada di sana hanya orang tua mempelai. dan juga Liam beserta Kaluna sedangkan Elif dia ikut bersama Oma dan opanya, Liam sengaja tetap tinggal karena demi kesehatan sang istri dia tidak mau pulang malam yang akan membuatnya lelah.
" Bagaimana sudah mulai ?"
Sebuah pesan masuk ke hp milik Gio ia langsung membukanya karena saat ini dia memang sedang memainkan benda itu.
__ADS_1
"Belum, Zana masih di kamar mandi,lo sendiri sudah mulai?"
Gio kembali membalas, kamar yang ditempati gio dan Liam hanya berbeda lantai.
"Gue belum bisa nyentuh Kaluna, kandungannya harus kuat dulu." Liam kembali membalas pesan itu sambil sesekali matanya terpejam.
"Jadi Lo puasa dong ."
"Ya ngak lah, gue minta Kaluna melayani gue dengan cara lain."
Gio yang membaca balasan itu mengumpat.
"Ah S*al Lo pasti sekarang lagi .." Gio sudah tidak mau melanjutkan kalimatnya karena dia tau apa yang sementara di lakukan sahabatnya itu dan bisa -bisanya di mengirimkan dirinya pesan.
Liam hanya tersenyum membaca kalimat umpatan dari Gio. Setelah itu Liam meletakkan hpnya kembali fokus melihat Kaluna yang tengah memberikan pelayanan padanya sambil tangannya mengelus rambut sangat istri. semenjak dia tidak bisa menyentuh sang Kaluna ia meminta Kaluna untuk di layani seperti ini dan Kaluna tidak menolak.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka tapi kalian belum keluar dia hanya memunculkan kepalanya saja hal itu membaut Gio bangkit dari tempat tidur.
"Ada apa kenapa hanya berdiri disitu?"
Zana tidak menjawab, dia malu untuk keluar kain yang menutupi tubuhnya begitu tipis dan tidak ada yang lain selain yang dia kenakan. Dia tidak berani berdiri di hadapan laki-kaki ini dengan penampilan seperti sekarang.
"Keluar lah kau bisa ke dinginkan Jika terus berada di dalam" Gio juga tidak tau bagaiman sebenarnya penampilan Zana saat ini karena hanya kepalanya yang bisa dia liat .
Dengan sangat terpaksa Zana keluar sambil menunduk. Gio yang melihat itu tersenyum, dia tau yang menyiapkan pakaian itu adalah mamanya. karena Zana sudah pasti tidak melakukan hal itu. Setelah ini dia akan mencium kaki wanita yang telah melahirkannya itu karena paham akan keinginannya.
Gio mendekati wanita yang sudah menjadi istrinya itu, yang terus saja menundukkan wajahnya, tangan Gio meraih dagu Zana menuntun untuk menatap dirinya.
__ADS_1
"Kenapa menunduk em?" Zana yang menatap Gio tidak mengatakan apa -apa dia tidak tau harus mengeluarkan kalimat apa dari mulutnya.
Tidak ada jawab, Gio kemudian menunduk untuk menikmati kembali bibir Zana untuk kedua kalinya, Zana hanya mampu memejamkan matanya sambil merasakan sapuan li*ah sang suami di setiap sudut mulutnya. tangan Zana berada di pinggang Gio sedangan Gio menempatkan kedua tanganya di sisi wajah sang istri, sambil terus menikmati bibir kecil itu, saat sapuan lidah Gio mulai turun di lehernya Zana hanya mampu memejamkan matanya kuat sambil mendongakkan kepalanya ke atas. sungguh dia rasanya tidak sanggup, kakinya terasa melemah tidak sanggup menopang tubuh, di tambah lagi tangan besar Laki-laki ini , mulai menggoda permukaan kulitnya, Gio melepas kain penutup tubuh sang istri yang tidak menggunakan apa-apa selain itu.
"Eeeuuugghh." Zana melenguh saat Gio menye*Sap kuat permukaan kulit lehernya.
"G-io kaki ku lemas." ucap Zana terbata-bata. Gio yang mendengar itu langsung menghentikan aktifitas menatap wajah sang istri.
"Kita lanjut di tempat tidur."
Tanpa menunggu respon dari Zana, Gio langsung mengangkat tubuh yang sudah tidak mengenakan apapun itu, berbeda dengan dirinya yang masih menggunakan handuk di pinggangnya.
Dengan sangat hati -hati Gio membaringkan Zana, dia diam sejenak menatap pemandangan yang begitu indah di depannya Zana yang di perhatikan sepeti ini menjadi malu dia kemudian berusaha menarik sesuatu apapun itu untuk menutupi tubuhnya tapi dengan cepat Gio mengentikan.
"Kenapa, kita sudah menjadi suami istri jadi tidak perlu malu?"
Gio kembali menyatukan bibinya saat ini dia sudah mendidih tubuh sang istri, Zana yang tidak harus melakukan apa hanya mengikuti permainan sang suami yang terus bergerak di atas permukaan kulitnya. Wajah Zan sudah mulai menegang saat merasakan bibir Gio sudah berada di bagain sensitifnya.
"Gio tunggu." Zana berusaha mengentikan Gio . Gio yang mendengar itu langsung mensejajarkan wajahnya dengan Zana.
"Ada apa ?"
"Sepertinya aku harus ke kamar mandi."
'Ada apa ?"
"Perutku tiba -tiba sakit." Mendengar itu Gio langsung membanting tubuhnya ke samping membiarkan Zana masuk ke kamar mandi, dengan cepat Zana bangun lari masuk ke ruangan itu tapi sebelum itu dia memungut kain yang menutupi tubuhnya tadi.
Saat sang istri sudah masuk, Gio tidak mampu menahan tawanya di tau apa yang terjadi dengan Zana , Istrinya itu pasti nervous karena ini pertama kalinya dia melakukanya berbeda dengan dirinya.
__ADS_1