
Farzana pikir setelah urusan pekerjaannya waktu itu selesai laki-laki menyebalkan yang bernama Gio tidak akan menjadi parasit dalam hidupnya . Bahkan pekerjaan waktu itu sudah beberapa bulan berlalu tapi tetap saja Gio masih mengganggu ketenangan hidupnya laki-laki itu bahkan sedang berada di depannya duduk santai sambil menikmati makana di depannya .
" Kamu tidak makan ?. bukankah ini waktunya makan siang , nanti kamu tidak konsentrasi belajar jika tidak makan ."
Zana tidak menjawab, meladeni laki-laki di hadapannya ini sama saja membuang waktunya, dia memang lapar tadi saat kelas salah satu mata kuliahnya baru selesai , tapi entah laki-laki ini muncul dari mana langsung duduk di hadapannya , sama seperti saat pertama kali dia datang ke kampusnya, muncul tiba -tiba dengan gaya sok akrab . sebenarnya ini bukan buka yang kedua atau ketiga tapi sudah berkali-kali laki-laki ini selalu datang saat jam makan siang . padahal beberapa pekan ini Farzana sudah mencoba menghindar , tidak maka siang di kantin kampus, alasannya tentu saja karena Gio, laki-laki ini juga selalu datang untuk makan siang di kampusnya berada satu meja dengannya dan dengan santai menikmati makannya tanpa peduli jika keberadaanya sudah membuat gadis di depannya kesal setengah mati.
Setelah beberapa pekan melihat laki-laki itu juga tidak datang , Zana jadi berfikir mungkin Gio sudah tidak akan datang lagi setelah dia juga tidak datang dengan waktu cukup lama, membuat Zana hari ini memutuskan makan siang di kantin , tapi baru beberapa saat dan duduk menikmati makannya laki-laki ini sudah ada di hadapannya.
"Apa dia punya mata-mata? kenapa , dia bisa datang di saat aku juga ada disini."
Sampai Gio menyelesaikan makannya Zana hanya menjadi penonton yang begitu setiap di hadapan Gio.
" Apa kamu bisa pergi sekarang ?."
" Kenapa , aku akan pergi jika aku mau ?" ucapnya ambil tersenyum , dia tau jika Zana sudah sangat kesal dengan kehadirannya di sini .
Beberapa hari dia memang Selalu mendatangi gadis yang menjadi incarannya ini , semenjak kejadian Zana menerobos masuk ke dalam kamarnya , ingatan tentang Zana tidak pernah ia lupakan . hingga pertemuan yang tidak sengaja sering terjadi di antara mereka . Terlebih lagi Zana bukan gadis yang mudah di dekati yang semakin membuat Gio penasaran .
" Bukankah aku sudah pernah bilang bagaiman kalau kita , mengabiskan makan malam bersama." keinginan Gio yang tidak pernah Zana inginkan .
" Bakan kah aku juga sudah bilang kalau aku tidak akan pernah mau." jawab Zana dengan nada menekan .
Gio tersenyum ." Kalau begitu setiap hari kita akan seperti ini."
" Terserah." zana berdiri meninggalkan Gio. tanpa menoleh sedikitpun . Sikap Zana yang seperti ini yang membuat Gio semakin tertarik.
Zana kembali ke fakultas nya kembali dengan memasang wajah cemberut , dari jauh Vivi melihat sahabatnya itu , dia tau jika Gio ada di kampus mereka karena dia sediri yang memberitahu Gio jika Zana kembali makan siang di kantin.
Vivi menghampiri sahabatnya yang memasang wajah tidak menyenangkan .
" Ada apa ?" pura tidak tau, padahal dia sendiri sumber sahabatnya jadi kesal.
__ADS_1
" Apa kamu perlu bertanya , di dunia ini cuman satu orang yang membuatku kesal ." mengarah pada laki-laki yang dia tinggal sendiri tadi di kantin.
" laki-laki itu ."
" Siap lagi ."
" Ya kamu tinggal memenuhi permintaanya saja kan , waktu itu dia ingin apa ? makan malam kan . penuhi saja , siapa tau dengan itu dia akan berhenti mengganggumu ."
" Aku tidak punya waktu meladeninya."
pembicaraan itu berhenti saat dosen mereka masuk.
****
Sedangkan itu , di tempat yang berbeda Liam dan Kaluna sedang menikmati makan siang bersama di suatu ruangan khusus . Liam sengaja menjemput Kaluna di ruko miliknya untuk menemaninya makan siang .
" Tadi Ryan datang ke kantor." untuk pertama kalinya laki-laki yang bernama Ryan datang ke kantor Liam , saat Gio mengatakannya tadi dia sedikit terkejut , entah kepentingan apa Ryan tiba -tiba datang tanpa menghubunginya terlebih dahulu .
kedatangan Ryan ke kantor suaminya juga ikut membuat Kaluna sedikit heran .
" Memang kak Ryan perlu apa? apa kalian akan melakukan kerjasama ?" tanyanya karena ini yang pertama laki-laki yang sudah seperti kakaknya itu datang mendatangi suaminya , pasti ada yang penting pikirnya.
" Tidak . Dia datang untuk mengundangku ke ulang tahun perusahaanya."
" Benarkah .? kok kak Ryan tidak mengubungi ku , malah menghubungi kak Liam ."
" Mungkin dia tau, kalau dia mengundangmu untuk datang itu percuma , jika aku tidak mengizinkannya pergi . jadi dia mengundangku langsung."
Kaluna bingung dengan kalimat yang di katakan Liam . " memang Kak Liam tidak akan mengizinkan aku pergi?
" Kalau aku tidak pergi."
__ADS_1
" Loh kak gitu ?" dan protes Kaluna , karena menurutnya alasan suaminya ini tidak masuk akal .
" Hem. kamu tau , sampai sekarang , aku melihat Ryana itu sebagai laki-laki , bukan sebagai kakak untukmu."
Jika boleh jujur, sebaik apapun Ryan terhadap Kaluna dia tidak pernah melihat laki- laki itu sebagai seorang kakak bagi istrinya , meskipun memang begitu kenyataanya , Ryan menyayangi Kaluna seperti adiknya sendiri . Justru Liam Selalu melihat laki-laki itu sebagai seorang yang patut dia cemburui , mengingat bagaimana kedekatan keduanya selama ini , apa lagi istrinya jika bertemu laki-laki itu tidak senggang untuk langsung memeluknya , itu yang membuat Liam sangat tidak suka .
Kaluna tersenyum mendengarkan alasan suaminya . Dia merasa bahagia melihat sikap suaminya yang pencemburu .
" Terimah kasih ." ucap Kaluna
" Untuk ." tanya Liam bingung karena Kaluna tiba-tiba mengucapkan terimah kasih padahal dia tidak melakukan apa-apa , mereka hanya mengobrol sambil menikmati makan yang terjadi di depan.
" Semuanya, yang kak Liam lakukan selama ini." Kaluna tidak menyangka jika pernikahan yang di awali dengan perjodohan ini sungguh membuatnya bahagia. Liam susah membuatnya melupakan semua rasa sedih yang pernah ia lalui selama ini .
Liam tersenyum dengan ucapan Kaluna . hingga makan siang itu berakhir , Liam mengantar Kaluna kembali ke ruko milik ya .
" Pulang jam berapa?" tanya Kaluna saat Liam sudah memarkir mobilnya tepat di depan ruko milik istrinya .
" Mungkin aku akan pulang malam lagi kali ini , karena banyak yang harus aku selesaikan."
" Mau aku siapkan makan malam?"
" Jika itu tidak merepotkan ."
Kaluna menggeleng , tidak mungkin ia merasa direpotkan , karena itu memang tugasnya sebagai seorang istri .
" Kalau begitu aku masuk dulu ." ucap Kaluna Kaluna meraih punggung tangan suaminya dan menciumnya , seperti biasa saat mereka akan berpisah Liam akan membalasnya dengan menikmati bibir istrinya dengan waktu yang tidak sebentar .
" I love you." ucap Liam sambil menghapus jejak yang tertinggal di bibir istrinya .
" Me too" balas Kaluna dengan senyum bahagia .
__ADS_1
Ia kemudian keluar setelah Liam membuatkan pintu untuknya dan lagsung masuk ke dalam ruko . setelah itu Liam juga meninggalkan tempat itu , kembali ke kantor.