
Sebuah ketukan pagi-pagi sekali membuat Tidur Gio sedikit terganggu laki-laki itu masih di bawa selimut . Dengan langkah Malas dia beranjak dari tidurnya menyibak selimut yang membalut tubuhnya . Dia hanya menggunakan bokser dengan bertelanjang dada . Ketukan pintu itu semakin keras yang bisa memekakkan telinga. Awalnya dia mengira itu adalah Liam tapi kenapa orang itu tidak menelpon saja malah memilih mengetuk kamarnya. Saat pintu Gio buka seseorang perempuan menerobos masuk tanpa permisi membuat Gio kaget dan juga
kebingungan.
Gio hanya mematung menyaksikan orang itu seperti mencari sesuatu . Seolah menemukan yang ia cari orang itu langsung masuk ke salah satu ruangan di kamar hotel Gio.
Sambil menunggu tamu asing yang tiba -tiba menerobos masuk ke dalam kamarnya Gio meraih baju kaos miliknya yang sengaja Ia simpan di atas sandaran sofa .
" Ahhh.. leganya ."
perempuan itu memegangi perutnya , rupanya dia baru saja keluar dari kamar mandi milik Gio , sepertinya dia baru saja mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya . Gio menyaksikan itu dengan duduk santai di sofa .laki-laki itu memperhatikan Perempuan yang menerobos masuk kedalam kamarnya yang ternyata ingin menggunakan kamar mandi miliknya .
" Tunggu , bukan kah dia perempuan semalam." Gio tersenyum penuh makna . saat semalam perempuan ini membuatnya kesal karena sudah memanggilnya om. ternyata perempuan itu datang mengantarkan drinya sendiri.
Sadar sudah masuk tanpa permisi ke kamar orang yang tidak di kenalnya perempuan itu menatap kearah Gio . Tersenyum dan melangkah mendekat untuk mengucapkan permintaan maaf dan terimah kasih . Dia tidak bisa menahan tadi , perutnya sudah sangat sakit sekali dan satu-satunya kamar yang terisi yang kebetulan bersebelahan dengan kamarnya adalah kamar Gio .
Gio berdiri saat perempuan itu juga melangkah mendekat .
" Gelang yang bagus "
Gio melirik ke arah pergelangan tangan perempuan yang belum dia ketahui namanya itu . Gio cukup ingat jika gelang itu yang menjadi penyebab dia di panggil om .
" Ah, iya ini aku dapatkan dengan susah paya semalam."
Dia melirik pergelangan tangannya , tapi beberapa saat kemudian dia mulai tersadar jika suara orang ada di hadapnya ini sepertinya tidak asing di telinga nya . Dia kemudian menatap orang Gio dengan serius dan ingatannya kembali saat kejadian tadi malam .
" eh om, ternyata anda "
tersenyum tanpa dosa , dan masih memanggil dengan sebutan om , tidak sadar jika orang yang di panggilnya om sudah kesal dari semalam .
" Kamu bilang apa barusan . om ? "
Gio mendekati perempuan yang ada di depannya . membuat perempuan itu memundurkan tubuhnya menjauhinya .
" Begini om , sepertinya terjadi ke salah pahaman di sini."
Aduh bagaimana ini apa dia tidak suka aku panggil om . tapi kan wajahnya memang sudah seperti om-om .
Dia berusaha memberi penjelasan tapi sepetinya laki-laki yang ada di hadapannya ini sudah tidak bisa menerima penjelasan .
Gio semakin merapatkan tubuhnya hingga tubuh perempuan itu membentur tembok .
kenapa jadi seperti ini sih, Kenapa aku tidak melihat siapa pemilik kamar ini tadi sebelum masuk. ini semua gara-gara toilet kamar itu rusak.
Perempuan itu berusaha menahan dada Gio agar tidak semakin merapat ke tubuhnya tapi bukannya menjauh . Gio malah semakin merapatkan tubuhnya pada gadis itu .
" om , eh maksud aku . aku bisa tidak bernafas kalau menempel begini ."
" Aku memang berencana membuatmu tidak bernafas "
Gio menaikkan ujung bibirnya setelah melihat ekspresi Perempuan yang ada di depannya .
__ADS_1
apa , dia pendendam sekali hanya karena aku memanggilnya om dia ingin membunuhku ? yang benar saja , aku tidak mau liburan ini berakhir dengan kematian . aku sudah susah paya menabung supaya bisa liburan . bukan untuk mengantar kematian
Tapi sesat kemudian ekspresi Gio berubah setelah melihat perempuan yang ada di depannya tersenyum .
"Maaf ya "
Perempuan itu menjatuhkan tubuhnya dan entah apa yang di lakukan pada Kaki Gio membuat laki-laki itu terjatuh dan mengambil kesempatan itu kabur . Gio yang tidak siap dengan serangan itu hanya bisa menyaksikan kepergian perempuan itu untuk yang kedua kalinya . Sepertinya asisten pribadi Liam itu salah memilih lawan buktinya dia kalah untuk kedua kalinya .
" Pantas saja dia tidak panik saat aku mencoba menghimpit tubuhnya , tenyata dia punya ilmu bela diri."
***
Ceklek
Saat pintu kamar hotel itu terbuka seorang perempuan yang umurnya sama dengan yang membuka pintu . Dia tampak kebingungan melihat sehatnya itu saat masuk seperti orang yang baru lagi dari kejaran seseorang .
" Kamu dari mana sih Far , dari tadi aku itu bingung nyariin kamu "
Vivi Sahabat Farzana , perempuan yang menerobos masuk kedalam kamar Gio itu kebingungan mencari sahabatnya , dia sudah berusaha menghubungi ponsel sahabatnya itu tapi ternyata tertinggal di dalam kamar .
" Buruan ke masi barang -barang nya kita bisa ketinggalan pesawat nanti ."
" Iya "
Farzana menghampiri sahabatnya dan membantu mengemasi barang -batang mereka . Kedua perempuan yang baru lulus SMA itu sengaja datang ke pulau yang terkenal ke indahan ya itu untuk liburan bersama , mereka pikir saat nanti mereka berdua kuliah akan sulit untuk berlibur bersama.
" Kamu belum jawab pertanyaan ku Far. "
" hah , kamu ngapain ke sana . emang kamu kenal?" tanya Vivi heran pasalnya penghuni sebelah kamar mereka satunya baru datang dua hari yang lalu , jadi tidak mungkin sahabatnya ini bisa se akrab itu dengan penghuni sebelah .
" Aku kebelet tadi . tau sendiri kan toilet kamar mandi itu Kandangan macet . ya karena tidak tahan ya sudah ."
" Memang penghuni nya ngizinin ?"
Vivi menatap sahabatnya itu saat pertanyaan itu dia lontarkan . Tapi saat melihat senyum sahabatnya terlihat aneh , Vivi yakin sesuatu sedang tidak beres baru saja terjadi .
" Jadi kali ini apa lagi "
seperti sudah paham dengan kebiasaan sahabatnya itu , Vivi mengintrogasinya.
" Hey , kamu tidak perlu menatapku seperti seorang penjahat begitu . sahabatmu ini orang yang baik hati . " Farzana menepuk-nepuk bahu Vivi
Farzana tersenyum manis membuat Vivi menarik nafas dalam - dalam dan membuangnya kasar .
Setelah mengemasi barang -barangnya mereka berdua meninggalkan kamar hotel tersebut .
Sambil Farzana menceritakan kejadian di kamar tetangga kamar hotel mereka .
"Hah , jadi penghuni kamar sebelah itu laki-laki ? "
Farzana menganggukkan kepalanya sambil terus berjalan menyeret kopernya .
__ADS_1
" terus -terus "
Vivi sepertinya tidak sabar mendengar kelanjutan cerita sahabatnya itu pasalnya sahabatnya itu mengatakan jika pemilik kamar itu hampir melakukan pelecehan terhadap sahabatnya.
" Vi sebenarnya kamu itu sahabatku bukan tidak sih. ekspresi mu itu terlihat tidak sedang khawatir."
Farzana mulai kesal dengan tanggapan sahabatnya itu bukanya mengkhawatirkan dirinya yang hampir mangalami pelecehan oleh om-om ini mala terlihat sangat antusias .
" Hehehe , maaf Far, soalnya ceritamu sudah seperti adegan novel -novel yang aku baca . saat Pemeran utama perempuannya tidak sengaja masuk ke kamar yang ternyata penghuninya adalah laki-laki , dan laki-laki itu ternyata orang kaya dan tampan dan mereka saling jatuh cinta dan lagi pula aku tidak perlu khawatir sama sahabatku yang harus aku khawatir kan itu om-om itu ".
"Cih, kebanyakan baca novel kamu Vi "
Farzana menggeleng -geleng kan kepalanya melihat ke haluan sahabatnya itu.
" Far "
"em"
" Dia ganteng tidak ?"
Masih berusaha mengorek informasi
" Ngak tau , soalnya om-om ."
" Om-om biasanya juga ganteng Far."
" Tau ah Vi "
Farzana sudah jengah mendengarkan pertanyaan dari sahabatnya itu dan memilih fokus melihat ponselnya . meng-upload foto-fotonya di sosial media miliknya. Saat ini mereka berdua sudah berada di depan lift . Saat pintu lift itu terbuka Farzana yang semula menundukkan kepalanya karena sibuk dengan ponsel miliknya mengarahkan pandangannya ke depan dan seseorang yang menjadi toko utama dalam pembahasnya dengan Vivi sementara ada di hadapannya .
" Kamu."
Ais kenapa pake acara ketemu di sini sih
Farzana meraih tangan Vivi dan berlari meninggalkan tempat itu sambil menarik koper . Vivi yang kebingungan karena Farzana tiba tiba menarik tangannya dan mengajaknya lari meninggalkan lift hanya bisa mengikuti kemana sahabatnya itu membawanya.
"Hey jangan lari kamu ." teriak Gio yang bergegas keluar dari lift saat melihat orang membuat Maslah dengannya itu lari.
" Ada apa sih Far." tanya Vivi yang melihat sahabatnya itu melihat kearah belakang seperti sedang memastikan kalau mereka baik-baik saja .
" Em , tidak -tidak apa . anggap saja tadi itu kita sedang latihan jika tiba tiba ada orang jahat yang mengejar."
Farzana tidak mau mengatakan jika dia berusaha mengindari om-om yang mereka bahas bisa- bisa sahabatnya itu malah bertingkah aneh .
sedangkan itu Gio yang berada di depan lift saat ingin melanjutkan langkahnya kakinya menyenggol sesuatu . Ia melihat ke bawah dan ada sebuah ponsel tergeletak di sana . Gio mengambil ponsel tersebut dan kebetulan ponsel tersebut tidak memiliki pengaman jadi Gio bisa tau leluasa membuka isinya .
" Ternyata ini milikmu."
Gio memperhatikan foto -foto di ponsel Farzana . pantas saja anak itu memanggil dirinya dengan sebutan om-om ternyata dia baru lulus SMA.
"sepertinya kita akan bertemu lagi anak kecil "
__ADS_1