
Hampir tiga puluh menit Liam dan Elif berada di udara untuk sampai di salah satu pulau di negara itu .
" Elif , sayang ?" liam berusaha membangun putrinya yang terlelap di pangkuannya, Elif tertidur saat helikopter itu baru mengudara kurang dari 10 menit padahal dia begitu bersemangat saat pertama kali naik tadi . Tapi tiba -tiba langsung tertidur.
Karena tak kunjung Bangun akhirnya Liam menyudahi membangunkan putrinya , dia tidak tega jika harus memaksa Elif untuk bangun . Mata Liam menatap lekat garis wajah putrinya , dia sadar jika wajah Elif lebih mirip dirinya di bandingkan Kaluna, mungkin bibirnya saja yang mirip.
" Tenyata selain bibir kamu yang mirip dengan mommy mu , kalian juga punya kebiasaan sama , susah untuk di bangunkan saat tidur ." Liam tersenyum mengingat kembali kenangan bersama Kaluna , saat dia pertama kali mencuri cium bibir istrinya dan saat itulah dia pertama kali merasakan bibir terbelah miliknya perempuan itu , manis . itu yang ia rasakan waktu itu .
Liam memutuskan untuk kembali menggendong Elif dalam keadaan tertidur dan tidak lupa ia membawa tas sekolah putrinya yang dia pakai di punggungnya. Sontak hal itu membaut anak buahnya yang membawa helikopter tersenyum dengan apa yang ia lihat , Liam sadar akan hal itu tapi dia tidak peduli , dia menganggap hal ini ia lakukan karena rasa sayang terhadap Putrinya.
Liam melangkah masuk ke dalam sebuah vila besar yang di dominasi dengan di dining kaca dipinggir laut. Melangkah menuju lantai atas untuk menidurkan Elif di dalam kamar yang juga sudah ia persiapan , sebuah kamar yang mendominasi warna putih . Liam meletakkan Elif dengan pelan . Setelah itu , Liam kemudian meninggalkan kamar itu dan sebelum beranjak Liam mencium kening putrinya.
" Temua aku di ruangan ku " kalimat Liam di tujukan untuk seseorang di seberang telpon karena saat ini dia sedang melakukan panggilan .
Tidak lama orang yang diperintahkan untuk menemuinya masuk menghadap .
" Apa yang harus saya lakukan tuan ."
" Persiapkan ulang tahun putriku. Nanti malam kami akan merayakannya ."
" Baik tuan saya akan lakukan sesuai permintaan ananda . " orang itu kemudian keluar untuk melakukan apa yang di inginkan oleh Liam . Liam melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya waktu n yang di butuhkan untuk sampai di pulau ini adalah tidak lebih dari tiga puluh menit , itu berarti Kaluna akan tiba beberapa menit lagi , dia tidak sabar menunggu ke datangan istrinya , untuk itu Liam mengaktifkan cctv di mana Kaluna akan masuk pertama kali di vila ini .
" Silahkan nona tuan Liam sudah menunggu anda di dalam ." salah satu anak buah Liam menyambut kedatangan Kaluna saat helikopter yang membawanya juga baru tiba di pulau itu .
Kaluna tidak membalas perkataan orang itu. sepanjang perjalan dia hanya diam , yang ada di dalam pikirannya sekarang , hanya putrinya Elif , dia datang kesini untuk mengambil putrinya dan menawannya pulang Dan selama perjalan ke tempat ini , dia masih berpikir bagaimana bisa laki-laki itu mengetahui tentang Elif .
" Maaf Saya hanya bisa mengantar sampai di sini . " orang itu kemudian melangkah pergi. meninggalkan Kaluna yang tengah berdiri di depan pintu . Tidak perlu menunggu lama Kaluna langsung membuka pintu itu dan melangkah masuk , tatapannya menelusuri setiap sudut vila untuk mencari keberadaan putrinya .
__ADS_1
Liam yang tengah menyaksikan kedatangan Kaluna lewat cctv seketika tersenyum, dia kemudian meninggalkan ruangan itu dengan cepat tidak sabar melihat istrinya .
Kaluna yang masih berdiri di ruangan utama vila menatap laki-laki yang sudah membawa putrinya . Liam dengan langkah pelan . turun dari lantai atas tidak melepaskan tatapannya pada Kaluna yang juga menatapnya dengan cara yang berbeda . Tapi itu tidak di pedulikan olehnya yang penting Kaluna ada disini sesuai keinginannya .
" Di mana Putriku?"
" Apa kamu tidak punya kosa kata lain selain itu ?"
Liam kini sudah berada tepat di hadapan Kaluna .
" Aku bilang di mana Putriku ?" Kali ini Kaluna berteriak mengulang kalimatnya .
"Elif sedang tidur , jadi kamu tidak perlu berteriak seperti itu kau bisa membangunkannya ." Liam menarik nafasnya pelan dan berbicara setenang mungkin , ini pertama kalinya Liam melihat Kaluna berteriak , dia tau Jika kali ini Kaluna pasti sudah sangat marah padanya .
Mendapat jawaban itu , Kaluna lagsung meninggalkan Liam dia yakin putrinya ada di atas di salah satu kamar di sana . tapi sebelum melangkah jauh Liam langsung menahan pergelangan Kaluna dan lagsung menariknya membawa tubuh kaluna ke dalam pelukannya ,
" Elif sedang tidur jangan mengganggunya . kita perlu bicara ."
" Bukankah sudah aku katakan, aku tidak mau bicara . jadi lepaskan aku ."
Kaluna dengan sekuat tenaga berusaha lepas dari Liam , pelukan erat ditubuhnya sungguh membuatnya tidak bisa bergerak . Liam betul-betul mengunci semua pergerakannya .
" Aku merindukanmu " Liam tidak menggubris perkataan Kaluna sebelumnya , dia malah semakin mengencangkan pelukannya dan kini bibirnya menelusuri leher mulus milik istrinya , karena Kaluna saat ini mengikat tinggi rambutnya membuat Liam begitu leluasa menelusuri bagian itu , apa lagi posisi saat ini tenga memeluk Kaluna dari arah belakang .
Kaluna merasakan bibir Liam menyentuh kulit lehernya semakin membuat emosinya tersulit . Tapi sekuat apa pun dia mencoba dia tidak bisa lepas dari laki-laki ini .
Setelah paus menelusuri leher istrinya Liam memutar tubuhnya Kaluna agar berhadapan dengannya. Tanganya menarik pinggang Kaluna untu menempel padanya , mata Liam tertuju pada bibir terbelah itu , dia begitu merindukan rasa manis dari bibir istrinya, tidak tahan dengan hanya melihatnya saja Liam kemudian mendekatkan bibirnya untuk menikmati kembali rasa manis yang selalu ia rasakan dulu.
__ADS_1
" Jika kamu melakukannya aku akan membuat Elif membencimu " gerakan Liam seketika berhenti saat mendengarkan kalimat ancaman dari Kaluna . Mata yang tadinya berada dibibir Kaluna kini berpindah menatap wajahya dan melepaskan pelukannya .
Setelah terlepas , Kaluna langsung meninggalkan Liam yang tengah berduri mematung . Kalina mencari di semua kamar yang ada di lantai atas Vila itu dan setelah berhasil menemukan Elif Kaluna bernafas lega , dia kemudian mendekati Elif yang masih tertidur .
" Sayang ." kaluna mengelus kepala putrinya dan menciumnya air matanya jatuh menimpah pipi Elif membuatnya terbangun , dia begitu ketakutan saat tau jika Liam mengetahui tentang Elif , dia takut jika laki-laki itu membawa putrinya jauh dari sisinya .
" Mommy " suara Elif terdengar Serak khas bangun tidur .
" Elif sudah Bangun , apa mommy menunggumu ?"
" No " jawab Elif singkat .
" Kalua begitu ayo bangun kita harus pulang ." Kaluna membatu Elif untuk bangun . dia harus cepat meninggalkan tempat ini .
" Tapi , Elif mau bertemu Daddy , kata Uncle jika Elif di sini Elif akan ketemu Daddy ."
Kaluna kebingungan mendengarkan kalimat putrinya , uncle siapa yang di maksud Elif .
" Uncle yang mana yang bilang begitu? " Tanya Kaluna penasaran .
" Uncle yang punya helikopter, yang bawa Elif kesini , mommy juga pasti menggunakannya juga kan ?"
Kaluna bertambah kebingungan, kenapa Elif memanggil Liam dengan sebutan uncle apa laki-laki itu Menang tidak mengatakan jika dia adalah ayahnya, dan dari kalimatnya Sepertinya Elif susah mengenal ayahnya tapi sebagai orang lain .
" Elif kenal dengan uncle itu?"
" Iya .
__ADS_1