
Kaluna berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya setelah Tia pelayannya tersebut memberitahu Jika ayahnya mencarinya . tangan Kaluna terangkat mengetuk pintu tersebut . saat ketukan pertama ia lakukan sebuah suara mengizinkannya masuk .
" Ayah cari Kaluna ?" tanyanya
Faisal yang sibuk menyelesaikan pekerjaan yang ia bawa ke rumah langsung beranjak dari meja kerjanya tersebut . ini kali pertama kali Kaluna masuk kembali ke ruangan kerja sang ayah setelah peristiwa permintaan maaf yang ia lakukan dan akhirnya ayah mendengarkan semua keresahan hati putrinya selama ini dan ikut merasa bersalah.
Kaluna duduk di sofa di ikuti Faisal yang duduk di sebelahnya . bisa Kaluna lihat Jika ayahnya akan membicarakan sesuatu permasalahan serius kali ini .
***
" Li , kalau kamu tidak sibuk dengan urusan kantor. malam ini datang yah ke rumah makan malam . mama juga ngundang Kaluna sama papanya . kamu sudah lama kan tidak ketemu sama dia."
Isi pesan yang baru saja masuk di ponselnya sedikit menggangu pikiran Liam . Mamanya betul -betul tidak main -main ingin menjodohkannya dengan anak om Faisal itu . Liam kembali menyimpan ponselnya di dalam laci dan kembali melanjutkan pekerjaannya . meskipun tengah sibuk meyelesaikan pekerjaannya pikiran Liam tidak Serta Merta melupakan pesan yang baru saja di terimanya tersebut , pikirannya melayang pada sosok Kaluna , dia berfikir apa perempuan itu menerima perjodohan tersebut dengan suka rela ? . apa dia tidak punya pacar . sesuatu tidak mungkin kan jika seorang yang sudah lama tinggal di luar negeri dengan pergaulan yang begitu besar tidak punya pacar dan berusaha menolak perjodohan Antara mereka . atau mungkin posisinya sama dengan dirinya yang tidak bisa menolak ? ah. entahlah yang jelas dirinya masih tidak yakin jika harus hidup dengan orang yang bahkan tidak terfikir olehnya .
***
Kaluna dan ayahnya sedang bersiap -siap untuk menghindari acara makana malam di rumah keluarga Hendra . semenjak pembicaraan serius dengan ayahnya waktu itu pikirannya sedikit terganggu . kata perjodohan tidak pernah terlintas dalam benaknya . Tapi kenyataannya ayahnya dan Tante Riana mencetuskan ide tidak masuk akal tersebut .
hidup dengan orang yang biasa membuatnya kesal saat masih kecil ? bagaimana bisa, yang ada dia akan dibuat jengkel . Tapi mau bagaimana lagi , dia tidak bisa berkata tidak , hubungannya dengan ayahnya baru saja membaik , dia tidak mau membaut ayah nya kecewa , apa lagi dengan Tante Riana yang sangat menyayanginya. Tapi apa karena alasan semua itu dia pasrah dengan perjodohan tersebut . salam hidupnya dia tidak pernah dekat dengan yang namanya laki-laki mimpinya terlalu besar untuk satu permasalah kecil seperti pacaran . selama ini laki-laki yang dekat dengannya hanya kakak Ryan nya , yang sementara masih di negeri Paman Sam tersebut .
Faisal keluar dari kamar yang sudah bersiap -siap Ia kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya sambil melirik kamar yang ada di lantai atas rumah tersebut . melihat putrinya belum menampakkan diri Faisal meminta bibi Tia untuk memanggil Kaluna .
" Nono Kaluna " panggil bibi Tia dari balik kamar tersebut sambil mengetuk pintu .
Kaluna yang sementara melamun memikirkan pembicaraannya dengan ayahnya tersebut seketika tersentak kaget mendengarkan ketukan pintu kamarnya .
"'Nona Kaluna, Tuan sudah menunggu di bawah " Bibi Tia kembali mengetuk pintu tersebut karena tidak ada jawaban saat ketukan pertama .
" Iya bibi sebentar lagi Luna turun" jawab Kaluna sambil menyelesaikan penampilannya .
" Ya sudah bibi turun duluan ya"
" iya Bi " .
melihat pelayan rumah nya turun Faisal langsung menanyakan keberadaan putrinya .
" Bagaiman dengan Kaluna apa sudah siap ?" tanya Faisal yang duduk di sofa ruang tamu .
" Katanya nona Kaluna akan segera turun tuan" Jawab bibi Tia
__ADS_1
" Yasudah"
" Kalau begitu, saya permisi tuan "
Faisal mengangguk .
Sesaat Kemudian Kaluna terlihat turun dari lantai kamarnya , Faisal yang melihat putrinya tersebut tersenyum dan bangkit . mereka berdua kemudian melangkah keluar rumah yang sudah di tunggu oleh supir.
***
" Bos" Gio yang masuk tanpa mengetuk pintu ruangan Liam membuat pemilik ruangan tersebut sedikit kaget . melihat ekspresi asistennya tersebut bisa Liam tebak ada sesuatu yang tidak beres . Sebesar apapun masalahnya Liam selalu meyelesaikannya dengan cara setenang mungkin karena itu merupakan prinsip hidupnya .
" Ada apa? " tanya Liam setenang mungkin sambil tetap menyelesaikan pekerjaannya .
Gio menarik kursi dan duduk di hadapan Liam.
" ini masalah pembangunan hotel baru kita "
mendengar kalimat yang di ucapkan Gio membuat Liam menghentikan pekerjaannya .
" Ada apa dengan membangunnya "
informasi tersebut membuat kening lima berkerut
" kok bisa begitu bukannya sudah tidak ada tuntutan lagi sama masyarakat di sana dan kita sudah menyelesaikan kesepakatannya. kenapa tiba -tiba ada tuntutan untuk menghentikan pembangunan?"
" Kalau gue pikir sih kayaknya ini ulah dari perusahan A sepertinya. soalnya saat kita memilih lokasi itu bukannya bersamaan dengan perusahan itu yang juga mengginginkan lokasi yang sama." pikir Gio
Apa yang di pikirkan Gio mungkin benar . antara perusahaanya dan perusahan A memang waktu itu bersaing memiliki lokasi tersebut. bukan cuman mendapat izin dari pemerintah setempat tapi juga masyarakat di yang dekat dengan lokasi hotel baru yang akan di bangunnya apa lagi masyarakat yang lahannya di beli oleh perusahaan milik Liam. perusahan Liam berhasil meyakinkan masyarakat di sana dan membeli lahan mereka tiga kali lipat dari harga semestinya . lokasi yang sangat strategis tidak membuat Liam ragu untuk mengeluarkan dana yang sebegitu besarnya dengan memikirkan keuntungan yang akan di peroleh perusahaannya ke depan . itulah mengapa perusahaanya yang berhasil mendapatkan lahan tersebut apa lagi cara Liam yang mendekati masyarakat di sana sangatlah bersahabat jika di bandingkan perusahaan -perusahan lain yang mengutus orang -orangnya berbeda dengan Liam, ia memilih terjun langsung untuk berkomunikasi dengan masyarakat di sana . berbeda dengan perusahaan A yang menjadi saingannya tersebut . dia hanya mau membeli lahan tersebut di bawah harga semestinya . hal itu tentu saja membuat masyarakat dan pemerintah daerah tersebut lebih memilih perusahaan Liam .
Mungkin karena tidak terimah dengan kekalahannya perusahaan A membuat masyarakat di sana berubah pikiran .
tapi yang menjadi pertanyaan Liam apa yang di lakukan perusahaan A sehingga masyarakat percaya begitu saja .
"Apa tuntutannya?" tanya Liam
" Penghentian pembangunan " jawab Gio
" Alasan Meraka? " tanya Liam lagi
__ADS_1
" kamu pasti kaget dengan apa yang aku dapat"
" Memangnya apa?" tanya Liam lagi yang semakin membuatnya penasaran . apa lagi cara Gio menyampaikannya terpotong -potong .
" Mereka bilang perusahan kita sebenarnya tidak mau membangun hotel , tapi sebuah Kasino"
benar saja pernyataan Liam membuat Liam kaget
" What ? apa mereka bercanda ? "
Gio hanya mengangkat bahunya
setelah mengeluarkan kata tersebut Liam langsung beranjak dari kursinya dan meraih jas kerjanya yang dia gantung di kursinya .
" Mau kemana ? " tanya Gio yang melihat Liam berjalan meninggalkan ruangan tersebut .
" Menyelesaikan masalah" jawab Liam
Gio langsung ikut beranjak dari posisinya .
" Tapi bagus juga sih Li kalau lu tidak usah Bagun hotel kita bagun Kasino saja siapa tau keuntungan lebih besar dari pada bangun hotel"
" Jadi menurut lo gue harus menciptakan Las Vegas di tempat itu "
" Oh Iyya itu sepertinya itu ide bagus" jawab Gio " atau sekalian kita Bangun Kasino yang lebih besar dari Winstar World Casino bagaimana." Ide gila keluar dari mulut Gio yang membuat Liam melirik sabahat nya tersebut dan
Plak
" Aaww." Gio meringis akibat pukulan yang mendarat di kepalanya. Gio mengusap-usap kepalanya tempat dimana Liam memberikan sebuah pukulan karena kesal dengan ide dari sekertaris sekaligus sahabatnya tersebut . meskipun Liam tau bahwa Gio hanya bercanda .
"Ah kebiasaan Lo Li. Suka banget pukul kepala gue kalau lagi kesal. lihat ya gue laporin lu sama Tante Riana ". Senjata paling ampuh milik Gio jika sudah seperti ini . dia akan melaporkan Liam pada mamanya dan sudah pasti Gio akan di bela habis-habisan dan Liam akan mendengarkan Omelan mamanya .
" Cih" Liam menatap sinis sahabatnya
tersebut yang suka sekali melapor sudah seperti anak kecil .
Liam dan Gio yang berjalan di lorong kantor yang tidak terdapat karyawan saling adu mulut setelah Gio mengancam mengeluarkan senjata mematikannya tersebut .
Begitulah kedekatan Liam dan Gio mereka dalam keadaan bekerja akan terjadi kekompakan terhadap keduanya tapi kalau sudah berada akan terlihat seperti anak kecil dan kebiasaan Liam yang jika kesal pada Gio tidak pernah terlihat oleh karyawannya Liam tetap menjaga wibawa sahabatnya tersebut di depan para karyawannya.
__ADS_1