
Di apartemen milik Gio , laki-laki itu berusaha membuka matanya perlahan untuk menyesuaikan cahaya matahari yang masuk melalui cela jendela kamarnya yang tidak tertutup sempurna . Ia begitu terganggu dengan Suara bel yang terus berbunyi di depan pintu apartemennya , dengan langkah malas laki-laki itu bangkit dari tidurnya melangkah menuju pintu
Ceklek..
pintu terbuka wajahnya yang tadi terlihat kusut seketika berubah cerah saat melihat Zana berdiri di depannya .
" Maaf aku datang pagi-pagi sekali kesini . apa aku mengganggumu?" melihat laki-laki di depannya ini hanya menggunakan celana pendek saja Zana yakin dia baru bangun apalagi rambutnya yang acak-acakan khas bangun tidur .
" Masuklah ." Gio tidak menanggapi pertanyaan Zana dan malah meminta perempuan itu untuk masuk .
" Apa per ban mu sudah di ganti ?" tanya Zana ketika sudah duduk di sofa saat masuk tadi, dia fokus menatap bahu Gio yang terluka karena laki-laki itu tidak menggunakan apa -apa di bagian atas tubuhnya . Zana sengaja ke apartemen nya sepagi ini , hanya untuk memastikan keadaan laki- laki yang sudah membantunya dan tentu saja akan membatu laki-laki ini membersihkan lukanya karena Zana yakin Gio tidak mau ke rumah sakit .
" Kau ingin melakukannya ? " tanya Gio balik. Gio memang belum mengganti perban pada lukanya , bagaiman dia menggantinya , dia sendiri saja baru Bagun dari tidurnya. Dia senang karena Zana datang sepagi ini ke apartemennya untuk mengganti perbannya .
Tanpa mengatakan apa-apa Zana berdiri dan duduk di samping Gio .
"Berbalik lah aku akan menggantikannya ." Gio menurut sudut bibir terangkat kemudian berbalik . Zana yang sudah duduk di belakangan terlihat mengeluarkan beberapa beda dari dalam tas miliknya , yang akan di gunakan untuk mengganti perban pada bahu Gio .
Hening sesaat karena baik keduanya tidak ada yang berusaha . Zana fokus dengan apa yang di lakukan . Sedangan Gio , dia sementara menikmati sentuhan jari -jari Zana pada permukaan kulitnya .
" Terima kasih atas bantuannya semalam " ucap Zana .
" it's ok , memang itu ada keharusan untuk melindungi orang aku cintai ."
Zana diam tidak merespon perkataan Gio , tapi sayangnya Gio tidak melihat jika Zana saat ini sementara tersenyum dari balik punggungnya . Dia jadi berfikir apa seserius itu Gio padanya sehingga laki-laki ini sering mengikutinya . tidak mungkin kan jika Gio tiba -tiba muncul di tempat itu jika dia tidak di ikuti oleh laki-laki ini dan hebatnya dia Bahkan tau jadwal kuliahnya jika kemarin ia ada kelas sampai malam .
" Kenapa kau diam saja , setidaknya kau tersentuh dengan ucapan ku ."
lagi , Zana tidak menggubris kata-kata Gio Ia hanya tetap meyelesaikan apa yang sementara di kerjakan.
" Sudah ."
Gio kemudian beranjak dari duduknya setelah Zana selesai mengganti perbannya . Dia melangkah menuju kamar untuk mengambil baju .
" Cih... dasar tidak berperasaan ." umpat Gio karena Zana sama sekali merespon setiap perkataannya . Zana mendengar itu paham jika kata-kata itu di tujukan padanya . tapi bukannya kesal dengan perkataan Gio dia malah semakin melebarkan senyumnya.
__ADS_1
Setelah Gio menghilang masuk ke kamarnya Zana melangkah ke dapur , dia ingin menyiapkan sarapan untuk laki-laki itu sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantunya . Dia kemudian mendekat ke arah lemari es melihat apa yang tersedia di dalam yang bisa ia masak .
Sedangkan di dalam kamar Gio, mengambil bajunya tatapannya teralihkan pada beda yang tergeletak di atas nakas karena benda itu sedang berbunyi , di sana tertulis jika mamanya ya sedang menghubunginya .
" Halo . sayang ." terdengar nada panik di seberang telepon
" Iya ma . ada apa? " jawab Gio santai , laki-laki itu sudah menebak pasti mamanya sudah tau tentang kejadian yang dia alami hingga wanita ini menelponnya pagi-pagi begini . karena suaranya mamanya sudah terdengar panik di sebarang sana .
Meskipun anak dan ibu itu tinggal terpisah tapi Anita tidak melepaskan pengawasannya pada putaran ya itu . Dia khusus menempatkan orang untuk mengawasi Gio dari jauh dan Gio tentu tau akan hal itu .
" Mama dapat kabar jika kamu di serang sama preman dan kamu terluka . Mama akan siapa -siapa untuk kembali ke Indonesia sekarang ."
Gio menghela nafasnya mendengarkan kepanikan mamanya di seberang telpon .
" Gio tidak apa-apa ma ." ucap Gio santai ." Mama juga tidak perlu datang kesini."
" Kamu yakin ?"
" Em , Di sini sudah ada yang merawat Gio ." lanjutnya lagi , iya yakin ketika ia mengatakan siapa yang ada di apartemen nya sekarang mamanya pasti tidak khawatir.
" Siapa ? "
" Gio kamu masih disitu ?" Panggil Anita pasalnya anaknya itu hanya diam tidak menjawab pertanyaannya .
" Gio ."
" Iya ma . "
" Kamu belum jawab pertanyaan mama, memang siapa yang merawat mu ?"
" Calon menantu mama , dia disini sementara sibuk di dapur ." jawab Gio yang masih tidak mengalihka tatapannya pada gadis itu .
" Benarkah ? . kalau begitu sepetinya mama tidak perlu mengkhawatirkan mu ." Anita lagsung mematikan panggilannya .
Gio mengatakan alat komunikasi itu dari pipinya , kepalanya menggeleng saat mendengarkan perkataan mamanya .
__ADS_1
" Dia Bahkan lagsung mematikan telpon nya ."
Gio mendatangi Zana .
" Kamu memasak ?"
Zana mengalikan pandangannya menatap Gio yang sudah berada di sampingnya .
" Maaf aku menggunakan dapur mu tanpa minta izin ."
" Tidak apa-apa karena tempat ini jarang sekali di gunakan . aku lebih suka beli makan di luar .
" Kenapa tidak memasak saja , itu kan lebih sehat ."
" Aku terlalu sibuk untuk melakukannya ." jawab Gio . " Butuh bantuan ?"
" Tidak perlu ini hampir selesai ."
Zana kemudian menyajikan makan di atas meja dan mereka duduk bersama menikmati makan yang sudah tersaji .
Setalah selesai Zana meninggalkan Apartemen Gio , tidak lupa dia menawarkan jika Gio butuh bantuannya jika ingin Menganti perban di bahunya , tentu saja Gio tidak menolak , Dia menjadi bersyukur mendapatkan luka saat membantu Zana , karena hal itu Akan menjadi alasannya untuk dekat dengan perempuan itu .
Ting
sebuah pesan masuk di Hp Gio sesaat setelah mengantar Zana turun ke bawah . Ia membuka pesan itu
" Cepatlah sembuh , aku ingin mengajakmu makan malam setelah itu ."
Bunyi pesan yang sementara di baca oleh Gio , sontak membaut ya tersenyum lebar .
Zana yang masih di parkiran apartemen belum meninggalkan tempat itu juga ikut tersenyum saat mengirimkan pesan itu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Hy kakak semua terimah kasih masih setiap meluangkan waktu untuk membaca kisah Elma Liam dan Kaluna, Untuk kisah Gio dan Zana jangan di skip ya ☺️. meskipun bukan karakter utama , kisah mereka cukup menarik ko , meskipun tidak banyak konflik di sana .
__ADS_1
dan Author mau ngucapin selamat hari kemerdekaan 🥰🥰..
Untuk yang tidak sabar apa yang terjadi selanjutnya setelah Liam bertemu dengan Elma , sabar ya Author masih menyimpan dengan rapih bab tersebut . ☺️