Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Taman kenangan


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti di sebuah gedung perusahan milik Ryan Prayoga, ia sengaja datang ke tempat itu hanya untuk menyapa orang yang telah membantunya dulu.


Saat langkah pertamanya masuk semua mata tertuju padanya. Cantik itulah yang menggambarkan Elma Aliza seorang Fashion desainer yang sudah mencatatkan namanya sebagai salah satu desainer yang cukup terkenal dengan rumah mode yang sering di datangi para artis terkenal dunia, menjadi salah satu alasnya untuk meraih semua itu adalah demi layak berdiri di samping laki-laki yang masih tersimpan rapi di hatinya.


Karena sudah tau akan kedatangannya , salah seorang pegawai Ryan langsung mengantarkan Elma menuju ruangan Ryan .


" Kau sudah datang." Ryan langsung beranjak dari kursinya saat Elma masuk di antar oleh pegawainya . laki-laki yang masih hidup sendiri itu mempersilahkan Elma duduk di sofa .


" Aku tidak menyangka, kita bisa bertemu lagi ." Elma tersenyum mendengar kalimat Ryan .


" Aku juga berfikir begitu, saat kerja sama itu berakhir aku pikir itu adalah pertemuan terakhir ."


" Mau minum apa?" Liam berdiri kembali menuju meraih telpon .


" Em , terserah apa saja."


" Ok."


Setalah meminta sekretaris membawakan sesuatu untuk tamunya . Ryan kembali duduk di sofa .


" Kau , tau aku sungguh tidak menyangka , jika kamu ternyata seorang pebisnis , aku pikir kamu hanya menekuni bidang itu saja ." kalimat Elma mengarah pada pekerjaan Ryan yang dulunya make up artist, satu pekerjaan yang mempertemukan mereka untuk suatu kerja sama beberapa bulan lamanya .


" Kamu sudah tau kenapa aku melakukan itu ."

__ADS_1


Saat pertama bertemu , Elma memang sudah lebih dulu heran melihat laki-laki di hadapannya ini memiliki pekerjaan yang tidak biasa , jika pun dia berkerja di bidang itu setidaknya gaya laki-laki ini akan terlihat sepeti perempuan , tapi tidak dengan Ryan dia sama sekali tidak memperlihatkan gaya seperti laki-laki yang bergaya perempuan saat bekerja , suaranya tegas menampilkannya pun seperti laki-laki pada umumnya , sehingga membaut dia heran sendiri kenapa Ryan memili pekerjaan seperti itu , baru saat Ryan sudah memenuhi permintaannya Ryan menceritakan alasannya setelah dia bertanya , dan mengatakan jika Ryan lebih cocok menjadi seorang pengusaha , dan sebuah fakta di ucapkan Ryan membuat Elma tercengang , Jika dia melakukan ini demi dekat dengan seseorang , tapi Ryan tidak mengatakan siapa orang itu , dia hanya tau jika orang itu adalah perempuan yang sudah dia anggap adiknya sendiri ,


" Dan kau berhasil melakukannya , mempertemukan dia dengan Elif ."


Meyakinkan Kaluna untuk pulang memang tidak mudah bagi Ryan , mendekatinya dengan cara memasuki dunianya dan membuat Kaluna menjadi dekat dengannya , dia butuh waktu yang tidak sebentar untuk itu, karena sebuah permintaan terakhir untuk adik kecilnya , yang tidak bisa Ryan abaikan meskipun Elif sudah tidak ada .


" Aku jadi penasaran ingin bertemu dengannya langsung ." Ucap Elma


" Datanglah ke acara ulang tahun perusahaan ku , aku akan mengenalkan mu dengan secara langsung."


***


Setalah lama mengobrol dengan Ryan yang membahas kenangan saat mereka bekerja dulu . Elma meninggalkan perusahan itu , tidak langsung kembali ke kota di mana dia sekarang tinggal, Elma meminta supir taksi online yang ia pesan untuk mengantarkannya ke suatu tempat , sudah lama dia tindak ke sana , dulu saat masih sekolah tempat itu adalah tempat yang paling dia sukai .


Supir taksi itu mengentikan mobilnya setelah Elma meminta , ia kemudian turun , melangkahkan kakinya secara perlahan , tidak seperti dulu , tempat ini sudah lebih indah di bandingkan dengan saat terakhir dia datang kesini , dia hari yang sama saat dia dan Liam menghabiskan waktu bersama disini malam itu , dari jauh Elma bahkan masih bisa melihat dengan jelas sebuah kursi besi masih di tempat yang sama , yang ia duduki dulu , Elma melangkahkan kakinya pelan sabil matanya memperhatikan pemandangan disekitar lalu duduk di kursi itu .


" Kamu menangis ?" Liam mengarahkan pandanganya ke wajah perempuan yang sedang menatap layar besar di hadapannya , dengan lembut Liam menghapus cairan bening itu dari pipi Elma . Tapi sesering apapun Liam menghapus cairan bening itu juga terus keluar .


" Berhenti menangis El , itu hanya film ." perkataan Liam tidak di gubris oleh Elma dia masih terus melihat adegan demi adegan di film yang sementara ia tonton , di mana adegan itu memperlihatkan pemeran utama perempuan tengah menangisi kepergian laki-laki yang begitu ia cintai, sampai akhir film itu Elma masih terus menangis . Liam yang duduk di sampingnya hanya menghela nafas kasar menyaksikannya .


" Filmnya sudah selesai ayo kita keluar ." Bahakan dari awal Liam sudah tidak tertarik . saat Elma merengek padanya agar mereka menonton bersama berusaha dia tolak tadi , tapi melihat wajah Elma yang sudah berubah Liam lagsung mengiyakan , dia tidak bisa melihat perempuan yang ada di hadapannya ini bersedih karena dirinya .


Liam terus menggenggam tangan Elma sampai mereka keluar dari bioskop dan tiba di parkiran .

__ADS_1


" Sudah puas menangisinya ?." ucap Liam dengan nada ketus sambil memakaikan Elma helm , yang ditanya hanya tersenyum , dia tau Liam tidak suka menonton , tapi karena dia tidak menyerah membujuk Liam akhirnya mereka ada disini .


" Ayo naik." Elma langsung naik ke atas motor sport milik Liam dan melingkarkan tangannya di pinggang Liam.


Liam lagsung men gas motor milik ya meninggalkan tempat parkiran itu . " Apa kita langsung pulang ?" tanya Elma mendekatkan wajahnya pada Liam . "


" Memang kamu ingin pergi ke suatu tempat?"


" Em , ketempat biasa ."


Liam menambah kecepatannya menuju tempat yang biasa dia dan Elma tempati menghabiskan waktu bersama . "


Saat Liam sudah memarkir motornya , dia melirik wajah yang bersandar di bahunya , yang ternyata sedang tertidur tapi tangannya masih melingkar di pinggang .


"El.. bangun Elma "


Mata Elma terbuka dan langsung mencari sosok yang membangunkannya tadi , tapi setalah sadar jika Ia hanya mimpi , pipi Elma kembali basah oleh air matanya . dia tidak pernah menyangka pertemuan terakhirnya degan Liam adalah di tempat yang biasa mereka habiskan bersama .


Elma berusaha menguasai emosinya dan buru -buru meninggalkan tempat itu , dia sudah terlalu lama disini , dia pikir Samakin dia tinggal dia akan semakin mengingat tentang masa lalunya , ini yang terakhir kalinya mengingat laki-laki itu ,Mungkin saja Liam sudah memiliki kehidupan sendiri . karena sampai sekarang Laki-laki itu tidak pernah mencarinya.


Elma beranjak dari duduknya dan sebelum benar-benar pergi dia berbalik menatap kembali tempat itu , tempat yang menjadi pertemuan terakhirnya dengan Liam , yang penuh dengan kenangan mereka . Sebelum pergi Elma sudah meyakinkan dirinya , Mungkin sampai di sini dia menunggu , menunggu untuk Liam datang mencarinya dan menjemputnya seperti laki-laki itu dulu . setelah menghadiri acara Ryana dia akan kembali ke Paris , menjalani kehidupannya semula tanpa mengingat masa lalunya lagi .


Saat menunggu taksi online yang ia pesan untuk membawanya pulang , Elma tidak sadar jika seseorang telah memperhatikannya saat pertama Ia berjalan melewati mobil orang itu . Orang yang memperhatikan Elma Bahakan tidak meninggalkan tempat itu dia hanya fokus kepada perempuan yang tengah duduk sendiri tadi di bangku taman

__ADS_1


...Visual Elma Aliza ...



__ADS_2