Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Aku akan menikahi mu


__ADS_3

Liam terus memacu kendaraanya, menuju rumah sakit di kota di mana Elma di rawat , beberapa saat yang lalu dia baru saja menerima telpon dari Bu Anna yang mengatakan jika Elma tiba -tiba pingsang dan belum tau apa penyebabnya , padahal setiap dia datang mengunjungi Elma ke adaan ya baik-baik saja , meskipun terkadang tiba-tiba dia menangis jika mengingat peristiwa itu .


Hampir dua jam Liam menempuh perjalan untuk sampai di sana , karena terlalu fokus Liam sampai mengabaikan panggilan yang masuk ke hpnya , dia tidak tau siapa yang menghubungi dirinya . saat sudah tiba di kota itu ia lagsung menuju ke rumah sakit , karena Bu Anna susah mengirimkan alamat rumah sakit di mana Elma di rawat .


dengan langkah terburu -buru Liam masuk kedalam rumah sakit itu dan menuju tempat dimana Elma di rawat .


Ceklek


Liam masuk ke dalam ruangan dan di sana sudah ada Bu Anna . wanita Yang sudah berumur itu bangkit saat melihat kedatangan Liam .


" Ada Bu ? kenapa bisa Elma pingsang "


Ibu Anna terus saja menangis , dia tidak tau bagaiman mengatakannya saat dokter telah selesai memeriksa Elma .


" Nak , dokter bilang , Elma .." suara Bu Anna tertahan sungguh dia kasihan dengan anak yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit ini .


" Ada apa ?" tanya Liam kembali , dia begitu penasaran ."


" Elma hamil ."


Deg


Liam seketika mematung mendengar kabar itu, jika Elma sadar dan mengetahui kenyataan ini , dia pasti sangat sedih . entah apa yang akan di lakukan ya , dia sudah sangat terluka dengan peristiwa itu dan saat perempuan ini berusaha melupakan lukanya , apa yang terjadi sekarang , dia bahkan sementara hamil .


Dari arah tempat tidur Elma membuka matanya ,


" Bu " panggil Elma lirih Bu Anna lagsung menoleh dan mendekatinya


" Kamu sudah sadar nak ."


Mata Elma menatap di sekeliling dia berusaha mengenali di mana dia berada dan di dekat pintu dia melihat Liam .


" Liam "


laki-laki itu mendekat .


" Kamu datang ?" tanya Elma


" Em , ibu menelpon katanya kamu pingsang jadi aku langsung ke sini . mendengar jawaban Liam Elma tersenyum bahagia, dia tau jika perasaan Liam masih sama seperti dulu ,jika tidak, Liam tidak mungkin kesini saat mendengar kabar tentangnya apa lagi jarak untuk datang ke sini tidak dekat.


***


Sementara itu Kaluna yang sudah tiba di ruko , terus saja menghubungi nomor suaminya karena merasa khawatir karena dia bisa melihat bagaian raut wajah Liam saat di basement . sebanyak apapun dia menghubungi nomor suaminya tapi tetap saja tidak ada jawaban , bahkan dia juga sudah mengirimkan pesan tapi juga tidak ada balasan .

__ADS_1


karena tak kunjung di angkat Kaluna beralih menelpon Gio, berharap jika asisten suaminya itu mengetahui sesuatu .


Deringan pertama Gio langsung mengangkat .


" Halo kak , ini Kaluna ."


" Iya lun , ada apa "


" Kak , Luna mau tanya , kak Liam kemana ya soalnya tadi waktu masih di hotel aku liat dia buru -buru pergi ."


" Maaf ya Luna , aku juga kurang tau , tadi saat pergi dia cuman bilang ada urusan penting . Kenapa kamu tidak coba hubungi nomornya ."


" Sudah kak , tapi tidak di angkat ."


Gio terdiam sesat memikirkan sesuatu dan kemudian kembali berusaha


" Nanti say coba hubungi , mungkin Liam meninggalkan hp di mobil ."


" Begitu ya kak . kalua begitu Luna tutup dulu ya , "


***


Di ruangan rawat Elma


" Apa keluarga ibu belum mengatakannya pada ibu ."


"Mengatakan apa ya sus?" Elma sungguh tidak mengerti


" Kaluna ibu Elma hamil ."


Setelah mengatakan itu , suster tersebut keluar dia tidak tau jika apa yang di katakan barusan akan menjadi Masalah besar nantinya .


Tangan Elma bergetar menyentuh perutnya matanya sudah mulai memerah antara marah dan juga sedih , sebenarnya kesalahan apa yang sudah ia buat kenapa hidupnya seperti ini , dia terlahir menjadi anak yang tidak di inginkan dan sekarang dia harus memiliki anak yang tidak dia inginkan anak dari hasil per*kosa an , Elma ingin marah tapi dia tidak tau kepada siapa dia marah , Jika saja laki-laki yang sudah menghancurkan hidupnya itu ada di hadapannya mungkin dia sudah membunuhnya dengan tangannya sendiri. Dia tidak menginginkan anak ini . tanganya meremas kuat baju yang berada tepat di bagian perutnya .


Liam keluar dari ruang rawat Elma dan kembali ke mobilnya. Saat sudah di dalam dia kemudian mengambil hp yang terletak di kursi penumpang di sampingnya , di sana dapat dia lihat ada begitu banyak panggilan dari Kaluna dan juga pesan .


Liam menghela nafasnya kasar saat pembaca pesan dari Kaluna , yang menanyakan keberadaanya , apa dia tidak apa , karena Kaluna tadi melihat dia pergi dengan terburu -buru .


Ia kemudian menghubungi nomor Kaluna


" Halo kak" jawab kaluna , sangat jelas terdengar nada lega dari kalau saat mengangkat telpon Liam.


" Halo, sayang maaf tadi aku tidak bisa mengangkat telpon mu . "

__ADS_1


" Iya kak tidak apa-apa . yang penting kak Liam baik-baik saja . apa kak Liam sibuk ?"


" Em ." jawab Liam singkat , dia tidak ingin menjelaskan panjang lebar karena itu sama saja dia akan membohongi istrinya.


" Ya sudah kalau kak Liam sibuk ,aku tutup telponnya ."


setalah panggilan itu berakhir . Liam kembali masuk . kembali ke ruangan Elma . saat membuka ruangan itu ia tidak melihat keberadaan Elma , membaut Liam sedikit panik , Liam keluar dan meyaksikan beberapa orang berlari .


" Ada pak , tanya Liam pada salah seorang pejuang rumah sakit yang juga sedag melangkah tergesa-gesa . "


" Ada pasien yang ingin bunuh diri pak . "


Tanpa bertanya lagi Liam juga ikut berlari untuk melihat siapa orang itu , dia sudah berfikir jangan sampai itu adalah Elma , saat di luar gedung rumah sakit Liam menatap orang yang sementara berdiri di atas gedung rumah sakit seketika mata Liam membulat karena benar itu adakah Elma .


" Ya Tuhan Elma ,"


Liam kembali masuk ke gedung .


Dari atas gedung Elma semakin berjalan di pinggir dan sudah siap melompat , di tidak peduli dengan teriakan orang-orang di sana, Bu Anna yang baru datang juga histeris melihat Elma yang ada di atas , dia terus saja menangis . Ia yakin Elma sudah mengetahui fakta jika dirinya hamil , makanya dia melakukan hal ini


" Elma " panggil Liam membuat Elma berbalik


sudah ada beberapa penjaga rumah sakit yang dari tadi berusaha menghentikan Elma , tapi dia tidak peduli .


Liam berusaha mendekati dengan pelan .


" Jangan mendekat Liam , " Elma semakin memudarkan tubunya .


" Elma jika kamu melakukan ini , itu sama saja kamu membunuh dua nyawa sekaligus ."


" Aku tidak peduli , aku tidak ingin anak dari laki-laki ber*gsek hidup di rahimku." Elma menangis sambil berteriak saat menjawab pertanyaan Liam .


" Elma berhenti ." teriak Liam kembali saat kaki Elma semakin dekat ke pinggir gedung.


" Kamu yang harus berhenti Liam, biarkan aku mengakhiri semuanya . kamu tidak akan tau bagaiman rasanya hidup tanpa orang tua, aku selalu di tertawaan Karana kedua orang tuaku tidak menginginkan ku , dan itu sangat sakit rasanya , kau tidak mau lagi di tertawaan karn memiliki anak tanpa memiliki suami . " Elma menggeleng, dia tidak ingin menanyakan akan apa yang terjadi jika anak ini sampai lahir , orang-orang akan kembali menertawakan dirinya. " air matanya semakin deras keluar . Elma berbalik dia bisa melihat orang-orang di bawah sana berteriak untuk menghalangi nya , tapi tidak ia pedulikan , dia akan mengakhiri semua penderitaannya ,jika dia mengugurkan anak ini dia akan di panggil seorang pembunuh , jika dia melahirkan anak ini dia akan di tertawakan karena tidak memilik suami ,untuk itu pilihan tebaik adakah mereka sama -sama mati .


saat Kaluna sudah siap melompat Liam dengan sigap berlari menangkap tubuh Elma dan menariknya . masuk kedalam pelukannya .


" kenapa kamu menghalangi ku .biarkan aku mati aku tidak mau hidup seperti ini ," Elma memukul dada Liam sambil terus menangis, sungguh Liam tidak tega melihat Elma seperti ini , walau bagaimanapun Elma pernah menjadi perempuan yang berati dalam hidupnya , dan dia bisa merasakan seterluka apa Elma sekarang , dia harus mengandung anak dari hasil peme*kosaan . itu sesuatu yang sangat menyakitkan .


" Aku pastikan apa yang kamu takutkan tidak akan peran terjadi " ucap Liam pelan yang masih memeluk Elma yang terus menangis pilu .


" Aku akan menikahi mu ." ucap Liam dengan suara bergetar .

__ADS_1


__ADS_2