
Tiba di apartemen, Liam kembali menggendong Kaluna, dia tidak mungkin membiarkan istrinya berjalan yang baru sembuh dari sakit , meskipun Kaluna tidak pernah sekalipun menatap kearahnya , hal itu tidak Masalah baginya .
Liam membaringkan Kaluna di tempat tidur dengan hati-hati lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya .
" Istirahatlah aku di ruang tamu jika kamu butuh sesuatu . "
Liam keluar dari kamar , dia memutuskan masih belum ke kantor hari ini, jadi semua pekerjaannya akan dia selesaikan dari rumah.
Malam hari ketika Liam sudah berbaring di samping istrinya, dia dapat melihat punggung itu tidak sekali pun berbalik menatapnya, seharian ini istrinya masih tidak mengajaknya bicara, Liam mendekat merapatkan tubuhnya tanganya melingkar di pinggang Kaluna , Kaluna yang merasakan tangan Liam memeluknya.
" Aku minta maaf ." entah sudah berapa kali Liam mengucapakan kata yang sama. " Aku tau aku salah, tapi jangan mendiami ku seperti ini. Aku sangat merindukanmu." Liam semakin mengeratkan pelukannya, posisi Liam sungguh menempel pada tubuh Kaluna , bahkan Kaluna merasakan hembusan napas laki-laki yang sementara memeluknya ini menerpa kulit lehernya. Kaluna memejamkan kuat matanya dan mengigit bibirnya. ia sementara berusaha menahan suaranya , dia tidak ingin Liam tau jika dia sementara menangis saat ini. Kaluna berfikir apa semua laki-laki seperti ini , bisa mengatakan kalimat yang begitu indah secara bersama laki-laki itu juga menyimpan nama perempuan lain di hatinya . Jika memang hadirnya menjadi penghalang, kenapa dia tidak mengatakannya saja , bukan dengan cara membohonginya. Kaluna membekap mulutnya air matanya kembali keluar.
Saat pagi datang Liam meraba tempat tidur di sampingnya Marasa Kaluna tidak ada di samping membuat Liam langsung membuka mata dan melangkah keluar kamar , dia mencari sosok yang begitu Ia rindukan dua hari ini, meskipun baru dua hari Kaluna mendiaminya itu sudah terasa lama baginya , dia begitu merindukan istrinya . Liam mencari di setiap sudut apartemen miliknya berharap Kaluna ada di suatu tempat , jika Seperti pagi seperti ini Kaluna akan sibuk di dapur menyiapkan sarapan tapi tidak dengan pagi ini Kaluna sepertinya sudah pergi , tanpa berpamitan padanya . Liam duduk di meja makan di sana sudah tersedia sarapan untuknya , hal itu cukup membuatnya senang dia pikir Kaluna akan melupakan kewajibannya sebagai seorang istri tapi ternyata tidak . Liam memutuskan kembali ke kamar untuk bersiap siap ke kantor di sana di dekat lemari juga sudah tergantung pakaian kantornya yang juga sudah di siapkan oleh Kaluna . Jika saja Pagi ini dia tidak memliki jadwal rapat mungkin Liam akan ke ruko istrinya terlebih dahulu sebelum ke kantor, Gio sudah mengingatkan kemarin jika hari ini dia memiliki rapat untuk membahas persiapan hotelnya dalam menyambut kedatangan beberapa tamu negara karena hotelnya susah di percayakan oleh pemerintah untuk terlihat dalam acara tersebut . Mungkin dia akan ke sana saat jam istirahat tiba sekalian mengajak Kaluna makan siang bersama .Kaluna memang sudah bisa beraktifitas kembali untuk itu dia sudah pergi ke ruko saat Liam masih terlelap .
Saat rapat berlangsung Liam tidak bisa berkonsentrasi, pikirannya hanya tertuju pada istrinya, Gio yang menyadari itu harus bergerak mengambil alih rapat ,jika tidak rapat ini tidak akan berjalan dengan baik.
" lo kenapa ? apa Kaluna Baik -baik saja , Zana bilang Kaluna masuk rumah sakit ."
Gio yang saat ini duduk di depan Liam, merasa khawatir Karena dari saat rapat laki-laki di depannya ini tidak tenang dia takut ada sesuatu yang tejadi dengan istri sahabatnya .
" Kaluna baik-baik saja , bahkan dia sudah pergi ke ruko hari ini "
" Terus kenapa wajahmu seperti itu .
" Kaluna marah ."
"Alasnya?"
" Karena dia sakit gue ngak tau ."
" Lu juga sih istri sakit masa nggak tau , jangan bilang Lo lagi sama Elma sat itu ."
__ADS_1
Liam diam , karena itu kenyataanya .
Sedangkan itu Kaluna yang sengaja menghindari suaminya datang ke ruko saat semua masih belum datang dan sekarang saat jam istirahat dia berada di taman dekat dengan ruko milik ya , dia butuh mengenakan diri untuk itu dia semangat duduk tepat di depan sebuah danau kecil.
" Butuh teman ?"
Sebuah suara membuat Kaluna menoleh ke samping .
" Kak Ryan ."
Laki-laki itu berjalan mendekat lalu duduk di samping Kaluna .
" Kok kak Ryan tiba-tiba ada disini ?" Kaluna menatap laki-Laki yang sudah di anggap kak baginya , dia cukup bingung karena Ryan tiba -tiba ada disini .
" Aku datang karena sepertinya adikku membutuhkan ku ." ucap Ryan sambil menatap Kaluna dan tersenyum , Kaluna juga ikut tersenyum . " Ada apa ? apa kamu dan Liam ada masalah , " Ryan cukup peka melihat bagaimana situasi diri rumah sakit saat itu, bagaiman Kaluna tidak menganggap kehadiran suaminya sendiri .
Kaluna hanya menunduk mendapatkan pertanyaan itu , dia menautkan kedua tanganya sambil meremasnya dan sebuah cairan bening jatuh menimpah kedua punggung tangannya, Ryan yang menyadari jika Kaluna sedang tidak baik -baik saja langsung menarik tubuh Kaluna masuk ke dalam pelukannya, membuat tangis Kaluna pecah tubuhnya bergetar, dadanya kembali sesak saat mengingat bagaimana laki-laki yang dia cintai sudah membohonginya .
***
Kaluna masih berada di ruko saat matahari sudah berganti malam , Bahkan dia baru beranjak meninggalkan tempat itu saat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam , cukup lama , mungkin ini pertama kalinya dia baru pulang jam seperti itu , karena bisanya dia sudah ada di apartemen sebelum Liam kembali ke kantor , dia sengaja pulang malam berharap saat kembali Liam sudah tertidur .
" Kamu dari mana, kenapa baru pulang ?"
Sebuah suara mengentikan langkah Kaluna saat susah masuk ke dalam apartemen. Liam yang tengah duduk di sofa sengaja Pulang lebih cepat hari ini karena ingin menyelesaikan masalah mereka tapi lagi-lagi dia di buat kesal saat mendapati Kaluna belum pulang ,padahal Kaluna biasanya sudah kembali saat sore hari , tapi sekarang Kaluna baru pulang jam sepuluh malam .
" Aku hanya di ruko ." jawab Kaluna kemudian dia melanjutkan langkahnya . sepertinya kesabaran Liam sudah habis mengahadapi sikap Kaluna yang menurutnya sudah sangat berlebihan hanya karena masalah dia yang terlambat datang menemaninya di rumah sakit .
" Sepertinya kita perlu bicara . " seolah tidak mendengar perkataan suaminya Kaluna terus berjalan . Liam yang melihat itu bertambah kesal dia langsung menarik tangan Kaluna dan membenturkannya di dadanya .
"Apa kamu sudah lupa cara menghargai suami , aku sedang bicara padamu ."suara Liam sudah mulai meninggi . ini pertama kali Liam membentak istrinya selama pernikahannya mereka . Kaluna tetap tidak peduli di berusaha melepaskan cengkraman tangan Liam yang begitu kuat di pergelangan tangannya .
__ADS_1
" Kak lepas. sakit ."
Liam tidak peduli dengan keluhan istrinya dia masih mencengkram tangan Kaluna .
" Aku tanya sekali lagi kamu dari mana ?"
" Aku sudah bilang , aku hanya di ruko ."
" Bohong. Tadi aku melihatmu bersama Ryan apa kau sengaja memanggilnya ?"
Kaluna menggeleng . Dia masih terus berusaha pelepas cengkraman tangan suaminya , dia sungguh kesakitan bahkan pergelangan tangannya sudah terlihat memerah , lagi-lagi Liam tidak peduli , Hatinya sudah di penuhi rasa kelas dengan sikap istrinya . Hingga satu deringan Telpon miliknya membuat Liam langsung melepaskan cengkraman nya.
Di sana terlihat nomor yang tidak memiliki nama tengah menelponnya. Kaluna juga ikut melirik , dia tau nomor itu , itu adalah nomor yang sering menghubungi nomor Liam dan mengirimkan pesan untuk ya. Dia bisa melihat wajah panik suaminya saat menerima telpon .
" Aku akan ke sana sekarang ."
Setelah mengatakan itu , Liam menutup telpon . Kini tatapan tajam kembali dia arahkan ke istrinya .
" Aku akan pergi . aku harap setelah aku kembali, kamu sudah bisa di ajak bicara baik -baik ." setelah mengatakan itu, Liam mengambil kunci mobil dan bergegas meninggalkan Apartemen . Kaluna hanya bisa menyaksikan itu semua . Dia tau siapa yang sudah menghubungi suaminya .
Apa Dia kembali menangis ? . tentu saja tidak . dia bahkan sekarang ini tersenyum tipis.
Kaluna kembali berjalan menuju kamar , namun langkahnya terhenti saat sebuah panggilan masuk ke hpnya .
" Halo bi ada apa?"
" Bapak non ."
" Ayah kenapa ?" tanya Kaluna panik karena asisten rumah tangganya itu bicara sambil menangis
" Bapak jatuh dari tangga ."
__ADS_1
" Apa? . bibi sekarang diaman." Kaluna langsung keluar dari apartemen menuju lift sambil terus mendengarkan apa yang di sampaikan oleh asisten rumah tangganya bibi Tia . Saat bibi Tia mengatakan rumah sakit dimana dia membawa ayahnya Kaluna lagsung menutup panggilannya . Sepanjang Perjalanan Kaluna kembali menangis, entah mengapa peristiwa saat dia kehilangan mamanya kembali datang dalam ingatannya , dia takut jika sesuatu yang buruk terjadi dengan ayahnya .