Maaf Aku Yang Harus Pergi

Maaf Aku Yang Harus Pergi
Amarah Liam


__ADS_3

Kaluna hanya mampu memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya saat bibir suaminya tenga sibuk menulusuri leher jenjang miliknya . Entah sejak kapan suaminya bangun dan berada di dapur , mendatangi dirinya yang tengah sibuk menyiapkan sarapan Kaluna tidak tau , karena saat dia meninggalkan kamar tadi Liam kembali tertidur setelah mereka sama -sama melaksanakan kewajiban subuh . Bahkan dia juga sudah membersihkan setiap sudut apartemen dan melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan seperti biasanya , saat tanganya sibuk menyiapkan segalanya tiba tiba tangan besar suaminya melingkar di perutnya dan tanpa mengatakan apa-apa lagsung mendaratkan bibirnya di lehernya . Tentu saja dia tidak akan menolak karena memang Samoa saat ini Kaluna belum pernah menolak keinginan suaminya Jika lain sedang menginginkannya.


" kak " panggil Kaluna lirih berusaha menyadarkan untuk menyudahi, dia takut jika Liam terlambat berangkat ke kantor dan dia juga bisa terlambat, apa lagi dia punya job pagi ini , tapi sepertinya putra dari Riana itu belum berniat melepaskan tangannya melingkar begitu erat di perutnya rata istrinya .


Dan apa yang di lakukan sekarang , Liam memutar tubuh istrinya untuk menghadapnya dan tiba -tiba mengangkatnya untuk duduk di meja , belum sempat Kaluna bicara bibirnya sudah di bungkam oleh Liam , Kaluna pasrah memenuhi apa yang di inginkan suaminya dan tentu saja dia tidak mungkin tinggal diam , dia ikut membalas penyatuan yang sudah di mulai oleh suaminya , Kaluna bisa Merasakan tanga lincah suaminya sibuk di bawah sana dan setelah berhasil melepaskan sesuatu di bawah sana Liam lagsung menyatukan miliknya dengan milik Kaluna, kini tangan besar itu kembali ke atas menurunkan kedua tali kecil di kedua sisi bahunya Kaluna hingga kain itu melorot


Liam masih membungkam bibir istrinya menikmati benda kenyal itu sambil memaju mundurkan miliknya di bawah sana , penyatuan bibir itu terlepas saat merasakan Kaluna sudah mulai kehabisan nafas, Liam membiarkan Kaluna mengumpulkan oksigen sebanyak banyaknya dan kembali beralih ke leher jenjang Kaluna , soal tidak memberikan jeda Liam menyesap leher itu begitu kuat hingga membuat Kaluna merasakan sakit dan nikmat secara bersamaan tangan langsung masuk ke cela-cela rambut suaminya , meremasnya begitu kuat , berusaha mencari kekuatan di sana karena saat ini bibir suaminya sudah berada di bagian sensitif tubuhnya , menikmati dua benda itu secara bergantian . kepala Kaluna semakin mendongakkan keatas dengan bibir sedikit terbuka, nama suaminya tidak henti-hentinya ia sebut karena kaki-laki ini menyerang semua titik paling sensitif di tubuhnya.


" Ka..k ...ak.u ah".


Tubuh Kaluna bergetar, tapi belum ada tanda tanda jika suaminya akan menyudahi, laki-laki ini masih terus berusaha mencapai puncaknya, hingga pada akhirnya setelah beberapa saat kemudian akhirnya Liam mengerang kuat , dan langsung memeluk tubuh Kaluna . keduanya masih berusaha mengatur nafas yang masih memburuh .


" maaf . aku mengganggumu."


" Tidak apa -apa. " ucap Kaluna sambil mengelus rambut Liam yang saat ini masih memeluk erat tubuhnya . setelah mengenakan kembali pakaiannya dan juga membantu Kaluna . Liam menurunkan kembali tubuh Kaluna dari atas meja . posisinya mereka berdua masih menempel. Liam menatap wajah Kaluna , Ia yakin hanya wajah ini yang ingin dia liat dan hanya tubuh Kaluna yang mampu menangkan dirinya bukan orang lain , meskipun ia tetap mengunjugi Elma , memastikan keadaan perempuan masa lalunya itu hanya sebatas


rasa kasihan padanya . Liam yakin apa yang ia lakukan hanya sekedar membantu Elma untuk memulihkan keadaanya dan menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya .


Kaluna melirik jam yang terdapat di ruang tamu karena dapur Apartemen ini tembus menuju ruang tersebut .


" Sepertinya Kak Liam harus siap -siapa sekarang , nanti Kakak terlambat . "


" Ya sudah aku siapa -siapa" Liam meninggalkan Kaluna di dapur yang akan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena harus melayani keinginan suaminya. setelah selesai dia juga ikut membersihkan diri dan bersiap siap, setelah itu mereka sarapan bersama dan keluar dari apartemen juga bersama. sebelum berpisah Liam tidak akan pernah lupa melakukan kebiasaanya sebelum Kaluna pergi .


Setelah Meraka ke dalam mobil, Liam mendapatkan telpon dari seseorang , Liam marahi hpnya dan mengangkat telepon itu kemudian Liam memasang aerphone di telinganya mendengarkan apa yang akan di sampaikan oleh orang yang setelah menelponnya .


" Jadi kau sudah tiba ."


"..."


" Aku sudah menuju ke sana ."

__ADS_1


Saat tiba di hotel milik ya Liam segara menuju lantai tertinggi gedung ini di mana ruangannya berada , karena orang itu sudah menunggunya di sana .


Liam keluar dari lift dan berjalan menuju ruangannya , di sana sekretarisnya langsung berdiri dan tak lupa dia menundukkan kepala .


" Apa dia sudah di dalam ?" tanya lima pada sekretarisnya


" Iya pak saya sudah memintanya menuggu anda di dalam sesuai dengan permintaan anda ."


tadi setalah selesai menelpon orang tersebut Liam lagsung menghubungi sekertaris .


Liam langsung masuk ke ruangnya dan orang tersebut langsung berdiri dan menundukkan kepalanya saat melihat Liam masuk , Tidak menunggu lama orang itu langsung membawa sebuah Map dan meletakkan di meja Liam .


Liam lagsung membuka berkas-berkas tersebut dan membacanya , sesat kemudian dia meremas berkas-berkas tersebut dan melemparnya membuat berkas itu berserakan .


" Jadi maksudmu kamu tidak bisa menemukan informasi apapun tentang orang itu."


" Maaf tuan . saya harus mengatakan ini , orang itu sepertinya bukan orang sembarangan dan sepertinya memiliki kekuasaan yang bisa menutupi semua akses informasi tentang dirinya. "


" Kamu bisa pergi ."


Orang itu menundukkan kepanya sebelum meninggalkan ruangan Liam.


Liam menyadarkan kepalanya di sandaran kursinya , dia begitu pusing sekarang ini karena tidak bisa menemukan laki-laki itu. Matanya terpejam dia butuh menenangkan hati juga pikirannya. Ia tau siapa yang mampu membuatnya tenang saat ini ,


Ia kemudian meraih hp miliknya , kemudian menghubungi nomor Kaluna , karena dengan mendengar suara istrinya pikirnya akan menjadi tenaga setelahnya .


dalam deringan pertama Kaluna lagsung mengangkat telpon tersebut .


" Halo. kak."


Tidak ada jawab dari si penelpon

__ADS_1


sehingga membuat Kaluna kembali mengulang kalimatnya


" Halo ."


Masih tidak ada jawab Liam Memang hanya ingin mendengar suaranya istrinya , hanya itu .


" Kakak?" panggilan Kaluna kembali


" Em ."


Akhirnya Liam bersuara


" Ada apa , apa ada sesuatu ?" tanya Kaluna pasalnya Liam jarang menghubunginya jika jam kantor sepertu ini , itu pun Liam menghibungin jika ada malah penting untuk itu Kaluna langsung menanyakan hal itu


" Tidak ada apa-apa , aku hanya ingin mendengarkan suara istriku saja . aku merindukanmu ."


yang di sebarang sana nampak kebingungan. , bisa bisanya suaminya mengatakan rindu padahal belum seharian mereka berpisah .


" Kenapa diam ?"


" Kak Liam aneh tau tidak , kita Bahakan baru berpisah beberapa jam , kak Liam sudah bilang rindu "


" Memang kenapa , apa aku tidak boleh merindukan istri ku sendiri em ?


" Bukan seperti itu kak , tapi kan ..."


" Aku mencintaimu Kaluna jenna "


Belum juga Kaluna menyelesaikan kalimatnya Liam sudah bicara dan kalimatnya berhasil membuat wajah Kaluna merona karena bahagia


" Aku juga mencintaimu kak" balas Kaluna .

__ADS_1


Mendengarkan itu Liam ingin lagsung ke tempat dimana Kaluna sekarang ini berada , mengulang aktifitas yang mereka lakukan tadi . menghirup aroma tubuh istrinya yang bisa menenangkan dirinya .


__ADS_2