
"Nak kamu tidak kenapa-napa?"tanya nenek Afiyah tiba-tiba saja menyadari dari lamunanyanya.
"Eeeh nek,ada apa nek?"
"Kamu jangan melamun terus nak,nenek perhatikan seminggu ini kamu terus melamun,ada apa?" ucap nenek Afiyah ingin tahu kenapa cucunya itu terus melamun.
"Nek kalau aku bercerita apa nenek percaya pada Fiyah?" ucap Afiyah agak sedikit sendu menatap wajah yang sudah keriput itu.
"Ada ada di ceritalah nak biarkan semua keluar tampa kamu tutup pada nenek agar hati kamu itu agak tenang."jawab nenek Afiyah padanya sambil megusap kepala cucunya itu.
"Sebenarnya aku sidah menikah dua bulan ini namun rumah tangga ada sedikit masalah nek,apa aku salah pergi meninggalkannya nek jika dia tidak bisa jujur padaku dan disisi lain ada wanita lain yang mencintainya,aku harus bagai mana nek?" ucap afiyah dengan sedih.
"Nak Kamu itu juga salah dalam hal ini,kerena meningalkan suamimu hanya kesala pahaman diantara kalian,bisa saja wanita itu saja yang menginginkan suamimu nak tapi tidak dengan suami kamu sendiri,seharusnya kamu tidak pergi kamu pertahankan suami kamu,Lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masala nak."Ucap nenek Afiyah.
"Tapi nek wanita gila itu sampai mengacamku nek aku merasa kesal saja pada wanita itu, dan juga merasa kecewa pada suamiku yang tidak mau jujur padaku,dia memilih tidak memberi tahu aku sama wanita itu pada hal aku ini istrinya nek." ucap Afiyah mulai mengeluarkan air matanya lagi."
"Itu hal yang wajar nak mungkin saja dia tahu wanita itu mencitainta maka dari itu dia tidak mau mengakui kamu istrinya kerena dia tidak mau ada yang terluka."
"Tapi nek aku tidak mau memaafkannya saat ini aku mendegar itu semua dari mulut wanita itu pada suamiku,jika aku kembali mungkin saja hubunganku tidak akan pernah bahagia dan aman,aku memutuskan tingal di desa ini saja sama nenek,menjaga nenek bersama kak pino."ucap aAfiyah pada neneknya itu.
"Itu terserah kamu saja nak, nenek hanya bisa mendukung kamu saja,semua keputusan ada ditangan kamu nak,pikirkan baik-baik keputusan kamu itu." ucap nenek Afiyah terseyum pada cucunya itu.
"Aku sudah mengabil keputusan ini nek,aku akan mintak kak pino mencarikan aku kerja Balai Desa nek agar aku bisa betah tingal bersama nenek disini."ucap Afiyah.
"Ya sudah,nenek tidak akan pernah melarang kamu tingal bersama nenek,itu adalah keputusan kamu sendiri nak."
"Terimakasih nek sudah megerti keadaanku saat ini." ucap Afiyah memeluk neneknya itu.
"Ya sudah menek mau kekebun kamu masak sana bentar lagi kakak kamu akan pulang makan siang."ucap Nenek Afiyah.
"Baiklah nek,, Fiyah pasti masak setelah aku siap memasak nantik aku akan menyusul nenek kekebun."
"Iya,nenek berada disana samapai makan siang natik."ucap nenek Afiyah pergi meningalkan dia yang masih duduk diteras rumah nenek nya itu.
__ADS_1
Afiyah pergi kedapur untuk memasak makan siang untuk mereka bertiga hari ini,dengan rumah sederhana tapi terasa nyaman tingal didesa ini yang jauh dari kota jauh dari kata keramaian.
Afiyah memasak dengan cekapan kerena sudah terbiasa dari kecil sudah hidup sendiri sampai dewasa dia hanya hidup sendiri saja.
Tidak sampai satu jam Afiyah sudah siap memasak tiga menuh hari ini.sambal terasi, dan sayur bening sayur bayam,dan ikan goreng ikan nila yang baru diambil dari tambak punya neneknya pagi tadi oleh pino.
Siap dengan memasak Afiyah menaruh semua itu ditudung saji yang terletak dimeja makan yang ada didapur rumah itu.
Setelah itu Afiyah ingin pergi menyusul neneknya kekebun namun sebelum Afiyah pergi pino datang membawa belanjan dari pasar kerena sekalian pulang dari pabrik pino singga di pasar kerena melewati pasar mau pulang.
"Fiyah,mana nenek?" tanya pino pada fiyah.
"Nenek dikebun kak,kok kakak cepat pulang?"
"Gak ada kerjaan di pakrik dek,kakak sudah belanja kebutuhan dapur sekalian lewat pasar kamu bisa meyipannya dikulkas."
"Baiklah Aku pindakan dulu semua belajaannya dikulkas,kakak abis ini mau kemana?"ucap Afiyah sambil memisahkan semua barang belajaan itu kedalam kulkas.
"Gak ada kakak siang nantik kembali Kepabrik kerena ada sedikit kerjaan."
"Emangnya ada apa kamu bertaya itu padaku dek,ada apa?".
"Kak aku membutuhkan pekerjaan,aku ingin tingal disini jadi aku ingin kerja,carikan aku kerjaan kak,kakak pasti banyak kenalan disini jadi tidak susah kakak untuk dapat imfonya."
"Nantik kalau ada kosong atau ada lowongan untuk kamu dikantor di pakrik kakak akan kasih tahu kamu dek."
"Bagaimana dengan suami kamu?"
"Aku tidak mau lagi kembali kota suamiku kak, aku ingin bersama nenek disini biarkan saja seperti ini,aku ingin hidup lebih tenang dulu aku belum memutuskan kembali saat ini."
"Kamu berdosa dek jika kamu meningalkan suami kamu seperti ini."
"Biarkan saja kak aku tidak mau merasa sakit jika aku bersamanya."
__ADS_1
"Kamu itu keras kepala,suami kamu itu mampu menghidupkan kamu tapi kamu masi ingin hidup jauh dari dia,aku tidak megerti isi pikiran kamu itu dek."
"Aku tidak mau pulang rumah itu lagi karena masih ada wanita itu yang akan mengaggu kehidupan rumah tanggaku, itu juga tidak akan baik kak,biarkan saja suamiku mencari jalan hidupnya sendiri tampa ada perceraian antara aku dan dia."
"Itu terserah kamu saja aku juga tidak bisa memaksa kamu untuk kembali."ucal pino dengan menghela nafas atas sikap keras Afiyah.
"Aku mau menyusul nenek kekebun jadi kakak janga tingalkan rumah sampai kami kembali,dan kalau kakak sudah lapar bisa makan karena aku sudah masak ikan yang kakap tangkap tadi pagi."
"Iya,nantik saja aku makan tunggu kalian saja dulu karena masih belum lapar."ucap pino terseyum pada sepupunya itu.
"Eeeh bibik kok lama pergi ya kak kapan bibik pulang dari jeguk paman dikota?"
"jangan tanya tentang mereka Fiyah karena kamu ibuk kalau udah disan bisa lama mau 6 bukan tidak pulang,nantik dia jika rindu sama kita pulang sendiri."ucap pino santai.
"Ya sudah aku pergi ya kak."ucap Fiyah berlalu dari pino yang berdiri menatapnya saat ini.
"Hati-hati lewat sawahnya,banyak ulat dipematang sawa itu." teriak Pino menjahili Afiyah terseyum pada sepupunya itu.
Sampai dikebun Afiyah melihat neneknya sedang memetik tomat dan cabe untuk dibawa pulang nantik untuk kebutuhan mereka.
"Nek bayak panennya?"ucap Fiyah pada nenek nya yang terseyumnya.
"Kamu sudah sampai nak?" ucap sang nenek pada cucunya itu.
"Aku abis siap masak nek lansung kesini mau temanin nenek disini menjelang siang nantik,tadi kak pino sudah sampai rumah,katanya dia lagi tidak ada kerjaan dipabrik nek."
"Tidak apa fiyah,kakak kamu itu sudah biasa seperti itu dari dulu pulang kerja lansung pulang dia sudah bayak berubah semenjak putus dari tungangannya beberapa tahun lalu,kerena matan dia itu meningalkan dia demi memilih hidup dengan lelaki yang mampan dari kakak kamu itu."
"Kalau diingat kisah kakak pino aku jadi ingat ayah nek,kerena ibu tidak mau peduli pada kami,dia memilih hidup dengan lelaki lain dari pada kami."ucap Afiyah tampal sedih lagi
"Jangan mengingat masa lalu lagi kak itu akan membuat kami merasa sedih."
"Benar juga kata nenek aku tidak seberuntung anak yang lain,masih kecil aku sudah ditingal ayah sedangkan ibu hanya mengikuti hatinya saja tampa peduli padaku."ucap Afiyah lagi.
__ADS_1
"Sudah nenek bilang jangan bicarakan itu lagi sekarang kamu harus memikirkan kebahagian kamu nak." ucap nenek Afiyah melarang Afiyah jangan pernah mengingat perlakuan ibu nya itu lagi.
****************